Kampus Horror

Kampus Horror
Part 44


__ADS_3

44


Kampus Horror


Part 44


Hari sabtu Bagi berjanji untuk mengantar Agia ke rumah Eka. Kabarnya Eka sudah diperbolehkan pulang.


Kini Bagi sedang duduk di teras rumah Agia, menatap satu titik kosong pada tanaman di halaman rumah.


“Kenapa duduk di teras? Masuk saja.” Bunda Agia mendatangi Bagi.


“Eh Bunda.” Bagi terkejut dengan suara Bunda. “Di sini saja enggak apa-apa, Bun. Tamannya indah sekali.”


Bunda tersenyum mendengar jawaban Bagi.


“Bunda memang senang berkebun.”


Bagi hanya mengganggukkan kepalanya tanda setuju. Hanya dengan melihat saja sudah ketahuan bahwa kebun ini dirawat dengan hati-hati.


“Kamu pasti merasa terganggu ya, dengan kemampuan yang dimiliki Agia.”


Bagi menoleh Bunda. “Maksud Bunda?”


“Ya, bisa dibilang karena kemampuan Agia, keluarga kamu malah jadi seperti sekarang.” Bunda menghentikan ucapannya sebentar. “Agia sudah bercerita sama Bunda semuanya.”


Bagi menunduk, menatap lantai tempat dia memijakkan kakinya saat ini.


“Ya begitulah rahasia, Nak Bagi. Kadang rahasia dimaksudkan untuk diketahui, tapi ya itu. Sekalinya diketahui, kamu tidak akan bisa melupakan.”


Bagi menoleh ke arah Bunda karena bingung dengan ucapan Bunda.


Bunda tersenyum. “Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya. Rahasia itu akan terungkap dengan sendirinya, seiring perjalanan waktu. Jika memang rahasia itu menyakitkan, kembali lagi, waktu juga yang akan menyembuhkan.”


Bunda tersenyum menatap Bagi. “Banyak rahasia di dunia ini yang kadang tepat berada di depan kita. Sama seperti bulan, ada sisi gelapnya yang tidak ingin dia tunjukkan. Berat ya bahasa Bunda?”


“Saya paham, Bun. Benar kata Bunda. Saya hanya perlu waktu untuk menstabilkan hati dan pikiran. Ya mohon permakluman saja karena hati siapa yang ingin keluarganya terlibat dalam kasus kematian seseorang. Terlebih kematiannya tidak wajar.”


“Mungkin kalau Bunda menyuruh Nak Bagi untuk sabar, sudah tidak tepat ya. Sabar untuk apa? Kalau menurut Bunda, poin sabar itu melakukan sesuatu yang penuh ketidakpastian, namun penuh pengharapan. Sudah pasti harapan Nak Bagi semua orang juga tahu. Bunda harap, Nak Bagi kuat untuk menerima apapun kenyataan dari semua yang sudah terjadi.”


Bagi mengangguk mantap mendengar ucapan-ucapan dari Bunda.


“Memangnya Agia punya kelebihan itu sejak kapan sih, Bun?” Bagi mengalihkan pembicaraan untuk menetralisir perasaannya.


“Dari bayi!” Bunda tertawa mendengar jawabnnya sendiri. “Kalau tidak salah saat dia berusia dua tahun, ada acara yang menayangkan rekaman CCTV ditelevisi. Pernah nonton enggak acara yang seperti itu?” Tanya Bunda sambil melirik Bagi.


“Oh acara yang biasanya menayangkan kejadian lucu atau kecelakaan lalu lintas itu, Bun?”


“Benar. Tapi hari itu menayangkan rekaman yang terjadi di depan pintu rumah. Ada rekaman seekor beruang mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Lalu ada juga mobil yang tiba-tiba muncul dan menabrak pintu rumah si pemilik rekaman. Nah, pas nih ada rekaman handle pintu rumah bergerak sendiri. Menurut narasi di acara itu, pemilik rumah sedang bekerja. Tapi handle pintunya bergerak sendiri. Tahu enggak Agia bagaimana merespon rekaman itu?”


Bagi diam menunggu lanjutan ceritanya.


