
Kampus Horrror
Part 50
“Realistis sedikit, Bu! Dengan Ibu khawatir berlebihan seperti itu, anak-anak Ibu tidak ada yang bahagia. Apa sekarang Ibu senang melihatnya?”
Ucapan Andi tanpa sengaja didengar oleh Jimmy dan Andre. Jimmy lalu menghentikan langkahnya dan melihat Andre yang juga melihat ke arahnya.
Memang salah Jimmy dan Andre masuk ke dalam rumah orang lain tanpa izin. Bagaimana mendapatkan izin? Sedari tadi mereka mengucapkan kata permisi dengan lantang, namun tak satupun orang menjajaki. Berhubung pintu gerbang terbuka lebar, mereka putuskan untuk masuk saja.
“Karena Ibu bersikap seperti itu, Asih jadi meninggal. Apa Ibu puas?”
“Kamu menuduh Ibu yang membunuh Asih?”
“Lantas siapa? Ibu yang menyeret Asih ke lantai dua dan mendorongnya, kan?”
Anisa terperangah mendengar penuturan anak sulungnya itu. Dia heran, dari mana dia tahu tentang hal itu?
“Kamu pikir Ibumu ini serendah itu? Untuk apa Ibu harus mengotori tangan ini untuk perempuan kotor macam Asih?” Dengan cepat Anisa mengubah ekspresi wajahnya menjadi garang.
“Perempuan kotor Ibu bilang?”
“Benar. Perempuan kotor, kotor seperti sampah. Keluarga kita tidak pantas menampung sampah macam itu.”
Andi memejamkan matanya, tak sanggup lagi rasanya dia berdebat dengan wanita yang telah berjuang melahirkan dan merawatnya.
“Lalu siapa penyebab meninggalnya Asih, Bu?”
“Mana Ibu tahu! Memangnya Ibu dukun?”
“Permisi…” Jimmy memutuskan untuk menyela perdebatan Ibu dan Anak di dapur terbuka milik keluarga Dira Nugraha.
Anisa dan Andi menoleh cepat ke arah datangnya suara. Seketika mereka tercekat melihat sosok Jimmy dan Andre di halaman rumahnya.
“Ada perlu apa, Pak?” Sahut Anisa sinis.
“Maaf mengganggu perbincangan Bapak dan Ibu. Saya datang membawa surat panggilan untuk memeriksa Ibu Anisa Nugraha.”
Alis Anisa terangkat begitupun Andi.
“Pemeriksaan apa? Untuk apa saya diperiksa? Bapak ini polisi atau dokter? Pakai periksa-periksa segala.”
“Terkait dengan kasus kemarin, saya mendapatkan informasi dari seorang saksi, bahwa Ibu Anisa sempat berbicara dengan korban dan membawanya naik ke lantai dua.” Andre menjelaskan tujuan pemeriksaan yang harus dilakukan oleh Anisa.
“Saksi mana? Untuk apa saya berbicara dengan perempuan yang tidak saya kenal?” Anisa berusaha meninggalkan dapur dan mencoba memasuki kamarnya.
“Tolong kerja samanya, Bu. Jika Ibu tidak bisa kooperatif, akan menyulitkan penyelidikan kami.” Andre berusaha mencegah kepergian Anisa.
“Saya sedang tidak enak badan. Selamat siang!” Anisa benar-benar pergi meninggalkan semua orang.
Andi menggelengkan kepala lalu mendekati kedua penyidik itu.
“Maafkan Ibu saya, Pak. Saya akan terima suratnya. Nanti akan saya bujuk Ibu dan mengantarkannya langsung ke kantor polisi untuk diperiksa.”
“Terimakasih pengertiannya Pak Andi.” Sahut Andre.
***
Agia menceritakan kepada Stevina, juga Damar tentang pertemuannya dengan mendiang Yoga di krematorium kemarin secara detail.
“Ini kali pertama gue berkomunikasi dengan mereka yang sudah meninggal dunia. Dalam artian, gue tahu betul siapa dia, bahkan meninggalnya karena apa. Kalau sebelumnya, gue ketemu arwah yang enggak jelas asal-usulnya. Tahu-tahu nongol saja gitu.”
