
Kampus Horror
Part 28
“Bagi, kapan rencana ketemu Agia?”
Deni membuka pembicaraan saat mendapati keponakannya itu sedang mencuci piring bekas makan siangnya.
Bagi menoleh tanpa menghentikan aktifitas mencuci piring.
“Aku belum sempat tanya kedia, Om. Sebentar coba aku telepon.” Bagi mematikan kran air, kemudian meletakkan piring basah dirak sebelah kiri wastafel.
Bagi menghadapkan tubuhnya ke Deni sembari mengelap tangannya pada lap yang telah disediakan Mamanya tergantung dilemari pendingin bagian samping.
“Iya. Coba kamu tanya dia. Apa perlu kita jemput dan mengajaknya ke kampus?
“Ke kampus? Om mau ke kampus?” Bagi menarik kursi meja makan lalu meletakkan tubuhnya. Kata-kata Deni tidak menghentikkan kegiatan tangan Bagi untuk meraih sebulih pisang yang telah disusun rapi oleh Mamanya.
“Om pengen ketemu Asih, Gi. Maunya minta tolong Agia untuk bilang ke Asih.”
Bagi menghentikan sebentar aktifitasnya membuka kulit pisang. Ditatapnya Deni beberapa detik, lalu melanjutkan lagi menguliti buah dengan kandungan karbohidrat dan vitamin A.
“Om yakin mau ketemu Asih?” Bagi bertanya dengan mulut penuh pisang.
“Memangnya kenapa?”
“Om enggak takut? Sekarang Om dan Asih itu kan bukan lagi ada di alam yang sama.”
Deni terdiam memikirkan ucapan Bagi.
“Apa yang harus Om takutkan, Gi? Om sudah pernah kehilangan Asih dulu. Om enggak mau harus kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Walaupun Om harus terpisah dunia dan alam, kemana pun akan Om lalui.”
Kini Bagi yang terpana mendengar ucapan Om Deni. Buah yang mampu menambah energi dan menjaga stabilitas gula darah itu kini tak lagi menggugah selera Bagi.
Tak pernah disangka Om yang selama ini lebih banyak diam, ternyata memiliki cinta kasih yang dalam terhadap kekasihnya.
“Memangnya apa rencana Om setelah berhasil berkomunikasi dengan Asih?”
“Om mau minta maaf, Gi. Om sudah salah menilai bahwa Asih itu tidak setia dan berkencan dengan laki-laki lain. Menyesal sekali rasanya menjadi orang egois yang tidak mau mencoba meluruskan masalah. Om tidak lebih dari seorang pengecut.”
Deni masih berdiri saat berbicara dengan Bagi. Namun kepalanya tertunduk ke arah ubin, dengan kedua indera penglihatan yang terlihat berembun.
“Om jangan bicara gitu dong. Sekarang aku telepon Agia, ya. Om tunggu sebentar.”
Dengan cepat Bagi beranjak menuju kamarnya untuk mengambil telepon genggam.
Telepon genggam yang sedari tadi berada di atas meja belajar karena ditinggal oleh pemiliknya untuk memadamkan kelaparan, menunjukkan beberapa notifikasi dari Damar dan Agia.
Bagi membuka pesan yang dikirimkan pleh Agia terlebih dahulu.
[Kak, apa kabar? Kok beberapa hari ini hilang?]
Bagi diam menatap layar telepon genggamnya dengan perasaan tidak tenang.
Bagi tidak langsung membalas pesan yang dikirimkan oleh Agia. Jarinya kemudian membuka pesan yang dikirimkan oleh Damar.
[Bro, are you oke? Lo jangan berkecil hati kayak gini dong. Belum tentu bokap lo yang ngelakuin itu ke Asih. Menurut gue kita cari tahu dulu, apakah benar bokap lo kenal dengan Asih? Lo balas pesan gue ya.]
