Kampus Horror

Kampus Horror
Part 47


__ADS_3

Kampus Horror


Part 47


Andre sudah mendapatkan kesaksian dari beberapa pekerja bangunan. Walaupun mencari keberadaan pekerja ini sangatlah sulit, karena mereka telah berpindah tempat tinggal. Bahkan ada salah satu diantaranya telah meninggal karena faktor usia.


Menurut kesaksian pekerja bangunan, juga termasuk mandornya, pernah suatu sore terjadi kegaduhan di lantai dua. Andre dan Jimmy menduga kegaduhan tersebut merupakan pertengkaran yang terjadi antara Asih dan Dewi. Namun sayang, para pekerja itu tidak mengingat wajah orang-orang yang naik ke lantai dua. Merena hanya mengingat, bahwa sore hari saat mereka telah usai bekerja, dua orang wanita tergesa-gesa naik ke lantai dua tanpa mempedulikan keberadaan di sekitarnya.


Kemudian beberapa hari setelah kejadian itu, hal-hal aneh mulai terjadi. Para pekerja kerap kali ditunjukkan keberadaan seseorang yang melesat terjun dari lantai dua.


Kadang, kelas di lantai atas terang benderang seperti ada yang menghidupkan lampu. Padahal, listrik belum terpasang saat itu.


Hal aneh yang paling sering terjadi adalah, saat magrib datang, ada saja pekerja yang merasa melihat perempuan berjalan di area kampus menuju ke lantai dua.


Namun, tak seorang pekerja pun memiliki nyali untuk meyakinkan diri, siapa sebenarnya perempuan itu?


Jimmy semakin yakin bahwa kematian Asih Prabandari adalah kasus pembunuhan.


Jimmy meminta Andre untuk mengatur pertemuan antara dirinya dengan para pekerja. Ada beberapa hal lainnya yang ingin dia tanyakan.


***


“Minggu ini adalah minggu terakhir liburan nih. Tapi kita belum ada menikmati hari libur.” Damar menyampaikan pendapatnya saat dirinya, Stevina, Agia, dan Bagi, duduk meluruskan kaki setelah melakukan kegiatan lari pagi di sebuah taman kota.


“Kasus Asih ini apa kurang nikmat menurut lo?” Bagi menjawab sambil menyeka keringatnya yang bercucuran disekitar dahi.


“Ya nikmat buat lo saja kali. Terpacu banget kan jantung lo?” Damar meledek Bagi.


Bagi tidak menjawab, namun dia mencabut rumput dengan genggaman tangan, lalu melemparkannya ke arah Damar.


“Hush! Jangan mulai deh kalian!” Stevina menengahi. “Gimana kalau besok kita ke acara pentas seni yang diadakan Kampus Teknik?”


“Memangnya diadakan di mana, Stev?”


“Katanya sih di Kampus Teknik. Ada banyak acara. Kita ke sana yuk?”


“Memangnya selain mahasiswa Teknik boleh datang?”


“Boleh! Tiketnya dijual kok lewat instagram.”


Mereka pun menyetujui saran dari Stevina.


***


Jimmy berkunjung kerumah Era setelah mendapatkan alamat rumahnya dari pihak Kampus Sastra.


Namun, rumah nampak sepi. Lama Jimmy menyerukan izinnya untuk bertemu dengan pemilik rumah.

__ADS_1


Lalu seorang remaja melongokkan kepala dari balik pintu utama di dalam rumah lalu meneriaki Jimmy yang berada jauh di depan gerbang.


“Cari siapa, Pak?!”


“Ibunya ada?” Jimmy pun membalas dengan berteriak.


“Maaaak! Ada yang cari!” Terdengar teriakan remaja itu dari depan, membuat Jimmy menggelengkan kepala.


Kemudian seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan mendekati Jimmy.


“Cari siapa, Pak?” Tanya Era sopan.


“Benar ini rumahnya Ibu Era?”


Era terlihat terkejut dengan pertanyaan Jimmy. Era tidak ingat memiliki kenalan yang sedang berdiri di hadapannya walaupun dibatasi oleh gerbang.


“Bapak siapa?” Tanya Era memastikan.


“Saya Jimmy, dari Kepolisian NKRI.” Jimmy memperlihatkan tanda pengenalnya sebagai anggota kepolisian.


“Polisi? Ada apa ya, Pak?” Pengenalan identitas Jimmy membuat Era lebih terkejut lagi.


“Boleh saya bertemu dengan Ibu Era?”


“Saya sendiri. Ada keperluan apa, Pak?” Era belum juga membukakan pintu gerbang. Dirinya sadar, bahwa kini sedang di rumah hanya dengan anak-anak saja.


“Oh, iya, Pak. Apa yang bisa saya bantu?” Era lalu membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Jimmy untuk masuk.


Jimmy hanya melangkah melewati pintu gerbang, namun tidak beranjak mendekati rumah.


“Kalau boleh tahu, sudah berapa lama Ibu berjualan di kampus?”


“Saya baru-baru ini berjualan menggantikan ibu mertua. Mungkin empat atau lima tahun. Kalau ibu mertua sudah lama, Pak. Sejak suami saya kecil. Mungkin sudah lebih dari empat puluh tahun di sana.”


