Kampus Horror

Kampus Horror
Part 56


__ADS_3

Kampus Horror


Part 56


“Nak, percaya sama Mama. Kamu percaya kan sama Mama?” Dewi berusaha mengambil hati anak satu-satunya. Bagi diam dan mengalihkan tatapannya kesepatu yang digunakannya hari itu untuk mengunjungi Mamanya.


Dewi telah ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan terhadap korban, Asih Prabandari.


“Dia duluan yang menusuk Mama, Nak. Pisau itu juga dia yang bawa. Mama hanya membela diri saja. Untung saja Mama bisa selamat. Bukan Mama yang terluka parah.”


“Mama bilang membela diri? Menusuk dibagian ulu hati itu Mama bilang membela diri? Dia itu menusuk Mama dikaki, Ma! Dia tidak berniat membunuh Mama!”


“Ya biarpun dibagian mana, dia kan berusaha menyakiti Mama!”


“Tapi Mama enggak perlu sampai menghabisi nyawanya!”


“Dia masih hidup kok waktu itu.”


“Ma! Mama tahu, ulu hati itu adalah bagian yang mematikan karena disitu ada organ-organ penting, Ma!”


Dewi diam tidak berniat menyahuti Bagi. Menerutnya, dia tidak membunuh Asih.


“Dia yang menodongkan pisau itu terlebih dahulu. Lalu dengan cepat dia menusukkan kekaki, Mama. Ya jelaslah Mama juga ikut menyerangnya. Dalam pikiran Mama saat itu hanya membalasnya, tidak peduli bagian tubuh mana yang tertusuk. Sudah kena saja Mama bersyukur.”


“Tapi Mama benar-benar tidak menguburkan Asih di kampus seperti yang diberitakan itu, Nak. Percayalah. Bagaimana caranya Mama bisa menggali lubang sedalam itu dan menanam Asih seorang diri? Kamu pikir Mama ini Samson?”


“Bisa saja Mama meminta bantuan orang lain, kan.”


“Untuk apa? Supaya Mama punya saksi dan melaporkan Mama sebagai pembunuh, gitu? Memangnya Mama sebodoh itu?”


Bagi diam-diam mengiyakan ucapan Dewi.


***


“Asih sialan! Seharusnya aku membawanya ke rumah sakit waktu itu. Pasti dia akan tetap hidup dan aku tidak mendapat masalah seperti sekarang.” Dewi berbicara dalam hatinya selepas kunjungan Bagi. Dia merutuki kecerobohannya diwaktu lalu karena meninggalkan Asih seorang diri.


Masih teringat jelas hari itu Dewi menunggu Asih menyelesaikan pekerjaannya sebagai pegawai lepas di tata usaha Fakultas Sastra. Dengan emosi meluap-luap karena mengetahui bahwa kakaknya kembali ditolak olehnya membuat Dewi ingin sekali memaki Asih sampai puas.

__ADS_1


Sakit sekali hatinya melihat kakak satu-satunya bercerita dengan wajah sendu tentang kehamilan Asih. Tidak sabar rasanya mendengar langsung tentang hal itu.


Sampai pukul setengah enam Asih tak juga keluar dari kantor tata usaha. Para pekerja bangunan sudah selesai berkemas dan mulai meninggalkan kampus. Sementara kakaknya tidak terlihat diantara pekerja itu.


“Kak Wira, Kak Ari kok enggak kelihatan? Dimana dia?” Dewi menanyakan kakaknya kepada rekan pekerja yang kebetulan berasal dari satu desa dengan mereka.


“Ari tadi sudah pulang duluan. Pegal katanya habis nyangkul!”


“Sombong sekali, kayak enggak pernah nyangkul saja dia itu. Padahal kan sudah biasa nyangkul di sawah ya, Wi?”


Dewi diam tidak menyahuti ucapan teman kakaknya itu. Dewi memutuskan kembali duduk dan menunggu Asih.


Kesabaran bukanlah komposisi dalam tubuh Dewi. Grasa-grusu, itulah moto hidupnya. Untung saja Asih segera muncul. Kalau tidak, Dewi berencana mencarinya ke dalam.


“Lama amat kamu, Sih!”


“Kamu nungguin aku?”


“Iya dari tadi!”


“Aku mau ngomong.”


“Ya ngomong.”


“Benar anaknya dekan menghamili kamu?”


Asih menaikkan alisnya terkejut. Dia langsung menoleh kanan dan kiri memastikan tidak ada yang mendengar celotehan temannya ini.


