
46
Kampus Horror
Part 46
Ternyata begitu buruk jika kita ditakdirkan terlahir menjadi orang miskin. Lebih buruk lagi jika kita hanya berdiam diri saja tanpa melakukan perubahan. Takdir seolah menunggu kita untuk memainkan peran dalam suatu cerita.
Awalnya aku menunggu takdir berubah arah agar kehidupanku menjadi lebih baik. Tapi aku bertekad untuk mengubah alur takdirku. Tuhan memberikanku akal dan budi untuk tidak terus terbelenggu didalam takdir yang buruk.
Malu sebenarnya mengutarakan, jika aku memiliki cita-cita bekerja di bank saat kecil dulu. Jika anak-anak lain bercita-cita menjadi dokter, atau polisi, bahkan ada yang ingin menjadi pilot, aku justru ingin menjadi pegawai bank. Terang saja, menurutku di bank itu bagaikan sumber mata air yang tidak akan pernah kehabisan uang. Tidak seperti keluargaku. Uang bagaikan tetesan air di padang pasir.
Sejak saat itu aku bercita-cita menjadi pegawai bank.
Aku tahu, cita-cita bukanlah takdir. Namun, suatu arah untuk berkomitmen sebagai penggerak sumber daya dan energi bagi usaha membangun masa depanku sendiri.
Menurut Ibu Guru kesayanganku, keinginanku pasti akan mudah didapatkan. Tapi, aku disarankan untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Aku sebenarnya tidak berkeinginan untuk kuliah. Terlebih, bagaimana aku akan mendapatkan izin dari Bibiku?
Tapi lagi-lagi, atas izin Tuhan, aku memiliki kekuatan untuk melawan Bibi untuk yang pertama dan terakhir kali. Aku diusir dari rumahnya. Lebih baik memang, karena hampir setiap hari aku memikirkan cara untuk kabur dari sana.
“Memangnya kamu pikir hidup sendiri itu gampah, Sih?” Begitu kalimat yang terucap dari bibir Bibi saat aku menyerahkan formulir pendaftaran. Biar bagaimanapun, aku harus mendapatkan izin darinya mewakili orang tua kandungku.
“Hidup diluar sana susah! Masih untung kalau ada nerima kamu untuk bekerja, kalau tidak bagaimana? Kamu mau jual diri? Mikir, Sih. Mikir!” Herannya, Bibi ini selalu pesimis terhadap sesuatu. Anak-anaknya pun tidak ada yang didukung untuk melanjutkan sekolah. Bukan urusanku.
“Bibi mau tanda tangan atau tidak?” Seruku akhirnya.
“Mending kamu diam saja di rumah Bibi. Enggak usah mimpi ketinggian kamu!”
“Asih mau coba untuk kuliah sambil kerja, Bi. Asih minta tolong, izinkan ya, Bi.” Bagaikan budak yang menginginkan kebebasan dari belenggu majikan, aku terus memohon dengan putus asa.
“Kalau kamu benar mau pergi dari rumah Bibi, kamu harus ganti rugi, Sih! Biaya makan, air, tempat tinggal, semua harus kamu ganti. Memangnya kamu punya uang?” Ya Tuhan! Ingin rasanya aku menarik isi perut Bibi agar habis terurai. Aku putuskan untuk diam dan tidak menyahuti omongan Bibi.
__ADS_1
Aku bawa kembali formulir pendaftaran menuju kamar.
Berat sekali rasanya harus mengunjungi Bapak hanya karena dia adalah orang tua kandungku.
Pernah beberapa waktu lalu aku membawa rapot sekolah untuk meminta tanda tangannya. Maksudku sekalian menunjukkan hasil belajarku yang selalu berada diperingkat atas. Tapi apa yang aku terima? Mereka mengira aku hendak meminta uang. Iya benar, mereka adalah bapak kandungku dan istrinya. Aku tak sudi memanggilnya Mama.
Tapi karena keadaan mendesak, kupaksakan menaruh sejenak urat-urat yang tidak perlu dibawa. Biasanya saat bertemu Bapak, urat emosi dan menjengkelkan langsung keluar.
Respon Bapak tidak bisa ditebak. Entah dia mendukung atau tidak, aku tidak peduli. Hanya tanda tangannya saja yang aku perlukan.
“Memangnya nanti kamu mau tinggal di mana?” Pertanyaan macam apa itu? Orang yang menelantarkanku secara nyata berani bertanya aku akan tinggal di mana?
Aku putuskan untuk menjawab sekenanya, “Di suatu tempat, yang pati tidak ada keluarga jahat yang akan menelantarkanku. Aku akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaanku sendiri.”
Apakah aku akan menjadi anak durhaka karena menjawabnya seperti itu?
Aku tidak peduli. Durhaka atau tidak, itu urusanku dengan Tuhan nanti.
Untung saja aku mendapatkan tanda tangan Bapak dengan mudah. Walaupun harus menahan pahit yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.
“Adik-adik siapa, Pak?” Entah kenapa aku ingin sekali melawannya saat itu.
