
45
Kampus Horror
Part 45
“Kapan hari, aku makan bareng Papa dan Om Deni. Tahu tidak, Papa dengar pembicaraan anak kecil dan ibunya di meja sebelah.” Bagi memberi jeda pada penuturannya untuk meminum es teh, demi melegakan tenggorokannya setelah menyantap bakso kenyal didalam mulutnya.
Agia melihat ke arah Bagi tanpa menghentikan kegiatannya menyendok bakso.
“Anak kecil itu melihat ada makhluk besar yang meludahi makanan. Terus ada anak kecil botak berlarian di sana.”
Agia lalu menghentikan gerakkannya dan memfokuskan pendengaran pada cerita Bagi.
“Kata Papa aku, itu pakai penglaris.” Lanjutnya lagi dengan dibarengi memotong pentol bakso menjadi potongan kecil agar lebih mudah disantap.
“Di mana itu, Kak?”
“Itu rumah makan yang sambalnya berbagai varian. Kalau makan di sana mesti antri dulu.”
“Oh ya? Pantas saja kalau begitu.”
“Pantas bagaimana?”
“Aku tidak tertarik untuk singgah di rumah makan itu, Kak. Pernah aku kecolongan. Sama beberapa teman SMA makan di rumah makan yang mi nya terkenal itu. Kalau makan pasti ditanya mau rasa pedas level berapa? Itu daya tariknya di sana. Level kepedasan mi tergantung dari permintaan pembeli.”
Bagi menghentikan kegiatan pentingnya karena tertarik dengan penuturan Agia.
“Harganya pun sangat terjangkau untuk pelajar. Jadi ramai berbondong-bondong pembeli ke sana. Sebelum berangkat ke rumah makannya, temanku menunjukkan foto menu yang lengkap berisikan gambar makanannya. Wih kelihatannya lezat sekali, aku bahkan sampai tidak sabar harus mencoba. Tapi, begitu aku sampai di sana, aku jadi pusing dan ingin pulang.”
Bagi tercengang mendengar cerita Agia yang belum usai.
“Tunggu dulu! Ini mi yang jual dim sum itu bukan?”
Agia mengangguk mantap, dia tidak bisa menyahut karena terhalang oleh tahu bakso yang menguasai rongga mulutnya.
“Terus, terus.”
“Padahal perut aku lapar sekali waktu itu. Begitu makanan siap disantap, aku selalu berdoa dulu, Kak. Eh, tiba-tiba aku jadi pusing, lalu mual. Makanan yang tadinya terlihat sangat menggiurkan berubah jadi bau. Baunya itu seperti, apa ya. Seperti baju basah yang lama didiamkan tapi tidak dijemur gitu, Kak. Ngerti enggak Kakak maksud aku?”
“Iya ngerti. Bau apek begitu, kan?”
“Bukan, Kak. Kalau apek itu kan baju kering yang lama di lemari. Ini bau baju basah yang enggak dikeringkan. Terus jadi bau busuk. Eh, enggak busuk sih. Aduh aku enggak tahu deh namanya apa.”
“Iya tapi aku tahu kok bau itu. Enggak enak.”
“Terus, aku diam sebentar, enggak lanjutkan makan. Sementara teman-teman yang lain lahap luar biasa. Lalu aku fokuskan pikiran, ternyata banyak makhluk lain yang sibuk di rumah makan itu, Kak. Ada makhluk besar seperti yang dikatakan adik kecil itu. Ada juga makhluk yang dibungkus kain putih menatap ke arah pengunjung. Bahkan bocah botak berlarian ada sekitar lima orang. Jeleknya lagi, bocah botak ini mengambil uang pembeli tanpa ketahuan.”
“Waduh! Aku sering beli dim sum itu pakai aplikasi pengantar makanan, loh.” Bagi tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan informasi itu. Tapi syukurlah dia jadi mengetahuinya.
“Kalau saran aku sih mending enggak usah beli di sana lagi, Kak. Kasihan tubuh kita. Jiwa kita juga. Efeknya pada setiap orang beda-beda. Kalau aku jadi pusing dan mual.”
“Lantas, bagaimana kita bisa membedakan rumah makan itu menggunakan penglaris atau tidak?”
“Sebenarnya aku juga enggak terlalu tahu. Karena penglaris itu ada banyak, Kak. Biasanya ada saja yang aneh. Harga yang terlalu murah, atau terlalu mahal tapi pembelinya membludak. Entahlah, Kak. Oh iya! Kalau yang di rumah makan mi pedas itu, aku ingat ada tempat semacam apa ya, aku enggak bisa bilangnya. Semacam pondasi rumah kecil sekitar 100 cm x 80 cm gitu di pojok luar rumah makannya.”
