
Kampus Horror
Part 31
“Selamat Malam, Pak Jim! Saya menemukan sesuatu.”
“Silahkan berbicara. Saya mendengarkan.” Walaupun jam dinding di kantor menunjukkan pukul tiga pagi, tidak mengurungkan semangatnya untuk mendengar informasi yang akan disampaikan oleh Sangtu.
“Awalnya saya pikir ini adalah noda tanah pada celana jeans milik korban. Ternyata ini adalah darah, Pak.” Jimmy seketika berdiri karena terkejut sekaligus senang, segala daya dan upaya yang timnya lakukan seakan menemukan titik terang.
“Berapa lama waktu yang kalian perlukan untuk memberikan kabar gembira ini untuk saya?”
“Secepatnya, Pak Jim!”
***
“Kamu maunya kita menikah kapan? Dalam waktu dekat, atau tunggu tamat kuliah dulu?” Deni membuka pembicaraan ketika mobil melaju dari asrama Asih menuju gedung bioskop.
Asih tersenyum malu mendengar pertanyaan konyol yang dilontarkan Deni tiba-tiba.
“Nanti saja, Kak. Kita kan baru kenal. Memangnya Kak Deni sudah yakin mau menikahi saya?”
“Ya pasti yakin dong! Semua yang saya inginkan tentang perempuan, sudah ada dikamu.” Deni berkata gombal membuat Asih terlena.
“Yakin? Saya orang tua saja tidak punya. Rumah apa lagi. Yakin Kak?”
“Orang tua aku sudah punya. Rumah juga sudah. Aku tidak perlu orang tuamu yang jahat itu Asih. Untuk apa juga aku menginginkan rumah lagi? Bila perlu, setelah menikah aku belikan rumah untukmu.” Deni kembali mengumbar janji yang pastinya tidak akan pernah ditepati.
“Kalau saya maunya biar tamat kuliah dulu, Kak. Ingin deh rasanya bekerja, menghasilkan uang yang banyak sampai bingung harus dibelikan apa uang itu. Baru setelah itu memikirkan menikah.”
“Tidak perlu. Kamu tidak perlu capai memikirkan masalah uang. Aku janji akan menyediakan uang yang sangat banyak untukmu nanti. Kamu hanya perlu tetap mencintai dan menyayangiku. Hanya itu tugas utamamu sebagai istriku. Bisa kan?”
Asih menatap kekasihnya itu yang berbicara sekaligus fokus menyetir mobil pribadinya.
Asih tidak menjawab, namun dia menguatkan genggaman tangannya untuk Deni.
***
Tak dipungkiri kehadiran Deni mengubah kehidupan Asih. Kehidupannya yang terkesan hitam juga abu-abu, berubah biru, merah jambu, bahkan kuning. Berbagai macam warna telah dirasa Asih sejak mengenal Deni.
Berbanding terbalik sejak perubahan sikap Ibu. Masa lalu pahit dan menguras tenaga, perasaan, serta mentalnya, telah menjadikan Asih tertutup dan enggan membuka diri.
***
Ibu seperti tidak peduli lagi dengan kehidupannya yang menyakitkan. Ibu memilih pergi. Melupakan semua kenangan baik dan buruk yang telah dilaluinya bersama Bapak. Dan keturunan Bapak.
Asih ditemukan sedang tertidur di emper rumah warga menggigil kedinginan. Bukan hanya tubuhnya saja yang dingin. Hatinya jauh lebih dingin akibat sikap yang diterima dari Bapak dan Ibunya. Anak kecil yang bukan bagian dari masalah, mendapatkan efek lebih buruk dari masalah itu sendiri.
Setelah ditemukan, Bapak memutuskan membawa Asih tinggal dengan Neneknya. Namun karena keterbatasan fisik lantaran usia Nenek yang tidak lagi selincah dulu, Asih dititipkan secara permanen di rumah Bibi. Adik perempuan Bapak yang terkenal sangat cerewet dan pelit.
Bagaikan menabur garam pada luka yang terkoyak, hidup Asih semakin hancur. Setiap hari kehidupannya dipenuhi dengan rasa was-was karena takut menerima cercaan dari Bibinya.