“Bun, ada Om besar mukanya serem mau masuk ke rumah itu. Begitu katanya, sambil dia tutup mata. Bunda seketika merinding. Padahal di depan pintu rumah dalam rekaman itu enggak ada siapa-siapa.”


Bunda lalu melanjutkan lagi ceritanya.


“Sebenarnya kemampuan Agia itu nurun dari Ayahnya. Suami Bunda juga sama begitu seperti Agia. Bedanya, kalau Ayah tidak bisa berkomunikasi. Tapi Ayah bisa melihat lebih jelas. Kata mertua, Ayahnya Agia pernah hilang dulu waktu kecil. Diculik Wong Samar!”


Bagi terkejut saat tahu kalau Ayah memiliki pengalaman seperti itu.


“Ya, nanti kamu juga akan terbiasa dengan sikap Agia. Dia pendiam. Tapi dia suka bercerita kok.”


“Yuk berangkat! Aku sudah siap, Kak.” Tiba-tiba Agia muncul lengkap dengan jaket dan helm yang terpasang.


“Kita berangkat dulu ya, Bun.”


“Hati-hati ya.”

__ADS_1


***


“Ternyata rumah Eka dekat sekali dengan rumah kamu, Gi.”


“Iya, Kak. Cuma beda gang doang.” Agia turun dari boncengan motor Bagi. Dan melepas helmnya.


Agia lalu melihat ke dalam rumah Eka dari depan gerbang. Sepi. Lumayan jauh jarak gerbang dengan pintu utama rumah Eka. Jadi Agia memutuskan untuk membuka gerbang dan masuk ke dalam.


Sambil berjalan pelan, Agia mengucapkan salam.


Terlihat Bapak Eka ternyata sedang duduk di bawah pohon Belimbing Wuluh. Nampak ayam jantan sedang dielus-elus oleh Bapak Eka.


“Agia! Ya ampun! Bu! Bu! Ada Agia datang!” Teriak Bapak dengan bergegas memasukkan ayam jantannya ke dalam sangkar.


“Bu! Bu! Di mana Ibunya Eka ini? Sini, sini Agia! Ayo sini!” Ajaknya memanggil Agia menuju rumah.


Halaman Eka sangatlah luas. Sangat tertata rapi tapi tidak terlihat mewah. Tidak terlihat tanaman mahal tumbuh di sekitar sini.


“Ayo masuk. Datang dengan siapa Agia?”


“Ini Pak, teman Agia. Namanya Bagi. Kak kenalkan ini Bapaknya Eka.”


“Halo, Pak. Saya Bagi.” Sahutnya dengan mengulurkan tangan kepada Bapak Eka.


“Aduh tangan saya bekas elus ayam. Jadi malu.” Sahutnya dengan menyambut tangan Bagi.


Ibu Eka datang karena mendengar ribut-ribut di halaman rumah.


“Walah! Ada Agia! Ayo sini masuk-masuk.”


“Iya, Bu. Mau lihat keadaan Eka. Apa kabar Eka?”


“Itu lagi nonton TV. Ayo sinilah masuk!” Ajaknya lagi.


Agia membuka jaket dan sepatu. Lalu melangkahkan kaki ke dalam rumah Eka. Saat sekolah dulu, dia sering ke sini. Karena rumah Eka adalah rumah terluas diantara rumah teman yang lain. Jadi, di sini sering dijadikan tempat belajar kelompok atau sekedar bermain bersama. Sudah belasan tahun Agia tidak pernah ke rumah Eka. Semua jadi terasa asing.


Agia meletakkan badannya di sofa rumah Eka.


“Sama siapa lo, Gi?”


“Kenalin, ini Kak Bagi. Teman.”


“Teman? Teman hidup maksud lo?” Eka menggoda Agia seraya ikut duduk di seberang Agia.


Agia tersipu malu mendengar ledekan Eka.


“Semoga seperti itu, Eka. Saya Bagi. Iya. Teman.” Bagi pun mengulang pernyataan dari Agia. Bagi tidak mau ketinggalan untuk ikut serta mendengar obrolan antar dua teman itu.


“Bagaimana keadaan lo, Ka?” Agia mengalihkan pembicaraan.


“Berkat lo, gue masih bisa nonton Ayu Tingting di TV. Terima kasih banyak, Gi!”