__ADS_1
“Seperti tempat ibadah suatu agama gitu maksud kamu?“
“Enggak. Kalau tempat ibadah kan biasanya ada atapnya begitu. Kalau yang aku lihat itu enggak, Kak. Kayak tembok gitu tapi bukan tembok. Ah susah bilangnya. Nanti kalau kita lewat rumah makan itu, aku bilangin.”
“Memangnya kelihatan dari luar?”
Agia mengangguk. “Kayaknya sih itu yang manggil-manggil pengunjung untuk datang, Kak. Soalnya di atasnya ada ular hijau, tapi lurus. Bukan meliuk, bukan melingkar. Aneh, kan?”
Bagi seketika diam menatap Agia.
Menyadari Bagi tidak merespon ceritanya, Agia melihat Bagi dan bertanya. “Kok diam?”
“Baru sekarang kamu banyak cerita sama aku, Gi. Biasanya kamu lebih banyak diam.”
Agia lalu meletakkan sendoknya dan memandang Bagi.
“Masak iya, Kak?”
“Iya. Tapi ,tadi sama Eka kamu banyak cerita dan kelihatannya nyaman sekali.”
Agia lalu tersenyum. “Kakak cemburu?”
“Cemburu? Ngapain cemburu? Kan kita teman.” Bagi mengulang pernyataan Agia saat berkunjung ke rumah Eka.
“Memangnya Kakak pernah meminta aku untuk jadi sesuatu yang lain selain pertemanan gitu?” Agia tiba-tiba terdengar seperti menuntut.
Bagi mengerjapkan matanya dua kali tanpa bisa merespon.
“Aku bahkan bohong sama teman-teman di kelas. Aku bilang kalau kita sudah pacaran.” Ucap Agia malu-malu.
“Kok kamu bohong?”
“Ya mau bagaimana dong?”
“Ya sudah kalau begitu. Dari pada kamu terus-terusan bohong, kita pacaran beneran saja, ya?”
***
“Lo di mana?”
“Di kantor.”
“Gue jemput sekarang, tunggu gue di depan kantor dua puluh menit lagi.” Dj segera mematikan panggilannya kepada Jimmy tanpa memastikan apakah Jimmy bersedia atau tidak untuk dijemput.
Empat puluh menit kemudian mobil Dj berhenti di depan Jimmy.
“Satu menit dalam hidup lo itu berapa detik?” Ucap Jimmy menyindir Dj.
“Maaf, maaf! Macet sedikit tadi di ujung sana. Ayo buruan!”
Jimmy segera membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Dj.
“Mau kemana kita?”
“Bertemu dengan teman sekolahnya korban. Namanya Nela. Gue sudah janjian di kedai donat. Nanti gue traktir lo kopi kekinian.”
__ADS_1
***
“Apa begini minuman anak muda zaman sekarang? Berapa gram gula yang dimasukkan dalam satu gelas plastik ini?”
Jimmy protes setelah meminum mochaccino yang dipesankan oleh Dj.
“Dasar Pak Tua. Enggak tahu minuman kekinian.”
Dari dalam kedai yang menggunakan pendingin ruangan, terlihat seorang wanita berpenampilan sederhana sedang berjalan pelan ke arah mereka.
“Halo, Pak Jimmy, ya?” Serunya saat telah dekat dengan Jimmy dan Dj. Mendengar namanya disebut, Jimmy otomatis merespon panggilan tersebut.
“Iya, Bu. Saya Jimmy.” Dalam sepersekian detik Jimmy menatap sini ke arah Dj yang sedang tersenyum nakal ke arahnya. Jimmy yakin, bahwa Dj menjual namanya sebagai penyidik untuk mendapatkan berbagai informasi.
“Silahkan duduk, Bu.” Jimmy mempersilahkan Nela duduk.
“Langsung saja, Pak. Apa benar berita itu? Apa benar kerangka itu Asih teman saya?” Nela terlihat sedikit gusar.
Dj lalu tersenyum. “Benar, Bu. Maka dari itu, kami memerlukan informasi dari Ibu. Apa saja informasi yang bisa kami dapat, pasti membantu kepolisian.”
“Harus mulai dari mana, Pak?”
“Saya lihat Ibu banyak berswafoto dengan Ibu Dewi. Boleh kamu tahu seberapa dekat Ibu Nela dengan Ibu Dewi?” Dj mulai memberikan pertanyaan kepada Nela.
“Seberapa dekat ya? Sebenarnya saya tidak begitu dekat dengan Dewi, Pak. Tapi karena Dewi teman satu desa dengan Asih, jadi saya pun berada satu lingkaran pertemanan dengan Dewi. Lagi pula, Dewi duduk tepat di depan saya. Kami jadi sering berinteraksi.”
