
49
Kampus Horror
Part 49
Damar, Bagi, dan Agia termenung tanpa suara. Malam itu mereka tetap tinggal di rumah Stevina.
Stevina tidak mengizinkan siapapun keluar dari rumah, karena makhluk yang dilihatnya masih menatap ke dalam rumah dari luar gerbang.
Stevina tidak mau sahabat-sahabatnya mengalami hal yang tidak-tidak jika meninggalkan rumah.
Damar, Agia, dan Bagi dengan mudah mengantongi izin dari orang tua mereka setelah menjelaskan apa yang terjadi.
Kini mereka sedang duduk di ruang keluarga berama orang tua, kakak, dan adik Stevina. Obrolan hangat dan penuh canda, berubah muram setelah Damar menerima telepon dari Sobri.
Sobri mengabarkan bahwa Yoga telah meninggal dunia.
Orang tua, Rega, dan adik Stevina yang sudah mendengar cerita dari Damar tentang kejadian di Fakultas Teknik turut tercenung dengan kabar itu.
“Apa ini ada hubungannya dengan yang gue lihat itu, ya? Aduuuh gue jadi semakin takut deh.” Stevina meringis dengan pemikirannya sendiri.
“Enggak, Stev. Coba nanti gue minta tolong Ayah untuk melihat ya. Tadi gue sudah cerita kok. Tinggal tunggu informasi saja.”
“Lantas, kapan Yoga dimakamkan?” Bagi menanyakan kepada Damar.
“Ini gue lagi tunggu infonya. Tadi Sobri bilang Yoga akan dikremasikan oleh keluarganya. Tapi belum ada kelanjutannya. Sobri juga bilang di kampus sedang tidak kondusif.”
“Terang saja tidak kondusif. Ada mahasiswa yang meninggal dengan cara mengerikan begitu. Siapa yang tidak heboh mendengarnya.” Stevina memberikan opininya.
“Memangnya arus listriknya besar ya?” Rega juga turut serta dalam perbincangan itu.
“Sepertinya stop kontak itu untuk menyalurkan energi ke gitar listrik. Gue juga kurang yakin. Nanti coba gue tanya. Gue juga penasaran.”
“By the way, Kak Damar belajar di mana penanggulangan seperti tadi, Kak?” Agia penasaran sejak di kampus, ingin sekai dia menanyakannya kepada Damar.
“Dulu gue pernah ikutan kegiatan kesehatan mewakili sekolah saat SMA. Ternyata ada gunanya juga. Padahal gue ogah-ogahan ngikutin kegiatannya waktu itu.”
“Memang diajari serinci itu, Mar?” Tanya Bagi menimpali.
“Iya. Penanganan pertama saat anak demam, orang tenggelam, kaki keseleo, apa lagi ya, oh serangan jantung, sesak napas. Wah hebat ya gue! Kalau enggak ada kejadian tadi, bisa hilang semua itu ilmu. Tiba-tiba sekarang muncul lagi semua. Seandainya kalian dikte gue, bagaimana penanganan pertama untuk tersengat listrik. Dijamin gue lupa.”
“Terus, kok tadi kayak orang sudah berpengalaman?”
“Enggak tau juga, ya. Hebat kan gue?” Sahutnya menyombongkan diri.
***
Damar, Bagi, Stevina, dan Agia kini berada di pusat krematorium untuk umum. Tangisan penuh haru menyelimuti area kremasi. Keluarga, kerabat, serta teman-teman Yoga begitu terpukul atas kepergiannya.
Salah satu keluarga menyebutkan jika Yoga meninggalkan dunia ini dengan bahagia, karena dia meninggal dengan membawa serta kegemarannya, yaitu listrik.
Sejak kecil Yoga berkeinginan untuk membuat pembangkit listrik untuk daerah terpencil. Berbagai macam ide yang hanya dia sendiri paham bagaimana cara mewujudkan mimpinya itu. Walaupun bengal, Yoga adalah anak yang inovatif.
Teman-temannya ramai berkumpul di depan meja yang telah mereka siapkan sendiri untuk meletakkan foto terbaik Yoga. Mereka yang datang pun memberikan Yoga bunga terakhir sebagai tanda selamat tinggal. Yoga memang terkenal senang membantu temannya. Kegemarannya untuk membuat lelucon pasti akan selalu dirindukan.
Kini giliran Agia dan Bagi yang berjalan mendekat ke arah meja. Mereka bergantian meletakkan bunga krisan berwarna putih. Agia terdiam. Dari ujung sana, Yoga sedang mengamati seluruh orang terkasihnya. Semua berkumpul untuk mendoakan kepergiannya.
