
Kampus Horror
Bonus - Part 2
Anisa memutuskan untuk menyegarkan pikiran dan fisiknya dengan cara melakukan treatment kecantikan di salon langganannya.
Diliriknya pergelangan tangan kiri yang terpasang penunjuk waktu, untuk memastikan bahwa waktu yang dimilikinya cukup sampai salon tutup.
Anisa mengendarai mobil sendirian.
“Masih jam tiga. Semoga Marimar mau over time lebih lama.” Anisa berbicara dengan dirinya sendiri di dalam mobil.
***
“Kok enggak telepon eike dulu sih, Mom. Kan bisa eike siapin warna baru untuk rambutnya.” Marimar menyambut kedatangan Anisa dan segera menuntunnya menuju kursi keramas.
“Ya skip sajalah untuk ganti warna rambut hari ini, Mar. Aku mau Hair Mask, luluran, pijat, dan mandi susu. Kalau keburu waktu sekaian perbaiki kuku tangan dan kakiku ya, Mar.”
“Siap, Mom!”
Marimar laki-laki yang sangat menguasai tata cara perawatan rambut dan badan bergerak lihai menggosok rambut Anisa.
“Eike pikir Mom enggak sempat ke sini lagi setelah kejadian menantunya itu.”
Kebiasaan Marimar dalam multi task yaitu bekerja sekaligus bergosip tidak pernah bisa dihilangkan. Seperti sekarang, dia mulai untuk menggali berbagai informasi tentang keluarga Anisa.
“Kenapa enggak sempat? Perawatan dengan hal itu tidak ada hubungannya. Itu kan urusan menantu aku. Kalau aku ya tetap dengan rutinitasku.”p
Marimar tertawa dan menyetuji pernyataan Anisa. Bagaimana tidak? Jika Anisa datang, segala perawatan bisa dilakukannya. Seandainya dia tidak harus pulang melayani suami, bisa jadi Anisa akan menginap di salon.
***
Setelah mendapat sentuhan bertenaga dari tangan Marimar disekujur tubuhnya, kini Anisa berendam seorang diri dengan air hangat. Di dalam ruang SPA dengan aroma terapi yang menenangkan pikiran, Anisa bersandar pada tepian bak berendam. Air yang bercampur susu dan juga kelopak bunga mawar membuai Anisa untuk memejamkan mata.
Tidak berapa lama, sepasang tangan menarik kaki Anisa sehingga tubuh Anisa merosot dan tenggelam. Anisa tidak bisa menaikkan tubuhan karena ditekan oleh sepasang tangan tadi. Anisa panik. Otaknya menerima peringatan bahaya sehingga kepanikan menguasai pikirannya. Tangannya berusaha menggapai pinggiran bak mandi untuk membantu agar tubuhnya terangkat. Namun gagal. Tekanan yang dilakukan oleh tangan itu terlalu kuat.
Asupan oksigen pun berkurang berganti air yang memenuhi paru-parunya. Massa otot tubuh Anisa pun berkurang karena faktor usia, sehingga pergerakannya melemah.
Anisa memutuskan untuk pasrah. Kemudian sebuah wajah mendekati wajah Anisa.
Tanpa mampu melawan, Anisa hanya mampu mengedipkan kelopak matanya. Wajah itu semakin dekat hingga Anisa bisa melihat mata merah dari makhluk itu. Tanpa mampu memungkiri bahwa wajah itu milik Asih membuatnya berteriak didalam air. Wajah Asih terlalu dekat seperti hendak menelannya hidup-hidup.
Sedetik kemudian Anisa menghirup oksigen sekuat mungkin. Matanya terbuka, dengan posisi masih sama seperti awal tadi. Yaitu, berendam di bak mandi. Napasnya terengah-engah dengan tubuh yang kini duduk tegak di dalam bak mandi. Anisa mencoba mengatur napas agar stabil. Dilihatnya ke sekeliling ruang SPA. Tidak ada yang berbeda. Semua sama.
Detak jantungnya masih bertalu-talu menyisakan rasa panik yang tak mau enyah. Berkali-kali Anisa mengucapkan rasa syukur bahwa kejadian tadi hanya mimpi. Mimpi yang terlalu nyata.