“Lo enggak takut, Gi?” Stevina bertanya berdasarkan pengalamannya saat melihat makhluk wajah datar diwaktu lalu.
“Kadang takut, kadang biasa saja. Kalau lo pasti takut ya kemarin. Kan pertama kali buat lo lihat yang begituan.”
“Entahlah itu namanya apa. Kalau itu yang namanya takut, mungkin gue tiga tingkat lebih tinggi dari pada yang namanya takut.”
Agia tertawa pelan mendengar celotehan Stevina. Sementara Damar terdiam tanpa merespon cerita mereka.
Stevina menyadari perubahan pada Damar. Ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu.
“Kak, kenapa? Kok diam-diam begitu?”
__ADS_1
“Enggak apa-apa kok. Lanjut lagi, lanjut.” Perintahnya kepada Agia.
“Sudah habis, Kak. Enggak ada lanjutannya.” Sahut Agia.
“Sebenarnya, gue juga lihat yang Stevina lihat di lorong kampus Teknik waktu itu.”
Agia dan Stevina membelalak terkejut dengan penuturan Damar yang tiba-tiba.
“Seriusan, Kak?”
“Kok Kakak enggak cerita?” Sungut Stevina.
Damar menganggukkan kepalanya mantap.
“Kalau aku cerita, nanti kamu pasti makin takut, kan?”
“Makhluk itu juga gue lihat di lorong. Waktu gue gotong Yoga ke ruang kesehatan. Gue pikir, gue salah lihat. Tapi begitu tahu Stevina juga lihat. Berarti yang gue lihat juga benar.”
“Sebenarnya itu siapa sih, Gi?”
“Gue juga enggak yakin. Menurut Ayah, makhluk itu memang nunggu di sana. Mungkin nih, mungkin ya, mungkin. Dari cerita Yoga yang terus diikuti sama Sang Penjemput, bisa jadi makhluk ini menjaga rumahnya. Ya semacam merasa ada makhluk lain gitu. Kalau gue ketemu, mungkin gue bisa nanya ke dia.”
“Lantas, kenapa dia harus ngikutin gue ke rumah?” Stevina menimpali penuturan Agia dengan gemas.
“Dari pengelihatan Ayah, makhluk itu merasa bersalah karena membuat kita jadi ketakutan. Dia mau memastikan kalau lo sampai di rumah dengan selamat.”
“Jadi, dia baik?”
“Gue juga enggak yakin. Kan gue enggak ketemu.”
“Ih! Jawaban lo kurang memuaskan.”
“By the way kok Bagi enggak datang-datang, ya? Kemana dia?” Damar segera merogoh kantong celananya untuk meraih telepon genggamnya. Damar lalu mengetik sesuatu dengan cepat melalui aplikasi komunikasi.
Setelah menerima balasan, Damar menyampaikannya langsung kepada Agia dan Stevina.
“Di rumahnya Bagi lagi genting katanya. Dia enggak jadi ke sini.”
“Mana aku tahu. Ke sana yuk!” Damar mengajukan idenya untuk mengunjungi Bagi.
“Ah! Jangan, Kak. Nanti kita ganggu.” Agia keberatan dengan ide Damar.
***
Dj memarkirkan mobilnya di pelataran parkir kantor polisi. Segera setelah pertemuannya dengan teman sekelas Dewi Laksmita saat kuliah, dia menghubungi Jimmy untuk menyampaikan hasil perbincangannya.
Dj memutuskan untuk menunggu saja di dalam mobil. Dia membiarkan Jimmy mencarinya ke parkir.
Tidak lama setelah Dj menghubungi, Jimmy terlihat keluar dari pintu kantor polisi. Dia berjalan menuju mobil Dj.
“Kalau tidak penting, mending lo jangan ganggu-ganggu gue.” Ucap Jimmy setelah dia duduk di samping Dj.
“Memangnya lo enggak kangen sama gue?”
Jimmy mendengus kasar.
“Gue sudah pastikan kalau Dewi itu bohong tentang darah dan pesta rujak itu.”
