
Kampus Horror
Bonus - Part 4
Agia melihat Asih tersenyum penuh kemenangan. Lehernya masih terasa sakit sekali. Dada pun bergemuruh akibat panik ulah penyerangan yang dilakukan oleh Anisa.
“Jawab, Bu!” Andi menodong Anisa untuk menjawab pertanyaan Dira Nugraha.
“Maksud Ibu bukan begitu. Ibu hanya terprovokasi oleh hantu sialan itu.”
“Nek, aku enggak mau percaya kalau Nenek bisa melihat hantu. Tapi karena Agia bilang begitu, aku bisa terima. Lantas, Nenek membuat jebakan agar Mama aku yang ditangkap, begitu kan? Sebenarnya memang Nenek yang membunuh, kan?”
“Bagi, jaga ucapanmu.” Dira membentak Bagi.
“Apa, Kek? Kakek sebenarnya juga tahu kan? Tapi Kakek bungkam karena obsesi Kakek terhadap nama baik keluarga.”
“Bukan, Bagi. Nenek bukan pembunuh.” Anisa masih berusaha untuk membela diri dan tidak mengakui kelakuannya dimasa lalu.
“Lalu apa? Kenapa Asih terus menerus menghantui Nenek?”
“Nenek juga enggak tahu. Ayo sekarang kita pulang.” Sahut Anisa cepat berusaha menghindar dari serangan pertanyaan.
***
Bagi memutuskan untuk mengunjungi Damar di rumahnya.
“Mar, Lo mau bantuin gue enggak?”
“Bantu apa?”
“Kita jadi detektif lagi.”
“Maksud lo?”
“Gue rasa Nenek gue ada hubungannya dengan kasus pembunuhan Asih.”
“Lah? Balik ke awal lagi? Gimana ceritanya? Gue kira sudah tamat.”
Bagi menghela napas malas.
“Gue juga enggak ngerti. Kemarin Nenek gue kayak berhalusinasi. Agia dikira Asih. Lalu dia bilang hal yang aneh tentang membunuhmu sekali lagi gitu. Parahnya lagi, Agia dicekek sama Nenek.”
Damar diam tidak percaya dengan ucapan Bagi.
Melihat raut wajah Damar, Bagi melanjutkan lagi, “Gue serius, Mar.”
“Gue bisa bantu apa?”
“Kita buntutin Nenek gue. Kali aja ada petunjuk.”
“Bukannya Nenek lo masih sakit?”
__ADS_1
Bagi mengibaskan tangan, “Dia banyakan drama! Bohong dia. Paling juga nanti sudah bisa kelayapan lagi.”
“Kita mulai dari mana, Bro? Detektif sekelas Pak Jimmy saja sudah meyakini bahwa pelakunya nyokap lo. Lalu kita mulai dari mana?”
“Kita intai aja dulu. Bawa mobil lo, gue yang bayar untuk bensinnya.”
***
Tole menunggu kedatangan Anisa siang itu, sehari setelah Anisa pulang dari rumah sakit.
Tole menunggu di depan gerbang kos, setelah Anisa meneleponnya untuk memberitahukan bahwa dia sebentar lagi sampai.
Benar saja. Tidak sampai menunggu sepuluh menit, Anisa memberhentikan mobilnya di depan Tole. Terlihat Anisa turun dari kursi kemudi, digantikan oleh Tole.
Dari jarak tidak terlalu dekat, Bagi dan Damar melihat Tole menaiki mobil Anisa. Dengan cepat Bagi menekan tombol shooter pada kameranya.
Bagi dan Damar tahu bahwa laki-laki yang sudah tidak muda itu adalah mandor saat persidangan waktu lalu.
“Itu bukannya saksi yang memberatkan nyokap lo, Bro?”
“Iya. Dia mandor saat renovasi kampus dulu. Apa feeling gue benar, Mar?”
“Kita ikuti dulu.”
Mobil Anisa melaju cepat di depan sana.
***
“Ngapain juga takut. Jelas-jelas kamu lebih hebat dari dia, Sayang. Kan kamu yang sudah membuat dia jadi hantu. Hebat kamu!” Tole berusaha menutupi ketakutannya terhadap pengalaman di kos dan rumah sakit. Bahkan dokter menyarankan Tole untuk melakukan CT Scan sekali lagi. Hal ini disebabkan oleh kukuhnya Tole saat menyampaikan bahwa pasien di sebelahnya ingin menyerang saat itu. Padahal, tempat pemeriksaan di sebelah kanan Tole tidak ada pasien malam itu.
Tole tidak mau menceritakan kisahnya kepada Anisa. Dia takut jika Anisa menjadi semakin takut dan berakhir kacau.
“Kamu yakin dukun ini bisa membantu kita?”
“Kata orang-orang sih begitu. Dia bisa mengurung arwah-arwah nakal yang tidak memiliki tujuan di dunia ini.”
“Bagaimana caranya?”
“Entahlah. Kita lihat saja nanti.”
***
“Rame amat, Mas.” Anisa celingak-celinguk melihat ruang tunggu terbuka yang berisikan hampir dua puluh orang itu.
