Kampus Horror

Kampus Horror
Part 35


__ADS_3

Kampus Horror


Part 35


35


Aku terkejut saat mengetahui tamu yang sedang di dalam ruangan suamiku ternyata perempuan itu.


Sejak awal aku duduk dekat ruangan suamiku hang menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra.


Begitu dia keluar dari ruangan, aku sadar ada yang tidak beres dengannya. Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lebih berisi. Dia menghembuskan napas berat lalu tangannya mengelua perut bagian bawah.


Aku tersentak menahan napas. Apakah mungkin?


Tidak! Aku tidak mau berpikiran buruk.


Perempuan itu lalu berjalan pelan ke luar dari area kantor.


Tanpa ada komando, kaki ini bergerak dengan sendirinya membuntuti perempuan yang berusaha mendapatkan anak bungsuku. Tidak akan aku biarkan!


Serasa hampir pingsan yang kurasa saat melihat anak sulungku ternyata sedang di area parkir dan mengobrol dengan perempuan itu.


Apa yang sedang mereka bicarakan. Perempuan itu menganggukkan kepalanya dan berjalan pelan ke arah mobil bagian samping kemudi.


Tergesa kaki ini melangkah menuju sepeda motor yang aku gunakan mengunjungi suamiku.


Ah! Aku jadi lupa bertemu suamiku. Ya sudah tidak apa-apa. Lain kali saja masih bisa. Lagi pula nanti di rumah pun pasti bertemu dengan bapak dari keempat anak-anakku.


Aku harus membuntuti kemana Andi membawa perempuan kotor itu.


***


Jadi benar apa kata orang-orang, bahwa perempuan itu tinggal di asrama kampus. Mengapa Deni harus berhubungan dengan perempuan berstatus sosial jauh berbeda dengan keluarganya?


Apa istimewanya perempuan itu?


***


“Permisi!” Aku putuskan untuk menegurnya setelah berhenti jauh dari penglihatan Andi.


Begitu Andi pergi, aku segera beranjak ke depan gerbang asrama. Beruntung perempuan itu masih di sana.


“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Suara perempuan itu halus sekali terdengar ditelingaku.


“Maaf mengganggu, barusan, yang mengantar situ adalah anak saya. Apa boleh saya tahu ada urusan apa anak saya dengan situ?” Langsung saja aku tembak. Tidak perlu berbasa-basi.


Dia terlihat sangat terkejut dan bergegas membuka pintu gerbang.


“Apakah Ibu ini, Ibunya Pak Andi?”


“Iya benar!” Aku terus berusaha bersikap sinis. Agar dia tahu bahwa aku tidak akan setuju salah satu anakku berhubungan dengan dia.


“Salam kenal, Ibu. Saya Asih. Mahasiswi kenalannya Pak Andi. Kebetulan memang kami dari kampus yang berbeda.”


“Lalu? Apa kamu berniat untuk mendekati anak saya?”


Perempuan itu terkekeh renyah mendengar pertanyaanku. Apanya yang lucu?


“Tidak, Ibu. Saya sangat menghormati Pak Andi. Anak Ibu sangat baik dan sopan sekali.” Sahutnya lagi tetap dengan sikap sopan santunnya.


“Saya minta tolong untuk menjaga jarak dari anak saya! Sekarang sudah malam. Saya permisi dulu.”

__ADS_1


Kutinggalkan saja dia. Siapa namanya tadi? Asih ya?


Dia pasti paham bahwa ini adalah peringatan ringan untuknya.


Lain kali, kalau aku masih melihatnya mendekati anak-anakku. Aku aku beri pelajaran dia. Enak saja orang kampung berbeda status sosial ingin menjadi menantuku. Sedikit pun aku tidak rela!


***


Anisa tiba di rumah sesegera mungkin. Tapi sayang mobil Dira sudah terparkir lebih dulu. Begitupun dengan mobil Andi.


“Waduh! Bapak sudah sampai rumah.” Anisa berbicara sendirian sambil berusaha membuka perlengkapan berkendaranya seperti helm dan jaket.


Dia bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri.


Sampai saat melewati dapur, dia melihat Andi sedang duduk di meja makan dengan segelas kopi dalam genggamannya.


“Dari mana, Bu?” Andi menanyakan Ibunya yang terlihat tergesa-gesa.


“Dari rumah teman Ibu.” Dengan cepat Anisa menjawab dan meninggalkan anaknya sendirian lagi.


“Pak! Pak!” Anisa memanggil Dira yang tidak terlihat di kamar tidur.


Ternyata Dira sedang berada di kamar mandi.


Anisa lalu mengganti pakaiannya dan berjalan menuju dapur.


Diambilnya gelas lalu menuangkan air dari teko. Air terasa hangat ditenggorokan Anisa. Sepertinya sisanya air dari Andi setelah membuat air panas untuk kopinya.


“Bu! Tadi ada manggil Bapak?” Dira muncul dan langsung mencari istrinya.


“Iya, Pak. Ibu kira Bapak ke mana.”


“Kalian sudah makan malam?” Anisa bertanya kepada suami dan anaknya.


“Bapak belum.”


“Sama, Ibu juga belum. Ayo makan sama-sama. Deni kemana?”


“Masih mengurung diri di kamar. Dari tadi saya pulang dia tidak terlihat.” Andi menyahuti pertanyaan Ibunya yang juga sedang mempersiapkan makan malam untuk Bapaknya.


