
Kampus Horror
Bonus - Part 1
“Kak, aku pulang dulu ya. Sudah jam delapan nih.”
“Biar aku antar saja, Gi. Motor kamu taruh di sini saja. Besok kan bisa aku jemput kamu ke rumah.”
“Enggak usah, Kak. Aku berani kok pulang sendirian.”
“Antar saja Agianya. Tega kamu biarin dia pulang sendirian?” Anisa muncul di belakang Bagi dan mengejutkan mereka berdua. Terutama Agia. Karena yang dilihatnya bukan hanya Anisa seorang, melainkan ada seseorang lagi yang berada di samping Anisa. Asih Prabandari.
“Iya, Nek. Maunya juga aku begitu. Ya, Gi. Biar aku antar saja.”
“Enggak usah, Nek. Kasihan Kak Bagi repot kalau harus antar saya.”
“Ngapain kasihan sama dia. Sudah sana buruan berangkat, supaya tidak kemalaman. Enggak enak sama orang tua kamu, nanti dikira cucu Nenek yang ngajakin pulang malam.” Tuturnya seperti rel kereta api. Panjang dan padat, juga tegas.
“Ya sudah kalau begitu, Nek. Saya nurut saja.” Agia tersenyum malu dihadapan Anisa.
“Tunggu sebentar, aku ganti celana dan ambil jaket dulu. Sebentar saja.”
Agia menganggukkan kepala.
Agia kemudian duduk di bale bagian timur bersama Anisa.
“Bagi itu anaknya penurut sekali. Sering ngalah sama teman-temannya. Berbeda sekali dengan Papanya. Kalau anak sulung Nenek itu, justru tipe orang yang mau menang sendiri.”
Jujur saja Agia tidak fokus mendengarkan penuturan yang disampaikan oleh Anisa. Tatapan mematikan yang Asih lakukan kepada Anisa membuatnya merinding dan sakit kepala.
Asih kini berdiri tepat di hadapan Anisa dan Agia. Pakaian kumalnya berbau anyir darah membuat perut Agia menjadi mual.
Anisa mengendus-ngendus.
“Kamu mencium bau sesuatu enggak, Agia?”
“Bau apa, Nek?” Agia berpura-pura tidak mencium bau apapun.
“Bau apa ya? Seperti bau darah menstruasi!” Tanpa sanggup menahan bau, Anisa bergegas lari ke kamar mandi. Seluruh isi perutnya tumpah tanpa bisa dikendalikan.
Setelah dirasa lega, Anisa mencuci tangan diwastafel. Dia membasuh wajah dengan air mengalir yang mengucur dari keran berbahan stainless steel.
Kemudian Anisa menegakkan tubuhnya serta memandang pantulan dirinya dikaca. Air yang mengalir dari keran berbunyi seperti suara air yang tersendat. Kucuran air tiba-tiba mati dan berdesis.
Anisa heran, “Apa ada yang salah dengan keran ini?” Anisa menutup keran dan mencoba membukanya kembali. Anisa tersenyum lega ketika air kembali normal.
Beberapa detik kemudian bau air berubah menjadi anyir darah. Anisa terkejut dan segera mematikan keran itu. Dengan cepat Anisa keluar dari kamar mandi.
***
“Makasi banyak ya, Kak, sudah antar aku pulang.” Ucap Agia yang baru saja turun dari sepeda motor Bagi.
“Sama-sama. Aku balik dulu ya. Besok aku jemput jam berapa? Kamu kuliah hari pertama kan besok?”
“Iya. Setelah libur sebulan, akhirnya kuliah lagi. Kakak boleh jemput aku jam tujuh, Kak.”
“Ya sudah, sana masuk.”
“Kak,”
“Hm, Kenapa, Gi?”
Agia berniat memberitahukan keberadaan Asih di rumah Bagi tadi. Tapi dia memutuskan untuk menunda informasi ini.
“Sampai ketemu besok ya,”
***
Bagi berjalan pelan menuju kamarnya. Keadaan rumah sudah sepi menandakan penghuninya telah menghinggapi peraduan.
Belum selesai Bagi membersihkan diri karena datang dari luar, tiba-tiba suara Anisa memekik terdengar menusuk telinga.
Bergegas Bagi keluar kamar untuk memastikan apa yang terjadi dengan neneknya.
Andi yang kamarnya terletak tepat di depan kamar Bagi, berbarengan membuka pintu. Mereka kemudian melihat satu sama lain dan bergegas menuju kamar Dira dan Anisa.
“Kenapa, Bu?”
Anisa terduduk di atas lantai bersama Dira.
“Di dalam lemari ada hantu katanya.” Dira menoleh kepada anak dan cucunya yang tergopoh-gopoh datang. Beberapa detik kemudian Deni menunjukkan diri dari balik pintu.
“Ada hantu di dalam lemari!” Anisa terengah-engah dengan wajah pucat.
