Kampus Horror

Kampus Horror
Part 59


__ADS_3

Kampus Horror


Part 59


Sidang kembali dilanjutkan dengan memberikan pembuktian dari Jaksa Penuntut Umum.


Sebelum agenda pembuktian dilakukan, Hakim Ketua meminta terdakwa untuk pindah duduk dari kursi pemeriksaan menuju kursi terdakwa yang letaknya di sebelah kanan penasehat hukum.


Selanjutnya Hakim Ketua mempersilahkan Jaksa Penuntut Umum untuk mempersiapkan saksi untuk membuktikan kejahatan yang telah dilakukan oleh terdakwa.


“Kami akan hadirkan seorang saksi yang akan melengkapi penyelidikan kami. Saksi yang kami hadirkan adalah mandor yang mengerjakan pembangunan disaat waktu perkiraan terjadinya pembunuhan oleh terdakwa. Tepatnya pertengahan tahun 1986, bulan Agustus.”


Petugas masuk ke ruang sidang mendampingi seorang saksi dan mengarahkannya untuk menduduki kursi pemeriksaan.


Setelah saksi berhasil menduduki kursi pemeriksaan, Hakim Ketua menanyakan identitas saksi.


“Bisa perkenalkan diri anda, Pak?”


“Nama saya Irwan Iswadi, tapi biasa dipanggil Tole.” Tole menyebutkan usia, serta alamat tinggalnya saat ini.


“Apakah saudara Irwan mengenal terdakwa?”


“Saya kenalnya dengan kakak terdakwa, Pak, eh Yang Mulia maksud saya. Kakaknya salah satu pekerja saat pengerjaan kampus waktu itu.”


“Baik, jadi keberadaan saudara Irwan di sini sebagai saksi, benar?”


“Iya, benar.”


“Apakah saudara saksi dalam keadaan sehat saat ini?”


“Sehat sekali, Yang Mulia Hakim.”


“Apakah saudara siap memberikan keterangan yang benar?”


“Siap, Yang Mulia.”


“Baiklah kalau begitu. Sebelum dimulai agenda pembuktian dengan hadirnya saksi, silahkan petugas juru sumpah untuk mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agama yang dianut.”


Tole selaku saksi diminta untuk berdiri dan mengulang pengucapan sumpah dari juru sumpah.


Setelah itu Hakim Ketua mempersilahkan Tole untuk duduk kembali.


“Saudara saksi, saya harap agar memberikan keterangan dengan benar sesuai dengan apa yang anda alami sendiri. Apapun yang anda lihat dan dengar. Jika saya tahu bahwa keterangan yang saudara sampaikan salah, kami akan menuntut mengenai sumpah palsu. Apa saudara sudah siap?”


“Siap, Yang Mulia.”


“Saudara adalah mandor pekerja bangunan saat pengerjaan renovasi kampus, benar?”


“Benar, Yang Mulia.”


“Apa benar Saudara melihat terdakwa saat kejadian?”


“Benar, Yang Mulia. Saya lihat adiknya Ari keluar dari kampus dengan tergesa-gesa tapi jalannya tidak normal. Setelah saya perhatikan, kakinya mengeluarkan banyak darah.”


“Ari? Apakah Ari ini kakak tersangka?”


“Benar, Yang Mulia.”


“Di mana posisi Saudara saat itu?”


“Saya di warung dekat kampus sedang membeli rokok.”


“Kira-kira pukul berapa?”

__ADS_1


“Saya tidak ingat pasti. Yang jelas saat itu hari sudah gelap namun masih menyisakan suasana senja. Mungkin sekitar jam setengah tujuh, Yang Mulia. Saya masih bisa melihat jelas adiknya Ari menggunakan celana panjang dan rambut diikat.”


“Lalu apa yang Saudara lakukan setelah itu?”


