Kampus Horror

Kampus Horror
Part 37


__ADS_3

37


Kampus Horror


Part 37


Sepulang dari bertemu dengan Kirman dan istrinya, Bagi tidak langsung mengajak Papa dan Omnya pulang ke rumah. Bagi mengajak Andi dan Deni untuk mendinginkan hati dan pikiran di salah satu tempat makan dengan beberapa jenis pilihan makanan serta banyak pilihan sambal.


Kenikmatan sambal yang sangat fenomenal dikalangan masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi membuat tempat makan ini menjadi sangat terkenal dan digilai.


Harga makanan yang tersedia pun beragam. Seperi ayam goreng misalnya, hanya dibandrol sebelas ribu rupiah saja. Untuk pilihan sambal, harga berkisar dari dua ribu rupiah sampai enam ribu rupiah.


Siapa yang tidak suka makanan enak dengan harga yang terjangkau?


Begitupun Bagi dan teman-temannya. Mereka pun sering makan di tempat ini. Walaupun tempat makan ini terlampau jauh lokasinya dari kampus, namun tidak mengurungkan niatan Bagi dan yang lain untuk menikmati hidangan mereka.


Kini giliran Bagi mengajak Papa dan Omnya untuk mencoba tempat makan yang sedang menanjak ke pucuk daun tertinggi.


Bagi segera menuju meja kosong di dalam. Dengan sigap pramusaji mendekati Bagi dan membawakan daftar pilihan makanan.


Andi dan Deni menyusul Bagi, lalu meraih kursinya masing-masing.


Bagi telah menerima selembar kertas yang berisikan daftar pilihan makanan, lengkap dengan harganya. Bagi juga dibekali sebuah pulpen untuk mengisi jumlah makanan yang diorder.


Bagi memilih ayam goreng, cumi goreng tepung, beserta nasi putih, lalu untuk sambal, Bagi memilih sambal bajak, sambal bawang cabai hijau, dan sambal mangga muda.


Andi pun memilih menu yang sama, yaitu ayam goreng. Namun Andi melengkapi pesanannya dengan memesan belut goreng beserta nasi putih. Sementara untuk urusan sambal, Andi hanya memesan sambal tomat.


Sedangkan Deni memilih unyuk memesan tumis jamur, karedok, ikan nila goreng, dan juga nasi putih. Deni terlihat bingung ketika memilih pelengkap sajian yaitu sambal. Ada banyak sekali pilihan sambal yang disediakan di tempat itu. Lama memilih, Deni akhirnya memutuskan untuk memesan sambal rempela ati, sambal pete, sambal cumi, dan sambal nanas muda.


Sebagai minuman mereka memutuskan untuk memesan air mineral dingin saja.


Tidak perlu menunggu waktu lama, pesanan mereka pun tiba. Bagi, Andi, dan juga Deni memperbaiki posisi agar lebih nyaman dalam menjamah masakan yang terlihat lezat itu.


Setelah beberapa suap, seorang anak laki-laki berusia kira-kira tujuh tahun yang baru saja tiba di tempat itu, merengek kepada orang tuanya untuk berpindah tempat tujuan.


“Ayo, Pak. Kita makan ditempat lain saja. Aku enggak mau di sini, Pak.” Anak itu tetap merengek.


“Pindah kemana? Sudah, di sini saja kan murah-murah.” Sahut Ibunya.


“Tapi aku takut di sini, Bu.” Anak itu lalu berbicara dengan merendahkan volume suaranya. Namun, karena posisi Andi dekat dengan meja mereka, dia bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ibu dan anak tersebut.


“Takut apa?”


“Ituuuu…”


“Itu apa?”


“Itu ada orang hitam lagi ludahin maemnya Tante itu, Bu..” Sahutnya lirih.


Andi tercengang dan menoleh ke arah perempuan yang sedang menyantap makanan dihadapannya.


Tak terlihat ada yang aneh. Tapi mengapa anak ini bertingkah aneh?


Tidak terdengar ibu dari anak itu menyahuti anaknya.


“Bu…” Anak itu kembali merengek.


“Pulang yuk, Bu..”

__ADS_1


“Aduh! Kamu ini, jangan berisik begitu.”


“Itu ada anak kecil botak lari-lari, Bu. Sebentar lagi dia pasti lari ke sini.”


“Hush! Kamu jangan bicara begitu.”


Andi mencolek Bagi dan Deni untuk memberi kode tentang pembicaraan anak di meja sebelah.


Lalu Bagi menyarankan Andi dan Deni untuk merapalkan sebait doa. Seketika rasa makanan yang terhidang di hadapan mereka berubah menjadi biasa saja. Namun, perut Andi terasa bergejolak ingin memuntahkan isinya.


“Sudahlah, kita pulang saja.” Deni memberikan komando agar kakak dan keponakannya berhenti menimkati makanan yang tersaji.


***


“Nanti coba kamu ajak Agia berkunjung ke tempat makan tadi.” Deni membuka pembicaraan di dalam mobil saat mereka mulai melaju menuju rumah.


“Benar juga ya, Om. Agia pasti bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.”


“Sepertinya tempat makan tadi menggunakan semacam penglaris.” Andi menambahkan obrolan mereka.


“Memangnya iya, Pa?”


“Begitulah yang pernah Papa dengar. Teman Papa sih yang cerita. Kamu tahu kan tempat makan nasi babi guling yang terkenal sekali di daerah pariwisata itu?”


“Yang mana? Yang terkenal mahal itu, Pa?”