“Gue juga turut senang lihatnya, Ka. Semua berkat alam ini, Ka. Bukan gue. Kebetulan saja gue diberi kelebihan sedikit untuk mengenal alam lebih jauh. Alam menciptakan kemampuan, keberuntungan kita saat itu, karena melengkapinya dengan kesempatan.”


“Setuju gue, Gi. Kalau bukan alam yang memberikan gue kesempatan, mana mungkin lo ada perjalanan ke daerah sana.”


“Oh iya, bagaimana urusan lo sama Anggita? Sudah selesai?”


Eka mengangguk mantap.


“Maunya gue yang ke sana ngobrol dengan orang tuanya. Eh, malah Anggita dan keluarganya yang ke sini nengokin gue. Tapi Bapak sudah bilang kalau kita mau ngelamar Anggita tahun depan.”


“Tahun depan? Cepat amat, Ka!”


“Iya, untuk apa ditunda-tunda? Malah membuka peluang untuk batal bersatu, Gi.”


Ibu Eka datang dengan nampan berisikan tiga cangkir teh beserta camilan.

__ADS_1


“Aduh Ibu kok jadi malah repot begini.”


“Masak segini saja repot, Gi. Kalau Agia minta Ibu menghitung daun kering di halaman baru repot!”


Semua tergelak mendengar celoteh Ibu Eka. Nampaknya keadaan mental Ibu Eka pun membaik dengan drastis sejak kesadaran Eka dari koma.


“Harusnya kan kami yang bawa oleh-oleh. Kok bisa lupa ya?” Bagi menepuk dahinya.


“Besok ulang ke sini, tiap hari juga boleh ke sini ya. Senang Ibu kalau lihat Eka ngobrol begini. Tapi enggak perlu bawa apa-apa!”


“Siap, Bu!”


“Ya sudah Ibu tinggal ke belakang ya. Lanjut ngobrolnya. Jangan lupa diminum.” Pesannya lagi saat hampir menghilang dari balik tembok.


“Agia, aku ke luar ya. Mau lihat ayamnya Bapak.” Bagi merasa tidak nyaman mendengar obrolan mereka. Lebih baik di luar saja menikmati angin semilir.


“Iya, Kak. Silahkan. Tunggu sebentar ya, Kak.”


“Iya, ngobrol saja dulu. Take your time!”


“Terima kasih, Kak.”


Eka kembali membuka topik pembicaraan dengan Agia.


“Lo tahu tidak, Gi? Gue sudah bertemu dengan Prabu Lanang.”


Agia menaikkan alisnya. “Prabu Lanang? Seinget gue, lo bilang Prabu Lanang itu penunggu jalanan daerah sana bukan?”


“Tepat! Gue ditanya, benar mau pulang? Enggak mau ikut beliau?”


“Lantas, lo jawab apa?”


“Ya mau lah pulang. Keluarga gue masih belum rela kalau gue ikut.” Eka memajukan tubuhnya dan berbisik.


“Gue dikasi tempo waktu, Gi.”


“Maksud, lo?”


“Gue harus ikut Prabu Lanang suatu hari nanti.”


“Kapan?”


“Sampai gue punya anak laki-laki.”


Agia bingung mendengar penuturan Eka.


“Memangnya apa hubungannya?”


“Entahlah. Mungkin supaya ada pengganti gue dikeluarga ini. Makanya, disisa hidup gue, gue akan menciptakan banyak kenangan indah yang akan selalu dibawa oleh keluarga gue.”


Agia termenung mendengar penuturan Eka.


“Terima kasih, Gi. Untuk kesempatan yang indah ini.”


“Berterima kasihlah sama Tuhan, Ka.”


“By the way, Prabu Lanang itu seperti apa?” Agia menambahkan pertanyaannya.


“Seperti raja. Lo ingat tidak drama kolosal zaman kita kecil dulu. Judulnya Angling Darma. Persis seperti itu. Rambutnya panjang,”


“Parasnya tampan, mengenakan mahkota emas, dan selalu tersenyum?” Agia memotong penjelasan Eka tentang Prabu Lanang.


“Beliau ada di sini, Gi?”


“Tuh, di sebelah lo. Lagi dengerin kita ngobrol!”


***

__ADS_1


__ADS_2