Kampus Horror

Kampus Horror
Part 34


__ADS_3

Kampus Horror


Part 34


Andi langsung menuju kamar mandi selepas pertemuannya dengan Bagi di cafe dekat rumah.


Dihidupkannya keran air panas untuk mengisi bak mandi. Andi berencana untuk melepas penat dengan cara berendam air hangat.


***


Segala kenangan tentang Asih kini menyeruak menembus waktu.


Andi ingat saat pertama kali dirinya menemukan seseorang yang sangat menawan sedang duduk meringkuk menyelami buku di hadapannya.


Kalaupun menelan kata demi kata mampu dilakukan, pasti orang itu menjadi yang pertama yang melakukannya.


Setiap hari sosok perempuan menawan itu duduk di bangku yang sama. Setiap hari.


Jika saja hari Sabtu dan Minggu perpustakaan tidak tutup, perempuan itu pasti tetap berkunjung.


Perlahan Andi berjalan di koridor melewati perpustakaan, disempatkannya melirik ke bangku itu. Entah buku apa yang membuatnya begitu tertarik.


Esok harinya, Andi tidak memiliki jadwal mengajar, namun dia memutuskan untuk tetap berangkat ke kampus. Namun, Andi sengaja menyesuaikan jam datang dengan kebiasaan Asih. Tanpa disengaja, Andi mendapati perempuan menawan itu berjalan ke luar dari Kampus Sastra.


Andi tidak berani mengambil kesimpulan bahwa perempuan itu adalah Mahasiswi Kampus Sastra.


Andi memutuskan untuk menunggu perempuan itu di tempat parkir saja.


***


Benar saja, perempuan itu berjalan pelan dengan wajah semringah seperti anak-anak yang akan berkunjung ke sebuah toko mainan.


Dalam diam Andi mengikuti perempuan itu dengan yakin memiliki tujuan ke perpustakaan.


Andi membiarkan perempuan itu mengisi daftar pengunjung yabg disediakan oleh pegawai perpustakaan.


Lalu, dia mengambil sebuah buku dari salah satu rak di bagian Manca Negara.


Andi mengernyitkan dahi dan berpikir.


“Hal menarik apa yang bisa di peroleh dari buku tentang luar negeri?”


Andi memutuskan masuk dan menuju ke meja pegawai.


“Selamat siang, Pak Andi. Tumben ke perpus, Pak.” Sapa pegawai perpus terkejut saat mendapati Andi tengah membuka buku pengunjung.


“Iya, Bu. Ada buku yang ingin saya cari.” Andi berbicara dengan suara tenornya yang khas seperti penyanyi pria, Ari Lasso.


Tidak menghentikan kesempatan, Andi dengan cepat melirik deretan daftar pengunjung.


Terdapat banyak sekali nama yang tertulis di buku pada halaman tersebut. Tepat di nomor pengunjung sebelum Andi, nama Asih Prabandari dari Kampus Sastra telah tercatat.


Tercengang Andi saat melihat daftar pengunjung. Karena benar-benar setiap hari kerja perempuan dengan nama Asih itu berkunjung ke perpustakaan.


Berbagai macam buku pun telah dibacanya. Mulai dari tata cara mengangkat telepon seperti layaknya seorang pegawai penerima tamu di bagian kantor depan. Kemudian ada pula buku sejarah turis asing yang mengunjungi Indonesia. Dan kini, Asih tercatat sedang membaca buku dengan judul Tips dan Trik Bekerja di Luar Negeri.


Andi tersenyum tipis melihat semangat perempuan itu.

__ADS_1


Andi kemudian menutup buku pengunjung. Dalam diam dan perlahan, dia berjalan menuju rak buku bagian Manca Negara.


Dia mengambil buku yang berjudul Mudah Ber-Bahasa Inggris. Lalu dia memutuskan untuk duduk di seberang Asih, yang dibatasi oleh dua bangku kosong.


Andi tidak benar-benar membaca buku. Dia ingin hanya ingin menyenangkan matanya untuk memandang keindahan fisik yang diciptakan oleh Tuhan.


Rambut hitamnya yang panjang bergelombang terikat rapi di belakang sana. Kulit cerahnya yang bening membuat pakaian warna apa saja pantas dia kenakan. Manik hitam yang dengan cekatan bergerilya ke sana dan ke mari menikmati kata demi kata pada buku di hadapannya, begitu menggoda. Bibir ranum nan segar seolah menghipnotis siapapun yang memandangnya.


Tak diduga, Asih tiba-tiba melihat ke arahnya.


Andi gelagapan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Perlahan dibidik kembali posisi awal, yaitu bangku yang diduduki oleh Asih.


Asih tidak lagi melihat ke arahnya.


Andi melihat sekitar. Tidak ada pengunjung lain yang ada di perpustakaan selain dirinya dan Asih.


Andi memutuskan untuk mendekat ke arah Asih.


“Hai.” Andi menyapa dengan sedikit berbisik.


Asih seketika menoleh dan tersenyum.