“Kenapa seyakin itu?”
“Saksi yang gue temui tadi, teman sekelas Dewi. Gue juga sudah meminta dia untuk memastikan lagi keteman-teman lain. Siapa tahu memang saksi ini yang tidak ikut. Tapi tadi langsung di depan gue dia menghubungi beberapa teman seangkatannya. Tidak pernah mereka melakukan pesta rujak seperti penuturan Dewi tempo hari. Dia bohong. Oh ya! Temannya ini juga menuturkan ingatannya tentang Dewi yang selalu berusaha lebih baik dari seseorang yang dianggapnya sangat sombong. Awalnya saksi tidak menyangka bahwa korban ini adalah orang yang sangat dibenci oleh Dewi. Tapi setelah gue menghubungi, dia jadi ingat bahwa Dewi sering menceritakan tentang temannya satu desa. Dari cerita Dewi, dia mengatakan bahwa Asih telah merebut laki-laki yang sejak lama diincarnya. Tapi saksi tidak yakin siapa laki-laki yang dimaksud.” Dj menuturkan hasil pertemuannya dengan teman kuliah Dewi tanpa jeda. Fakta baru yang disebutkan oleh Dj membuat Jimmy diam mencoba mengaitkan benang-benang baru yang masih kusut.
“Gue juga akan segera memeriksa istri Dira Nugraha. Ada yang mencurigakan juga dari Ibu Anisa itu. Kemarin gue ke rumahnya, tapi dia enggan untuk diperiksa. Malah mengaku tidak enak badan.” Jimmy menerangkan hasil kunjungannya ke rumah Dira untuk memeriksa Anisa.
“Sepertinya keluarga itu aneh. Semua berkaitan dengan korban. Berapa lama waktu ya lo punya untuk membereskan kasus ini?”
“Kalau tidak ada kemajuan, dalam tiga minggu gue harus menutup dan membuat kasus ini menjadi kecelakaan. Lucu kan?”
“Kecelakaan? Setelah kecelakaan korban lalu menguburkan dirinya sendiri di dalam tanah dengan kedalaman yang lumayan begitu? Lalu menutupnya lagi dengan beton, diatasnya ditanami rumput dan dijadikan sebagai taman yang lengkap dengan patung begitu? Itu terlalu lucu, Bro!”
“Benar. Selucu itu. Makanya gue harus segera menanyakan beberapa hal kepada istri Dira Nugraha. Kalau sampai 2x24 jam dia tidak menyerahkan diri untuk diperiksa, biar gue jemput paksa!”
***
__ADS_1
Hampir saja gelas itu mengenai wajahku. Begitu tega dia melemparkanku dengan gelas karena fakta yang aku ungkapkan.
“Siapa bilang kamu boleh melakukan hal itu?” Keras sekali dia saat berbicara dan menanyakannya kepadaku.
“Aku begitu kan karena membela diri. Apa salahnya aku mempertahankan harga diri.”
“Kamu tidak perlu sibuk melakukan pembelaan diri macam itu. Dengan kamu melakukan hal itu, sama saja melemparkan air comberan kewajahmu sendiri. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”
“Ya enggak tahu. Sudah terlanjur mati juga. Mau bagaimana lagi?”
“Sekarang aku minta kamu diam saja. Tidak perlu berbicara apapun dengan siapapun. Biar aku yang membereskan semuanya. Paham?”
Aku tidak memiliki nyali untuk menyahutinya. Jujur saja aku takut jika berhadapan dengannya saat dia sedang marah seperti sekarang. Walaupun aku sangat mencintainya, dan aku rela melakukan apa saja untuk bisa menjadi pusat perhatiannya, tapi aku juga takut kepadanya.
***
[Pak Polisi, ini foto-foto yang dikirimkan oleh teman saya. Namanya Sabi. Foto-foto ini saat dia merayakan ulang tahun. Yang menggunakan baju kaos putih dan celana biru itu Asih. Yang paling ujung kanan Dewi. Semoga membantu ya, Pak.]
Jimmy sibuk melebarkan hasil foto yang dikirimkan oleh Nela.