Andi lalu berjalan cepat menuju lemari yang pintunya masih dibiarkan terbuka oleh Anisa.
“Enggak ada apa-apa, Bu. Mungkin Ibu salah lihat.”
__ADS_1
“Salah lihat bagaimana? Ibu pegang kakinya hantu itu. Kakinya dingin sekali dan juga amat sangat bau. Ibu takut.” Anisa meringkuk memeluk lututnya.
Dira lalu menuntun istrinya untuk duduk di atas tempat tidur.
Bagi diam memerhatikan tingkah aneh neneknya.
“Hantunya perempuan atau laku-laki, Nek?”
Anisa menoleh dengan wajah garang, “kamu ngejek Nenek, ya?”
“Kok ngejek? Kan aku nanya. Besok biar aku suruh Agia yang lihat, gimana?”
Mereka saling pandang satu sama lain.
“Iya boleh juga usulmu.” Andi menyetujui rencana Bagi.
***
Pagi hari Anisa sudah memulai aktifitasnya. Sejak Dewi tidak lagi berada di rumah, Anisa mengambil alih pekerjaannya. Belum satu bulan, tapi keadaannya malah memburuk.
Setiap hari ada saja hal diributkan. Lelah dan bosan merupakan hal yang selalu diutarakannya.
Sarapan yang disediakan hanya roti dan selai. Anggota keluarga mulai bosan dengan menu sarapan yang disuguhkan.
“Sudah bagus aku mau menyiapkan sarapan. Jangan banyak protes!” Sahutnya saat Andi mengutarakan keinginannya agar menikmati sarapan yang berbeda.
“Hari ini aku tidak masak! Kalian beli saja makanan di luar ya.”
“Bapak makan apa?” Sahut Dira saat mendengar penuturan istrinya.
“Gampanglah nanti buat telur goreng saja.”
“Bapak enggak mau. Tiap hari telur terus. Bosan, Bu.”
“Kalau bosan, carikan pembantu! Memangnya aku ini pembantu?”
Anggota keluarga lain hanya saling lirik tanpa mampu menyahuti ucapan Anisa.
***
Anisa menghabiskan waktu siang dengan menonton acara televisi sendirian di ruang keluarga.
Semua siaran televisi tidak menarik minat Anisa untuk tetap menonton. Berkali-kali tangannya menekan remote untuk mengganti saluran televisi.
“TV isinya kok membosankan begini sih?” Anisa masih berusaha menemukan saluran yang sekiranya bisa menyembuhkan rasa bosannya.
Warna gelap saat jeda pergantian saluran terus terjadi hingga televisi terlihat seperti berkedap-kedip.
Anisa menegak karena terkejut lalu menoleh ke samping. Di sebelahnya tidak ada siapa-siapa.
Dia ingin meyakini bahwa pengelihatannya salah. Namun, di sisi lain, pantulan tadi memang nyata. Anisa lalu mematikan televisi dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Suaminya sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur bersama buku dalam pegangannya.
“Baca apa, Pak?”
“Baca iseng-iseng apa saja, supaya lupa kalau nama keluarga kita sekarang sudah hancur.”
“Bapak jangan bilang begitu. Ibu juga sebenarnya kewalahan mengerjaka tugas rumah kalau tidak ada Mamanya Bagi. Sudah ah, Ibu mau tidur siang.” Anisa merebahkan tubuhnya di samping Dira.
Tidak sampai lima menit, volume televisi dari ruang keluarga terdengar sangat kencang.
“Siapa itu berisik sekali?” Dira menutup telinga karena tidak kuat menahan suara televisi yang memekakkan telinga.
Anisa membuka matanya dan mematung. Sadar betul Anisa saat mematikan televisi sebelum memasuki kamar tidur.
“Apa Ibu lupa mematikan TV ya, Pak? Ayo antarkan Ibu ke ruang keluarga, Pak.”
“Kenapa diantar segala?”
“Ibu takut, Pak.”
“Siang-siang begini kok takut? Takut hantu lagi?”
“Diam, Pak! Ayo antar.”
Pasangan yang mulai sepuh itu berjalan menuju ruang keluarga.
Mereka berdua menemukan televisi dalam keadaan mati. Dira dan Anisa saling pandang.
“Pak, Ibu benar-benar takut, Pak. Apa ada hantu, ya?”
Dira memandang istrinya. Tiba-tiba perasaan tidak nyaman menguasai pikirannya.
***
Bagi menunggu Agia menyelesaikan jam kuliahnya di kursi taman bawah pohon mangga.
__ADS_1
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kampus.
“Di tempat ini Mama melakukan hal memalukan itu.” Batinnya menyerukan rasa tidak terima dengan apa yang telah Dewi lakukan.
“Sebegitu bencinya Mama kepada mendiang Asih sampai berakhir pada pembunuhan. Apakah perasaan itu akan muncul pada diriku? Apa aku akan menjadi seorang pembunuh juga?”
