
Kampus Horror
Part 55
Empat jam sudah Dewi Laksmita merengut tidak terima ditetapkan sebagai terduga pelaku penyebab hilangnya nyawa mahasiswi cantik kebanggaan Fakultas Sastra.
Dia tetap mengelak bahwa dirinya tidak tahu menahu tentang kematian kawan yang dilahirkan di desa yang sama sepertinya.
“Saya sudah bilang, kan, Pak. Saya tidak pernah melakukan apapun kepada Asih.”
“Lantas bagaimana bisa sidik jari Ibu menempel pada pisau yang saya temukan di TKP?”
“Mana saya tahu!”
“Bu, dugaan kami, Ibu memiliki konflik saat itu. Sehingga terjadi suatu penyerangan dengan senjata tajam yaitu pisau kecil yang saya temukan.”
“Saya tidak berhak menjawab, kan? Saya mau pengacara saja.”
“Apa, Bu?”
“Pengacara! Begitu kan biasanya? Saya sering lihat di drama Korea yang saya tonton.”
Jimmy bengong menatap Dewi bingung.
“Tolong jangan persulit kami, Bu.”
“Persulit bagaimana? Saya cuma minta didampingi pengacara saja kok sulit. Sudah, Bapak ini tidak perlu lagi memaksa saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan.”
***
Bagi dan anggota keluarga sangat terpukul saat berita ditangkapnya Dewi Laksmita mencuat diseluruh negeri. Nama baik yang selama ini dijaga dengan sangat apik, hancur seketika.
“Siapa sebenarnya istrimu itu? Tidakkah kamu cari tahu dulu latar belakangnya sebelum menjadikannya istri?” Dira benar-benar gelisah membayangkan bagaimana orang-orang akan mencap keluarga mereka sebagai keluarga pembunuh.
“Pak, belum terbukti Mamanya Bagi melakukan hal itu, Pak. Kita jangan berburuk sangka dulu.”
“Siapa yang bisa tahan untuk tidak berprasangka buruk kalau bukti-bukti mengarah keistrimu itu?” Anisa ikut serta menyudutkan Andi yang tidak bisa berkutik sama sekali.
Bagi mengurung diri di dalam kamar tanpa tahu harus bagaimana. Agia yang berusaha menghubunginya pun tidak dihiraukannya.
Ingin rasanya Bagi menghilang agar tidak menanggung malu dari apa yang telah dilakukan Mamanya. Bagi sendiri tidak yakin jika Mamanya bersalah atau tidak.
Bagi kini mengetahui kalau luka yang dimiliki oleh Mamanya bukan luka wajar. Dirinya telah bertemu dengan Om Ari.
Om Ari pun memiliki gelagat yang aneh saat dirinya menanyakan tentang luka yang melekat pada tubuh Mamanya. Om Ari bercerita kalau Mamanya terjatuh dari pohon rambutan, dan kakinya terkena ranting pohon.
__ADS_1
Bagi tidak serta merta merespon penuturan Om Ari. Dia tahu, bahwa ada yang disembunyikan oleh Mamanya dan Om Ari.
***
Pihak kepolisian semakin gencar mengumpulkan informasi mengenai kehidupan Dewi saat kuliah dulu.
Kekuatan dunia digital pun diharapkan agar bisa membantu. Pihak kepolisian melakukan konfrensi pers untuk mengajak masyarakat yang mengenal korban atau terduga pelaku agar menyampaikan informasi sekecil apapun.
Berkat narasi pewarta berita, masyarakat menjadi terhanyut dan merasa kasihan dengan Asih. Banyak pengguna media sosial menyampaikan informasi seputar konflik antara Dewi dan Asih.
Tidak mau kehilangan kesempatan, penyidik pun mengatur waktu untuk bertemu dengan pelapor.
“Saya ingat, Pak kalau Dewi sering mengintip seseorang di perustakaan kampus. Dia bilang itu temannya di kampung.” Ungkap salah seorang pelapor yang tidak ingin namanya disebut karena menurutmya dapat mengganggu kehidupannya.
“Untuk apa terduga pelaku mengintip korban? Apakah anda tahu?”
“Dia ingin memergoki kalau temannya itu sedang berusaha merayu kekasih Dewi yang sekarang menjadi suaminya. Dewi itu yang diincar dosen, Pak. Tidak level dia dengan mahasiswa biasa. Dia bilang yang pasti-pasti saja finansialnya. Tidak perlu buang-buang waktu berjuang bersama dari nol. Kalau bisa langsung berada diatas, untuk apa bersusah payah?”
Informasi yang masuk melalu surat elektronik pun tidak luput dari pengamatan kepolisian. Tidak hanya satu atau pun dua, bahkan ada puluhan.
“Dewi itu suka bohong, Pak! Hati-hati dengan dia.”
“Teman saya yang punya ambisi besar itu hanya satu, yaitu Dewi saja. Apapun yang dia inginkan pasti bisa diwujudkan.”
***
Jimmy dan timnya mendapatkan waktu tambahan dalam mengungkap kasus penemuan kerangka. Jimmy cukup bersyukur dengan keputusan yang dibuat oleh petinggi kepolisian.
