Kampus Horror

Kampus Horror
Part 43


__ADS_3

43


Kampus Horror


Part 43


Aku tertegun mendengar instruksi dari Ibu Anisa. Pelecehan secara verbal yang aku terima sebelumnya di dalam mobil, membuatku berpikir. Apa benar aku seburuk itu?


Kekasihku tidak mampu memperjuangkanku. Orang tua kandungku bahkan seperti tidak menginginkanku.


Sebenarnya, mengapa aku dilahirkan?


Aku tidak pernah mencoba membuat masalah kepada siapapun, tapi masalah selalu menjadi pendamping setiaku.


Orang-orang bilang bahwa masalah adalah ujian pendewasaan. Tapi, sampai kapan aku akan lulus dalam ujian itu? Ingin rasanya aku, menyalahkan orang lain atas masalah dan kesialan yang aku lalui selama ini. Tapi aku bertahan, membenahi diri sendiri agar jadi orang yang lebih baik.


***


Asih memutuskan untuk melewati perkuliahan hari ini. Tak ada semangat sedikitpun untuk harus memfokuskan pikiran kepada pembelajaran. Tak ada niatan salam dirinya untuk bertemu teman-temannya.


Lagi pula, kelas tidak terlalu efektif untuk melakukan pembelajaran minggu ini. Lantaran beberapa hari lagi akan diadakan perlombaan antar jurusan untuk merayakan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang keempat puluh satu tahun.


Asih berjalan pelan keluar dari Kampus Sastra.


Dia berjalan dengan arah berlawanan dari asrama.


Pikirannya kosong. Begitu juga tatapannya. Asih lalu berhenti setelah berjalan selama tiga puluh menit.


Beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri, terlihat papan nama Fakultas Pariwisata. Ingin rasanya Asih melangkahkan kaki ke tempat itu. Membenamkan diri diantara milyaran huruf yang tersusun rapi menjadi sebuah buku.


Tidak. Tidak akan lagi.


***


Tempat ini. Tempat pertama yang Kak Deni tunjukan kepadaku. Bahwa di sini bukan hanya perpustakaan saja yang menarik. Hamparan rumput liar yang ditumbuhi oleh pohon tinggi dengan buah bulat bermata banyak, juga beberapa ekor sapi yang terikat tali panjang pada salah satu pohon. Sapi-sapi itu bebas berjalan ke sana kemari untuk memilih rumputnya sendiri.


Aku diam, menunggu instruksi selanjutnya. Ada rasa khawatir, mengapa Kak Deni mengajakku ke tempat sepi seperti ini? Apa dia akan melakukan sesuatu padaku?


“Yuk! Kamu mau lihat surga itu seperti apa?” Kak Deni meraih tanganku pelan. Membimbingku berjalan entah ke mana.


“Awas, hati-hati banyak ranjau di sini!” Ucapnya lagi saat terlihat kotoran sapi di mana-mana. Aku tak kuasa menahan senyum karena wajah Kak Deni yang menunjukkan rasa jijik.


Kini aku melintasi lahan berranjau ini seorang diri. Aku hentikan langkah di bawah sebuah pohon tinggi. Teringat dengan pertanyaannya saat itu.


“Sih, kamu tahu tidak ini pohon apa?”


“Enggak, Kak. Tunggu, sepertinya itu buah Silik ya, Kak?”


Entah apa yang lucu, Kak Deni tertawa terpingkal-pingkal setelah aku menjawab pertanyaannya.


“Kenapa tertawa?” Aku tak kuasa memasang wajah cemberut karena merasa tidak ada yang lucu.


“Iya, sudah lama aku tidak mendengar nama buah Silik. Bahasa Indonesianya itu buah Srikaya, Sayang.” Bergetar hati ini saat Kak Deni membelai lembut keningku. Menyingkirkan helaian rambut yang dengan lancangnya menutupi bagian wajahku.


“Ya kalau di kampung kan namanya Silik. Ini sudah matang lo Kak. Boleh dipetik enggak, ya?” Aku berusaha menggapai buah yang paling mudah dijangkau oleh tanganku.


