Kampus Horror

Kampus Horror
Part 22


__ADS_3

Kampus Horror


Part 22


Aku sangat yakin tidak meninggalkan bukti apapun saat itu.


Lagian, mana mungkin mereka bisa menemukan sesuatu dari tulang belulang seperti itu.


Seandainya aku tidak menyusulmu, tidak mungkin semua berakhir seperti ini.


Apakah aku telah membunuh Asih? Tidak! Aku bukan pembunuh!


***


Dengan seksama Jimmy dan Andre mendengar informasi dari DJ.


Sebelum berita dipublikasikan, DJ, Damar, dan Bagi menghabiskan sore hingga malam bersama. Bahkan segala spekulasi tentang kasus Asih diuraikan detil oleh Damar dan Bagi. Namun, Bagi memohon dengan sangat untuk tidak mempublikasikan tentang Om Deni jika tidak ada bukti yang mengarah ke sana.


Telepon Jimmy berdering ditengah-tengah percakapannya dengan DJ.


"Halo, Sangtu."


"Anggota perpus?"


"Oke, saya segera ke Lab!"


"Gue cabut dulu. Nanti sorean gue telepon lagi ya, J."


DJ hanya menganggukkan kepalanya.


***


Sangtu menyerahkan sebuah nampan kecil yang berisikan sebuah kertas.


Terdapat sebuah nama pada kartu anggota perpustakaan Fakultas Pariwisata.


"Asih Prabandari. Fakultas Sastra. Tahunnya tidak berhasil saya teliti." Sangtu menyebutkan penemuannya. Jimmy memerhatikan kartu anggota yang bentuknya menyerupai sebuah kartu nama.


"Beruntung bagian dalam tas korban terbuat dari nilon. Jadi kain nilon memerlukan waktu penguraian sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun. Kartu anggota ini terselip dibagian dalam kantong kecil."


"Hanya ini satu-satunya petunjuk, Pak."


Jimmy tetap diam seraya mencerna segala informasi dan barang bukti yang diterimanya hari ini.


Jimmy lalu menepuk pundak Sangtu sebagai tanda terima kasih atas kerja kerasnya.


***


Langit terlihat masih sangat cerah sore ini.


Jimmy menepikan mobilnya karena berhasil menemukan keberadaan DJ di pinggir jalan.


"Nama korban Asih Prabandari. Dan sesuai dengan cerita yang lo dapat dari anak-anak itu, dia anggota perpustakaan. Di kampus pariwisata. Almamater lo."


DJ nampak terkejut karena mendapati bahwa informasi dari Damar dan kawannya ternyata bukan omong kosong.


"Rencana lo, apa?" Tanya DJ.


"Gue mulai dari Kampus Sastra dulu. Gue akan temui Dekan untuk dapat informasi dulu. Tahun berapa korban memulai perkuliahan, dan kapan korban menghilang."


"Kalau perkataan mereka benar, berarti korban hilang tahun 1986. Lo harus ketemu juga sama Dekan yang menjabat pada tahun itu." DJ memberikan argumennya untuk melengkapi fakta dan tentu saja keingin tahuannya.


Jimmy mengangguk pelan.


"Gue ke kampus pariwisata. Barangkali beruntung bertemu petugas perpus." DJ menambahkan.


***


"Setelah melihat data dari tata usaha, benar bahwa Asih Prabandari adalah mahasiswa Fakultas Sastra. Dari data juga terlihat kalau mahasiswa ini tidak menyelesaikan kuliahnya. Atau bisa dibilang tidak melanjutkan." Dekan Fakultas Sastra menjelaskan dengan wajah tegang.


"Pantaslah mahasiswa ini tidak melanjutkan kuliahnya. Ternyata dia terkubur hidup-mati di kampus ini." Bapak Dekan menambahkan lagi.


Jimmy menerima lembaran data dari Bapak Dekan. Terlihat bahwa Asih, adalah seorang mahasiswa penerima beasiswa.


Lalu diserahkannya kertas tersebut kepada Andre sebagai barang bukti pelengkap untuk kejaksaan.

__ADS_1


"Pada tahun tersebut, Bapak apa sudah bertugas di kampus ini?"


"Oh ya benar, Pak. Saya baru saja diangkat menjadi dosen honorer saat itu. Saya memulai karir di sini pada tahun 1983."


"Kalau boleh tahu, siapa dekan yang menjabat saat itu, Pak?"


"Bapak Dira Nugraha. Saat ini beliau telah pensiun, Pak."


Jimmy menggangguk.


Setelah mengucapkan permisi kepada Bapak Dekan, Jimmy dan Andre meninggalkan ruang Dekan Fakultas Sastra.


***


Istri Dira Nugraha mempersilahkan Jimmy dan Andre melewati gerbang.


Jimmy berjalan dan melihat sekeliling rumah bergaya khas daerah yang sudah lebih dari lima belas tahun ditinggalinya kini.


"Silahkan duduk dulu Bapak-bapak. Saya Anisa istrinya Pak Dira."


Jimmy dan Andre mengangguk dan beranjak menuju rumah terbuka yang berhadapan dengan kamar besar. Terdapat sebuah foto di depannya kini.


Salah satu diantaranya adalah seorang mahasiswa yang beberapa waktu lalu berada di TKP.


"Rumahnya keren banget." Andre berbicara perlahan seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Tanpa perlu menunggu lama, seseorang yang terlihat sudah lingsir mendatangi mereka perlahan.


Tanpa berkedip Andre menyadari wibawa seorang Dira Nugraha yang tak akan lekang oleh waktu.