“Saya berjalan menuju kampus, saya curiga ada orang jahat yang menyakiti adik teman saya itu. Karena kakinya terlihat mengeluarkan darah. Saya takut jika material bangunan yang ada di kampus dicuri oleh maling atau orang jahat. Tapi sesampainya saya di kampus, saya tidak melihat siapapun. Kampus terlihat sepi dan temaram seperti biasa. Material bangunan pun masih pada posisi awal. Beberapa menit kemudian Ari datang bersama adiknya. Saya kemudian bersembunyi di sebelah meja kantin untuk mencari tahu apa yang mereka lakukan. Lalu saya lihat Ari menimbun sesuatu dengan tanah di pojok kampus. Saya takut ketahuan, jadi saya putuskan untuk pergi diam-diam sebelum mereka selesai mengubur sesuatu itu. Keesokan harinya lubang itu sudah tertutup rapat dan diplester dengan beton. Ari bilang akan ditaruh patung di atasnya.” Dewi panik dan terkejut mendengar penyampaian yang dilakukan oleh Tole kepada peserta sidang. Dia membisikkan kepada Antoni bahwa yang disampaikan oleh saksi adalah salah.


Bagi dan keluarganya pun menatap ke arah Ari yang ikut serta duduk sebagai pengunjung sidang.


Wajah Ari menunjukkan rasa ketidak percayaan bahwa namanya disebut-sebut dalam sidang. Bahkan dirinya dituduh sebagai orang yang membantu adiknya dalam menghilangkan jazad korban.


“Siapa yang memerintahkan Ari untuk menaruh patung di sana?”


“Orang kampus katanya.”


“Lalu, sebelumnya apakah Saudara tahu kalau ada lubang di sana?”


“Tahu, Yang Mulia. Ari bilang dia disuruh menggali lubang oleh orang kampus untuk menanam pohon. Saya persilahkan saja. Setelah selesai membuat lubang, dia izin kesaya untuk pulang lebih awal karena tidak enak badan.”


Kini Hakim Ketua akan menyelaraskan keterangan saksi kepada terdakwa.


“Terdakwa, dari keseluruhan keterangan yang disampaikan oleh saksi, saya menduga bahwa hari itu anda memang dibantu oleh kakak anda, apa benar begitu?”


“Tidak, Yang Mulia. Semua yang dikatakan oleh saksi itu bohong. Eh, tidak semua, Yang Mulia. Kenyataan bahwa kaki saya terluka dan mengeluarkan darah itu memang benar. Tapi setelah saya meninggalkan kampus, saya tidak kembali lagi ke kampus. Saya diam di kamar kos.”


“Apa ada yang bisa membuktikan alibi anda?”


“Tidak ada, Yang Mulia.” Sahut Dewi lemah.


“Mengapa anda menusuk korban? Boleh saya tahu?”


“Saya hanya membela diri, Yang Mulia. Asih yang duluan menyerang saya.”


“Tidak mungkin seseorang menyerang kalau tidak ada penyebabnya. Apakah anda mengintimidasi korban sehingga terjadi pertikaian?”


Dewi diam tidak mampu menjawab pertanyaan Hakim Ketua.


“Bagaimana Jaksa? Apakah ada yang mau ditanyakan kepada saksi?”


“Tidak ada, Yang Mulia. Saya hanya memohon izin untuk menambahkan daftar saksi yaitu Ari, kakak kandung terdakwa untuk kami periksa terlebih dahulu. Terima kasih.”


“Apakah Penasehat Hukum dari pihak terdakwa ingin menyampaikan sanggahannya?”


Kini giliran Antoni yang bertanya kepada saksi yang telah didatangkan oleh Sandria.


“Bapak Tole, benar?”


“Benar, Pak.”


“Baik. Bapak mengatakan tadi kalau keadaan di kampus temaram. Bagaimana Bapak bisa yakin kalau yang datang itu klien kami?”


“Saya bisa melihat cara jalan orang yang datang tidak normal seperti menahan rasa sakit. Ya, sama seperti cara jalan saat dia meninggalkan kampus sebelumnya.”


“Mengapa Bapak tidak langsung menegur klien kami dan orang yang Bapak sebut bernama Ari?”


“Ya takutlah, Pak. Malam-malam mereka melakukan hal yang mencurigakan. Siapa yang berani? Ya saya pulang saja, dari pada saya yang kenapa-napa.”


“Kesaksian Bapak terdengar rancu. Nyatanya Bapak tidak melihat ada tubuh manusia di sana, kan?”


“Tidak lihat, Pak. Mendekati saja saya tidak berani. Mungkin kalau saya melongokkan kepala ke dalam lubang saya bisa melihatnya. Seperti yang mereka lakukan.”


