
Kampus Horror
Part 39
Stevina diam menatap televisi dengan serius. Siang itu siaran televisi menayangkan berita tentang pemeriksaan seorang saksi yang DNA nya ditemukan pada pakaian korban kerangka manusia di Kampus Sastra.
Stevina dengan cepat mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Damar.
Lama tidak diterima panggilan telepon oleh Damar. Entah apa yang sedang dilakukannya.
Stevina berpikir cepat.
Dia segera mengganti pakaian dan bergerak mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya. Dia memutuskan untuk bertemu Agia.
Perjalanan menuju rumah Agia sangat lancar. Beruntungnya Agia ada di rumah.
“Kok tumben lo ke rumah enggak infoin gue dulu?” Agia membukakan pintu gerbang rumahnya. Stevina memberhentikan mobilnya di tanah kosong sebelah rumah Agia.
“Lo sudah lihat berita di televisi tentang kasus Asih?” Tanya Stevina memburu Agia dengan pertanyaan, setelah menekan tombol kunci pada remote mobilnya.
Pupil mata Agia membesar karena pertanyaan Stevina.
“Enggak. Gue enggak sempat menghidupkan televisi. Memang benar beritanya?”
“Kurang tahu gue. Gue telepon Kak Damar tapi tidak diterima. Kita ke rumah Kak Bagi, yuk?” Ajak Stevina terlihat tidak sabar.
“Tunggu, gue ganti baju sebentar.”
Stevina berjalan melewati ruang keluarga, dan mendapati ibunda Agia sedang melakukan aktifitas di dapur.
“Bunda…” Panggil Stevina saat memasuki dapur rumah Agia.
“Hai, Stevina!”
“Lagi bikin apa, Bun?”
“Enggak bikin apa. Cuma bersih-bersih lemari pendingin saja.”
Stevina duduk di kursi meja makan.
“Ini digimanain, Bun? Biar aku bantu.” Stevina melihat sayur brokoli di dalam plastik bening dengan berat sekitar satu kilogram.
Bunda melihat Stevina.
“Brokoli ya? Mau Bunda masak untuk sore nanti.”
“Dipotong, Bun?”
“Sudah jangan repot-repot. Nanti malah jadi kotor. Kalian mau kemana?”
“Mau ke rumah Kak Bagi, Bun. Tadi aku lihat berita, kalau saksi kasus penemuan kerangka manusia di Kampus Sastra sedang diperiksa polisi. Aku jadi penasaran.”
“Ohya? Wah bagus dong! Semoga ada jalan keluar dan dipermudah. Kasihan mendiang harus tertahan jiwanya di sana sendirian.”
“Benar, Bun. Aku rasa ini bukan sekedar kecelakaan saja. Tapi ada hal lain dibalik meninggalnya korban.”
“Yuk berangkat!” Agia telah bersiap untuk mengunjungi rumah Bagi.
“Perlu kita hubungi dulu enggak ya Kak Baginya?” Stevina tiba-tiba ragu jika Bagi tengah berada di rumah.
__ADS_1
“Nanti di jalan gue hubungi. Yuk biar enggak kesorean.” Sahutnya seraya mendekati Bunda dan mengecup pipinya.
“Bun, kita berangkat ya.” Stevina pun berpamitan kepada Bunda.
“Hati-hati ya kalian.”
***
“Gi, gue mau nanya, boleh?” Stevina membuka topik pembicaraan dengan Agia.
“Nanya apaan?”
“Memangnya lo enggak bisa gitu, langsung nanya ke mendiang Asih. Ada apa sih sebenarnya? Apa mendiang kecelakaan? Atau memang terjadi sesuatu gitu dengan kematiannya?”
“Sebenarnya bisa saja. Tapi sayang, kemampuan komunikasi gue belum pada tahap itu. Lagi pula, mendiang Asih juga sepertinya enggan memberitahukan kepada kita. Entahlah, Stev. Atau, bisa jadi Asih juga tidak tahu siapa pelakunya. Ada banyak misteri di dunia ini.”
