Kampus Horror

Kampus Horror
Part 33


__ADS_3

Kampus Horror


Part 33


Bagi membatalkan rencananya untuk menikmati hamparan hijau nan luas di Kebun Raya.


Tidak lupa Bagi meminta maaf kepada Agia karena sudah membatalkan janji.


Sebagai penggantinya, Bagi mengajak Agia berkunjung ke rumah Stevina. Bagi sudah mengatur waktu dengan Damar untuk berkumpul di rumah Stevina.


“Bunda sudah siapkan camilan untuk kita nih, Kak.” Agia menunjukkan tentengannya saat membuka gerbang rumah.


“Widih! Banyak amat!” Bagi mengambil tentengan di tangan Agia lalu menggantungnya di sepeda motor bagian bawah.


“Iya, harusnya kita bawa kemarin, Kak. Sayang terlalu banyak kalau dimakan sama orang rumah. Jadi mending aku bawa sekarang saja.”


“Apaan saja itu?” Tanya Bagi seraya menghidupkan mesin sepeda motornya.


“Ada sandwich, kue kering, ada rujak juga. Tapi kata Bunda bumbunya sudah dipisah supaya enggak basi.”


“Bunda kamu memang nomer satu!”


***


“Kak. Itu bukannya Mama Kak Bagi?” Agia menunjuk sebuah gerai kopi yang berada tepat di sebelah jalan saat mereka berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.


Bagi menoleh kearah jari Agia yang menunjuk ke arah kaca besar. Bagi juga melihat Mamanya sedang duduk bersama seorang laki-laki. Bagi tidak melihat jelas wajah dari laki-laki yang duduk di hadapan Mama, dan membelakangi Bagi juga Agia. Tapi dari perawakannya, sepertinya itu Om Ari.


Lampu lalu lintas kemudian berubah warna menjadi hijau.


Bagi memutuskan untuk menanyakannya nanti saat tiba di rumah.


***


“Sudah dari tadi, Kak?” Agia menyapa Damar yang sedang duduk di ruang televisi.


“Dari pagi gue sudah di sini. Tadi gue jogging bareng Rega.”


“Sekarang Kak Rega ada di rumah?”


“Enggak. Sudah gue usir supaya enggak ngikut acara kita.” Sahutnya dengan gurauan kecil.


Agia dan Bagi pun tertawa. Agia memang sudah mengenal Rega karena sering berkunjung ke rumah Stevina. Sedangkan Bagi belum pernah bertemu dengan Rega.


“Stevina mana?” Bagi bertanya kepada Damar.


“Woi! Sudah datang kalian?” Tiba-tiba Stevina datang dengan nampan berisikan beberapa buah mangkok beserta sendok dan garpu.


“Ngapain bawa mangkok kosong?” Agia keheranan menatap bawaan Stevina.


“Itu isinya masih di dapur. Kak Damar beliin bakso tadi.”


Tanpa menunggu perintah, Agia mengambil tas kresek di atas meja dapur.


***


Sambil menikmati bakso, Bagi mulai membuka pembicaraan.


“Gue sudah nyerah.”


“Nyerah sama apa?” Damar bertanya sambil mengunyah sisa bakso yang masih tertinggal dimulutnya.


“Gue akan cerita sama kalian. Gue enggak sanggup bertahan sendirian.”


“Apaan sih, Kak. Bikin gue penasaran aja.” Stevina pun berusaha masuk dalam obrolan.


“Kemarin gue berantem sama Bokap. Eh gue keceplosan tanpa sadar bilang dia pembunuhnya Asih.” Tutur Bagi datar.


“Hah?!” Damar, Stevina, dan Agia berteriak dengan heran dan tak yakin dengan apa yang diucapkan oleh Bagi.


“Lo bilang apa?” Damar meyakinkan sekali lagi pendengarannya.


Bagi menatap yang lain.


“Iya, kalian enggak salah dengar. Gue bilang Bokap gue pembunuh Asih.”