“Jangan!” Dengan keras Kak Deni melarangku waktu itu. Aku begitu terkejut mendengar larangannya, dan segera menarik tanganku.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Ini kebun buah sudah diisikan mantra!”


“Diisi apa?” Aku benar-benar tak paham dengan maksudnya. Memangnya siapa yang menggunakan mantra untuk pohon buah?


“Iya benar. Mantra. Supaya tidak sembarangan orang mencuri buah yang akan dipanen. Nanti kalau kamu tetap mengambilnya tanpa izin dari yang punya, bibir kamu bisa mereng!”


“Yang benar, Kak?” Aku sungguh tidak percaya dengan ucapannya.


“Benar. Kamu pikir ini lelucon?” Kemudian Kak Deni berjinjit sedikit untuk meraih buah yang lebih besar dari yang ingin kupetik tadi. Dengan mudahnya Kak Deni melepas buah cantik itu dari dahannya.


“Kak! Jangan dipetik! Nanti kena sihir dari mantra bagaimana?” Aku serasa kehilangan roh dalam ragaku saat melihat buah itu terlepas begitu saja digenggaman Kak Deni.


“Aku enggak akan kena mantra. Kan kebun ini aku yang punya.” Tidak akan pernah aku melupakan wajah jahil dengan kedipan mata memukau miliknya seumur hidupku.


Tidak serta merta aku menerima buah yang disodorkannya ke arahku.


Aku perhatikan dengan baik wajah Kak Deni. Apakah akan mengalami perubahan?


Lalu dia terbahak-bahak menyaksikanku menunggu perubahan pada bibirnya.


“Tenang, Sayang. Kebun ini benar punyaku, kok. Aku juga mengizinkan buah ini dinikmati perempuan menawan seperti kamu. Nih, ambil!”


Dengan ragu tanganku terulur meraih buah itu.


Perlahan aku belah buah Srikaya itu dan mendapati bagian dalamnya yang berwarna putih begitu menggoda.


Ingin menangis rasanya saat hasil gigitan buah itu mendarat dengan sempurna di rongga mulutku. Manis sempurna.


“Manis, kan?”


Aku hanya mampu menggangguk karena bibirku sedang sibuk mensortir biji-biji buah srikaya agar tidak tertelan.


“Buang sembarang saja, tidak apa-apa. Nanti akan jadi pupuk kok.”


Aku menuruti perintahnya.


“Kamu tahu tidak? Buah Srikaya ini banyak manfaatnya. Biasanya kalau aku diare, Ibuku selalu memberikan buah ini. Hasilnya pun cepat dan efisien.”


“Iya benar, Kak. Kalau dikampung, biji silik ini bisa untuk menghilangkan kutu rambut, Kak. Bijinya dijemur sama orang-orang dikampung, lalu dicampur dengan minyak kelapa. Kutunya jadi keblenger dan mati.”


“Hebat ya buah ini. Untung saja di sini mudah tumbuh. Tidak perlu banyak-banyak menyirami dengan air.”


Aku melanjutkan langkah kaki karena teringat saat Kak Deni menarik tanganku pelan menuju ujung kebun.


Terdapat celah kecil antara pohon Srikaya dan daun pandan yang meninggi melebihiku. Dengan hati-hati dia menuntunku melewati celah kecil itu.


“Selamat datang di surga, Sayang.” Wajah bahagianya seolah menyiratkan kesempurnaan Tuhan dalam menciptakan kedamaian.


Aku terpana memandang hamparan laut di bawah sana tanpa ada yang menghalangi. Jauh di atas sini, suara deburan ombak terdengar syahdu. Bibir pantai nampak kecil dari sini.


Keindahan tiada terkira saat melihat kegigihan laut yang tanpa pernah bosan mencumbui bibir pantai.


“Langit terasa dekat ya dari sini?” Suaranya seperti ada di sini. Seolah-olah aku sedang bersama dengannya.


“Asih, aku sangat mencintaimu. Kamu harus percaya padaku.” Diraihnya tangan ini.