Antoni tidak bisa menjawab lagi penyampaian Tole. Dia mengakhiri sesi tanya jawab dari pihak terdakwa. Dalam hati Antoni mengakui bahwa tidak akan bisa memenangkan kasus ini. Semua bukti dan saksi telah mengarah keklien ya. Bagaimana dia bisa membuktikan bahwa kliennya tidak bersalah. Bahkan dirinya sendiri mengakui telah menusuk korban dengan pisau.


Antoni hanya berpasrah saja menjalankan kewajibannya.

__ADS_1


Sidang hari itu dilanjutkan dengan hadirnya saksi yaitu teman sekolah terdakwa, teman kuliah terdakwa, dan juga pekerja yang melihat langsung saat Ari menggali tanah di mana korban tertanam.


Hasil sidang hari itu terlalu jomplang. Semua saksi memojokkan Dewi sebagai pelaku yang memiliki motif untuk menghilangkan nyawa korban yaitu Asih Prabandari.


***


Sandria duduk seorang diri di ruang sidang setelah semua orang meninggalkan sidang perdana siang tadi.


Dirinya diam menahan risau.


Kemudian Antoni datang dan menghampiri Sandria.


“Kenapa, San?”


“Eh, lo, Ton. Ngapain kesini?”


“Gue lewat mau pulang, eh lo masih di sini. Kenapa lo?”


“Keluarga terdakwa ngancam gue tadi pagi.” Jawabnya sambil tersenyum getir.


“Iya? Kok bisa?”


“Gue disuruh menghentikan tuntutan kasus ini.”


“Terus?”


“Kalau enggak keluarga gue akan disakiti.”


Antoni diam tidak menjawab.


Mereka memang lawan secara profesional, tapi jika dalam kehidupan pribadi, mereka adalah kawan baik. Berhasil menamati perkuliahan di universitas yang sama, membuat mereka menjadi akrab.


“Lo jaksa hebat. Lo jaksa jujur dan kuat. Lo pasti tahu apa yang harus lo lakuin.”


“Gue dikasi pilihan. Mundur dengan menerima lima milyar atau maju kehilangan keluarga gue.”


“Buset! Banyak amat. Lalu setelah itu akan ada orang yang nuntut lo sebagai jaksa penerima suap. Ah sudah ketebaklah alurnya orang zaman dulu. Pasti mertuanya klien gue, kan, yang punya kerjaan?”


Sandria mengangguk pelan.


“Gue harus gimana, Ton.”


“Maju! Selama sidang, minta bantuan diam-diam sama kepolisian. Coba hubungin Pak Jim. Dia pasti ada ide untuk jagain keluarga lo. Anak-anak libur dulu lah sekolahnya. Biar lebih gampang mengawasi.”


“Sebenarnya gue ada rekam pembicaraan gue sama dia, Ton.” Sandria tertawa kecil.


“Lalu apa gunanya gue ngomong panjang kali lebar kali tinggi barusan? Trobos saja sudah! Jangan takut! Sekalian jeblosin orang tua itu dah!”


***


“Pa, bagaimana kalau seandainya Mama benar-benar masuk penjara?”


“Ya mau bagaimana. Papa tidak bisa mengatakan apa-apa. Mau menyalahkanmu karena berpihak pada kepolisian juga tidak bisa. Seandainya Papa jadi kamu pun, Papa pasti melakukan hal yang sama.”


“Maafin Bagi ya, Pa.”


“Papa juga sebenarnya penasaran sekali. Kenapa Mama kamu bisa setega itu. Anggaplah kalau dia tidak membunuh Asih. Tapi dengan dia berperilaku buruk dimasa lalunya saja cukup membuat Papa geleng-geleng kepala. Papa jadi curiga kalau Mama kamu memang benar membunuh Asih.”


“Pa. Jangan-jangan Mama membunuh Asih karena Papa mengejar-ngejar Asih.”


“Ah jangan bilang begitu kamu. Papa jadi semakin merasa kasihan dengan Asih. Kita serahkan saja sama yang berwenang. Kalau memang terbukti, ya mau bagaimana. Memang Mamamu juga mengaku telah menusuk Asih, kan?”


***

__ADS_1


Dipihak, Ari ditangkap sebagai kaki tangan kasus pembunuhan. Dia ditahan untuk diperiksa lebih lanjut oleh pihak kejaksaan. Sidang berikutnya, Ari akan dinaikkan statusnya dari saksi menjadi tersangka yang akan didakwa di pengadilan.


***


__ADS_2