Anisa kembali menyandarkan tubuhnya pada tepian bak mandi untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.
Aroma lavender yang tadinya mampu menetralisir tekanan tiba-tiba tertangkap beda oleh hidung Anisa. Matanya menelisik awas. Disapunya seluruh ruang SPA yang temaram dengan kedua matanya. Tidak ada perubahan. Namun, bau busuk seperti bangkai cicak semakin menguat. Anisa teringat bau ini sama seperti makhluk yang dilihatnya didalam lemari.
Anisa duduk menegang. Air yang tenang menjadi bergoyang akibat gerakan yang dibuatnya.
Beberapa detik kemudian bau busuk itu menghilang. Tiba-tiba sebuah tangan mencengkram pinggiran bak mandi dari samping.
Anisa memekik kencang lantaran terkejut dan juga takut. Anisa bangun dan menghindar agar tangan itu tidak menjamahnya.
Asih dengan wajah pucat berdiri tepat di depan Anisa yang masih berada di dalam bak mandi.
Anisa menyadari bahwa Asih yang menatapnya garang berusaha untuk mendekat.
Tiba-tiba pintu ruang SPA terbuka. Marimar bergegas mendekati Anisa yang berdiri ketakutan dan wajah ngeri.
“Kenapa, Mom?” Marimar mengambil handuk karena menyadari jika Anisa hanya menghunakan oakaian dalam yang disediakan oleh salon kecantikan milik Marimar. Dia kemudian melilitkannya ke tubuh Anisa yang bergetar kencang.
__ADS_1
Anisa tidak menyahut. Dia lalu menangis dan meraung kencang. Anisa terlalu takut.
Marimar menjadi khawatir tamu lain mendengar keganjilan yang terjadi di ruang SPA.
“Mom! Mom! Ada apa?”
***
Anisa duduk di depan cermin tempat Marimar biasa menata rambutnya. Marimar telah menyuguhkan teh melati untuk menenangkan Anisa yang telah berganti pakaian.
“Sekarang sudah tenang, Mom?”
Anisa diam mematung. “Tadi di dalam…” Anisa ragu hendak menceritakan kepada Marimar.
“Di dalam kenapa, Mom?”
“Aku pulang saja ya, Mar. Sudah jam segini.” Anisa melirik pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
“Yakin, Mom? Biar eike telepon anaknya saja ya, Mom.”
“Enggak usah, Mar. Aku pulang saja.”
***
Perlahan Anisa mengendarai kendaraan roda empat keluaran terbaru itu menuju rumah.
Perasaan takut masih menguasai diri Anisa.
Ternyata kekuatannya menjadi sangat lemah jika harus berurusan dengan roh tanpa raga.
Terlintas pikiran untuk menghubungi Tole saat ini. Tanpa menghentikan kegiatan menyetir, Anisa menghubungi Tole.
Tidak perlu menunggu lama untuk bisa terhubung dengan kekasihnya itu.
“Aduh! Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Diam dulu. Aku sedang tidak berniat untuk berbasa-basi. Asih terus mendatangiku, Mas.”
“Siapa?”
“Asih, Mas. Asih!”
Terdengar gelak tawa Tole dari seberang telepon.
“Bagaimana caranya? Dia ambil tulangnya satu persatu, lalu diikat dengan tali plastik untuk menghubungkan tulang itu agar bisa berjalan dan mendatangimu, begitu?”
“Aku enggak bercanda, Mas!”
“Sama, Sayang. Aku juga enggak suka bercanda hal beginian.”
“Mas! Aku takut.” Anisa mulai merengek.
“Lalu kamu mau aku ngapain, Sayang?”
“Enggak tahu.”
“Sekarang kamu di mana?”
“Di jalan mau pulang. Tadi dari salon.”
“Ya sudah pulang dulu sana, sudah malam.”
Anisa tersenyum karena sampai saat ini pun perhatian Tole masih selalu diberikannya. Walau hanya sebentar, pembicaraan tadi mampu menenangkan pikiran Anisa.
Mereka lalu mengakhiri percakapan dan Anisa kembali fokus menyetir. Tiba-tiba pengendara mobil di belakangnya memberikan kode melalui lampu.
