
Kampus Horror
Part 54
“Sidik jari siapa?”
“Dewi Laksmita yang sudah pasti. Satunya lagi saya tidak yakin, Pak Jim. Apa mungkin sidik jari Asih? Saya perlu waktu untuk memastikan kesamaan sidik jari dengan data yang dimiliki oleh negara. Sepertinya memerlukan waktu, karena sudah puluhan tahun korban tidak update identitas diri, kan?”
“Kalau sidik jari Dewi kok bisa cepat, Pak Sangtu?” Andre memerhatikan Sangtu yang sedang mengulang sekali lagi aktifitasnya dalam pengecekan hasil sidik jari pada alat bantu yang difasilitasi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Oh, ini kita sudah pakai alat canggih. Yang penting ada sidik jarinya, jadi bisa langsung terlihat identitasnya kurang dari satu menit. Tapi kalau identitasnya terupdate pada Kartu Tanda Penduduk elektronik, ya. Sat-set-sat-set, muncul deh identitasnya.” Jelas Sangtu memamerkan alat pendeteksi sidik jari berbentuk kotak hitam seperti mesin gesek kartu ATM.
“Sementara sidik jari yang satu lagi tidak muncul disistem. Jadi saya curiga ini sidik jari milik korban.” Sangtu lalu menoleh ke arah Jimmy dan Andre.
“Ini belum selesai, karena mata pisau belum saya periksa dengan teliti. Terlalu banyak tanah, kalau dibersihkan, takutnya bukti malah ikutan lenyap.” Sangtu menatap Jimmy dan Andre, sementara lawan bicaranya masih menatap pisau yang ditemukan Jimmy siang tadi.
“Jadi apa bisa biarkan saya bekerja?” Sangtu mengusir Jimmy dan Andre dengan halus.
***
“Jadi kalian sudah punya bukti ya sekarang.” Dj bertepuk tangan untuk keberhasilan Jimmy dan Andre dalam menemukan kunci masuk keinti kasus. Alat bukti tindak kejahatan.
“Tapi tadi Pak Dj tidak lihat bagaimana perjuangan Pak Jim untuk bisa naik dari lubang itu, Pak!” Andre mengulang tawanya yang terus terjadi jika dia mengingat bagaimana Jimmy tersungkur masuk ke dalam lubang.
Jimmy hanya melirik Andre dengan wajah menahan marah. Wajah sinisnya tak mampu menggerakkan Andre untuk berhenti tertawa.
“Lantas, bagaimana caranya Pak Tua ini bisa keluar?”
“Saya ambilkan batu sebagai batu pijakan. Terus saya tarik tangannya. Maunya sih ditarik pakai tali. Tapi talinya tidak ada. Untung saja saya tidak ikut terperosok. Apa jadinya kalau saya ikut masuk ke dalam sana.”
Andre dan Dj menghentikan perbincangan tentang wujud Jimmy yang terperosok dengan kepala menyentuh tanah terlebih dahulu.
Mereka berpendapat, mendiang Asih turut serta mengambil andil dalam proses awal Jimmy tersungkur.
Kini, sebilah pisau telah berada aman ditangan aparat kepolisian. Jimmy meminta kepada Dj agar tidak menyebarkannya terlebih dahulu. Takutnya masih ada barang bukti lain yang tertinggal di TKP.
Pembicaraan kemudian beralih pada terduga pelaku. Yaitu Dewi Laksmita.
Motifnya hampir cocok dengan cerita dari orang-orang. Tapi, mereka belum menemukan saksi yang mengatakan bahwa Dewi dan Asih memiliki konflik saat itu.
***
“Dewi, kamu itu salah paham. Aku enggak ada maksud untuk meremehkan apalagi menolak Kak Ari. Kamu jangan marah begini dong, Wi.” Asih mendekati Dewi yang sedang duduk di depan kelas dengan napas memburu karena marah.
