
Kampus Horror
Part 40
“Selamat siang, Bu. Saya Jimmy anggota kepolisian dengan tugas sebagai penyidik. Saya akan memberikan beberapa pertanyaan. Mohon kerja samanya untuk merespon setiap pertanyaan yang kami ajukan dengan benar.” Jimmy baru saja memasuki ruang penyidik dengan membawa sebuah map. Sebelum memulai pertanyaan, Jimmy tidak lupa untuk merekam hasil percakapan antara dirinya dengan Dewi.
Dewi hanya diam menatap Jimmy yang memberikan instruksi.
“Boleh sebutkan nama lengkapnya?” Jimmy memulai pertanyaan pertama.
“Dewi Laksmita.”
“Tanggal lahir?”
“Empat belas September 1967.”
“Usia?”
“Hampir empat puluh empat tahun.”
“Pekerjaan?”
“Ibu rumah tangga.”
“Kegiatan yang biasa dilakukan?”
“Ibu rumah tangga ya bisa berkegiatan apa lagi, Pak? Beres-beres, memasak, melayani anak, suami, dan mertua. Bisa apa lagi saya?”
Jimmy menatap Dewi yang menjawab pertanyaannya dengan sinis.
Jimmy memutuskan untuk tidak akan menanggapi jawaban Dewi sekarang.
“Selanjutnya. Apa hubungan Ibu Dewi dengan korban, atau Asih Prabandari?”
“Asih adalah teman lama saya saat Sekolah Menengah Atas. Kami satu kampung. Namun berbeda desa.”
“Boleh saya tahu Ibu Dewi dan Asih bersekolah di mana?”
Dewi lalu menyebutkan nama sekolah negeri tempat dirinya dan Asih bersekolah dulu.
“Bagaimana hubungan Ibu Dewi dengan saudara Asih?”
“Biasa saja. Tidak ada yang istimewa.”
“Dari informasi yang tertulis, Ibu Dewi ternyata berkuliah di universitas yang sama dengan saudara Asih. Apa itu benar?”
“Benar, Pak. Tapi kami berbeda fakultas. Saya menempuh bangku kuliah di Kampus Pariwisata. Sedangkan Asih di Kampus Sastra.”
Jimmy kemudian menganggukkan kepala setelah mendengar jawaban dari pertanyaan yang disampaikannya.
Jimmy kemudian mengeluarkan sebuah celana jeans usang dan kotor berwarna biru laut. Celana tersebut barang bukti dari pakaian yang dikenakan oleh korban, yaitu Asih.
“Apa Ibu tahu benda ini?”
Dewi mengamati sebuah kain yang diyakininya sebagai celana jeans itu. Kemudian Dewi menaikkan alisnya karena terkejut.
__ADS_1
“Itu celana saya saat kuliah dulu, Pak. Coba lihat merknya.” Dewi menyebutkan nama sebuah merk yang lumayan terkenal kepada Pak Jimmy.
“Saya menabung lama sekali untuk membeli celana ini. Tapi hari itu Asih datang untuk meminjam, karena badannya semakin berubah ukuran. Menurut Asih, semua celana yang dia punya, tidak dapat dia kenakan lagi untuk kuliah. Jika harus membeli, Asih bilang sayang dengan uangnya. Jadi saya pinjamkan saja celana saya yang ini. Kebetulan badan saya saat itu berbeda dua size lebih besar dari Asih, dan saya juga sudah bosan dengan celana ini. Sudah ketinggalan zaman.” Sahut Dewi mantap.
Jimmy tidak menemukan kebohongan dari cerita Dewi.
“Lalu, mengapa bisa ada noda darah pada celana yang dipinjam korban ini?”
“Darah? Mana? Saya tidak ingat, Pak.”
Jimmy lalu membuka plastik klip yang membungkus barang bukti tersebut.
“Ini. Di sebelah sini.” Jimmy menunjukkan noda berwarna kehitaman dibagian bawah lutut celana.
Dewi diam sebentar. Berusaha mengingat segala kegiatan yang pernah dilakukan ya setelah memiliki celana itu.
“Oh! Benar! Waktu di kampus, sebelum Asih meminjam celana ini, ada salah satu teman membawa satu kantong kresek besar mangga muda. Jadi kami memutuskan untuk membuat rujak. Saya mendapat bagian tugas untuk mengupas dan mengiris mangga. Sayangnya malah jari saya yang teriris. Dan darah itu mungkin menetes mengenai celana saya. Saya juga tidak tahu jika noda tersebut membekas hingga puluhan tahun seperti ini.” Dewi menghembuskan napas berat. “Seharusnya saya langsung pulang saat itu dan tidak ikut pesta rujak, jadi saya tidak terlibat dengan kasus pembunuhan seperti sekarang.”