Beruntung Jimmy berhasil menemukan pisau itu tanpa disengaja. Lagi-lagi, alam ini ikut andil dalam proses pengungkapan kasus rumit ini.
Tidak mau membuang waktu, Jimmy memanggil Andi untuk dimintai keterangan, karena namanya beberapa kali disebut oleh orang-orang yang mengenal Dewi.
“Saya sama sekali tidak tahu, Pak, kalau istri saya mengenal Asih. Sumpah, Pak!”
“Boleh saya tahu sedekat apa Pak Andi dengan korban?”
“Seberapa dekat, ya? Tidak terlalu dekat. Bisa dibilang ini cinta sepihak, Pak. Saya beberapa kali ditolak oleh Asih. Karena saya merasa hilang harga diri sebagai seorang laki-laki, saya terima perhatian Dewi saat itu. Saya tidak tahu kalau Dewi menyimpan perasaan lain kepada Asih atau yang lain. Saya hanya fokus menghilangkan rasa sakit hati karena Asih tidak mau menerima saya.”
Jimmy tidak berhenti sampai disitu. Penggalian informasi kembali dia lakukan terhadap Dewi.
“Dari banyak pelapor yang membantu tim penyidik, kami mendapat informasi kalau Ibu Dewi beberapa kali mengunjungi korban sebelum dia menghilang. Apa benar begitu?”
“Memangnya berkunjung ke tempat teman tidak boleh, Pak?”
“Boleh tahu apa yang Ibu dan korban bicarakan?”
__ADS_1
“Apa ya? Saya lupa, Pak!”
“Lalu, mengapa Ibu Dewi sampai diusir oleh korban? Apakah Ibu mengganggunya?”
“Ya ampun, Pak! Kami itu bukan anak-anak lagi! Mana ada orang ganggu-ganggu! Enak saja! Siapa sih yang bilang begitu, Pak?”
Jimmy tidak menggubris elakan Dewi. Dirinya tetap bertanya, dan meyakini suatu saat Dewi bisa saja tanpa sengaja mengakui kejahatannya.
“Apa benar Ibu sejak lama telah mengincar dosen anda yang kini menjadi suami anda?”
“Pak, bahasa yang Bapak gunakan itu merendahkan saya, loh, Pak. Memangnya saya tidak punya harga diri pakai mengincar laki-laki segala.” Dewi mulai terpancing. Jimmy berhasil menggunakan taktik klasiknya, yaitu permainan emosi.
“Saya bertanya, Bu. Silahkan dijawab saja.”
“Ya enggaklah! Kurang kerjaan memangnya saya?”
“Apa Ibu bersedia mendengar rekaman ini?” Jimmy mengambil telepon genggamnya dan memutar percakapan yang telah dia lakukan sebelumnya dengan Andi.
Dewi menampakan wajah marah mendengar kata-kata suaminya yang menganggapnya hanya sebagai pelampiasan terhadap Asih.
Dewi berusaha menahan diri agar tidak terucap kata-kata dari bibirnya.
“Bagaimana Ibu? Apa benar kalau Ibu ini memberikan perhatian lebih untuk Pak Andi? Apa memang Ibu sebegitu inginnya memiliki Pak Andi, maka Ibu menghilangkan nyawa korban?”
“Jaga ucapan Bapak ya!” Dewi menggebrak meja karena tidak bisa menahan amarah yang kini perlahan menjalar dari dasar perut menuju dadanya.
“Kenapa saya harus menjaga ucapan saya? Saya hanya menyampaikan berdasarkan informasi yang disampaikan oleh saksi. Jadi apa benar Ibu Dewi menghilangkan nyawa korban karena takut ditolak oleh Pak Andi? Apa Ibu mengakui kalau korban jauh lebih menarik mata Pak Andi?”
“Apa yang menarik dari orang macam Asih? Manusia picik dan munafik! Dia itu sudah berhasil menggaet adik suami saya, tapi tetap saja menebar pesona ke suami saya!”
“Saat itu Pak Andi belum suami Ibu.”
Wajah Dewi berubah salah tingkah saat Jimmy menyampaikan kebenaran status Andi dan Dewi dimasa lalu.
“Ibu dengar sendiri penuturan Pak Andi barusan bukan? Korban beberapa kali menolak Pak Andi. Apa Ibu tidak tahu?”
“Memang! Semua laki-laki memang ditolaknya. Bahkan kakak saya juga ditolaknya. Berlagak kelas atas, padahal kehidupannya jauh dibawah keluarga saya.”
“Oh, jadi kakak anda juga memiliki keinginan untuk mendapatkan korban? Atau Kakak anda yang membantu dalam pembunuhan yang direncanakan karena sama-sama memendam dendam?”
“Kakak saya tidak tahu hal ini, tanpa bantuannya pun saya bisa menusuk Asih sendirian!”
Binggo. Jimmy tersenyum puas dengan kelebihannya menjadi orang yang menyebalkan.
***
__ADS_1