
Kampus Horror
Part 29
Bagi mematikan mesin mobilnya di depan rumah Agia.
"Om, tunggu sebentar, ya."
Deni hanya menganggukkan kepala seraya melihat kepergian Bagi memasuki rumah Agia.
Deni merasakan gejolak aneh dalam dirinya. Dia dibayangi wajah dan senyum indah milik Asih yang sampai sekarang pun tak tergantikan.
Tanpa disadari bulir bening perlahan mengalir. Rindu. Rasa rindu yang sempat hilang, kini memberondong hatinya lagi. Setelah sekian tahun Deni berhasil bersembunyi dari perasaan yang tak bisa dimengerti, bahkan oleh Deni sekalipun.
Marah, kecewa, rindu, dan menyesal.
Rasa marah mendominasi hati Deni saat mendapati Asih tersenyum mengantar kepergian seseorang yang diyakininya adalah laki-laki di dalam mobil saat itu.
Deni enggan meluruskan apa yang dilihatnya, namun lebih memilih diam di rumah dan mencoba melupakan Asih yang dianggapnya tidak setia.
Anggapan demi anggapan negatif ditorehkan Deni tanpa ada kesempatan Asih untuk membela diri.
Kini, semua hanya rasa sakit lantaran sesal yang tak akan bisa disembuhkan dengan apapun juga siapapun.
***
Bagi, Agia, Damar, Stevina, dan kini disertai oleh Deni, telah berada di area parkir Kampus Sastra.
Stevina menyapa Ibu Kantin yang sedang melihat ke arah mereka.
"Sendirian, Bu? Anaknya enggak diajak?"
"Enggak, Non. Di rumah sama Neneknya. Lagi pada ngapain ke kampus, Non?"
"Jalan-jalan, Bu. Lagi libur nggak tahu harus ke mana."
"Ada polisi, loh." Ibu Kantin berujar dengan volume suara diturunkan drastis.
"Masih dijaga polisi ya, Bu?"
Ibu Kantin hanya mengangguk.
Bagi berjalan ke area kampus dan mendapati dua orang polisi sedang berbincang di depan gedung D.
Polisi tersebut belum menyadari keberadaan Bagi dikejauhan sana.
Deni mengikuti Bagi, kemudian mendahuluinya berjalan mendekati polisi tersebut.
Kedua polisi itu segera menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh ke arah Deni.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" Salah satu polisi bertanya dengan posisi tetap terduduk di teras depan kelas.
"Saya mampir sebentar untuk mengingat kenangan saya saat kuliah dulu, Pak. Saya tidak akan mengganggu. Kami hanya akan duduk sebentar di sana." Ujar Deni dengan menunjuk kursi taman dekat pohon mangga.
"Silahkan, Pak."
***
Agia duduk berdua dengan Deni di satu kursi taman. Di sebelahnya Damar dan Stevina. Sementara Bagi memilih duduk di atas rumput, berhadapan dengan Agia dan Deni.
"Lalu, kita mulai dari mana?" Deni membuka pembicaraan mereka dengan rasa canggung. Begitupun dengan Damar dan Stevina. Tak terdengar senda gurau mereka sedari tadi.
Agia melihat ke atas. Ke lantai dua. Kemudian meggelengkan kepalanya lemah.
"Dia enggak ada, Om. Enggak kelihatan dari sini." Mereka tahu pasti akan mustahil diberikan izin untuk memasuki kelas di lantai dua oleh petugas yang berjaga.
Deni terdiam tidak menyahuti Agia.
"Om.." Agia memanggil Deni.
__ADS_1
Reflek Deni menoleh Agia.
"Kasihan Asih, Om. Dia merasa ketidak adilan selama ini. Entah tidak adil dalam hal apa. Tapi, Agia rasa, Asih enggak rela harus meninggal dengan cara demikian."
Deni tetap diam dengan wajah sendu.
"Asih mengandung, Om."
Dengan cepat Deni melihat ke arah Agia.
"Maksud kamu?"
Agia menganggukkan kepala lemah.
"Asih meninggal dalam keadaan hamil?"
Agia kembali menganggukkan kepalanya.
Deni menatap dengan mimik wajah tidak percaya kepada Agia.
"Awalnya aku juga enggak tahu, Om. Aku lihat pada kaki Om yang kiri," Agia berhenti berbicara dan yang lain menatap betis kaki Deni, objek pembicaraan Agia. "Dikaki Om Deni ada sesosok makhluk kecil berdarah, yang aku yakini adalah janin, Om."
"Masih kecil sekali, kira-kira segini." Agia menunjukkan dengan telapak tangan ukuran sekitar sepuluh senti meter kepada Deni.