Senyum yang tidak akan pernah bisa Andi lupakan. Jika melihatnya dari jarak dekat, Asih terlihat seperti Ida Iasha yang kecantikan parasnya tak akan lekang oleh waktu.


"Saya lihat dari minggu lalu, kamu di sini terus. Apa tidak bosan?" Andi mengutarakan isi pikirannya dengan jujur.


"Justru kalau tidak ada yang dikerjakan jadi bosan." Asih menjawab dengan ramah.


"Saya Andi. Mengajar Bahasa Inggris di sini." Andi mengulurkan tangannya.


"Memang di Kampus Sastra tidak ada buku yang menarik untuk dibaca?" Andi memberanikan diri untuk duduk di hadapan Asih. Dengan menggunakan meja yang sama.


"Sudah habis, Pak. Hahaha.."


"Habis bagaimana?"


"Sudah saya lahap semua. Makanya saya invansi ke sini. Tidak keberatan kan, Pak?"


"Tentu saja saya keberatan. Saya yang warga di sini saja tidak pernah menyentuh buku-buku. Malah warga kampus lain yang lebih rajin. Ini penghinaan namanya." Andi menjawab dengan mimik wajah pura-pura serius.


Asih langsung terdiam menatap Andi.


Sedetik kemudian Andi tersenyum dan berujar, "Bercanda saya."


Keduanya pun tertawa karena hal yang sederhana.


***


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul empat tiga puluh sore. Asih memutuskan untuk pulang.


"Bapak masih mau melanjutkan membaca?"


Andi menoleh ke arah Asih yang kini telah berdiri untuk beranjak ke rak buku.


"Sebentar lagi. Masih tanggung."


Mata Andi mengikuti setiap gerakan yang dibuat Asih.

__ADS_1


Asih berjalan menuju pojok ruangan bagian belakang. Kemudian mengambil sapu.


Dengan cepat Asih mulai membersihkan lantai perpustakaan.


Andi diam terus memerhatikan kegiatan yang dilakukan oleh Asih. Kini Asih mulai menutup jendela perpustakaan.


Arah pandangan Andi kini beralih menuju pegawai perpustakaan. Beliau pun terlihat sedang bersiap untuk pulang.


"Sudah, pulang saja. Nanti biar Ibu yang menutup korden." Pegawai Perpustakaan berbicara kepada Asih ketika Asih menutup jendela di belakang meja pegawai.


"Tidak apa-apa, Bu. Kan kita bisa pulang sama-sama." Sahut Asih dengan tangan mulai bergerak menarik korden berwarna jingga.


Andi pun turut serta menghentikan aktifitas membacanya. Kemudian meletakkan buku di rak.


***


"Kamu sudah makan? Kita makan dulu yuk. Soto di kantin enak loh." Andi memberanikan diri bertanya kepada Asih.


"Tidak, Pak. Terimakasih. Saya tidak lapar." Asih menjawabnya dengan senyuman manis. Walauoun dirinya berbohong mengaku tidak lapar.


"Kalau begitu biar saya antar sampai asrama, ya. Kan kita searah."


"Tidak usah, Pak. Saya jalan kaki saja."


"Baiklah kalau begitu. Sampai berjumpa lagi." Andi memutuskan untuk tidak memaksa. Dia akan berjuang pelan-pelan.


***


Hampir setiap hari Andi melewati perpustakaan untuk melihat pujaan hatinya.


Sayangnya hari ini Andi tidak bisa menemaninya membaca buku. Andi mendapat kesempatan menjadi moderator sebuah seminar. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan perhatian kepada Asih.


Nasi kotak yang menjadi jatah konsumsi dari seminar tadi diberikan untuk Asih. Andi sungguh merasa lega saat Asih menerima pemberiannya dengan suka cita.


Dilain hari, Andi juga memberikan Asih jajanan dalam kotak. Kebetulan dia menjadi seorang panitia seminar, dan mendapati terdapat konsumsi sisa dalam keadaan masih bagus.


Kedekatan mereka pun semakin intens. Andi memberanikan diri untuk melamar Asih. Namun sayang Asih menolaknya.


Setelah kejadian itu Asih jadi jarang terlihat. Andi menjadi penasaran. Entah kemana anak itu. Ada rasa bersalah dihati Andi karena telah berani menanyakan keinginannya untuk mempersunting Asih.


"Apakah karena hal itu Asih jadi tidak datang?"


***


Suatu kebetulan yang baik berhasil didapatkan oleh Andi. Dia menemukan Asih sedang berjalan di Kampus Sastra dalam keadaan pucat.


Kedatangan Andi ke Kampus Sastra, guna menyampaikan surat undangan kepada instansi Kampus Sastra, guna menghadiri seminar Diskusi Ilmiah tentang Wisatawan Manca Negara.


Beruntung Andi belum meninggalkan area Kampus Sastra.


Tanpa pedulu dengan apapun yang bisa terjadi, Andi memberanikan diri untuk menawarkan Asih agar mau diantar pulang olehnya.


Semesta mendukung. Asih bersedia mengikuti tawarannya.


Namun, tanpa dia sadari, ada mata lain yang memandang dengan tatapan tajam ke arah mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2