“Malah, seharusnya saya tidak meminjamkan celana ini kepada Asih. Dasar Asih, sudah meninggal pun masih menyusahkan!”
Jimmy lagi-lagi tidak menanggapi penuturan yang disampaikan Dewi.
“Baik. Terima kasih banyak atas kesediaan waktunya menjawab pertanyaan dari kami. Setelah ini Ibu Dewi kami perkenankan pulang. Tapi, tolong untuk tidak bepergian terlebih dahulu ke luar negeri. Jika ada keperluan atau pertanyaan lainnya, kami akan menghubungi Ibu Dewi kembali.”
Dewi mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Jimmy. Kemudian seorang petugas polisi mengantar Dewi menuju luar ruang penyidik.
***
Andi dengan setia menemani Dewi yang sedang diperiksa oleh pihak kepolisian. Dia memutuskan untuk melihat keramaian lalu lintas di depan kantor polisi. Dengan tangan memegangi sebotol minuman bersoda berwarna merah, serta sebungkus kripik singkong, Andi berdiam diri tanpa suara. Satu setengah jam sudah Andi menanti proses pemeriksaan terhadap istrinya.
“Halo, Ma.”
“Di mana, Pa?”
“Di warung. Di depan kantor polisi. Mama sudah selesai?”
“Sudah, Pa. Yuk, kita pulang!”
“Tunggu sebentar di sana. Papa mau bayar minum dulu.”
***
Dari kejauhan terlihat Andi sedang berjalan pelan menuju tempat tunggu yang disediakan oleh kantor polisi. Dewi dengan tenang sedang duduk menanti kedatangab suaminya.
Andi menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada Dewi.
“Minum dulu, Ma.”
“Terima kasih, Pa.” Dewi menerima pemberian Andi dengan senyum yang sangat tulus.
“Kok lama sekali, Ma?”
“Iya, ada beberapa pertanyaan, Pa.”
“Lalu?”
__ADS_1
“Lalu apa?”
“Ya, bagaimana respon polisi?”
“Bapak polisi tadi tidak merespon apapun jawaban Mama, Pa.”
Andi lalu ikut duduk di sebelah Dewi.
“Memangnya Mama ditanya apa saja?”
“Ya pertanyaan biasa saja. Apa Mama kenal dengan korban? Lalu kenapa bisa ada noda darah pada celana yang digunakan oleh korban. Ya semacam pertanyaan begitulah, Pa.” Dewi lalu bangkit.
“Yuk pulang, Pa! Malah ikutan duduk di sini. Mama lapar, nih.”
Andi kemudian mengikuti Dewi yang sudah berjalan terlebih dahulu.
***
“Pa, mampir beli makan dulu, yuk! Mama lapar dari kemarin tidak makan enak. Masak Mama cuma dikasi mi yang pakai gelas itu.” Dewi mengeluhkan hidangan yang diberikan oleh kepolisian kemarin malam, begitu mobil yang dikemudikan oleh Andi melengang dari kantor polisi.
“Iya boleh. Mama mau makan apa?”
“Salad di cafe dekat rumah kayaknya enak tuh, Pa!”
“Mama kelihatan lelah sekali. Memangnya enggak tidur semalam?” Andi membuka topik pembicaraan dalam perjalanan menuju cafe yang diinginkan Dewi.
“Ya mana bisa tidur, Pa. Duduk terus di ruangan itu. Berasa jadi tahanan gitu deh Mama. Enggak lagi deh Mama mau tinggal di sana. Mana kepikiran lagi, kok bisa-bisanya Mama dikaitkan dengan meninggalnya Asih.”
“Memangnya Mama kenal dengan korban yang meninggal itu?”
“Iya, kenal.” Sahut Dewi singkat.
“Kok bisa?”
“Ya, bisa. Mama dan Asih dulu satu sekolah. Kampung kami juga sama. Tapi berbeda desa.”
“Kok Mama enggak pernah cerita?”
“Cerita apaan?”
“Ya kalau Mama kenal dengan Asih itu.”
“Loh. Untuk apa? Memangnya Papa pernah cerita sama Mama kalau Papa kenal juga dengan Asih?” Hantaman keras diterima Andi tepat di hulu hatinya.
“Maksud Mama apa sih?”
“Udah deh. Mama lagi malas membahas Asih. Dari dulu, dari dia masih hidup, sampai sekarang yang sudah mati pun tetap saja menyebalkan dan membuat Mama muak!”
Andi memilih bungkam dan tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Dewi.
***
Aku tidak menyangka. Hanya karena noda bercak darah itu bisa menyebabkan panjang cerita seperti ini. Apa aku kurang hati-hati?
Tiga puluh lima tahun aku berhasil mengubur rapat-rapat kejadian itu. Nama Asih berhasil aku buat hilang dari dunia ini. Tapi, semua kembali terkuak lantaran bocah ingusan itu ikut campur.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan sekarang?