"Kemudian saat di villa Om Robi, aku memberanikan diri untuk menatap mata janin, ternyata dia anak yang dikandung Asih. Dia pun sama, meninggalnya karena terjatuh dari ketinggian. Dari sana aku tahu, kalau asih meninggal dalam keadaan mengandung." Asih melanjutkan ceritanya.
"Apa itu anak Om?" Bagi bertanya hati-hati.
Deni terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan krusial dari keponakannya.
"Om enggak tahu." Hanya itu kata-kata yang keluar dari Deni.
"Maaf kalau aku lancang, Om. Seandainya Om berhasil melakukan komunikasi dengan Asih, apa yang mau Om sampaikan?" Damar memang sangat penasaran perihal ini sejak Bagi mengutarakan keinginan Om Deni untuk meminta bantuan Agia.
Deni tidak langsung menjawab. Dia melihat ke arah taman tempat ditemukannya kerangka manusia.
"Om mau minta maaf. Bukan hanya sekedar meminta, tapi memohon. Memohon untuk dimaafkan, karena selama ini sudah berburuk sangka. Sudah menganggap kekasih hati yang amat sangat Om sayangi berkhianat dan tidak setia. Om juga mau memohon ampun karena ketidak tahuan dan membiarkan Asih sendiri di sini."
"Om ingin tahu, siapa orang jahat yang tega melakukan ini kepadanya. Lalu apa alasannya?"
"Om juga mau bilang," Deni semakin sulit berbicara karena rasa sesak didadanya terasa begitu menutup jalan napas.
"Om masih sangat mencintai Asih. Sampai nanti. Sampai kapanpun. Asih tidak akan tergantikan."
Stevina tidak mampu lagi menahan aura kesedihan yang dirasakan dari jiwa dan raga Deni. Stevina menitikkan air mata, ikut serta terbuai akan rasa cinta Deni yang tidak pernah padam, walaupun terlampau jarak dan waktu puluhan tahun.
Agia melihat keberadaan Asih yang sedang tersenyum di atas sana. Di dalam kelas, melalui jendela memandang ke arah Om Deni.
***
"Tolooooong!" Terdengar teriakan dari luar kampus. Bagi dan Damar mengurungkan diri untuk membuka pintu mobil.
Damar melihat Bagi. Tanpa komando mereka segera berlari ke arah suara.
Damar melihat Ibu Kantin berjongkok di pinggir jalan dekat gerbang kampus.
Orang-orang pun mulai berdatangan karena mendengar teriakan dari Ibu Kantin.
"Bu! Ibu kenapa?" Bagi segera mendekati Ibu Kantin.
Orang-orang mulai mengerubungi Ibu Kantin.
Terlihat lutut Ibu Kantin mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Saya dijambret!" Ibu
“Hah? Jambret, Bu?”
“Mamak Bayu, itu kakinya luka. Ayo saya antar ke Puskesmas!” Seorang warga yang sepertinya mengenal Ibu Kantin mengajak ke Puskesmas.
__ADS_1
“Loh, mantunya Pak Kirman ini?” Salah seorang warga pun turut berbicara.
Mendengar kata Kirman, Bagi segera tanggap. Apakah feelingnya mengatakan jika Kirman, mertua Ibu Kantin adalah teman Kakeknya yang berusaha dia cari tahu?
Dengan cepat Bagi menawarkan diri memotong ucapan-ucapan dari warga sekitar.
“Permisi, Bapak, Ibu, saya Bagi. Mahasiswa Kampus Sastra, biar saya dan teman saya yang antar Ibu. Kebetulan kami membawa mobil, dan juga mengenal Ibu yang berjualan di Kantin Kampus.”
Tiba-tiba Stevina dan Agia datang mendekat.
“Ya ampun, Bu! Ibu enggak apa-apa?” Stevina berteriak khawatir melihat keadaan Ibu Kantin yang kini sedang duduk di samping jalan raya.
“Non Stevina, saya dijambret. Tapi karena saya kuat menahan tarikan dari jambret, jadi tas ini masih aman, gak jadi diambil sama jambret itu. Tapi saya malah jatuh dan keseret.” Ibu Kantin bercerita sambil menahan tangisannya dengan tubuh bergetar karena mengalami kejadian yang menakutkan.
“Ya sudah, ayo kita antar Ibu ke Puskesmas dulu. Nanti biar kita lapor Polisi sekalian.” Bagi menambahkan dan mencoba membantu Ibu Kantin berdiri.
“Nanti saya bantu melaporkan kepada Kepala Lingkungan di sini, Mak.” Ujar seorang warga kepada Ibu Kantin.