“Wi, nyahut dong. Kamu jangan marah begini. Aku sudah anggap kamu dan Kak Ari seperti saudara. Masak aku pacaran sama saudara sih, Wi. Aku minta maaf ya, Wi.” Asih ikut duduk di sebelah Dewi. Dia masih mencoba memohon agar Dewi tidak lagi marah kepadanya.
“Lagi pula, sekarang ini aku enggak ada niat untuk pacaran dulu. Aku masih fokus untuk sekolah, Wi.”
Dewi menoleh dengan cepat, “Jadi kamu nolak kakakku cuma karena mau jadi pegawai bank? Apa hebatnya sih pegawai bank? Kamu itu bikin aku tersinggung lo, Sih.”
“Tersinggung bagaimana, Wi? Bagian mana yang bikin kamu tersinggung?”
“Ya kamu bilang sama orang-orang kalau gak mungkin pacaran sama kakakku. Serendah itu memangnya kakakku?”
__ADS_1
“Kan sudah aku bilang tadi. Kamu itu salah paham. Aku sudah anggap Kak Ari itu kayak kakak sendiri. Aku ya enggak ada perasaan sama Kak Ari. Sudahlah, Wi. Aku minta maaf. Kalau kamu enggak mau maafin aku ya, aku bisa apa?”
Dewi diam tanpa melihat wajah Asih yang sedang berbicara dengan nada memohon.
“Ya sudah kalau begitu. Aku balik ke kelas lagi ya, Wi. Nanti kalau kamu sudah berhenti marahnya, kamu ke kelas juga ya. Jangan marah-marah terus, cantiknya berkurang lo, nanti.” Asih masih berusaha membuat lelucon agar kadar marah Dewi berkurang.
***
Dewi melihat Ari sedang mengelap sepedanya yang tidak kotor. Dewi yakin kalau kakaknya itu baru saja datang dari mengantar hasil panen Pak Haji.
“Sepeda jelek begitu pakai dilap segala!” Seloroh Dewi sambil membuka sepatunya karena baru saja pulang dari sekolah.
“Makanya kamu cepatlah tamat sekolah! Cari kerja lalu belikan kakak motor yang bagus.”
“Buat apa coba kalau sudah punya motor? Ngisi bensinnya saja enggak mampu. Memang mau diisi air cucian beras?”
“Loh, ya biar gaya lah, Wi. Bagaimana sih kamu ini?”
“Mau gaya kayak gimana juga Asih tetap enggak mau sama Kakak.”
Ari langsung menoleh adik satu-satunya itu. “Memangnya Asih bilang enggak mau sama Kakak?”
“Iya! Hebat kan lagaknya? Bahkan dia bilang keteman-temanku, kalau enggak mungkinlah pacaran sama Kakak.”
Ari lalu berjalan dengan cepat mendekati adiknya yang sedang duduk di emperan rumah.
“Serius kamu, Wi?”
“Ngapain bohong? Lagian Kakak juga kelebihan ide naksir sama perempuan kayak Asih. Dia itu matre, Kak!”
“Nah itu tahu! Muka pas-pasan kayak Kakak kok naksir perempuan cantik? Mana miskin pula!” Dewi bangkit dan meninggalkan kakaknya seorang diri.
***
Apa benar arwah Asih ada sangkut pautnya dengan penemuan pisau di dasar lubang? Apa tujuan Asih sebenarnya. Apa yang ingin dia tunjukan? Sudah setengah hari ini tim menggali dan mencari barang bukti lainnya di lubang tempat penemuan pisau itu. Tapi tidak juga ditemukan apapun.
Semakin hari semakin kuat dugaan mengarah kepada Dewi Laksmita. Bahkan dengan penemuan darah dan sidik jari Dewi saja sudah cukup untuk menjadikannya tersangka.
Tidak sabar rasanya harus menunggu Sangtu selesai memeriksa pisau yang aku temukan.
Lama sekali Sangtu menghubungiku. Sebaiknya aku segera pergi ke tempatnya.
***
“Apa saja yang dikatakan oleh polisi, Bu?” Dira menanyakan istrinya setelah pulang dari pemeriksaan.