“Jujur saja, gue penasaran. Sebenarnya ada apa dengan kampus kita pada masa itu. Kasihan Asih, ya. Mana sedang mengandung. Tapi malah seperti itu nasibnya. Semoga kita dijauhkan dari segala hal-hal buruk ya, Gi.”
“Iya, Stev. Semoga Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup kita.”
***
“Stev, itu bukan sepeda motornya Kak Damar?” Agia menginformasikan penglihatannya kepada Stevina ketika dia sedang sibuk memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Bagi.
“Mana?” Stevina pun memalingkan wajahnya ke arah yang disebutkan oleh Agia.
“Itu,”
Dengan cepat Stevina memarkirkan mobilnya.
***
“Permisi…” Stevina meminta izin kepada pemilik rumah karena memasuki rumah.
Ternyata Damar dan Bagi sedang duduk di teras rumah dekat kolam ikan.
Mereka berdua serempak menoleh ke arah gerbang.
“Kok kalian bisa ke sini?” Damar bertanya dengan wajah heran.
“Kak Damar juga, kok bisa ada di sini?” Tanya Stevina gemas. “Aku hubungi juga enggak diterima.” Stevina ikut duduk di samping Damar.
Agia berjalan pelan dan melihat ke sekitar rumah Bagi. Agia belum ikut duduk di antara teman-temannya.
“Sini, Gi. Duduk di sini.” Panggil Stevina seraya menepuk lantai marmer di samping Stevina.
Agia melemparkan senyuman untuk Bagi, “Apa kabar, Kak?”
Belum sempat Bagi menjawab, Stevina terlebih dahulu menyela ucapan Agia.
“Eh! Kalian sudah nonton berita ditelevisi belum? Ada saksi untuk kasus kerangka manusia di Kampus Sastra. Katanya DNA ditemukan pada pakaian korban!”
Damar melirik Bagi tanpa menjawab informasi yang diberikan oleh Stevina.
“Iya, sudah tahu gue.” Bagi menjawab lemah.
“Tapi sayangnya enggak disebutkan siapa saksi itu. Gue jadi penasaran deh.” Stevina kembali menambahkan penuturannya.
“Nyokap gue.” Sahut Bagi datar.
__ADS_1
Agia yang tadinya masih berdiri, kini merangsek mendekati Bagi.
“Apa, Kak?” Stevina seperti salah mendengar ucapan Bagi barusan.
“Iya, lo enggak salah dengar. Nyokap gue kemarin dijemput polisi untuk dimintai keterangan. Kenapa bisa darah nyokap gue ada di celana mendiang Asih.”
“Kok ini jadi semakin menjelimet ya?” Stevina menggaruk pelipisnya tanpa sadar, karena bingung dengan fakta baru yang terungkap.
“Kak Damar sudah tahu?” Stevina kini menodong Damar dengan pertanyaan.
Damar menganggukkan kepala. “Iya, aku tahu kemarin malam. Bagi yang cerita. Makanya tadi aku cepat-cepat ke rumah Bagi.”
“Kakak enggak apa-apa?” Agia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Bagi. Berturut-turut hal baru muncul, namun semua berkaitan dengan keluarganya.
“Jujur aku sekarang menjadi bimbang. Satu sisi, Mama aku. Di sisi lain, aku enggak mau kalau Mama lari dari tanggung jawab. Bahkan selama ini hidup dengan sangat baik tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana.”
Agia menggenggam tangan Bagi. Kemudian tersenyum mencoba menenangkan Bagi.
“Kak, Tuhan enggak akan membiarkan rahasia apapun yang berhubungan dengan ciptaannya terbungkus terlalu rapi. Pasti ada sesuatu yang akan mengungkap kebenaran. Kalau memang Mamanya Kak Bagi telah melakukan kesalahan dimasa lalu. Tuhan pasti sudah mengatur sedemikian rupa agar orang-orang menjadi tahu. Tapi, kalau Mamanya Kak Bagi tidak berbuat hal itu, Tuhan pun akan menggerakkan alam ini untuk menuntun kita kepada orang sebenarnya.”