__ADS_1
Lampu mobil berkedip beberapa kali membuat Anisa melirik kaca spion samping kanan. Namun mobil itu tidak nampak. Anisa berganti untuk melirik kaca spion bagian kiri. Mobil di belakang masih juga tidak terlihat. Anisa kini beralih melihat ke belakang menggunakan kaca spion bagian tengah yang berada tepat di atas kepalanya.
Betapa terkejutnya Anisa saat mendapati sosok Asih sedang duduk di kursi belakang.
Anisa menginjak pedal rem sekuat mungkin.
Mobil berhenti terlalu mendadak membuat pengendara di belakangnya menabrak dengan kuat mobil Anisa bagian belakang. Badan Anisa tersentak keras ke depan menyebabkan kepalanya terbentur kaca.
Orang-orang mendatangi Anisa yang masih lemas karena ketakutan. Dirinya tidak mampu membedakan yang mana halusinasi ataupun kenyataan.
***
Dira, Andi, dan Bagi tiba di Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit, tempat Anisa dan beberapa korban kecelakaan diberikan pertolongan medis.
Kepolisian ramai karena hemdak meminta penjelasan korban tentang kronologi kecelakaan beruntun yang menimpa mereka.
Semua pernyataan mengarah pada kesalahan yang dilakukan oleh Anisa.
Dira menyepakati jalan damai untuk para korban dengan cara memberikan kompensasi berupa sejumlah uang. Nasib baik kecelakaan itu tidak merenggut korban jiwa.
Sementara keadaan Anisa baik-baik saja. Tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya, kecuali memar pada dahi.
Tapi Anisa lebih banyak diam. Dia hanya mau berbicara dengan suaminya.
“Pak, Ibu takut, Pak. Ada hantu yang terus menerus mengikuti Ibu.”
“Bu, jangan bicara hal yang tidak masuk akal begini. Lebih baik Ibu istirahat dulu.” Dira benar-benar tidak tahu harus menanggapi apa tentang penuturan istrinya itu.
“Bapak jangan pulang. Temani Ibu di sini.”
“Nek, biar Bagi yang temani Nenek. Kasihan Kakek, mau tidur di mana? Di sini Nenek biar sama Bagi saja ya.”
Anisa berpikir ragu.
“Tapi kamu janji enggak pergi ya, Bagi.”
“Iya, Nek.”
***
Sementara di kamar kos Tole, dirinya tengah menikmati sebotol minuman dingin dengan sebatang rokok diantara jarinya.
Tole memikirkan perkataan Anisa tentang Asih. Dirinya enggan untuk menyetujui cerita Anisa.
“Mana mungkin Asih jadi hantu. Memangnya dia sehebat apa sampai jadi hantu?” Tole berbicara dengan dirinya sendiri dan tertawa.
Tangannya lalu menyalakan televisi menggunakan remote.
Dia memutuskan untuk menyaksikan sebuah film yang ditayangkan oleh stasiun TV swasta.
Beberapa saat kemudian listrik padam. Kamar Tole menjadi gelap gulita. Dengan berbekal cahaya senter dari telepon genggamnya, Tole beranjak menuju kilometer listrik yang berada di pintu masuk.
Ternyata sekringnya berpindah posisi. Dia lalu menyalakan lagi. Listrik kembali normal namun tidak dengan lampu kamarnya.
“Duh! Ada-ada saja.”
Tole kemudian berjalan menuju lemari penyimpanan untuk mencari bohlam cadangan.
Dengan menggunakan kursi, Tole berusaha menggapai lampu yang mati. Tole berdiri di atas kursi menghadap pintu kamar yang masih terbuka. Untung saja ada cahaya dari TV, itu membuat pekerjaan Tole jadi mudah. Walaupun temaram, tidak menyurutkan kegiatannya.
Tole lupa mematikan sakelar lampu sebelum mengganti bohlam dengan yang baru. Alhasil, begitu bohlam baru terpasang kamar langsung terang benderang.
Bersamaan dengan itu, sesosok perempuan menyeramkan menyeringai tersenyum menatap Tole, berdiri di depan pintu kamar Tole.
__ADS_1
Tole terkejut lalu terjatuh dari atas kursi. Sayang sekali kepala belakang Tole terantuk sudut meja televisi.