“Ya tanya-tanya biasa saja.” Anisa menjawab dengan singkat.
“Kenapa mereka bisa menyebutkan kalau Ibu mengenal Asih?”
“Bukannya Bapak juga kenal dengan perempuan kotor itu?”
“Jawab pertanyaan Bapak, Bu!” Dira berkata dengan keras sehingga membuat Anisa terkejut.
__ADS_1
“Biasa saja bicaranya, Pak! Tidak usah teriak-teriak begitu! Hih, heran!”
“Makanya jawab pertanyaan Bapak. Kenapa Ibu bisa kenal dan berbicara dengan Asih? Apa Ibu melakukan sesuatu terhadap anak itu?”
“Melakukan apa? Membunuh? Begitu maksud Bapak? Iya?”
“Bapak kan tidak bilang begitu! Apa-apaan sih Ibu ini.”
“Ibu itu menyelamatkan harkat dan martabat keluarga ini, Pak. Ibu tidak mau perempuan kotor dan rendahan seperti dia menjadi bagian keluarga kita.”
Dira diam menatap istrinya yang kini sedang meradang karena berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh dirinya.
“Memang benar Ibu mengajak perempuan itu berbicara dan menyuruhnya untuk tidak mendekati anak-anak kita, Pak.”
“Anak-anak?”
“Iya! Dia juga mendekati Andi, Pak. Sudahlah Deni, lalu Andi. Lama-lama bisa Bapak yang dia dekati!” Anisa menghembuskan napas kasar dengan penuh emosi.
“Tapi Ibu tidak melakukan apapun waktu itu. Saksinya juga banyak, kok. Tukang-tukang yang bekerja saat itu masih di sana saat Ibu tinggal pulang. Ngapain juga lama-lama menghirup udara yang sama dengan perempuan licik itu. Jijik sekali rasanya.” Anisa masih memasang wajah tidak menyenangkan untuk dilihat.
“Bapak tahu? Perempuan itu mengaku kalau Deni telah menghamilinya! Di mana harga diri keluarga kita akan dibawa, Pak?”
“Hah? Hamil?” Dira benar-benar tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh istrinya.
“Iya, Pak!”
“Lalu karena dia hamil, Ibu melakukan sesuatu dengannya?”
“Bapak ini kenapa sih, Pak? Sudah! Ibu mau mandi dulu. Harusnya Bapak itu berterima kasih sama Ibu. Nama Ibu tidak mencuat diberita. Itu yang Bapak khawatirkan, kan?” Anisa melenggang santai menuju kamar mandi dan meninggalkan Dira mematung menahan rasa risau.
***
“Sangtu, sudah selesai belum?” Jimmy mendekati Sangtu yabg sedang fokus memeriksa berkas di atas meja kerjanya.
“Tunggu sebentar. Duduk dulu, Pak Jim.” Sangtu beranjang dari kegiatannya dan mengambil hasil lab yang dilakukan sendiri olehnya tanpa bantuan bawahan.
“Mau yang bikin kaget atau yang santai dulu.”
“Yang santai dulu.”
Sangtu tersenyum penuh arti, namun tak kunjung mengucapkan kata apapun.
“Apa? Biar gue tebak. Apa identitasnya memang Asih?”
“Tepat sekali! Sidik jari yang tidak terdeteksi KTP elektronik itu memang milik Asih. Dan…” Sangtu tersenyum riang penuh kemenangan.
“Jangan bikin gue nambah puyeng!”
Sangtu tertawa kecil karena melihat ekspeesi Jimmy yang tidak sabaran.
“Ada darah pada mata pisau yang Pak Jim temukan. Juga, ada dua DNA yang saya temukan Pak Jim.”
Jimmy menaikkan alisnya menunggu kelanjutan penjelasan Sangtu.
__ADS_1
“DNA yang sama dengan yang saya temukan pada celana korban. Satunya lagi saya cocokkan dengan DNA korban melalui rambut, ternyata sama! Apakah mereka sempat bertikai sebelumnya? Itu yang harus Pak Jim cari tahu.”