Kampus Horror

Kampus Horror
Bonus - Part 3


__ADS_3

Kampus Horror


Bonus - Part 3


Tole membuka mata. Dirinya menyadari tengah berada di ruang perawatan medis. Dahinya mengernyit berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi walau dengan menahan rasa sakit pada belakang kepala.


“Kenapa gue ada di rumah sakit?” Tole berbicara pada dirinya sendiri.


“Oh benar! Ada perempuan menyeramkan waktu itu di kamar kos!” Tole berseru dalam hati.


Seorang perawat lalu mendekatinya.


“Halo, Pak. Sudah bangun ya?”


“Kok saya bisa di rumaj sakit, Sus?”


“Iya teman kos Bapak yang menelepon ambulance. Bapak katanya pingsan di kamar. Untung saja keadaan pintu kamar terbuka. Jadi ada yang mengetahui kalau Bapak tidak sadarkan diri.”


Tole menganggukkan kepala.


“Lalu keadaan saya bagaimana, Sus?”


“Kepala belakang Bapak cedera ringan, Pak. Tapi semuanya normal. Kalau Bapak sendiri, bagaimana rasanya? Apakah ada yang sakit?” Perawat itu mengecek tensi Tole untuk memastikan semua normal.


“Sakit di sini, Sus. Tapi masih bisa saya tahan, kok.” Tole menyentuh kepala belakangnya dengan tangan kanan.


“Tadi sudah kami injeksi melalui infus obat penahan rasa nyeri. Nanti kami injeksi sekali lagi. Setelah infus ini habis, Bapak boleh pulang dan beristirahat di rumah. Lalu untuk obat penahan rasa sakit akan diberikan dalam bentuk tablet.”


Perawat itu lalu meninggalkan Tole di ruang perawatan dengan sekat dari gorden berwarna hijau.


Tole mendengar percakapan tenaga medis tentang perempuan berusia tujuh puluh sembilan tahun yang menjasi penyebab terjadinya kecelakaan beruntun.


“Korban yang luka banyak, loh. Untung saja tidak ada yang terluka parah.” Sahut salah satu tenaga medis laki-laki.


“Lagian sudah lingsir kok masih menyetir sendirian, sih? Otomatis reflek saraf dan otot kan sudah melemah.” Yang lainnya ikut menimpali.


“Katanya begitu. Nenek itu tiba-tiba ngerem mendadak. Ngelihat hantu kali ya?”


Tole merasa mereka sedang membicarakan seseorang yang dia kenal. Tapi Tole tidak berani memastikan, karena peraturannya begitu. Tole harus patuh untuk tidak menghubungi Anisa terlebih dahulu.


“Pak, ini obat-obatan yang harus Bapak konsumsi ya, Pak.” Perawat lalu menjelaskan jenis obat dan kegunaannya, serta cara aturan minum.


“Sus, yang kecelakaan itu namanya siapa?” Tole memberanikan diri untuk menanyakan percakapan yang didengar antara tenaga medis tadi.


“Oh korban kecelakaan itu dirawatnya di rumah sakit sebelah, Pak. Jadi saya kurang tahu namanya.”


“Saya pikir di rumah sakit ini.”


***


“Apa mungkin Asih itu menjadi hantu?” Tole bertanya pada dirinya sendiri.


“Bagaimana cara menghentikannya?”


“Sepertinya itu bukan halusinasi. Bahkan Anisa juga menghadapi hal yang sama.”


Tole memandang langit-langit ruang UGD dengan berbagai pikiran dikepalanya. Tidak ada yang bisa dilakukannya kini selain menunggu infus yang menggantung habis.


Telepon genggam pun tidak ikut serta dalam penyelamatannya tadi.


Jam dinding menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit.

__ADS_1


“Ternyata sudah tengah malam.” Pikirnya lagi.


Tiba-tiba suara ranjang berderit-derit dari pasien di sebelah kanan yang dibatasi oleh gorden lebar.


Tole melirik ke samping mencoba untuk menerka kegiatan apa yang sedang pasien sebelah lakukan.


Semakin lama suara derit ranjang pasien semakin keras dan sering. Tole mulai terganggu akibat ulah pasien itu.


“Sus, suster!” Tole memanggil perawat yang sedang berjaga malam itu. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Padahal, seingat Tole tadi ada beberapa orang yang berbincang.


Derit ranjang semakin keras dan benar-benar mengganggu Tole.


“Dok, dokter, suster!” Tole mencoba memanggil sekali lagi. Tapi tidak ada sahutan. Tole memutuskan untuk mencari tahu apa yang dilakukan oleh pasien itu.


Tempat pemeriksaan yang sempit, memudahkan Tole untuk menggapai gorden hanya dengan satu rentangan tangan.


Disibakkannya gorden sehingga memperlihatkan pasien perempuan yang tengah terbaring, kepalanya menghadap Tole, menatap dengan wajah seram. Seringai senyuman dari bibir merah yang terbuka lebar dari ujung telinga hingga ke ujung telinga lainnya.


“Hai…” Sapa pasien itu lirih.


Tole begitu terkejut dan segera menutup gorden itu.


“Suster! Suster! Tolong! Tolong Dok!” Tole berteriak.


Suara derit ranjang tidak lagi terdengar, menggantikan suara gorden yang dibuka oleh pasien sebelah.


Pasien itu kini berdiri mendekati ranjang Tole dengan senyum tertahan.