“Iya benar.” Andi menyahut singkat.


“Yang mana?” Deni belum memahami rumah makan mana yang kakak dan keponakannya bahas itu.


“Itu, yang terkenal dari dulu. Yang tempatnya ada tepat di pusat pariwisata itu lo, Om.”


“Iya yang itu!” Seru Bagi.


“Apa kata teman Papa?”


“Katanya di depan pintu masuk rumah makannya, ada makhluk berkepala babi yang berdiri.”


“Oh ya?” Deni tercengang tak percaya mendengar penuturan dari Andi. “Ngapain makhluk itu, Kak?”


“Ada dua makhluk katanya. Berdiri di kanan dan kiri pintu masuk. Yang satu memanggil pembeli, yang satu menjaga indera pengunjung yang datang agar makanan selalu terlihat dan terasa menggugah selera.”


“Widih! Untung saja aku enggak pernah makan di sana. Mana mahal, tempat parkirnya susah, mana ramai sekali. Mendingan makan di tempat lain. Lebih murah setengah harga dibanding dengan tempat itu.” Bagi benar-benar tidak percaya bahwa pengguna aliran sesat seperti itu masih ada pada zaman modern seperti saat ini.


“Lain kali kita coba ke sana yuk!” Deni mengajak kakak dan keponakannya.


“Untuk apa? Kan sudah pasti tidak sehat untuk tubuh kalau kita makan di tempat seperti itu. Tahu-tahu malah kita yang jadi tumbal!” Bagi tidak setuju sama sekali dengan ajakan Omnya itu.


“Memangnya yang begitu pakai tumbal ya?” Deni mencoba mencari informasi.


“Katanya sih begitu, Om.”


“Iya, Den. Aku sih enggak pernah terlibat langsung dengan pengguna hal begituan. Tapi yang pernah aku dengar, makhluk-makhluk itu perlu makan. Dan permintaan mereka pun beragam. Ada yang hanya meminta hewan dengan warna tertentu. Ada yang perlu tumbuhan tertentu, bahkan ada yang perlu darah segar manusia. Entahlah. Aku juga tidak yakin dengan informasi ini.”


“Kenapa pemilik rumah makan tidak meminta kepada Tuhan ya?”


“Mereka itu sudah ditutup matanya oleh kenikmatan duniawi. Maunya cepat dan instan. Dijanjikanlah oleh makhluk-makhluk itu. Ya walaupun harus dipenuhi dengan syarat tertentu.”


***

__ADS_1


“Permisi!” Seseorang memanggil dengan suara keras dari luar rumah.


Bagi bergegas menuju depan untuk melihat siapakah tamu yang berkunjung.


“Iya! Tunggu sebentar!”


Bagi membuka handel gerbang dan menggeser ke samping kiri.


Bagi terkejut mendapati Pak Jimmy dan Pak Andre sedang berada di hadapannya kini.


“Bagi, apa kabar?”


“Pak Jimmy? Ada apa kemari?” Tanya Bagi waspada dan merasa tidak nyaman dengan keberadaan Pak Jim di depan rumahnya.


“Saya membawa surat perintah untuk memeriksa Ibu Dewi Laksmita.” Bagi tercengang mendengar informasi dari Pak Jim bahwa mamanya akan diperiksa.


“Memeriksa terkait hal apa kalau saya boleh tahu, Pak?”


“Apa kami tidak dipersilahkan masuk?” Pak Andre melihat gelagat tidak menyenangkan dari mimik wajah Bagi. Lagi pula siapa sih yang menunjukkan wajah bahagia saat polisi datang membawa surat perintah dari kepolisian?


“Oh, iya. Maaf saya lupa. Mari Bapak-bapak silahkan masuk.”


“Ibu Dewinya ada di rumah?” Pak Jimmy membuka pembicaraan saat sudah menempatkan dirinya di kursi taman dekat garasi mobil.


“Mama saya lagi pergi, Pak.” Entah mengapa Bagi memutuskan untuk berbohong kepada petugas dari kepolisian itu.


“Kemana?”


“Kurang tahu saya, Pak.”


“Baiklah, kami akan tunggu di sini sampai Ibu Dewinya balik.”


“Saya buatkan minum dulu ya, Pak. Tunggu sebentar.” Bagi bergegas ke dalam rumah dan menuju kamar orang tuanya.


Didapati mamanya sedang berselonjor kaki di sofa dengan mata tertuju pada layar besar yang bergantung pada dinding kamar.


“Ma!” Bagi memanggil mamanya.


“Iya? Kenapa, Nak?”


“Ada dagang bakso di depan. Mau beli enggak?”


“Enggak ah panas!”


Bagi mencoba memancing mamanya agar tidak keluar dari kamar. Tapi tetap tidak menyebutkan bahwa ada petugas polisi yang sedang menunggunya untuk dibawa ke kantor untuk diperiksa.


“Ma..” Bagi memanggil lagi mamanya.


“Iya..”


“Mama sayang sama Bagi?”


Dewi heran dengan pertanyaan anak semata wayangnya yang kini telah beranjak dewasa.


“Kenapa kamu tanya begitu?”


“Enggak apa-apa, Ma. Hehehe.” Perasaan Bagi menjadi melankolis. Tak bisa dibayangkan jika ibu yang selalu ada untuknya harus mendekam di sel tahanan selama masa pemeriksaan.


Jika terbukti bersalah, Bagi akan memiliki gelar tambahan. Yaitu pembunuh.

__ADS_1


Bagaimana bisa mamanya mengenal Asih?


__ADS_2