__ADS_1
Agia berjalan menuju tempat Yoga berdiri. Perlahan tapi pasti, Yoga menyadari bahwa Agia mengetahui keberadaannya. Yoga menatap Agia dan diam menunggu. Memastikan apakah benar Agia bisa melihatnya.
Agia terus mendekat hingga berada tepat di depan Yoga. Agia tersenyum dan menganggukkan kepala. Yoga pun ikut tersenyum.
***
Bagi menemani Agia duduk bersama Yoga di sudut lain area krematorium.
“Nama gue Yoga. Gue belum tahu apa tujuan Tuhan menghadirkan lo di sini. Tapi gue yakin Tuhan enggak pernah salah.” Yoga yang kini berada di sebelah kiri Agia, berbicara tanpa menoleh kepadanya.
Agia masih diam. Tidak tahu harus berbicara apa. Ini pertama kali untuknya berbicara dengan orang yang telah meninggal.
“Sejak kapan lo bisa seperti ini?”
“Hari ini untuk yang pertama kali.”
Yoga mengganggukkan kepala.
Bagi terkejut saat mendengar Agia berbicara tiba-tiba. Tapi dia sadar, bahwa Agia sedang berkomunikasi dengan yang tak terlihat.
“Seharusnya gue sudah cabut sejak lima tahun lalu. Tapi gue terus-menerus meminta tempo waktu. Kasihan Mama kalau gue cabut kemarin-kemarin. Kalau sekarang, sepertinya sudah cukup bagi kita untuk menciptakan kenangan yang baik dan indah.” Terangnya sambil menatap lurus ke arah Mama dan keluarganya jauh di depan sana. Mereka nampak sibuk melakukan segala proses kremasi.
Agia menoleh ke arah Yoga. Wajahnya sangat tampan dan bercahaya. Tidak ada duka ataupun kesedihan terlihat dari sana.
“Memangnya lo minta tempo waktu dengan siapa?”
“Sang Penjemput. Gue juga enggak tahu pasti nama beliau. Dulu beliau datang sekali-sekali. Tapi bulan ini beliau terus datang, hampir setiap hari.”
“Seperti apa Sang Penjemput itu?”
“Beliau datang dengan berbagai wujud. Pernah datang dengan wujud yang sangat seram. Mungkin karena gue sering berbuat buruk dulu. Beliau datang dengan membawa gada besar ditangan kirinya. Pernah juga beliau datang dengan wujud yang sangat mengagumkan. Gemerincing kereta kencananya selalu membuat gue merinding. Dia selalu bilang, ini sudah waktunya.”
“Gue janji untuk jadi orang baik.”
“Orang baik? Memangnya definisi orang baik menurut Sang Penjemput itu seperti apa?”
Yoga tertawa kecil mendengar pertanyaan Agia.
“Dulu, gue selalu jadi anak yang melawan semua ucapan orang tua. Gue juga enggak tahu kenapa bisa bersikap begitu. Gue rasa, gue terlalu mengikuti ego. Gue sering mabuk-mabukan, bahkan konsumsi obat terlarang sejak SMP. Tapi sejak Sang Penjemput kerap kali datang, gue sadar bahwa waktu gue sudah tidak akan dapat ditunda lagi.”
Agia tidak menjawab penuturan Yoga. Dia membiarkannya untuk melanjutkan ungkapan hatinya.
“Gue berubah untuk diri gue dan keluarga. Terutama Mama. Tanpa dia yang selalu bisa menerima gue apa adanya, gue enggak mungkin pergi dalam keadaan bahagia seperti ini. Mama yang selalu gue repotkan saat gue muntah setelah mabuk. Bahkan dalam tangisannya, Mama tetap membantu gue saat sedang sakau. Walaupun Mama harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya di kantor, tapi Mama enggak pernah sekalipun abai sama gue. Hebat kan Mama gue?”
Kemudian Yoga menoleh ke arah Agia.
“Boleh gue titip pesan untuk Mama?”
Agia menganggukkan kepala dan tersenyum.
***
“Tante, maaf mengganggu.” Agia mendekati Mama Yoga.
Mama Yoga menoleh dengan tatapan kosong. Kesedihan nampak sangat menguasai dirinya. Anak semata wayangnya kini mengikuti langkah suami tercintanya. Mereka meninggalkannya seorang diri dengan memori penuh kasih dan cinta. Meninggalkannya tanpa mau mengajaknya turut serta.
“Tante, saya Agia. Saya turut berduka cita ya, Tante.”
__ADS_1
“Terima kasih, ya.” Hanya itu kata-kata yang terucap dari bibir pucat Mama Yoga.