“Kalau Ibu Nela duduk dengan siapa?”
“Saya duduk dengan Asih selama dua tahun. Bisa dibilang kami cukup akrab.”
“Ibu pernah mendengar kalau Asih memiliki konflik dengan seseorang?”
“Asih itu orang paling kasihan yang pernah saya kenal, Pak. Orang tuanya bercerai. Tapi tidak satupun dari mereka yang mau mengajak Asih. Bahkan Ibunya pergi entah kemana. Asih tinggal dengan keluarga Bibinya. Bisa dibilang, Asih menjadi pembantu di sana. Kalau masalah dengan orang lain enggak pernah sih saya dengar, Pak. Cuma ya entah dengan orang lain. Asih itu cantik luar dan dalam. Orangnya cerdas dan pandai bergaul. Tapi ya itu, karena Asih cantik, banyak laki-laki yang ingin lebih dekat lagi. Ternyata menjadi primadona tidak selamanya indah, Pak. Banyak teman perempuan lain menjadi iri bahkan dengki dengan Asih. Apalagi teman dekat laki-laki mereka berpaling kepada Asih. Hal itu semakin memojokkan Asih. Kasihan dia.”
Jimmy dan Dj seakan-akan mengenal Asih lebih dari yang mereka kira. Jimmy bisa membayangkan seperti apa sosoknya.
“Kira-kira Ibu punya tidak foto Asih?”
Nela terlihat berpikir. “Kalau saya sepertinya tidak. Nanti saya akan coba menghubungi Sabi. Teman kami yang lain. Saat itu Bapak Sabi menjabat sebagai bupati. Pasti dia memiliki kamera. Nanti saya coba tanyakan ya, Pak.”
“Sebenarnya Dewi dan Asih pernah bersitegang, Pak.”
Jimmy dan Dj lalu saling pandang karena terkejut.
“Dulu, Dewi menyarankan Asih agar menikah dengan kakak laki-lakinya. Siapa ya namanya saya lupa. Entah bagaimana bisa tersebar, bahwa Asih itu berpacaran dengan Kakaknya Dewi. Tapi tanpa sengaja Dewi mendengar Asih menampik berita yang beredar itu. Lalu Dewi marah dan tidak terima. Setelah itu Dewi selalu bersikap sinis kepada Asih.”
“Memangnya Asih pernah memiliki hubungan istimewa dengan laki-laki?” Dj mengorek informasi lainnya dari Nela.
“Tidak, Pak. Dia tidak punya waktu untuk hal semacam itu. Dia hanya fokus belajar, karena keinginannya untuk mulai hidup mandiri sangatlah besar. Selalu dia ceritakan mimpinya untuk menjadi pegawai bank. Bahkan dia bersusah payah agar diterima pengajuan beasiswa di universitas negeri.”
“Dewi kadang keterlaluan, Pak. Pernah Asih terkunci sendirian di gudang sekolah saat pelajaran olah raga. Saat itu kami sedang mengembalikan bola basket setelah menggunakannya. Dewi berdua dengan Asih yang terakhir kali memasuki gudang. Tapi lama Asih tidak muncul. Saya bingung dan panik. Entah ke mana Asih pergi. Saya dibantu beberapa penggemar Asih mencari keberadaannya. Ternyata dia dikunci di gudang. Saya marah sekali kepada Dewi. Tapi Dewi bilang tidak sengaja. Dia mengira Asih sudah balik ke kelas. Padahal, gudang di sekolah itu tidak akan mungkin dikunci jika jam pembelajaran belum usai. Jahat sekali Dewi itu. Tapi Asih diam saja. Dia tidak mau bercerita kenapa bisa sampai terkunci. Lama setelah kejadian itu, baru dia bilang kalau Dewi menyuruhnya untuk merapikan matras di dalam gudang. Menurut cerita Asih, Pak Guru yang memerintahkan Dewi untuk merapikan matras. Padahal kami tidak menghunakan matras hari itu. Hanya bola basket saja.”
Melihat Nela bercerita hingga napas terputus-putus, Jimmy bangkit dan membelikan segelas milk tea.
“Kalau memang Asih meninggal karena disakiti orang lain, saya tidak akan terima, Pak. Apa salah Asih? Saya tidak percaya jika Asih bisa berbuat kejahatan sampai-sampai harus dihilangkan nyawanya dengan cara tragis seperti itu. Saya minta tolong untuk mengusut tuntas kasus ini ya, Pak.”
__ADS_1
“Kami akan mengusahakannya dengan baik, Bu. Maka dari itu, jika Ibu memiliki informasi lainnya tolong beritahu kami.”