Dari kejauhan Agia dan Stevina berjalan menuju tempat Bagi duduk.
“Maaf lama menunggu, Kak.” Ucap Agia dengan ramah.
“Bengong sendirian, awas disamperin Mbak Asih, Kak!” Stevina berkelakar membuat Bagi tersenyum.
***
Bagi, Agia, dan Stevina kini duduk bersebelahan di kursi taman.
“Apa kabar, Kak?” Stevina mencoba bertanya keadaan Bagi.
“Memangnya anak pembunuh bisa punya keadaan baik-baik saja, Stev?”
Stevina menoleh Agia meminta pertolongan karena merasa tidak enak hati mendengar jawaban Bagi.
“Kalau seandainya Mama Kak Bagi bukan pembunuh bagaimana?” Agia melontarkan pertanyaan yang membuat Bagi dan Stevina menoleh cepat.
“Kok kamu bilang begitu?”
“Ya kan seandainya, Kak. Bagaimana?”
“Tetap saja aku kecewa sama Mama, Gi.”
“Kenapa?” Stevina menimpali.
“Mama tanpa pikir panjang bertindak konyol dengan menusuk mendiang Asih. Entah bagaimana aku yakin Mama yang memulai duluan pertikaian itu. Miris ya, gue anaknya malah berpikiran negatif sama nyokap gue.”
“Sebenarnya aku kemarin lihat Asih di rumah Kak Bagi.”
“Hah? Yang bener, Gi?” Stevina terkejut dan melihat Agia yang mengganggukkan kepala.
“Gue rasa ada sesuatu yang belum beres tentang kematian mendiang Asih.”
Bagi nampak semangat untuk berharap bahwa hukuman mamanya dipercepat.
“Apa mungkin ada orang lain dibalik ini. Sepertinya Mama Kak Bagi pun tidak terima jika ditetapkan sebagai terpidana pembunuhan kemarin. Apa mungkin beliau memang tidak membunuhnya? Lalu siapa?” Stevina memutar isi kepalanya yang kembali kusut.
***
Bagi dan Agia duduk di teras kamar Bagi.
“Kemarin malam Nenek berteriak karena melihat hantu di dalam lemari pakaiannya, Gi.”
“Iya, Kak. Aku tahu. Makhluk itu memang mengikuti Neneknya Kak Bagi.” Agia melihat ke sana kemari. “Sekarang Nenek Kak Bagi ada di mana?”
“Enggak tahu. Mungkin di kamar. Hantu yang dibilang Nenek itu, Asih ya, Gi?”
Agia mengganggukkan kepala lemah.
“Kenapa dia malah ke rumah aku, Gi?”
“Aku belum tahu, Kak. Kemarin malam dia menampakkan wajah menakutkan dan bau yang tidak enak. Kira-kira Neneknya Kak Bagi punya kesalahan apa ya sama Asih?”
Bagi menaikkan bahu tanda tidak memiliki ide dengan pertanyaan yang diajukan oleh Agia.
“Mungkin Kak Bagi bisa cari tahu nanti.
***
Seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama.
“Nek, Nenek berapa kali bertemu dengan Asih?” Semua terkejut dengan pertanyaan Bagi yang begitu tiba-tiba.
“Sekali atau dua kali, lupa. Kenapa memangnya?” Tanya Anisa sinis. Sedikitpun telinganya tidak bisa menerima akan adanya sebuah nama yang disebutkan oleh Bagi.
“Arwahnya Asih yang ganggu-ganggu Nenek kemarin malam.” Sahut Bagi santai.
Anisa tersedak hinggap kehabisan napas.
“Memangnya Agia bilang begitu?” Deni tidak sabar menunggu Bagi menjawab pertanyaannya, sehingga dia menghentikan kegiatan makan malam.
Bagi meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap satu-satu anggota keluarganya.
“Di sini yang tidak memiliki hubungan dengan mendiang Asih hanya aku. Tapi aku yang paling merasakan ketidak nyamanan menghadapi kenyataan. Tahu kenapa? Karena aku tidak tahu seperti apa masa lalu keluargaku. Papaku dan adiknya memperebutkan satu perempuan. Mamaku memiliki masa lalu yang pelik dengan mendiang Asih. Nenek dan Kakekku pun tidak suka dengan keberadaan Asih. Apa sebenarnya yang kalian lakukan dimasa lalu?”
Dira, Anisa, Andi, dan Deni tertunduk mendengar curhatan Bagi.
“Setiap hari aku dikatai anak pembunuh oleh orang-orang. Lalu sekarang Nenek meracau tentang adanya hantu. Apa itu masuk akal?”
“Tapi Nenek tidak bohong. Memang ada hantu. Tanya saja Kakekmu.”
__ADS_1
“Besok Agia akan ke sini untuk melihat kenapa Asih mendatangi keluarga kita.”
***