“Cuma karena tulisan tangan itu lo berkesimpulan bahwa Bokap lo pembunuh? Lo aneh-aneh saja deh.”


“Enggak cuma karena itu, Bro. Beberapa waktu lalu, teman Kakek gue ke rumah. Tanpa sengaja gue dengar percakapan mereka. Dari percakapan itu gue jadi tahu kalau Bokap gue kenal dengan Asih. Bahkan teman Kakek gue itu pernah lihat kalau Bokap gue mengantar Asih ke asrama.”


Stevina dan Damar melongo mendengar penuturan Bagi.


“Lo tahu hal ini?” Stevina mengarahkan pertanyaannya kepada Agia.


Agia tersenyum dan mengganggukkan kepala.

__ADS_1


“Ajaibnya, teman Kakek gue itu ternyata mertuanya Ibu Kantin!”


“Waduh! Kok bisa kebetulan begini?” Damar nampak terkesiap hingga posisi duduknya berubah semakin tegak.


“Nah, entah kenapa emosi gue kemarin meledak saking mumetnya ini otak. Eh, pas gue berantem sama Bokap, malah gue bilang kalau dia pembunuh Asih. Lebih fatalnya lagi, Om Deni dengar apa yang gue bahas sama Bokap.” Bagi mengakhiri penuturannya dengan menepuk jidatnya.


“Gue jadi bingung. Bokap lo sebenernya tahu enggak sih, Kak, kalau mendiang Asih adalah kekasih adiknya?” Stevina mulai terpancing adrenalinnya untuk mulai menguak rasa penasarannya.


“Gue belum ketemu Bokap lagi sejak kejadian kemarin. Gue memang mesti ngobrol sama dia. Gue harus dengar sendiri dari versi Bokap gue. Apa alibi dia saat kejadian. Dan gue penasaran, bagaimana mereka bisa kenal.”


“Lantas, respon Om Deni bagaimana?” Kini Agia yang mengungkapkan rasa penasarannya.


“Om Deni enggak bilang apa-apa sih. Gue rasa dia masih shock. Entahlah.”


“Ya pasti lah Om Deni luar biasa terkejut dengan fakta baru yang terungkap. Coba bayangin. Kekasih yang dia anggap berkhianat selama ini ternyata meninggal tragis. Ditambah sedang mengandung anaknya. Gue enggak berani membayangkan, seandainya gue punya kakak yang ternyata dituduh membunuh kekasih gue. Hiii, amit-amit!” Damar bergidik ngeri menuturkan isi pikirannya.


“Kalau dipikir-pikir, seandainya nih. Seandainya ya,” Stevina menegaskan kata seandainya pada kalimat yang akan disampaikannya.


Semua orang mengalihkan tatapan menuju Stevina.


“Kalau ternyata Papanya Kak Bagi benar membunuh Asih, lantas bagaimana?”


Pandangan kini beralih ke Bagi.


“Ya lapor Polisi.” Bagi menjawab datar.


“Itu pun kalau ada bukti. Selama ini ‘kan hanya persepsi gue saja. Karena, selain curiga ke Bokap, gue juga curiga ke Kakek. Entahlah. Gue berharapnya sih, supaya orang lain saja yang jadi pelakunya.”


“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa harus sampikan informasi ini kepada Pak Jim?” Damar menyampaikan pemikirannya.


“Menurut gue, kita coba tanya dulu sama Om Deni. Kita harus dengar juga pendapat dia. Paling tidak untuk menghormati mendiang Asih.” Agia pun menyampaikan sarannya dan disambut anggukan dari yang lain.


***


[Bagi, lagi dmn?] Sebuah pesan dari Andi masuk ketelepon genggam milik Bagi.


[Lg di rumah tmn, Pa.]


[Satu jam lagi kita ktm di cafe ujung jln dkt rumah ya. Ada yg mau Papa omongin.]


[Ok Pa.]


***


Bagi melihat mobil Papanya sudah terparkir rapi di tempat parkir yang disediakan oleh cafe. Bagi mencari tempat parkir khusus sepeda motor.