Semua terpana mendengarkan isi penyampaian Agia yang menyentuh relung kalbu.
***
Andi bersandar pada sofa di kamarnya. Pikirannya menerawang. Istrinya yang begitu menyayangi dan melayaninya bagaikan seorang raja, ternyata memiliki kaitan khusus dengan Asih. Namun sayang dirinya tidak mengetahui hal itu.
“Bagaimana mungkin Dewi selama ini hanya diam saja saat orang-orang genpar membicarakan tentang penemuan kerangka di Kampus Sastra? Apa memang Dewi telah melakukan sesuatu terhadap Asih? Lalu, apa alasannya? Motif apa yang mendasari kemurkaan Dewi hingga mampu menghabiskan nyawa orang yang dikenalnya?”
Berbagai macam pertanyaan menari-nari dikepala Andi.
Andi lalu bangkit, dan menuju meja rias kepunyaan Dewi. Dibukanya laci-laci itu satu persatu. Tidak ditemukan apapun yang mencurigakan di sana.
Kemudian Andi beranjak menuju lemari pakaian Dewi. Entah apa yang dicarinya. Tapi tidak ditemukan apapun yang menarik perhatiannya.
Andi kembali duduk.
“Siapa sebenarnya perempuan yang aku nikahi ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa tidak mengenali Dewi?”
Andi lalu membongkar ingatannya saat pertama kali bertemu Dewi di kampus.
Dewi adalah mahasiswa baru pada tahun ajaran itu. Dia sangat bersemangat dan ceria. Entah karena dia menyukai pelajaran Bahasa Inggris, ataukah memang karakternya seperti itu, Andi juga tidak tahu saat itu.
Namun setelah menjadi istrinya, Dewi memang perempuan yang memiliki rasa percaya diri, dan juga sangat enerjik. Kemampuannya dalam mengelola keuangan pun patut diacungi jempol. Bahkan bakat memasaknya sangat baik.
Setiap minggu Andi mengajar sebanyak satu kali di kelas Dewi. Ada saja pertanyaan yang diajukan olehnya. Hal positif itupun membuat Andi menjadi semangat saat mengajar di kelas Dewi. Bagaimana tidak, Andi jadi mempunyai pengalaman dengan mengajar di kelas yang banyak memiliki interaksi antara pengajar dengan mahasiswanya.
Semester berganti, begitupun dosen pengajar mata kuliah Bahasa Inggris. Namun, Dewi tetap berkomunikasi dengan baik mengenai Bahasa Inggris.
Kemampuannya dalam berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris pun meningkat tajam.
Beberapa kali Dewi juga memberikan Andi sarapan. Bahkan Dewi juga pernah menawarkan diri menjadi asisten dosen.
Andi tidak dapat menemukan hal ganjil tentang kehidupan lain yang dimiliki oleh Dewi.
Satu-satunya yang tidak disukai Andi tentang Dewi adalah, keluarganya yang sangat ikut campur atas kehidupan rumah tangga mereka. Terutama kakaknya.
Menurut Andi, kakak iparnya itu tidak konsisten dalam hal apapun. Keinginanya terlalu banyak. Namun, tidak pernah memperjuangkannya.
Seolah-olah, kakak iparnya ini telah putus asa terhadap sesuatu. Tapi Andi enggan menanyakannya. Tidak berinteraksi jauh lebih baik menurut Andi.
__ADS_1
Andi menjadi semakin pusing dibuatnya. Baru saja beberapa waktu lalu pikiran dan hatinya terguncang, lantaran memori bersama Asih menyeruak menyisakan sesak. Kini, informasi baru yang diperolehnya sari kepolisian tentang penemuan DNA pada pakaian Asih, mengantarkan luka pilu menjadi sayatan luka terkoyak.