Benar seperti yang dibicarakan orang-orang. Asih adalah perempuan yang sangat cantik dan menarik. Walaupun hasil foto tidak sebaik zaman sekarang, tapi telah menunjukkan kecantikan alami yang tidak mudah dilupakan. Pantas saja banyak laki-laki yang tertarik dengan Asih.
Jimmy akan menggunakan hasil foto ini untuk menanyakannya kepada pekerja bangunan yang akan ditemuinya sebentar lagi. Mereka berjanji untuk bertemu disebuah taman kota dekat tempat tinggal pekerja bangunan.
Tidak percuma Jimmy menunggu kedatangan pekerja itu cukup lama. Ternyata pekerja bangunan datang bersama empat orang. Salah satunya mandor proyek yang mengerjakan bangunan kampus.
Setelah berbasa-basi dan berkenalan, Jimmy langsung menggiring mereka untuk memperhatikan foto yang dikirimkan oleh Nela.
Para pekerja itu dengan yakin bahwa hanya Asih saja yang dapat dikenalinya pada foto pertama.
Kemudian sampailah pada foto ketiga yang mereka harus perhatikan. Salah satu dari pekerja itu terkesiap.
“Loh? Ini kan Ari. Coba lihat! Ini Ari yang satu desa sama Rongge itu, kan?”
Pekerja lain juga ikut memerhatikan lebih seksama dan menyetujui hasil penemuan rekan kerjanya itu.
“Tunggu sebentar ya, Pak.” Jimmy langsung memberikan tanda lingkaran merah pada foto yang dikenali sebagai Ari oleh para pekerja, lalu segera mengirimkan kepada Nela.
[Ibu Nela, maaf mengganggu, kalau yang saya lingkari merah itu siapa?]
Tanpa perlu menunggu lama, Nela segera membalas pesan yang dikirim Jimmy.
[Itu Kak Ari, Pak. Itu Kakaknya Dewi. Ingat kan kalau Dewi berniat menjodohkan Asih dengan Kakaknya. Ya itu dia, Kak Ari namanya.]
Jimmy merasa benang kusut yang memusingkan itu mulai terurai.
“Masa sih Si Cantik ini yang meninggal?”
Jimmy mendengar perbincangan antara pekerja itu.
“Kasihan ya dia. Apa Ibu itu yang menyelakainya?” Lalu pekerja itu beralih menatap Jimmy.
“Tapi Pak, setelah kegaduhan di lantai dua, mereka turun berdua kok, Pak. Saya dan teman-teman memutuskan untuk menunggu, takut terjadi sesuatu di atas sana. Jadi kita tidak pulang ke rumah bedeg dekat kampus. Ibu itu yang turun duluan. Baru Si Cantik.”
Jimmy masih mendengarkan penuturan pekerja itu.
“Iya, Pak. Kita tungguin takutnya kenapa-kenapa.”
“Oh ya, Bapak-bapak. Untuk taman di depan ruang dosen, apa memang diisikan beton dibawah rumput?”
“Taman yang mana, Pak?”
“Itu ditempat kami menemukan kerangka mendiang Asih.”
Mereka saling toleh untuk melihat siapa yang hendak menjawab pertanyaan itu.
“Oh dari awal memang di sana taman, Pak. Taman kecil. Tapi pagi hari kita sudah temukan bagian sudutnya berisikan patung. Padahal pengerjaan belum selesai. Saya pikir akan percuma meletakkan patung hias sekarang. Nanti kalau kena cat bagaimana. Tapi ya begitu kata atasan kami, biarkan saja katanya.”
Jimmy hanya menganggukan kepala tanda mengerti apa yang disampaikan oleh para pekerja.
“Oh iya, Pak. Awalnya di sudut itu akan ditanam pohon kembang kertas, Pak. Yang menggali ya itu, Ari. Tapi entah kenapa enggak jadi. Malah nemu kerangka, ya Pak. Waduh jahat sekali. Siapa yang jahat itu ya, Pak? Saya kok jadi merinding, ya? Pantas saja sering ada yang nampakin diri, Pak. Hiiii.”
***
__ADS_1