Bagi melihat Papanya sedang duduk di pojok cafe. Tangannya melambai ke arah Bagi dengan senyum ramah tercurah dari wajahnya.


Bagi berjalan cepat menuju Papanya.


“Sudah makan?” Andi bertanya setelah Bagi berhasil duduk dengan santai dihadapannya.


“Sudah tadi, Pa. Papa sudah pesan?”


“Papa pesan kopi dan pisang cokelat. Kamu mau pesan apa?”


Dengan asik Bagi melihat daftar makanan yang tersedia di atas meja.


Bagi menutuskan untuk memesan milk shake cokelat dan waffle. Dia merasa asupan gula lebih diperlukan oleh tubuhnya karena beberapa hal yang terjadi belakangan ini.


Bagi kemudian memanggil pramusaji dan menyampaikan pesanannya.


“Papa mau ngomong apaan?” Bagi membuka pembicaraan tanpa basa-basi.


“Papa cuma penasaran, bagaimana kamu bisa tahu tentang Asih.”


“Oh.. Mulai dari mana ya. Aku rasa Papa memang perlu tahu. Siapa tahu memang benar Papa pelakunya, jadi akan memudahkan pihak berwajib untuk menangkap Papa.”


“Kamu kok bicara gitu. Papa bukan pembunuh. Enak saja kamu menuduh Papa membunuh orang!”


Bagi melengos dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Baiklah. Sekarang kamu cerita. Kenapa bisa kamu mencurigai Papa?”


“Sebelum aku cerita, biar aku yang tanya Papa dulu.” Andi diam menunggu pertanyaan anaknya.


“Asih itu siapa?”


Andi bingung harus menjawab apa.


“Asih itu mahasiswa Papa.”


“Bohong! Mana mungkin Dosen yang mengajar di Kampus Pariwisata bisa kenal dengan mahasiswi Kampus Sastra.”


Andi menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


“Oke, oke. Asih memang mahasiswi dari Kampus Sastra. Tapi setiap hari Asih menghabiskan waktunya sepulang kuliah di Perpustakaan Kampus Pariwisata. Karena hampir setiap hari Papa lihat dia di sana, Papa dekati dia.”


Penuturan Andi terhenti karena pramusaji datang membawakan pesanan mereka.


Andi melanjutkan penjelasannya sambil merobek gula yang terbungkus dari bahan kertas.


“Asih itu perempuan lugu yang yang sangat jarang ditemukan. Wajahnya cantik. Kalau berbicara dengannya, hati ini jadi tentram. Singkat kata, segala tentang Asih, Papa suka."


Andi mulai mengaduk kopinya setelah menuang habis gula pada cangkir kopi.


"Papa tahu tidak kalau Asih itu kekasihnya Om Deni?"


Andi terdiam sebentar. Ragu untuk mengungkapkan kebenaran yang ada.


"Papa tahu."


"Lantas?"


"Papa sudah pernah menawarkan Asih agar menjadi istri Papa. Tapi Asih menolak. Dari sana Papa tahu kalau Asih sudah memiliki seseorang yang spesial." Andi terlihat enggan mengingat lagi kisah masa lalunya.


"Suatu hari Papa pernah melihat Deni menjemput Asih di asrama saat Papa pulang dari mengajar. Awalnya Papa kecewa karena didahului oleh Deni. Tapi karena kemudian mendengar percakapan antara Kakek dan Nenek yang tidak mengizinkan Deni dan Asih, Papa jadi lebih semangat untuk mendekati Asih lagi."


"Tapi tiba-tiba Asih menghilang. Papa sudah mencari ke mana pun. Tapi nihil. Begitupun Deni. Papa tahu dia juga depresi mengenai hubungannya dengan Asih. Tapi Papa rasa semua tidak apa-apa, karena tidak ada satupun dari kita yang berhasil memiliki Asih."


"Sampai akhirnya Papa membaca berita beberapa waktu lalu. Papa tidak percaya kalau korban adalah Asih. Papa terus berdoa supaya korban itu bukanlah dia. Kasihan Asih."