Damar memang tipe orang yang sangat positif. Dia selalu ingin membantu siapapun disekelilingnya. Bahkan, dirinya yang sangat mencurigai Papanyalah pelaku pembunuhan Asih beberapa tahun lalu, tidak membuat Damar turut serta mencurigai Papanya.
Bagi kini terduduk dikursi belajar dalam kamarnya.
__ADS_1
Dia berpikir cepat. Hal apa yang harus dilakukannya sekarang?
Bagi memutuskan untuk menelepon Damar pertama. Tidak perlu waktu lama, telepon segera tersambung.
“Yes, Bro!”
“Lo di mana?”
“Di rumah Stevina. Gimana? Lo nggak apa-apa, kan?”
“Om Deni pengen ketemu Agia, nih. Katanya mau ngajak Agia ke kampus.”
“Ke kampus? Ngapain?”
“Mau mencoba ketemu sama Asih.”
Tak terdengar suara Damar menyahuti ucapan Bagi.
“Halo. Damar, lo denger gue?”
“Iya, Gi. Lo udah bilang sama Agia?”
“Belum. Makanya gue bilang sama lo dulu. Menurut lo gimana? Agia akan mau atau enggak ya kira-kira?”
“Lo coba aja telepon dulu. Lagian kan Agia juga pernah bilang mau ketemu Om Deni. Kesempatan yang bagus untuk mereka bisa ngobrol, Gi.”
“Iya, gue coba telepon Agia dulu.”
“Bagi..”
“Kenapa, Bro?”
“Lo tahu alasan Om Deni pengen ketemu Asih?”
Tak terdengar suara Damar menyahuti ucapan Bagi lagi.
“Mar, kok lo diem mulu?”
“Gue cuma enggak bisa berpikir dan membayangkan kalau Om Deni sampai ketemu Asih. Jujur tiba-tiba gue jadi takut.”
“Gue juga. Yang akan ditemui Om gue itu bukan sejenis sama kita. Tapi ya gimana, Bro? Biar gue tanya Agia dulu deh. Bisa nggak keinginan Om Deni terwujud.”
“Ya sudah. Gue tutup duluan ya. Nanti kasi info ke gue. Oke?”
“Oke.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Bagi segera menggerakkan jarinya untuk mencari nomor telepon Agia.
“Halo, Kak.” Sapa Agia di seberang sana.
“Agia, lagi ngapain? Di rumah, ya?”
“Iya, Kak. Di rumah lagi nonton TV aja, nih. Kok pesan aku enggak dibalas, Kak?”
“Agia, kalau hari ini ketemu, bisa enggak? Sekalian aku ajak Om Deni.”
“Boleh. Mau ketemu di mana?”
“Nanti aku jemput ke rumah saja, ya?”
“Oke, Kak.”
__ADS_1
***
Asih memulai hari dengan wajah pucat karena menahan lapar. Sejak malam rasa lapar memang mendominasi hari-harinya kini. Bergegas Asih bersiap untuk menuju rumah Mbah penjual nasi kuning di seberang asrama.
“Selamat Pagi, Mbah.”
“Pagi...” Mbah menjawab salam dari asih saat sedang menuang nasi kuning yang baru matang ke dalam wadah nasi. Sepintas dilihatnya wajah Asih yang pucat.
“Kenapa? Kamu sakit? Kok pucat sekali?”
“Enggak, Mbah. Cuma lapar. Dari semalam menahan lapar.”
“Loh kok ya bisa sampai kelaparan? Memang kamu tidak makan sorenya?”
“Hehehe, iya, Mbah. Lupa saya, keasikan baca buku.” Asih berkilah. Padahal dia tidak memiliki nafsu makan sedikitpun setelah pembicaraannya dengan Dira Nugraha.
“Ya sudah, kamu makan saja dulu. Baru bantu Mbah.”
“Boleh, Mbah?”
“Ya boleh. Dari pada kamu pingsan di sini. Sana makan cepat.”