Bibi terus merayu agar Asih berhenti sekolah dan hanya mengabdi saja pada dirinya.
Namun, ada seorang guru baik hati yang selalu mendukung Asih untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.
__ADS_1
Ibu Guru Wati selalu mengusahakan setiap tahunnya untuk memasukkan Asih sebagai penerima beasiswa. Walaupun keperluan dasar sekolah telah ditanggung pemerintah, Ibu Guru Wati berencana untuk menyimpankan uang beasiswa Asih sebagai bekal dimasa yang akan datang.
Awalnya Asih ikut menggunakan keperluan mandi bersama keluarga Bibi. Namun lama kelamaan, sepupu-sepunya mengeluhkan jika sabun dan sampo cepat habis setelah Asih tinggal bersama mereka.
Akhirnya Bibi sesekali memberikan uang logam dengan nilai dua puluh lima rupiah untuk keperluan hidup pribadinya. Asih harus berhemat. Karena pemberian itu tidak bisa dia dapatkan secara rutin.
Demi berhemat, asih memotong sabun batangan yang baru dibelinya menjadi lima bagian. Dia taruh sisanya di kamar. Mandi tetap bersih dengan sabun yang tidak cepat habis.
Untuk sampo, Asih menggunakan botol sampo lama bekas keluarga Bibi. Dia tuang sedikit sampo, lalu mencampurkannya dengan air. Agar lebih memantapkan usaha menghemat, Asih tidak pernah memiliki rambut yang panjangnya melebihi pundak.
Begitupun dengan pasta gigi, seujung sikat gigi sudah cukup. Satu tabung besar yang biasa dijual di pasar, bisa digunakannya sampai lima bulan.
Miris memang. Tapi begitulah kehidupan Asih. Berat dan sangat berat untuk anak usia delapan tahun.
Asih harus pintar membagi waktu antara bekerja di rumah Bibinya tanpa bayaran, dan belajar. Namun, menurut Bibinya, Asih harus mau bekerja untuk mendapat imbalan. Yaitu, makan, tidur nyenyak walaupun beralaskan kasur lapuk, dan tempat mandi dengan atap. Ya, di desanya mandi di kamar mandi merupakan hal yang sangat mewah. Kebanyakan warga desa masih mandi di sungai.
Namun, Asih harus menimba air sumur demi mengisi bak mandi untuk seluruh keluarga Bibi. Suami, serta tiga orang sepupunya. Karena aliran air yang keluar dari keran seperti halnya di kota, sangatlah mustahil.
Asih juga memiliki tugas penting lainnya. Yaitu, mencuci pakaian seluruh keluarga. Tanpa terkecuali.
Sepupu-sepupunya pun tidak bisa disebut sebagai keluarga yang baik. Pernah sabun yang dibaru saja dibeli Asih, tertinggal di kamar mandi. Entah oleh siapa, sabun tersebut telah dicelempungkan ke dalam bak mandi. Alhasil, Asih harus menguras bak mandi subuh-subuh agar bak mandi tidak licin dan berbusa lagi. Upaya mengisi bak mandi dengan air yang telah dilakukannya kemarin sore sirna. Asih harus menimba air lagi setelah membersihkan bak mandi. Sabunnya? Berakhir lembek dan hanya bisa digunakan kurang dari seminggu.
***
"Sih, kamu pakai apa? Kok bisa kulitnya mulus begini?" Teman-temannya saat Sekolah Menengah Atas selalu kagum dengan kemolekkan tubuh Asih.
"Memang bisa pakai apa sih, La? Uang saja aku enggak punya." Sahut Asih kepada Nela, teman sebangkunya. Mereka berbincang sambil menunggu kedatangan guru yang akan mengajar pagi itu.
"Ya tapi kok bisa kinclong begini?"
"Huh! Sombong!"
"Orang miskin kayak aku mana boleh sombong, La. Nanti enggak dapat traktiran lagi dari Nyonya Bos." Asih mencuil dagu Nela akrab.
"Eh besok kamu ikut enggak ke rumah Sabi?"
"Kayaknya enggak deh, La. Nanti Bibi aku berubah wujud. Dimakan nanti aku!"