“Seperti halnya air laut, walaupun dia kadang pasang dan surut, namun rasa air laut itu tetap sama. Begitupun dengan cintaku, Sayang. Seperti apapun keadaannya nanti, rasa ini tidak akan pernah berubah. Aku berjanji.”


Sama seperti waktu itu, hanya dengan mengingatnya saja aku menangis. Merasa dicintai, merasa dilindungi dan dihargai.

__ADS_1


Aku berpikir, inilah waktu yang tepat untuk lulus dari ujian masalah hidup selama ini.


Namun ternyata, semua kembali ketitik awal. Aku bukan siapa-siapa.


Angin kencang seolah meniup bayangannya. Kekasihku, dambaanku, membiarkanku duduk seorang diri di sini. Di tempat dia ucapkan janji.


Keremas perutku pelan dan menyadari, bahwa aku tidak sendirian di sini. Ada janin ini. Kak Deni kecil yang akan menemaniku sampai tua nanti. Berdua saja. Tidak seperti ucapannya waktu itu.


“Saat kita tua nanti, hanya kenangan dan cerita yang bisa kita bagikan sambil melihat anak-cucu berlarian di pasir pantai yang berkilau bagaikan kristal.”


Aku hanya akan membagi kenangan itu dengan anakmu, Kak Deni. Aku memutuskan untuk merawat anak ini seorang diri.


***


Tanpa terasa jam tangan yang diberikan oleh Deni menunjukkan pukul empat sore.


Bergegas Asih berjalan meninggalkan tempat penuh dengan kenangan.


Dia teringat dengan keinginan Ibu Anisa untuk bertemu dengannya pukul lima.


Hingga tiba di Kampus Sastra, Asih melihat mobil Anisa telah terparkir dengan rapi.


Gentar Asih melangkahkan kaki menuju kampus.


Anisa terkejut saat mendapati Asih berjalan dengan lambat dari arah gerbang kampus.


Anisa begitu murka karena merasa dibohongi oleh Asih.


“Dari mana saja kamu? Kamu bilang kamu pulang bekerja pukul lima sore. Kenapa kamu malah datang dari luar?” Anisa menatap dingin beserta suara sinis menggelegar.


Asih semakin menciut.


Anisa lalu sadar bahwa dirinya telah berbicara dengan suara yang sangat keras.


Dengan cepat Anisa menarik tangan Asih menuju gedung baru yang sedang direnovasi tersebut.


Para pekerja bangunan heran melihat Anisa dan Asih yang terburu-buru menaiki tangga menuju lantai atas.


“Dengar ya! Sekali lagi saya katakan, bahwa saya, Anisa, tidak sudi jika kamu menjadi menantu saya. Tidak peduli jika kamu mengaju sedang mengandung benih dari Deni. Kamu paham?”


Asih tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Haruskah dia menjawab?


“Bu, saya paham sekali jika Ibu tidak menginginkan saya menjadi menantu Ibu. Ibu pikir saya berminat menjadi menantu, Ibu? Saya tahu, saya ini orang miskin. Tapi saya tidak selemah itu!” Asih tidak tahan lagi menahan hinaan yang terus dilontarkan oleh Anisa.


“Kamu berani melawan?”


“Siapa yang melawan? Saya hanya menjaga harga diri saya agar tidak terus Ibu injak-injak.”


“Harga diri? Kamu pikir dirimu itu punya harga? Satu hal lagi, saya mau kamu menggugurkan kandungan itu!”


“Tidak! Saya akan menjaga anak ini sendirian. Tidak perlu anak Ibu yang harus bertanggung jawab. Tolong jangan ganggu saya lagi. Jangan ganggu kehidupan saya. Entah itu Ibu, anak-anak Ibu, ataupun suami Ibu!”


“Apa kamu bilang? Maksud kamu, keluarga saya mengganggu kamu?” Anisa berusaha menarik rambut Asih.


Dengan gesit Asih menghindar dari serangan Anisa. Asih berlari ke arah jendela yang belum berisikan kaca.


Bergegas Anisa menuju Asih dan mendorongnya.


***

__ADS_1


__ADS_2