Andi mengakhiri ceritanya dengan menyeruput kopi yang telah dipesan.


Bagi terpaku mendengar penuturan Papanya yang hampir sama dengan Om Deni. Mengapa kedua orang dekatnya justru mencintai perempuan yang sama? Siapa sebenarnya pembunuh Asih?


"Lalu, menurut Papa siapa yang membunuh Asih?"


"Mana Papa tahu. Sekarang kamu yang cerita. Kenapa bisa tahu Asih?"


Bagi menghembuskan napasnya pelan.


"Awalnya Agia, Pa. Dia yang pertama kali melihat penampakan mendiang Asih di kampus. Kemudian terjadi beberapa kali lagi penampakan setelah itu. Kebetulan Damar yang melihat. Tapi yang dilihat bukan penampakan dari Asih. Melainkan proyektor menyala di kelas lantai dua. Padahal di kelas itu tidak ada aliran listrik."


Bagi menghentikan sebentar penuturannya untuk menyedot milk shake dengan sedotan stainless yang disediakan oleh pihak cafe.


"Proyektor itu menunjukkan tahun 1986. Kami jadi penasaran. Ada apa sebenarnya pada tahun itu. Dan Agia diberitahukan namanya oleh Asih sendiri. Jadi aku cari informasi tentang Asih."


"Sampai pada akhirnya kami tahu kegiatan Asih setiap hari, yaitu mengunjungi perpustakaan. Begitu juga dengan kunjungannya ke Perpustakaan Kampus Pariwisata. Di sana aku temukan beberapa buku yang pernah dibaca oleh Asih. Papa tahu tidak, aku menemukan buku catatan saku yang di dalamnya berisikan tulisan tangan Papa, diselipan buku yang dibaca oleh Asih."


Andi menaikkan alisnya lantaran terkejut mendengar fakta yang disampaikan anaknya.


"Tulisan tangan Papa? Memang isinya tentang apa?"


"Catatan pola kalimat bahasa Inggris."


Andi mengorek ingatannya tentang kejadian dimasa lalu.


"Oh! Benar! Papa memang memberikan catatan itu untuk Asih. Karena dia berminat untuk bekerja di luar negeri. Jadi, dia meminta Papa untuk mengajarkan Bahasa Inggris."


Bagi menganggukan kepalanya berusaha menyetujui yang disampaikan Andi.


"Hanya karena catatan itu kamu tega menuduh Papa pembunuh?"


Bagi menggeleng dan mulai memberikan fakta lainnya.


"Pak Kirman, supir Kakek dulu yang cerita kalau Papa pernah mengantar Asih ke asrama. Jadi aku kepikiran saja kalau Papa yang membunuh Asih."


"Tega sekali kamu sama Papa. Untuk apa Papa membunuh perempuan yang Papa kasihi itu? Bila perlu, jika saat itu Papa tahu Asih dalam bahaya, Papa rela menukar keselamatannya dengan apapun."


"Terus, bagaimana dengan Mama?" Bagi menjadi sensitif karena mendengar Papanya membicarakan perempuan lain selain Mamanya.


"Ya tentu saja berbeda. Kan kita sedang membahas Asih. Bagaimana sih kamu?"


Bagi tidak menjawab karena mulai malas dengan tingkah Papanya. Bagi memotong waffle yang dipesannya tadi. Sudah mulai dingin karena didiamkan. Tapi tetap terasa enak.


"Lantas, apa rencanamu sekarang?"


"Tidak ada, Pa."


"Kamu masih curiga dengan Papa?"


Bagi hanya mengedikkan bahu.


***


"Pak Jim, identitas pemilik bercak darah pada celana korban sudah berhasil ditemukan. Saya akan kirimkan detail nama dan alamat rumahnya melalui aplikasi percakapan."


"Terima kasih atas kerja kerasnya Sangtu! Terpujilah tim kita, tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengungkap misteri kerangka manusia di Kampus Sastra!"


***

__ADS_1


__ADS_2