Bergegas Asih mengambil sepiring nasi dengan lauk tempe dan sedikit sambal.
“Kok makan tempe saja? Ini makanlah dengan ayam suir.” Mbah menyendokkan ayam suir dan berusaha meletakkannya dipiring Asih.
“Enggak usah, Mbah. Lagi enggak pengen makan daging-dagingan. Tempe saja sudah enak sekali.”
Mbah diam menatap perilaku Asih yang aneh sekali pagi itu.
“Ya sudah. Mbah buatkan teh panas manis ya. Supaya ada tenaga tambahan yang masuk.”
Asih tersenyum dengan perasaan terenyuh. Mbah bukanlah keluarga, tapi kebaikan yang diberikan melebihi keluarga Asih sendiri.
Sementara keluarganya tega menelantarkan Asih seorang diri tanpa kasih sayang.
Bibinya sering bercerita tentang Bapak dan Ibunya yang berpisah sejak Asih berusia delapan tahun. Bapak dengan tega menjandakan Ibu demi membahagiakan janda beda desa yang ditinggal suaminya dengan perempuan lain.
Bapak selalu berkilah tentang perempuan yang kini telah memberikannya dua orang anak laki-laki bahwa hidupnya sangat sulit setelah ditinggal oleh suaminya mencari wanita idaman lain.
Menurut Bapak, mantan suami perempuan itu sangatlah tidak bertanggung jawab karena meninggalkan istri dan anak perempuannya. Lalu, apa bedanya Bapak dan mantan suami perempuan itu?
Menurut Bapak, Ibu dan Asih harus bisa menerima keputusannya untuk menikah lagi dengan janda itu. Jadi Bapak tetap bertanggung jawab terhadap keluarganya. Entahlah, hanya Bapak saja yang paham dengan cara berpikir dan pilihannya sendiri.
Sementara Ibu, tentu saja tidak terima dengan keputusan Bapak. Dengan mudahnya memerintahkan Ibu dan Asih untuk menerima kedatangan seorang perempuan yang umurnya diperkirakan sepuluh tahun lebih muda dari Ibu.
Setiap hari Asih menjadi wadah pembuangan emosi yang selalu ditumpahkan Ibunya. Kekerasan verbal dan juga fisik menjadi siraman rutin yang membekas didalam jiwa Asih.
Menurut Ibu darah dan daging serta seluruh bagian tubuh Asih sama busuknya seperti Bapak.
Kepatuhan dan kepolosan Asih tidak mengurangi kebencian Ibu kepada anak kandungnya sendiri.
Puncaknya terjadi sore itu saat Bapak melintas di depan rumah bersama istri barunya dan anak yang didapatkannya sepaket.
Ibu meradang dan mulai menumpahkannya lagi kepada Asih. Sakit hati karena melihat Bapak yang sangat disayangnya lebih memilih menyayangi anak lain juga kebencian Ibu yang teramat sangat membuat Asih berlari kabur dari rumah.
Asih terus berlari dengan derai air mata yang tak kunjung usai. Sampai dia sadar, bahwa dirinya berada sangat jauh dari desa. Sendiri melewati senja yang kini berganti malam.
Ibunya menyadari bahwa Asih tidak ada di rumah. Dengan panik Ibu berteriak mengabarkan tetangga dan kerabat. Kemudian warga desa memulai pencarian hilangnya Asih.
Berita hilangnya Asih sampai ke telinga Bapak.
__ADS_1
Kedatangannya membawa kemurkaan kepada Ibu. Menurut Bapak, Ibu sangatlah tidak becus mengurus anak. Dengan perasaan penuh kebencian, Ibu mengemas barang-barangnya dan pergi dari rumah. Ya, tanpa menunggu hasil pencarian anak semata wayangnya yang sangat cantik.
Ibu seperti tidak peduli lagi dengan kehidupannya yang menyakitkan. Ibu memilih pergi.