
Kampus Horror
Part 24
“Memangnya kamu janjian jam berapa sama temen kamu, Gi?”
“Harusnya sih sekarang, Pa. tapi barusan ditelepon katanya dia ada urusan. Jadi, ya batal deh.”
Bagi dan Papanya, Andi, sedang duduk berdua di kantin Kampus Pariwisata.
“Di sini yang paling enak tuh es telernya, Gi. Papa pesenin ya?”
“Boleh, Pa.”
Sebenarnya Bagi berbohong kepada Papanya tentang memiliki janji bertemu dengan temannya di Kampus Pariwisata. Hanya saja, dia tidak memiliki ide lain selain mengatakan hal itu. Tidak mungkin kan, Bagi harus jujur mengatakan akan menyelidiki kasus kematian seorang mahasiswa.
“Pa, perpus di sini lengkap enggak sih?”
“Kamu mau cari buku apa?”
“Ada beberapa buku, Pa.” Bagi mengeluarkan catatan beberapa judul buku yang dibaca oleh Asih, kemudian menyerahkannya kepada Andi.
“Kayaknya ada deh. Kamu lihat saja sendiri ya. Atau perlu Papa temenin?”
“Enggak usah, Pa. Kalau es telernya sudah habis, aku akan cek sendiri.”
“Memangnya untuk apa kamu cari buku di sini?”
“Mau jadiin referensi skripsi, Pa.”
“Ya udah, habisin es telernya. Setelah itu Papa tinggal balik pulang.”
***
“Pakai mobil gue aja, Den.”
Deni kini sedang duduk di teras rumah Robi. Mereka berencana mengunjungi kampung halaman Asih guna mencari informasi mengenai keberadaannya.
Deru mobil Ratna memenuhi garasi. Begitu mesin dimatikan, dentuman pintu mobil pun terdengar.
Ratna melemparkan salam yang disertai senyuman cantik nan anggun.
Deni dan Robi kompak menyambut salam dari Ratna.
“Dari tadi, Om?”
“Baru aja Om sampai.”
Ratna ikut duduk bersama Deni dan Robi di teras.
Dilihatnya Robi mengenakan sepatu sneakers, menandakan Robi akan melakukan perjalan ke suatu tempat.
“Papa mau ke mana?”
“Ada urusan bentar sama Om Deni.”
Ratna hanya mengangguk.
__ADS_1
“Kamu dateng dari mana tadi?”
“Balikin novel sewaan, Pa.”
“Kamu liburan semester bukannya ngelakuin hal yang positif malah glayah-gleyeh mulu.”
“Yee, Papa! Baca novel itu kan hal yang positif banget. Susah payah pemerintah mencanangkan gemar membaca untuk anak muda.”
Robi hanya menaikkan alisnya tanda kurang setuju.
“Lagi pula ni ya, Ratna lagi menenangkan diri Pa.”
“Gayanya menenangkan diri. Emang ABG bisa ada masalah hidup apaan? Paling juga kurang bekel, atau putus sama pacar ya?” Deni menimpali percakapan ayah dan anak itu.
“Masalah yang Ratna habis lalui bener-bener menegangkan, Om. Lagian kalau aku cerita palingan kalian enggak percaya. Udah ah males, aku pasti diledekin.”
“Belum juga cerita udah keder aja. Emang kamu kenapa?” Robi turut penasaran akan masalah yang sedang dialami putri cantiknya itu.
“Kapan hari aku dan teman-teman ngelakuin ekspedisi gaib, Pa, Om.”
Deni dan Robi saling pandang tanpa menyahut satu kata pun.
Ratna melanjutkan ceritanya karena mendapati respon positif dari wajah penasaran lawan bicaranya.
“Di Kampus Sastra ada penampakan. Hiiii mana kerekam dikamera aku pula. Serem banget deh!”
“Di kampus ada penampakan?”
“Iya! Kelas lantai atas, Pa. Tanpa sengaja kerekam di kamera aku. Jadi ceritanya emang ada gosip yang beredar tentang penampakan perempuan di kampus. Karena teman-teman pada penasaran, aku juga ikutan. Konyolnya, aku malah bawa kamera dan ngerekam kegiatan waktu itu. Saat aku ngecek hasil rekaman, eh penampakanua kelihatan jelas banget. Mana hantunya senyum serem banget. Sampai sekarang pun masih terbayang. Aku rasa, penampakan itu arwah dari orang yang kekubur di sana deh. Pantesan sampai gentayangan. Ternyata badannya masih di sana."
Kali ini Robi lebih antusias mendengar penuturan dari Ratna.
“Sudah enggak aku simpan, Pa. Enggak berani! Jadi aku biarin Damar yang simpan.”
“Kamu perginya sama Damar?”
“Iya, Pa. Ramai-ramai. Sama Bagi juga, Om. Agia, Stevina dan satu lagi siapa nama teman mereka, lupa aku.”
“Dan hebatnya lagi, Agia punya indera keenam, Pa! Dia bisa ngobrol sama yang nampak itu! Hiii seremnya amit-amit.”
“Memangnya kayak gimana penampakannya?”
“Aduh, Om! Aku enggak mau inget-inget lagi. Takut. Nanti langsung aja hubungin Damar atau tanya Bagi deh!”