***


“Pak, menurut Bapak apa kita terlalu jahat melarang Deni berhubungan dengan perempuan itu?” Anisa membuka pembicaraan dengan Dira saat mereka tengah berada di peraduan.


“Kita sebagai orang tua yang paling tau hal terbaik untuk anak-anak, Bu. Kenapa? Kok tiba-tiba.”


“Enggak ada apa-apa, Pak. Ayo tidur.” Anisa memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian hari ini tentang hal yang dilihatnya.


***


“Asih!” Anisa memanggil Asih yang berjalan keluar dari gerbang asrama.


Anisa ke luar dari mobil yang dikemudikannya seorang diri.


“Ada yang mau saya sampaikan. Bisa kita berbicara sebentar di dalam mobil?”


Asih diam sebentar. Kemudian menganggukkan kepala.


***


“Seperti yang saya bilang kemarin, saya adalah Ibu dari Andi.” Anisa memulai pembicaraan setelah mereka berdua duduk di dalam mobil.

__ADS_1


Asih menoleh ke arah Anisa dalam diam, menunggu inti pembicaraan yang akan disampaikan oleh Anisa.


“Saya Ibunya Andi, dan juga Deni.”


Asih terkesiap mendengar penuturan dari Anisa.


“Kita memang belum pernah berkenalan sebelumnya. Tidak pantas rasanya saya langsung menolak atau bisa dikatakan tidak setuju dengan hubungan yang telah kamu jalin dengan Deni. Terlebih kemarin saya lihat sendiri kalau kamu menyeleweng dengan kakak kandung Deni.” Anisa tidak mencoba menahan emosinya dalam berbicara. Aura sinis sangat terdengar dari cara bicaranya.


“Saya tidak tahu kalau Pak Andi adalah Kakak dari Kak Deni, Bu. Saya tidak ada niatan sama sekali untuk menyeleweng atau apapun dari Kak Deni.” Asih memutuskan untuk berbicara.


“Saya tidak mau tahu apa tujuan kamu mendekati kedua anak saya. Kita datang dari dua keluarga yang berbeda. Tidak pantas rasanya keluarga Dekan mempersunting menantu dengan latar belakang yanh tidak jelas seperti kamu.” Anisa masih saja mencerca Asih.


“Walaupun secara fisik kamu terlihat pantas berdampingan dengan anak saya, tapi saya tetap tidak menyetujui. Lagi pula kamu ini mahasiswi penerima bantuan dari pemerintah, kan? Apa yang akan orang-orang dan saingan suami saya katakan nanti. Jadi saya memohon kepada kamu untuk menuruti saya. Jauhi anak saya!” Anisa berkata tegas dan membuat Asih menjadi dikuasai oleh emosi.


“Saya hamil, Bu.” Asih berkata dengan cepat.


Anisa terkejut dan mengubah posisinya menjadi duduk dengan tegak. Matanya melotot.


“Kamu jangan bercanda ya!”


“Saya serius, Bu.”


“Lantas, kamu pikir saya percaya kalau janin itu benih dari anak saya? Jangan mimpi kamu. Belum tentu itu perbuatan anak saya. Bisa saja kamu melakukannya dengan laki-laki lain, tapi mengaku dan memaksa anak saya untuk bertanggung jawab!”


“Bu! Tolong jangan berbicara sembarangan, ya! Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu, terlebih Ibu adalah orang tua dari Kak Deni dan Pak Andi yang begitu baik, apa lagi Ibu adalah istri dari dekan di kampus tempat saya belajar. Tapi kata-kata Ibu barusan sangatlah menyakiti hati saya. Saya hanya melakukannya dengan Kak Deni. Dan perlu Ibu ketahui, saya tidak meminta Kak Deni untuk bertanggung jawab. Apalagi menikahi saya. Terima kasih atas himbauannya, Bu. Saya harus berangkat ke kampus. Permisi.” Asih berkata dengan cepat dan emosi yang menggebu-gebu.


***


Anisa diam tanpa kata. Hatinya perih bertalu-talu mendengar pernyataan bahwa terdapat janin yang sedang berkembang dirahim perempuan itu.


Anisa kalut dan tidak mampu berpikir dengan jernih. Dihidupkannya mesin mobil dan segera mengejar Asih yang sedang berjalan menuju Kampus Sastra.


Anisa berhasil memarkirkan mobilnya, dan segera keluar dari dalam mobil.


Dari jauh dilihatnya Asih berjalan gontai.


“Asih!” Anisa memanggil Asih dengan lantang.


Asih menoleh dan berhenti berjalan.


Anisa bergegas berjalan menuju Asih berdiri menunggunya.


“Nanti siang kamu pulang kuliah jam berapa?”


“Saya pulang sore, Bu. Saya harus bekerja dulu. Ada apa, ya?”


“Jam berapa?”


“Jam lima, Bu.”


“Saya tunggu di sana, ya. Ada yang mau saya bicarakan.” Anisa menunjuk area parkir dengan tangannya.


Anisa tidak menunggu Asih menjawab. Dia segera berlalu dan meninggalkan Kampus Sastra.


***


“Sangtu, kamu yakin ini identitas pelaku?”


Sangtu menganggukkan kepala mendengar pertanyaan dari Jimmy.


“Benar, Pak Jim. Kenapa?”

__ADS_1


“Tapi ini, kan..”


__ADS_2