"Tapi kan enggak enak kalau kamu enggak datang. Ulang tahun sweet seven teen! Sekalian biar kamu tahu makanan yang lebih enak dari kantin sekolah." Sabi adalah anak seorang bupati di kabupaten tempat tinggal Asih. Rumahnya pun di kota. Berbeda dengan Asih. Rumahnya jauh di pinggiran kota. Jika ke sekolah, Asih harus berjalan kaki
"Aku enggak berani janji. Pulangnya pasti malam. Habislah aku nanti."
"Biar aku jemput. Nanti kita boncengan naik sepeda. Gimana?"
Asih nampak berpikir.
"Kalau aku enggak dapat izin, gimana?"
"Nanti aku saja yang jemput, Sih!" Tiba-tiba Dewi menoleh dari bangku depan.
Asih diam tidak menjawab karena ragu.
"Aku minta diantar sama Kak Ari. Sekalian aku yang minta izin deh ke Bibi. Yuk!"
"Besok aku kasi kabar lagi deh."
__ADS_1
Sebenarnya Asih memiliki banyak teman. Menurut teman-teman, Asih merupakan anak yang mudah akrab dengan siapapun. Selain cantik dan pintar, Asih juga senang menolong. Tapi itu dulu.
***
Bagi sedang meghabiskan es kelapa muda yang telah diberikan oleh pedagang.
Agia pun perlahan-lahan meminum kelapa muda.
Mereka tengah menikmati desiran angin di pondok kecil yang dibuat oleh pedagang es kelapa di pematang sawah.
Bagi yang dilanda rasa resah lantaran mendapati beberapa fakta yang kebetulan terungkap secara mudah, memutuskan untuk menjemput Agia agar menemaninya.
"Aku sebenarnya enggak mau nanya-nanya urusan pribadi Kak Bagi. Tapi aku rasa Kakak sekarang lagi ada masalah. Kalau boleh tahu, Kakak kenapa?"
Bagi terdiam. Tida menjawab pertanyaan dari Agia.
"Aku janji hanya akan mendengar saja. Kadang menolong orang lain, tidak melulu dengan tindakan. Cukup mendengarkan saja sudah bisa lebih melegakan. Kakak perlu teman cerita kan?"
Bagi menghela napas dengan berat.
"Sebenarnya..."
Bagi menghentikan kalimatnya. Ragu-ragu Bagi ingin bercerita.
Agia menatap Bagi dengan lembut. Lalu memegang tangan Bagi.
"Pelan-pelan saja, Kak. Aku tunggu sampai Kakak siap."
"Aku rasa pembunuh Asih adalah keluargaku."
Agia terperanjat karena tidak menyangka Bagi akan mengatakan hal itu.
"Maksud Kakak?"
"Aku nemu catatan pada buku yang dibaca Asih. Dan catatan itu berisikan tulisan tangan dari Papaku."
Bagi berhenti sebentar untuk melihat reaksi Agia.
"Memang segala hal bisa saja terjadi, tapi kebetulan ini juga terkesan aneh. Apa mungkin Papaku dan Asih pernah bertemu dulu. Atau bagaimana mungkin Papa meninggalkan buku catatan kecil di sana." Bagi melanjutkan ceritanya.
"Kemudian, beberapa waktu lalu, ada teman Kakek datang berkunjung. Tanpa sengaja aku dengar pembicaraan mereka, bahwa Papaku dulu memang pernag terlihat mengantar Asih pulang ke asrama."
Agia masih diam menyimak penuturan dari Bagi.
"Dan kamu tahu tidak, siapa teman Kakek?"
Agia menggeleng kepala pelan.
"Mertuanya Ibu Kantin!"
Agia membelalakkan mata tanda tidak percaya.
"Aku serasa hampir frustasi karena beberapa kebetulan yang terjadi."
"Kak. Aku tidak akan bertanya apapun. Biar Aku mencerna dulu cerita yang Kakak sampaikan. Sekarang kita habiskan es kelapa ini, dan antarkan Aku ke Taman Kota. Kita refresh pikiran Kakak dulu sebentar."
__ADS_1
***