"Selamat siang, saya Dira." Sambut Dira dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada yang memiliki arti penyambutan.


"Saya Jimmy, dan rekan saya Andre." Jimmy dan Andre secara otomatis membalas cara Dira dalam menyapa, yaitu menangkupkan tangan di depan dada.


"Saya sudah dengar berita tentang penemuan kerangka di Fakultas Sastra. Jujur saja saya sangat terkejut." Dira langsung membuka pembicaraan ke topik utama.


"Benar, Pak. Apakah Bapak mengenal korban?"


"Saya menjabat sebagai dekan selama dua periode. Selain itu saya juga pengajar. Mahasiswa saya ada ribuan. Mungkin terlalu naif jika saya mengatakan bahwa saya tidak tahu korban. Tapi sejujurnya saya benar-benar tidak tahu."


Jimmy memandang Dira.


Jimmy dan Andre meninggalkan rumah Dira.


***


Anisa datang dengan nampan berisikan tiga cangkir minuman lengkap dengan pelengkap.


"Loh? Tamunya sudah pulang, Pak?" Suaminya terlihat duduk seorang diri menatap kamar Deni.


"Iya, sebentar saja katanya."


"Jadi perempuan itu yang mati, Pak? Aduh, berarti perkiraan kita tentang Deni yang diam-diam masih menemui dia itu salah besar, Pak."


Dira diam dalam pikirannya dan enggan menjawab.


"Tapi benar kan bukan Bapak yang macam-macam?"


"Ya, bukanlah , Bu! Jangan bicara sembarangan! Untuk apa Bapak menghancurkan reputasi yang sudah sangat lama Bapak bangun. Bahkan menguburkannya di kampus tempat Bapak bernanung." Dira terlihat tidak terima dengan pikitan istrinya.


"Ya jangan marah dong. Kan Ibu cuma nanya."


***


Bagi mengintip pembicaraan Kakek dan Neneknya melalui jendela kamarnya yang menghadap halaman rumah. Semua didengarkan dengan jelas. Mulai dari datangnya polisi hingga mereka pergi.


Terpekur Bagi memikirkan segala yang terjadi.


Entah firasat atau apa, Bagi meyakini bahwa keluarganya memiliki keterikatan dengan kematian Asih.


Bagi mengambil telepon genggamnya.


[Om, inget nggak sama ceritaku tentang mahasiswa yang hilang?]


Pesan tersebut tidak langsung direspon Om Deni.

__ADS_1


Diliriknya kamar Om Deni dari jendela. Tidak terdengar aktifitas apapun.


Bagi membuka laci meja untuk menemukan bagan yang telah dibuat oleh Damar.


Sesaat kemudian mata Bagi melebar.


Dia telah menemukan ide menarik.


***


"Lo di mana, Den?"


"Di rumah. Kenapa?"


"Lo siap-siap, gue menuju rumah lo. Kurang dari sepuluh menit gue sampai."


Deni menutup teleponnya dan bergegas keluar kamar, kemudian menunggu kedatangan Robi di depan gerbang.


Sambil menunggu, Deni melihat telepon genggamnya.


Terdapat pemberitahuan tentang pesan dari Bagi. Begitu Deni membuka pesan tersebut, Robi menepikan mobilnya di depan Deni.


Sepintas Deni membaca tentang mahasiswa hilang di pesan Bagi.


"Perlu gue bantu?"


"Nggak, gue bisa sendiri."


Deni sudah terbiasa melakoni kegiatan yang sering kali mebuat orang lain menawarkan bantuan kepadanya.


Tapi Deni terus berlatih agar tidak merepotkan siapapun.


"Lalu?" Deni menoleh ke Robi yang masih menatap sendu kepada sahabatnya yang terlihat ringkih saat ini.


"Lo pernah komunikasi dengan mantan lo dulu?"


"Mantan gue?"


"Iya yang anak asrama!"


"Asih?"


"Gue inget dulu lo bingung cariin doi, kan?"


"Iya, kenapa emang?"


"Gue lihat berita tentang penemuan kerangka manusia di Kampus Sastra, Den."


"Oh, ya?"


"Apa lo nggak curiga kalau itu kerangka doi?"


Deni diam tak menjawab.


"Lo mau gue temenin ke Kampus Sastra?"


"Tapi,"


"Tapi kenapa?"


"Kalau kita ke sana, pihak kepolisian bisa mencurigai kita."


"Kenapa harus curiga? Emang lo berkaitan dengan peristiwa ini?"


Deni bergeming.


"Lo yang bunuh dia, Den?"


"Ya enggaklah! Dia udah khianatin gue. Bisa jadi sekarang dia sudah punya cucu!"


"Maksud gue, kita ke Kampus untuk pastikan. Korban beneran doi atau bukan. Kalau memang bukan ya udah selesai. Kalau memang kerangka itu mantan lo, berarti terjawab sudah doi hilang karena apa. Dia nggak kabur atau ninggalin lo sama orang lain. Tapi dia terkubur di kampus. Puluhan tahun. Lo nggak kasihan, apa?"


Deni terlihat gelisah.


"Meninggalnya doi pun nggak bagus gitu, Den. Bayangin. Nggak mungkin dong doi ngubur dirinya sendiri di kampus. Ini pasti ada orang lain yang punya niatan jelek sama doi. Lo nggak pengen tahu siapa orangnya?"

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan dari Deni, Robi mengarahkan mobilnya ke Kampus Fakultas Sastra.


***


__ADS_2