“Tante, maaf sekali kalau saya lancang mengatakan ini. Tadi Yoga berpesan kepada saya, Tante.” Ucap Agia lambat-lambat agar Mama Yoga todak terkejut dengan apa yang disampaikannya.
Mama Yoga menoleh dan menatap Agia.
“Yoga ada di sini?”
Agia menganggukkan kepala lalu tersenyum. “Sejak awal, Tante.”
Seketika tangis Mama Yoga meledak dan histeris. “Yogaaa, anak Mama sayang. Anak Mama, kesayangan Mama.” Begitu terus kata-kata yang terucap.
Agia tidak sampai hati hendak berbicara kepada Mama Yoga.
Semua orang yang menyaksikan tangisan Mama Yoga pun ikut menangis.
Setelah beberapa menit melampiaskan kesedihan melalui tangisan, Mama Yoga mampu mengendalikan dirinya lagi.
“Dia di mana, Nak?”
“Di sana, Tante.” Agia menunjuk tempatnya berdiri tadi memerhatikan orang-orang di krematorium.
“Apa yang dilakukannya?”
“Berdiri memandang ke arah sini dengan wajah bahagianya. Wajah tanpa kesakitan, tanpa kesedihan dan keraguan. Yoga bahagia sekali, Tante.”
Tanpa mampu mengontrol, tetesan air mata Mama Yoga mengalir tiada henti.
Agia mengajak Mama Yoga untuk duduk, dekat dengan posisi Yoga berdiri.
“Yoga ingin berterima kasih dengan Tante karena sudah menjadi Mama yang kuat dan hebat untuk Yoga. Yoga berharap agar Tante kuat menjalani sisa hidup sampai berkumpul lagi dengan Yoga dan Papanya.” Tanpa sadar Agia pun menitikkan beberapa bulir bening dari manik matanya.
“Tante, Yoga harus pergi. Sudah takdir dia harus pergi mendahului kita semua.”
“Nak Agia, boleh tahu Yoga sekarang mengenakan pakaian apa?”
Agia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Mama Yoga. “Sama persis seperti yang Tante sediakan itu. Kain putih dan kuning, kemeja putih, dan pengikat kepala putih. Seperti pakaian adat itu, Tante.”
Dada Mama Yoga terasa sesak. Membayangkan wajah anaknya yang tampan mengenakan pakaian yang dia minta beberapa minggu lalu. Dia pikir, itu hanya lelucon saja. Ternyata benar, lelucon yang selalu dia umbar itu akan selalu dirindukan.
“Tante, Yoga ada titip sesuatu. Katanya di rak sepatu di luar rumah, dia ada taruh kunci kamarnya. Silahkan buka lemari pakaiannya Yoga, ya Tante. Sebelah kanan, paling bawah. Dia minta Tante jadikan Yoga dan Papanya sebagai jiwa, Tante. Yoga dan Papa akan selalu berada dihati Tante. Cuma itu saja yang diutarakan Yoga.”
Mama Yoga kembali menangis.
“Yoga, Nak, dengar Mama, Nak? Tunggu Mama ya, Sayang. Tunggu. Mama pasti akan segera datang. Nanti kita kumpul lagi ya, Nak. Seperti dulu. Kita naik sepeda lagi bertiga, ya. Mama janji akan bahagia mewakili kalian. Orang-orang terkasih Mama. Cinta Mama. Seluruh hidup Mama. Hati-hati di jalan ya, Nak. Titip salam untuk Papa. Salam rindu. Salam rindu dari Mama. Kalian enggak akan pernah tergantikan. I love you, Nak. Mama sayang Yoga.”
Agia melirik Yoga yang tersenyum bahagia. Dia melambaikan tangan, lalu menghilang.
Agia lalu memeluk erat tubuh Mama Yoga yang kini terasa ringkih menahan kesedihan.
Kematian sesungguhnya sesuatu yang sulit untuk dibicarakan. Tak terduga dan menyisakan kenangan. Terlalu banyak hal yang harus dipahami dalam hidup ini. Namun, saat kematian datang, tak ada yang benar-benar paham tentang kehidupan.
Hidup ini bukan hanya sekedar bernapas, jadi gunakanlah sebaik-baiknya.
Seperti halnya buku, kelahiran sama dengan sampul depan, kematian adalah sampul akhir. Tiap lembar dalam buku adalah hari-hari yang harus kita lalui.
***
__ADS_1
“Boleh gue tahu, apa yang lo siapkan untuk Mama didalam lemari?”
“Kolase foto keluarga gue. Kalung cantik yang pasti akan cocok sekali untuk Mama. Juga, lampu tidur yang gue buat sendiri.”