“Ya, adik kamu.”
“Maaf, saya tidak pernah meminta untuk diberikan adik. Apalagi dari perempuan yang merebut suami orang. Oh ya, satu lagi, tidak perlulah Bapak meminta maaf, bukannya sejak dulu Bapak memang tidak pernah memberikan aku biaya sekolah? Hubungan kita di sini hanya sebatas, kebetulan anda yang membuahi rahim perempuan yang melahirkan saya. Hanya itu. Tidak lebih.” Aku tidak sabar untuk segera meninggalkan laki-laki itu. Tapi aku harus tetap mengingat akan adanya tata krama. Aku juga mengucapkan terima kasih dengan singkat.
Aku berjuang sendirian tanpa satu keluargapun yang mendukungku. Tapi aku percaya Tuhan akan selalu menjaga dan menuntunku.
Kuasa Tuhan tidak pernah berkesudahaan saat aku semakin bergerak mencoba mengubah takdirku. Aku mendapatkan beasiswa bahkan uang saku selama menempuh perkuliahan. Atas informasi dari Ibu Sumarni, aku pun diperbolehkan untuk tinggal di asrama tanpa biaya sepeserpun.
Saat itu aku berpikir, mungkin ini saatnya aku mengubah alur hidupku. Walaupun, ada saja ocehan teman-temanku yang membuat telinga serasa terjentik jari. Aku sering disebut sebagai mahasiswa beban negara.
__ADS_1
Semua berjalan baik-baik saja saat memulai perkuliahan. Tapi begitu cinta datang dalam hidupku, semua kembali berubah arah. Orang tua Kak Deni tidak merestui sama sekali tentang hubungan ini.
Menyesal sekali rasanya harus merespon hal lain selain belajar. Seharusnya aku hanya fokus belajar dan belajar. Tidak perlu berteman inilah itulah.
Ingin sekali aku membuktikan kepada orang tua Kak Deni bahwa aku bisa mengubah kehidupanku nanti. Sayangnya aku sekarang telah mengandung. Bahkan nenek dari janin ini tidak sudi mengakuinya. Untung saja Tuhan masih terus menjagaku dan janin ini. Aku bisa menghindar dari dorongan mematikan saat itu.
Tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada wajah Ibu Kak Deni. Hal itu membuatku sangat marah. Hingga tanpa sengaja aku mengucapkan hal itu. Ada sedikit rasa puas saat melihat wajahnya yang memerah. Memangnya orang baik tidak bisa menjadi jahat?
***
Jimmy membuang putung rokok sembarang, kemudian menginjaknya tanpa tenaga.
Kasus kali ini betul-betul sulit. Bagaimana caranya memastikan alibi, sementara kejadian diperkirakan sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu. Alat komunikasi ataupun sistem digital belum seperti saat ini.
Walaupun fakta-fakta semakin meruncing, namun, bagaimana cara membuktikannya?
Jimmy mengedarkan pandangan ke bangunan Kampus Sastra. Andre tidak ikut serta kali ini. Dia diperintahkan oleh Jimmy untuk menelusuri mandor saat renovasi kampus waktu itu. Begitupun dengan Dj. Entah di mana dia saat ini.
Dua orang petugas polisi yang menjaga TKP asik bercanda untuk mengurangi rasa bosan. Beruntung di Kampus Sastra telah dilengkapi dengan layanan internet gratis. Petugas yang menjaga bisa menikmati dunia maya dengan santai. Bisa bermain game online, menonton film, bahkan memantau pergerakan mantan melalui akun media sosial palsu, yang dibuat khusus untuk menikmati unggahan pada akun mantan.
Jimmy tidak ikut serta dalam perbincangan petugas itu. Dia lebih memilih membayangkan kejadian tiga puluh lima tahun yang lalu.
Jimmy lalu berjalan mendekat ke arah taman tempat ditemukannya kerangkan manusia. Patung itu pun masih di sana.
“Bagaimana bisa kerangkanya tertanam di sini?” Jimmy mulai memaksa otaknya untuk berpikir lebih keras. Spekulasi mulai dituangkan dalam hatinya.
“Seandainya Dewi pelaku pembunuhan, bagaimana caranya dia bisa menggali tanah sedalam itu? Mustahil rasanya dia bisa melakukannya seorang diri. Kapan dia melakukannya? Bukankah ada banyak pekerja di sini saat itu? Kalau bukan Dewi, lalu siapa yang mempunyai wewenang untuk memerintahkan penggalian di sini? Apakah Dira Nugraha?” Jimmy membalikkan badan bendak meninggalkan kampus. Tidak lupa dia berpamitan kepada petugas yang berjaga.
Begitu melewati kantin bawah pohon yang saat itu sedang tutup, Jimmy menepuk dahinya.
“Kenapa gue bisa melewati hal kecil ini?”
__ADS_1
Jimmy merutuki kecerobohannya dalam penyelidikan. Pemilik kantin belum pernah tersentuh olehnya.
***