
Kampus Horror
Part 25
“Bagi belum balik, Ma?” Andi baru saja tiba di rumah dan mendapati rumah sepi. Hanya ada istrinya, Dewi, sedang memandang televisi yang memperlihatkan tayangan drama asal Korea.
“Belum, Pa. Tadi pagi-pagi bilang mau cari bahan skripsi.” Sahutnya tanpa menghentikan kegiatan memandang layar lebar di hadapannya.
“Iya Papa tahu. Tadi ketemu Bagi di kampus.”
“Kampus Papa?”
“Iya. Katanya kemungkinan bukunya ada di Kampus Pariwisata.”
Dewi hanya mengangguk. Tidak terlalu tertarik mengenai kegiatan anak dan suaminya. Pekerjaannya sebagai pecinta drama Korea lebih menarik dan tidak boleh diselingi oleh informasi tidak penting.
***
Setelah mengganti pakaian, Andi menuju dapur.
Di buka lemari pendingin. Matanya mengedar ke seluruh penjuru bilik dingin untuk mencari sesuatu yang bisa menyegarkan mulutnya.
Terdapat beberapa potong puding yang diyakininya dibuat oleh Dewi. Karena istri cantiknya itu memang gemar memasak. Segala masakan yang dibuat olehnya pun sangat enak. Walaupun hanya sekedar telur dadar.
Sambil menyantap puding, tangan Andi berselancar dibeberapa aplikasi media sosial pribadinya. Kemudian terdengar perbincangan dari Bapak dan Ibu di kamar. Samar terdengar, karena pembicaraan itu dilakukan dengan suara yang sangat kecil.
Entah mengapa Andi menjadi penasaran dengan isi pembicaraan itu.
Kini, Andi telah mendekat dan menajamkan indera pendengarannya.
"...malah bikin Kirman jadi curiga nanti sama Bapak."
"Iya, Bu. Bapak hanya ingin memastikan saja."
"Yang pasti Bapak tidak ada hubungannya 'kan dengan kematian korban di kampus?"
Andi sangat terkejut dengan pertanyaan Ibunya. Dia menunggu dengan gusar jawaban dari Bapak.
"Ya enggaklah! Kan Bapak sudah bilang!"
"Nah, sekarang Ibu yang mau memastikan. Sudah, jangan pasang muka begitu. Nanti orang-orang jadi curiga!"
***
Bagi melihat Papanya sedang melempar makanan ikan ke kolam. Bagi tidak langsung menyapa. Perlahan dia mendekat disertai dengan mempelajari mimik wajah milik Papanya.
Terlihat wajah dengan pikiran yang sangat jauh. Tangannya tetap bergerak memberikan ikan-ikan koi makanan.
"Pa!"
Andi terkejut dan menoleh.
"Sudah pulang, Gi?"
__ADS_1
"Mikirin apaan, Pa?"
"Enggak. Papa enggak berpikir apa-apa. Kenapa memang?"
"Kelihatannya lagi ada masalah."
Andi hanya tersenyum.
"Gimana, ketemu buku yang kamu cari?"
"Enggak, Pa. Tapi aku malah ketemu hal menarik lainnya." Bagi menjawab dengan kerlingan nakal diwajahnya.
***
Bagi tidak segera menuju kamarnya. Namun ke kamar orang tuanya.
"Hai, Ma!"
"Sudah pulang, anak Mama?"
Bagi berjalan menuju meja kerja Papanya dan mengambil salah satu buku yang biasa digunakan untuk menulis jadwal kegiatan Papanya.
"Cari apa, Sayang?"
"Ini mau pinjam catatan Papa. Aku ada tugas Bahasa Inggris."
"Bukannya kamu sudah nyusun skripsi? Kok ada tugas lagi?"
"Oh.. Itu, Ma. Temen aku, eh adik kelas yang minta tolong, Ma."