“Memang seterkenal itu, Sayang. Sudah kamu diam di sini dulu. Aku coba tanya-tanya sebentar.”
Anisa menganggukkan kepala.
Tole melenggang menuju tempat lain. Anisa memutuskan untuk bergerilya di dunia maya.
Tidak berapa lama kemudian Tole kembali.
__ADS_1
“Tunggu satu jam lagi baru kita bisa masuk.”
“Lama amat.”
“Iya di dalam ada suami istri yang sedang meminta agar bisa hamil. Mereka sudah sepuluh tahun menikah.”
Anisa menaikkan alisnya. “Bagaimana caranya?”
“Kurang tahu aku. Tapi yang aku dengar, dukunnya bisa membuat keinginan pemohon terpenuhi. Ada yang suruhannya hanya membersihkan diri di sumber mata air. Ada yang menghaturkan ketupat burung. Tergantung kondisi pemohon.”
Anisa tidak menanggapi penuturan Tole karena tertarik mendengar percakapan antara dukun dan pemohon. Didengarkannya dengan seksama Pak Dukun berbicara dari Bale Bagian Selatan. Ternyata ada orang usil yang menutup rahim perempuan itu secara gaib. Pantas saja dia tidak kunjung hamil. Sekarang tugas dukun itu membuka rahim pemohon dengan cara supranatural. Bahkan dukun itu tahu siapa orang usil yang mengirimkan kesialan untuk pasangan suami istri itu. Anisa penasaran, apakah cara yang mereka lakukan ini akan berhasil menjadikan perempuan itu hamil?
Kini giliran Anisa dan Tole yang harus menyampaikan masalah.
“Begini, Pak Atu,” Tole membuka suara terlebih dahulu kepada dukun yang sering dipanggil Pak Atu.
“Saya tidak bisa membantu. Kalian bukan orang baik. Kalian sendirilah yang menyebabkan orang baik ini bergentayangan dan mengganggu kalian.” Anisa dan Tole saling tatap karena terkejut mendengar penuturan Pak Atu. Orang-orang yang berada di sana pun ikut memandang heran dan menjadikan Anisa risih.
“Tapi Pak Atu,” Tole berusaha membela diri dan menyampaikan apa yang mereka inginkan.
Pak Atu tersenyum pada angin dan menganggukkan kepala. Sedetik kemudian Pak Atu menoleh dan menatap Anisa juga Tole. Telunjuknya menuding mata Anisa.
“Ingatlah, kamu tidak akan bisa menemukan kebahagiaan. Bagaimana pun usaha yang kamu lakukan, tidak akan mampu mengubah sengsara kehidupan. Sekeras apapun pengampunan yang kamu lakukan, tidak akan mampu mengembalikan ketenangan jiwa. Ingat itu.”
Anisa diam mematung. Ucapan dukun ini mampu menaikkan seluruh bulu kuduk pada tubuhnya.
“Saya tidak mau membantu orang jahat. Hanya kepada Tuhan saja kalian mampu memohon pengampunan. Itu pun kalau orang baik ini mau menerima permohonan maaf dari kalian.”
“Eh Pak Dukun Gila! Apa-apaan anda sembarangan berbicara seperti itu?” Anisa tidak mau kehilangan muka di depan orang-orang yang baru pertama kali ditemuinya itu.
“Kalau tahu ini dukun tidak waras begini, tidak sudi saya datang ke sini. Enak saja mengatakan saya orang jahat!”
Pak Atu terkejut menerima makian dari Anisa. Dia lalu tertawa terbahak-bahak. “Anda bilang saya gila? Tidak apa-apa. Saya lebih memilih untuk jadi gila dibandingkan normal tapi membunuh.” Sahutnya sinis.
Anisa memalingkan wajah menahan marah. Bibirnya mencebik meremehkan Pak Atu.
“Sudah, sudah. Kamu diam dulu.” Tole menenangkan Anisa.
“Memangnya apa yang anda ketahui Pak Tua Sok Tahu?” Anisa menantang Pak Atu dan menolak bujuk rayu Tole untuk diam.
Pak Atu kembali tertawa keras. “Kamu yakin harus saya jabarkan di sini? Apa kamu tidak malu kalau orang-orang tahu bahwa arwah perempuan yang kamu habisi nyawanya setiap hari menunjukkan amarah di hadapanmu? Begitu maumu?”
Anisa tercengang. Begitu juga Tole dan orang-orang yang kebetulan menyaksikan secara gamblang penuturan Pak Atu.
“Kamu mau tau kan, bagaimana caranya agar arwah ini berhenti mengganggumu?” Pak Atu tersenyum sinis menawarkan sebuah ide kepada Anisa.
Anisa tidak menyahuti, namun, Pak Atu tetap berbicara.
“Caranya, kamu harus mati.” Setelah menyampaikan hal itu, Pak Atu tertawa sangat keras dan menakutkan.
Satu hal yang dilupakan oleh Anisa dan Tole tentang perkembangan zaman. Yaitu, teknologi.
__ADS_1
Kejadian tadi secara sadar telah direkam oleh orang-orang yang menyaksikan. Buruknya lagi, salah seorang diantaranya adalah Bagi dan Damar.