Tole terpaku menyadari bahwa pasien itu adalah Asih, mayat yang dikuburnya dulu di Kampus Sastra. Tole diam tidak tahu harus berbuat apa.


“Maaf, maafkan aku. Maafkan aku.” Tole meraung menyebutkan kata maaf, hingga dua orang perawat dan satu orang dokter jaga mendatanginya.


“Tolong, Sus. Tolong.” Tole menutup matanya erat.


“Tenang, Pak. Tenang dulu. Bapak kenapa? Apa ada yang sakit?” Ucap dokter jaga malam itu.


“Ada hantu, Dok. Hantu.”


Ketiga tenaga medis itu saling pandang dan melirik ngeri ke arah Tole.


***


Pagi hari Agia mengunjungi Bagi di rumah sakit yang sedang menunggui neneknya.


Berbekal berbagai kudapan yang dipersiapkan oleh Bunda, menjadi pembuka hari mereka.


Anisa meminta untuk dirawat inap karena mengaku sakit dibagian kepala yang tidak bisa ditahan. Padahal sesungguhnya Anisa tidak memiliki keberanian untuk berada di rumah. Berbagai kejadian menjadikan Anisa awas terhadap munculnya Asih.


Kini, saat Agia sedang berada di ruangan yang sama dengan Anisa, membuatnya memiliki keinginan untuk bertanya soal beberapa hal yang diluar nalar.


“Agia, sudah lama bisa melihat yang begitu-begitu?”


Agia tersenyum dan mengerti arah pembicaraan Anisa. Sementara Bagi melirik Agia sambil menikmati nasi bungkus yang dibawakannya tadi.


“Lumayan lama, Nek. Semakin dewasa, semakin terlihat lebih jelas wujudnya.”


“Saat kamu lihat penampakan di kampus, apa kamu ditunjukkan sengan wujud ya g seram?”


“Seram sih tidak, Nek. Hanya saja wajahnya terlalu pucat untuk bisa dikenali sebagai manusia.”


Anisa menganggukkan kepalanya mencoba terlihat paham.

__ADS_1


“Kata Bagi, kamu lihat penampakan yang di kampus itu ya di rumah?”


“Iya, Nek. Entah bagaimana caranya makhluk itu bisa muncul di rumah Kak Bagi.”


“Kalau sekarang, apa dia ada di sini?”


Agia melirik ke sudut ruangan rawat inap dekat toilet. Anisa dan Bagi paham dengan maksud Agia.


Napas Anisa memburu dan segera meminta untuk pulang.


“Tapi kondisi Nenek belum baik. Sampai besok saja tinggal di rumah sakit, Nek.”


“Nenek takut!”


“Mbak Asih ini hanya berdiri saja di sana, Nek. Dia tidak melakukan apa-apa.”


“Enggak! Nenek mau pulang saja.”


***


Dira yang diantar oleh Andi tiba di rumah sakit saat siang hari. Mereka terkejut dengan permohonan Anisa yang tiba-tiba meminta untuk pulang.


Setelah kedatangan dokter untuk memeriksa Anisa, akhirnya dia diperbolehkan pulang. Karena memang sebenarnya tidak ada masalah apapun dalam tubuhnya.


“Ayo kita pulang!”


“Tunggu obatnya belum selesai diresepkan, Bu.” Andi sangat heran melihat perbuatan Ibunya.


Anisa duduk di pinggiran ranjang tanpa kesusahan.


“Agia, Nenek bisa minga tolong tidak?”


“Minta tolong apa, Nek?”


“Tolong bilang sama hantu itu, jangan ganggu-ganggu Nenek lagi. Nenek sudah muak.”


“Muak katamu, Bu? Bukannya Ibu yang sudah mengganggu saya terlebih dahulu? Sekarang giliran saya!” Tiba-tiba wujud Agia berbubah menjadi Asih. Bukan dalam wujud hantu, namun Asih yang masih hidup.


Anisa terkejut bukan main. Bagaimana bisa Agia berubah menjadi Asih. Ini kesempatan untuk Anisa menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Apalagi banyak orang yang bisa menjaga dan menolongnya jika arwah Asih mengganggunya.


“Heh! Kamu berhenti menggangguku, ya makhluk sialan. Kurang kerjaan sekali ya kamu!”


“Lantas, kalau aku tidak boleh mengganggu, Ibu maunya bagaimana?”


Semua orang bingung dengan ucapan yang disampaikan oleh Anisa. Padahal Agia tidak menyahuti ucapan Anisa.


“Seharusnya kamu tetap diam seperti yang sudah-sudah. Atau kamu mau aku bunuh sekali lagi? Belum puas kamu?”


Lagi-lagi semua yang berada diruangan itu terkejut dengan penyampaian Anisa.


“Saya harus menyampaikan kepada seluruh dunia bahwa Ibu adalah seorang pembunuh. Pembunuh!”


Satu tamparan keras diberikan Anisa untuk Asih, tangannya mencengkram leher Asih dengan kuat. Namun, saat Anisa sadar, tangannya memegang leher Agia.


Bagi dengan kasar menarik Anisa agar menjauh dari Agia.


“Apa-apaan sih, Nek? Nenek ini kenapa?”


Anisa diam menyadari kesalahan fatal yang telah dilakukannya. Andi memberikan Agia air untuk melegakan pernapasannya.


Dira mendekati Anisa, “maksud Ibu apa tadi? Ibu yang membunuh Asih?”

__ADS_1


__ADS_2