"Iya, Ma. Maksudnya Agia. Sudah ya, Ma. Aku ke kamar dulu!"
"Dasar bujang! Sama Mama sendiri kok malu."
***
Bagi diam tak percaya setelah meneliti buku catatan Andi dan buku saku yang didapatnya dari perpustakaan.
'Ini memang tulisan Papa. Bagaimana bisa Papa meninggalkan catatan grammar Bahasa Inggris didalam buku yang dibaca Asih?'
Bagi tidak sanggup memikirkan ini sendirian. Semua nampak rumit dan tanpa jalan keluar.
***
Deni, Robi, Damar, dan Bagi, kini tengah berdiskusi mengenai video penampakan yang tersimpan dimemori milik Ratna. Minuman dan makanan yang tersaji di hadapan mereka pun tak mampu menggugah selera.
Terpekur Deni dengan kenyataan bahwa cintanya telah menghilang secara nyata dan tidak mungkin bisa kembali lagi.
Deni lebih memilih membayangkan Asih menikah dengan pria lain dan hidup bahagia. Dibandingkan dengan kenyataan bahwa bertahun-tahun kekasihnya terbujur kaku sendirian dalam dingin dan gelap tertimbun tanah.
“Om. Om enggak apa-apa?”
Deni diam tidak menyahut. Karena sesungguhnya, Deni tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Damar mulai menceritakan kepada mereka tentang awal mula perjalanan menegangkan mereka. Serta sangkut paut Agia dan Stevina yang pertama kali mengalami kejadian di kampus.
“Om boleh ketemu dengan Agia? Apa bisa Agia menjadi jembatan komunikasi beda alam antara Om dan Asih?”
“Kalau masalah itu Bagi kurang tahu, Om. Tapi beberapa kali memang Agia ingin bertemu dan diskusi sesuatu dengan Om. Belum berjodoh dengan waktu mungkin. Kalau sudah seperti sekarang, lebih mudah mengatur waktu. Karena Om dan Agia sama-sama ingin bertemu.”
Damar melanjutkan cerita tentang pertemuannya dengan polisi detektif yang menangani kasus ini.
“Kita enggak sendirian kok, Om. Ada polisi yang akan bantu kita untuk mengungkap siapa pelakunya.” Damar mengutarakan isi hatinya.
***
Damar dan Bagi masih duduk sepeninggalnya Deni dan Robi.
"Bro..."
Damar mengalihkan matanya dari layar telepon genggamnya menuju Bagi.
"Gue punya feeling kurang baik nih tentang kasus ini."
"Feeling apaan?"
"Tadi siang gue ke perpustakaan Fakultas Pariwisata. Gue nemuin sesuatu."
"Nemu apaan?" Damar meletakkan telepon genggamnya di atas meja dan membenarkan posisi duduknya lebih tegak. Damar terlihat sangat antusias.
"Entah ini sesuatu yang bisa kita jadikan petunjuk atau enggak. Tapi gue rasa, gue perlu masukan dari lo." Bagi menyodorkan buku saku yang berisikan catatan grammar Bahasa Inggris kepada Damar.
Damar memperhatikan buku saku itu.
"Catatan Bahasa Inggris?"
Bagi mengangguk.
"Gue nemu diselipan buku yanh dibaca Asih. Didalam buku gitu."
"Lalu? Apa yang spesial dari buku catatan ini, sampai-sampai feeling lo jadi muncul."
Bagi kemudian menyerahkn kertas yang disobeknya dari buku agenda jadwal kegiatan milik Papanya.
Damar meneliti kertas itu dan membaca.
Damar menaikkan pundaknya, menandakan tidak menemukan petunjuk sedikitpun.
"Enggak ngerti gue."
"Lihat. Tulisannya sama, kan?"
Damar memperhatikan lagi lebih seksama.
"Oh, iya bener!"
"Itu... Tulisan tangan bokap gue."
__ADS_1
***