“Ibu mertuanya ada di rumah? Kalau boleh saya tahu.”


“Wah sayang sekali, kalau sekarang Ibu sedang membantu tetangga yang akan mengadakan upacara pernikahan. Kalau Bapak ada waktu, biar saya cari dulu ke sebelah.”


“Apa tidak merepotkan?”


“Enggak, Pak. Tunggu sebentar ya. Tapi enggak apa-apa ya, Pak, nunggunya di luar gerbang. Banyak orang jahat, Pak, sekarang ini. Saya saja habis kena jambret ini beberapa hari yang lalu. Tunggu bentar ya, Pak.” Era berjalan cepat menuju rumahnya, lalu menutup pintu utama dan tidak lupa menguncinya.


Jimmy tertegun melihat aksi perempuan yang baru dijumpainya pertama kali ini. Tingkat kewaspadaannya tinggi sekali.


Jimmy lalu bergegas keluar gerbang karena Era hendak menutup pintu gerbang, juga dengan cepat menguncinya dengan gembok.


“Tunggu sebentar ya, Pak.” Era berjalan menuju rumah sebelah dengan cepat. Mau tidak mau, Jimmy duduk di atas sepeda motornya untuk menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Ternyata tidak perlu menunggu dalam waktu yang lama. Era dan Satyawati datang tergopoh-gopoh. Terlihat Satyawati menggunakan pakaian adat.


“Maaf, Pak, lama menunggu. Mari masuk-masuk.” Ucap Satyawati saat bertemu dengan Jimmy.


Satyawati bergegas memasuki halaman rumah begitu Era berhasil membuka gerbang dengan lebar.


“Apa yang bisa saya bantu, Pak?”


“Langsung saja ya, Bu. Pasti Ibu sudah tahu kedatangan saya ke sini untuk apa. Sebelumnya, nama saya Jimmy, Bu.”


“Saya Satyawati, Pak.”


“Mojon maaf sekali jika saya mengganggu aktifitas Ibu. Izinkan saya memberikan pertanyaan untuk melengkapi penyeledikian saya.”


“Ya, silahkan tanyakan saja, Pak. Semoga saya bisa membantu dalam penyelidikan, Bapak.”


“Apa benar Ibu sudah berjualan di Kampus Sastra sejak lama?”


“Benar, Pak. Sudah lama sekali. Waktu itu anak saya umurnya tujuh tahun, berarti tahun 1979. Iya benar. Wah sudah lama sekali berarti.”


“Apa Ibu tahu korban yang ditemukan tertanam di kampus itu?”


“Sebenarnya kalau saya hanya disebutkan nama saja, sudah pasti tidak ingat, Pak. Mahasiswa di Kampus Sastra kan ada banyak sekali. Selain itu, kejadiannya sudah lama sekali, kan, Pak?”


Jimmy menganggukkan kepala untuk merespon awal penuturan Satyawati.


“Tapi ternyata korban yang meninggal ini mahkotanya Kampus Sastra, Pak.”


“Mahkotanya?”


“Benar. Banyak sekali penggemarnya, karena wajahnya memang cantik sekali. Bahkan, anaknya Pak Dekan juga mengincarnya. Padahal anaknya Pak Dekan sudah tamat saat itu. Nasib baik dia berhasil mendapatkan mahkota kampus itu.”


Jimmy tidak heran dengan pernyataan dari Satyawati, karena dirinya memang tahu, bahwa Asih memiliki hubungan khusus dengan Deni. Terlintas dipikirannya, mengapa dia belum sempat bertemu dengan Deni, orang terdekat korban. Langsung saja Jimmy memasukkan nama Deni kedalam otaknya untuk dicatat sebagai langkah penyelidikan berikutnya.


“Tapi ada yang janggal, Pak. Sepertinya istrinya Pak Dekan tidak suka dengan Asih.”


“Tidak suka bagaimana?”


“Saya juga sudah ceritakan hal ini kepada kedua anaknya dan juga cucunya, beberapa waktu yang lalu mereka ke sini.”


“Mereka ke sini?”


“Oh, iya, Pak. Cucunya Dekan menengok menantu saya. Kebetulan dia yang membantu menantu saya sat dijambret tempo hari.” Satyawati tidak mengungkapkan keseluruhan fakta. Dia menutupi bahwa Kirman terlibat dalam keluarga Dira Nugraha.


Jimmy hanya menganggukkan kepala tanda memahami tujuan keluarga Dira Nugraha datang ke sini.


“Saya bilang saja kalau saya sempat melihat Ibunya berbicara dengan kasar kepada Asih. Bahkan Asih ditarik dengan keras menuju suatu tempat di bagian kampus. Tapi saya kurang tahu dibawanya ke mana. Entah ke kelas atau ke mana.” Satyawati menceritakan dengan jujur apa yang pernah dilihatnya dulu.

__ADS_1


Jimmy mengernyitkan dahi. Dia mencoba menarik benang merah dari pekerja pembangunan dan cerita dari Satyawati. Berarti spekulasi awal tentang kegaduhan yang dibuat oleh perempuan itu bukanlah Dewi dan Asih. Melainkan Anisa dan Asih.


__ADS_2