“Sepertinya Ibu enggak bisa jalan ke mobil, Gi. Biar gue ambil mobil dulu. Kalian tunggu dulu ya.” Damar bergegas meninggalkan sekumpulan warga yang dengan penuh perhatian membantu Ibu Kantin. Ada yang memberikan air minum, ada pula yang memberikan tissue untuk mengelap darah pada luka Ibu Kantin.
***
“Maaf saya merepotkan adik-adik semua juga Bapak.” Ibu Kantin mengucapkan rasa permohonan maafnya kepada Bagi dan teman-teman setelah berhasil mengobati luka-luka yang terdapat pada tubuhnya.
Stevina dan Agia membantu Ibu Kantin berjalan dari mobil yang terparkir di depan rumah Ibu Kantin. Damar dan Bagi mengiringi Ibu Kantin yang berjalan perlahan. Sementara Deni tetap diam di dalam mobil.
“Enggak repot kok, Bu. Yang penting ‘kan Ibu selamat. Walaupun luka sedikit ya, Bu.” Stevina menyahuti permintaan maaf dari Ibu Kantin.
Mereka telah sampai di depan pintu rumah, kemudian Ibu Kantin memanggil seseorang.
“Nek! Nenek!”
Seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu. Dia mengedarkan pandangan ke Bagi dan teman-teman. Mungkin perempuan itu heran, siapa orang-orang yang datang bersama menantunya itu. Lalu perempuan itu melihat ke arah Ibu Kantin.
“Ya Tuhan! Kenapa, Mak? Kek! Kakek! Sini sebentar, Kek!”
Lalu seorang laki-laki datang menghampiri.
“Ada apa?” Tanya laki-laki itu santai.
Begitu melihat keluar rumah, terlihat keterkejutan pada wajahnya.
“Ada apa, Nek?”
“Ini, lihat Mamak Bayu, Kek!”
“Selamat sore, Bapak, Ibu. Kami mengantarkan Ibu ini, tadi hampir dijambret di dekat Kampus Sastra.” Agia menjelaskan dengan ramah kepada orang-orang rumah dari Ibu Kantin.
“Iya, Nek. Tadi saya hampir dijambret. Tas saya ditarik. Untung saja saya kuat. Saya tahan biar jambret itu enggak bisa ambil tas saya. Eh, malah saya jadi keseret jambret itu. Alhasil ya begini.” Ibu Kantin menunjuk luka-luka yang terddapat di tubuhnya.
“Barusan adik-adik ini yang mengantarkan saya ke Puskesmas berobat, Nek, Kek.”
“Bapak dan Ibu ini Kakek dan Neneknya Ibu Kantin?” Tanya Damar kepada mertua Ibu Kantin.
“Oh bukan! Saya Satyawati, mertuanya Era. Ini suami saya, Kirman.” Ibu Mertua Era atau Ibu Kantin mulai memperkenalkan diri.
“Iya, karena cucu-cucu kami memanggil Kakek dan Nenek, jadi hampir semua orang termasuk tetangga jadi ikut memanggil Kakek dan Nenek.” Kirman juga turut menjelaskan.
“Oh begitu. Pantas kok sepertinya Ibu Kantin, eh Ibu Era tidak cocok memanggil Bapak dan Ibu dengan sebutan Kakek dan Nenek.” Damar dengan polosnya mengutarakan isi hatinya. Kata-katanya disambut gelak tawa dari yang lain.
“Baiklah kalau begitu. Kami pamit dulu ya. Semoga Ibu Era segera pulih. Jadi bisa jualan lagi di kampus.” Stevina kemudian berniat untuk berpamitan kepada keluarga Ibu Era.
“Loh, enggak mampir dulu?” Ibu Era menahan usaha Stevina untuk pamit meninggalkan rumah mereka.
“Sudah sore, Bu. Lagi pula Ibu kan harus istirahat.”
“Benar, Bu. Kan kita besok bisa ke sini. Sudah tahu juga rumah Ibu. Ibu enggak akan pindah, kan?” Agia pun menambahkan dengan sedikit gurauan.
“Bisa pindah kemana? Lah rumah kita cuma satu ini saja.” Kirman menjawab gurauan Agia. Semua tertawa hangat.
__ADS_1
Di sisi lain, Bagi amat sangat senang dengan kebetulan yang terjadi hari ini. Sepertinya alam memang berpihak kepadanya hari ini.
Tanpa perlu bersusah payah, Bagi berhasil mendapatkan informasi secara lengkap tentang Kirman. Besok, dia akan segera datang ke sini. Bukan untuk menjenguk Ibu Kantin, namun menemui Kirman!