***
“Beberapa waktu lalu, ponakan gue emang mancing-mancing terus tentang Asih dan mahasiswa hilang, Bi. Gue rasa kita harus ketemu sama Bagi.”
“Ya sudah. Coba telepon dia. Tanya posisinya di mana sekarang.”
Deni dan Robi yang berencana untuk mengunjungi kampung halaman Asih, mendadak mengganti tujuan, yaitu bertemu dengan Bagi.
***
Aku benar-benar tidak tahu harus mencari dari mana. Apa sebaiknya aku ambil saja semua buku yang dibaca Asih?
Ada banyak sekali buku yang sudah dibacanya. Berapa lama waktu yang harus aku gunakan untuk membaca buku-buku ini?
__ADS_1
Ini adalah buku pertama yang dibaca. Unit Perjalan Wisata. Apa yang menarik dari buku ini? Memangnya dia berencana menjadi tour guide?
Tidak mungkin ada yang menarik dari cara menjadi seorang tour guide.
Lalu buku berikutnya tentang Hubungan Pariwisata dengan Pengembangan Alam. Lucu sekali Asih ini. Apa dia berniat menjadi Menteri Pariwisata? Hal-hal membosankan seperti ini bisa menjadi daya tarik baginya. Sungguh-sungguh ajaib. Kalau saja Asih tahu bahwa komik Naruto lebih menarik dari ini.
Masih ada tujuh buku lagi yang harus dibaca. Dilihat saja maksudku. Apa yang menarik bagi Om Deni dari Asih. Bahan bacaannya saja seperti ini. Kiat Mengubah Nasib di Negeri Orang. Wah.. Sepertinya Asih ada niatan untuk bekerja di luar negeri ini. Kalau yang ini sepertinya lumayan menarik. Anggap saja menjelajahi waktu ke puluhan tahun lalu. Seperti apa penulis menyarankan pembacanya agar bisa berangkat ke luar negeri untuk mengubah nasib.
Buku ini lumayan tebal juga. Ah! Ada buku kecil di dalamnya.
Wah pantas saja terlihat tebal. Ini buku catatan pola kalimat Bahasa Inggris. Apa ini milik Asih yang tertinggal di sini? Ini lebih terlihat seperti buku saku dibandingkan dengan buku catatan seorang mahasiswa. Asih terlihat sedang menghafalkan grammar Bahasa Inggris.
Apakah ada petunjuk di buku catatan ini?
Tunggu! Ini ‘kan tulisannya Papa!
***
“Kakek! Di kampus ditemukan kerangka manusia, Kek!” Era datang dengan berisik. Belum sempat mematikan mesin motornya, dia sudah berteriak dengan wajah gusar.
“Kerangka punya siapa?”
“Mana saya tahu, Kek! Kakek kok aneh-aneh saja pertanyaannya. Memangnya saya dukun?”
Memang, kami menggunakan panggilan sesuai dengan sebutan dari cucu-cucuku. Sejak Bayu lahir, sebutan Bapak padaku telah berganti menjadi Kakek. Termasuk anak dan menantu, mereka juga ikut memanggilku Kakek. Tidak masalah, itu malah membuatku terdengar lebih berwibawa. Bangga sekali aku dengan sebutan itu.
“Nanti pasti masuk televisi beritanya ini, Kek!”
“Memangnya Mamak Bayu dengar dari mana?”
“Barusan di warung Bu Juna. Katanya banyak ada polisi di kampus. Ih, saya jadi malas datang ke kampus. Takut ditanya-tanya sama polisi. Beruntungnya nasib saya. Sekarang kan lagi liburan semester. Jadi saya enggak perlu jualan di kampus.”
“Kalau Mak Bayu enggak salah kenapa harus takut?”
“Entahlah, Kek. Takut aja.” Era menyahut sambil menyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Siapa yang menemukan kerangka itu?”
“Katanya sih mahasiswa, Kek.”
“Lagian, siapa coba yang menyimpan kerangka manusia di kampus. Aneh-aneh saja orang jaman sekarang.”
“Bisa jadi kerangka itu yang jadi hantu ya, Kek.”
“Eleh! Mana ada hantu. Paling juga karena kamu terlalu penakut.”
“Ya sudah kalau Kakek enggak percaya. Nanti biar Kakek didatengin sama itu hantu, baru tahu.”
Era ngeloyor memasuki rumah dengan tentengan kresek.
***
Informasi dari Dira tadi di cafe ditambah percakapanku diwaktu lalu dengan Era, memantapkanku untuk mencari informasi dari koran. Walaupun belum terungkap siapa nama dan mengapa dia bisa terbujur di bawah tanah seperti itu. Tapi, pihak kepolisian telah mengumumkan dan memastikan bahwa korban merupakan seorang perempuan.
Pernyataan kepolisian membuatku tak berdaya membayangkan jika pelaku adalah Dira. Tapi aku sudah berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengan dia.
Penat terasa kepala ini. Kasihan sekali gadis itu. Tunggu! Dari mana Dira tahu bahwa korban tersebut adalah gadis itu? Sementara kepolisian belum menyimpulkan nama. Haruskah aku mencari tahu?
__ADS_1
***