“Kenapa? Kamu takut ada yang dengar? Tiba-tiba jadi merasa malu karena sudah menjual diri?”


Dengan keras Asih menarik tangan Dewi menuju kelas di lantai dua.


“Apaan sih? Sakit tahu!” Dewi berusaha melepaskan tangan Asih yang mencengkram kencang.


“Diam kamu!”


Asih mendorong Dewi masuk ke dalam kelas yang belum dipasangkan keramik pada lantainya.

__ADS_1


“Ayo! Sekarang kamu mau ngomong apa? Ngomong di sini!”


“Ya seperti kataku tadi, kamu puas berhasil ke kota untuk menjual diri? Karena itu kamu menolak kakakku kan?”


“Aku selama ini sudah berusaha sabar ya, Wi, hadapi kamu. Kamu terlalu semena-mena sama orang lain. Tapi untuk kali ini kamu enggak bisa lagi menyepelekan aku. Aku akan menikah dengan orang kaya. Sama seperti katamu tempo hari di asrama. Kamu bilang kalau sangat menginginkan Pak Andi, kan? Katamu dia laki-laki yang tepat untuk kamu karena Pak Andi siap dari segala sisi.”


“Satu hal yang kamu enggak tahu, Wi. Pak Andi itu anaknya dekan.”


Dewi terperangah hingga tanpa sadar tangannya menutup mulutnya.


Asih menyunggingkan senyum kemenangan.


“Kamu kaget, kan? Pak Andi yang sangat kamu inginkan itu yang telah menghamiliku.” Asih mengatakan hal bohong kepada Dewi.


“Bagaimana? Apa aku sudah bisa dikatakan sebagai pemenang? Aku mendapatkan jackpot, Wi. Sudahlah aku berhasil didekati oleh seorang dosen, eh ternyata anaknya dekan. Bayangkan betapa kaya rayanya aku setelah menikah, tanpa bersusah payah sepertimu. Setiap pagi harus mencari perhatian melalui nasi kuning itu. Bahkan menuduhku merebut laki-laki yang tidak menganggapmu. Lebih hebatnya lagi, aku mengandung cucu keluarga dekan. Sementara kamu? Tetap saja akan pulang ke kampung dan enggak ada perubahan. Sama seperti kakakmu itu. Jauh-jauh ke kota bukannya ada kemajuan, tetap saja jadi buruh. Memintaku untuk menikah dengannya? Bilang sama dia, tidurmu kurang lama, terlalu banyak menghayal.”


Desiran darah Dewi sudah meletup-letup hendak menerobos keluar dari setiap pori-pori yang ada pada tubuh Dewi.


Tanpa bisa mengontrol emosi, Dewi menerjang Asih hingga mereka bergumul. Asih jatuh terlentang yang dengan segera diserbu oleh emosi tak terkendali dari Dewi.


Dewi duduk di atas Asih dan mencekik leher Asih.


Asih gelagapan mencuri oksigen yang terasa menipis di sekitarnya. Tangannya menggapai ke dalam tas dan menemukan pisau kecil yang dia siapkan setelah hampir terjatuh karena di dorong oleh Anisa. Dirinya tidak mau kejadian yang sama terulang kembali. Menjaga dirinya kini, sama dengan menjaga makhluk mungil yang ada di dalam tubuhnya.


Dengan satu gerakan, pisau itu menerkam kaki Dewi. Dewi berteriak dan mencabut pisau secara paksa. Darah mencuat berceceran di sana-sini, di lantai, pakaian Asih, bahkan celana Dewi telah berubah warna karena lelehan darah.


“Ternyata darah orang yang sedang emosi itu warnanya lebih terang, ya? Merah menyala.” Asih menyeringai pasrah di bawah Dewi yang sedang memegang pisau dan menahan sakit.”


“Keterlaluan kamu, Sih!”


“Dari dulu kamu mencoba meraih posisiku, bukan? Prestasi, bahkan fisik yang kamu coba rebut dariku selamanya hanya dalam bayanganmu saja. Sekarang terbukti, kan? Laki-laki yang sangat kamu idamkan itu memilih aku untuk menjadi teman hidupnya. Ucapkan selamat padaku, Wi.”


“Banyak omong kamu!” Dengan cepat pisau yang sedari tadi berada ditangannya, kini pindah menempel pada ulu hati Asih.


Dewi terkejut melihat Asih membelalakkan mata menahan rasa sakit ulah aksinya. Dewi langsung berdiri dan meninggalkannya seorang diri.


***

__ADS_1


__ADS_2