
41
Kampus Horror
Part 41
Sebuah nama baru banyak bermunculan diberbagai platform berita, koran, juga siaran televisi.
Dewi Laksmita.
Kini semua orang mulai mencari tahu, siapa sebenarnya sosok perempuan setengah baya yang menjadi saksi tentang kasus ditemukannya kerangka manusia di sebuah instansi pendidikan paling tinggi puluhan tahun yang lalu.
Nama petinggi Fakultas Sastra yang kini telah melalui masa purnabakti, ikut disangkut pautkan dengan kasus tersebut.
Ada yang menyimpulkan bahwa peran bapak mertua Dewi yang menjabat sebagai dekan, memiliki andil besar dalam menutupi semua hal tentang kematian Asih Prabandari.
Ada pula yang menyeret nama Andi Nugraha. Seorang dosen pengajar mata kuliah Bahasa Inggris, yang juga menutupi perilaku istrinya.
Semua belum terbukti, namun sanksi sosial terlebih dahulu diterima Dewi.
Dengan santai Dewi memutuskan untuk menutup seluruh akses sosial media demi menjaga kewarasannya.
Tidak begitu dengan Anisa. Dengan getir dan hati yang resah, dia memikirkan nasib nama baik keluarganya. Sedangkan Dira, dia mencoba terlihat tenang.
“Aduh, Pak! Bagaimana ini? Apa yang harus Ibu jawab kalau ada tetangga yang tanya?”
“Ya jawab saja Dewi hanya seorang saksi.”
“Tapi wajah tetangga-tetangga kok seperti menghakimi gitu loh, Pak. Ibu jadi tidak tenang.”
“Loh ya gampang, jangan keluar rumah. Diam saja di rumah.”
Anisa hanya mencibir suaminya itu.
Anak-anak perempuan mereka pun berdatangan mengunjungi orang tuanya.
“Kan, apa aku kata, Bu. Begitulah kalau mantu orang kampung. Ibu sih setuju-setuju saja dulu.” Gita, anak kedua yang kini tinggal di luar kota mengikuti suaminya sebagai seorang pilot. Bapak mertua Gita adalah mantan rektor di salah satu perguruan tinggi. Pertemuan Gita dan Yosi pun telah diatur sedemikian rupa oleh orang tua mereka.
“Siapa juga yang setuju-setuju saja? Ibu kan cuma mempercayakan pilihan sama Kakakmu itu. Mana tahu kalau ternyata seperti ini jadinya.”
“Lantas, sekarang bagaimana kelanjutannya, Bu?” Anak ketiga, Nada, juga ikut menimpali perbincangan Ibu dan Kakaknya itu.
“Apanya yang bagaimana? Ya tidak gimana-gimana. Diam saja kata Bapakmu. Kita berdoa semoga iparmu bukan pembunuh!” Nada terlihat cemas dengan jawaban ibunya. Tidak sanggup dia bayangkan jika iparnya itu benar-benar seorang pembunuh.
Mama mertuanya yang seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk di daerah, pasti akan mencercanya. Keluarganya akan dianggap buruk karena memiliki anggota seorang pembunuh.
Nada bergidik ngeri. Walaupun suaminya yang seorang direktur di sebuah bank milik negara, namun rumah tangganya masih dicampuri oleh mama mertua.
***
Jimmy sedang berdiam diri dengan headset menempel ditelinganya. Sedari tadi didengarnya berulang-ulang percakapan dengan Dewi Laksmita yang dilakukan saat proses pemeriksaan beberapa waktu lalu.
Tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan dari jawaban-jawaban Dewi.
Jimmy juga memegang berkas data tentang korban. Jimmy membolak-balikkan kertas yang berisikan sejumlah informasi mengenai Asih Prabandari. Benar yang dikatakan oleh Dewi, mereka satu sekolah dulu.
Jimmy memutuskan untuk berkunjung ke sekolah Dewi dan Asih dulu. Mana tahu mendapatkan sebuah petunjuk penting.
***
“Mau kemana?” Jimmy melihat Dj nampak sibuk hilir mudik kesana kemari di sekitar kantor penyidik.
“Cari informasi tentang masa perkuliahan saksi. Ternyata dia satu almamater dengan gue.” Dj menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Mau bareng? Gue berencana berkunjung ke sekolah saksi. Dia satu sekolah dengan korban.” Dj menaikkan alisnya tanda tertarik dengan pemberitahuan dari Jimmy.
“Tidak akan menolak untuk sesuatu yang berbau misteri.” Dj melemparkan kunci mobilnya ke arah Jimmy. “Lo yang nyetir ya, pakai mobil gue saja. Mobil lo terlalu butut!”
Jimmy hampir mengenai kepala Dj untuk menoyor. Beruntung Dj lebih gesit dari gerakan tangan Jimmy.
***
Jimmy dan Dj memandang sekolah yang pagarnya terbuka sedikit. Hanya cukup untuk satu orang saja melewatinya. Terlihat dari luar pos Satuan Pengaman atau yang biasa kita kenal dengan Satpam.
“Permisi, Pak. Saya Jimmy dari kepolisian,” Jimmy memperkenalkan diri dengan menyebutkan kantor Kepolisian Resor Kota, yang juga sering kita sebut dengan Polresta, kepada petugas keamanan yang terlihat mengenakan tanda nama Dwi Sudirta. Tidak lupa Jimmy juga memperlihatkan tanda pengenalnya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Petugas tersebut menghampiri dengan gesit dan memberikan salam hormat kepada Jimmy dan Dj.
Jimmy pun membalas singkat salam hormat dari petugas bernama Dwi itu.
“Apakah ada suatu keperluan, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” Dwi dengan tubuh tegap dan berkisar usia dua puluh lima tahun itu melontarkan pertanyaan dasar seorang petugas keamanan.
“Saya sedang melakukan suatu penyelidikan tentang penemuan kerangka tubuh manusia. Setelah diselidiki, ternyata korban pernah bersekolah di sini.” Jimmy menerangkan latar belakang kedatangannya kepada Dwi.
Mata Dwi membesar karena penjelasan yang diberikan oleh Jimmy.
“Benarkah, Pak? Mari saya antarkan ke kantor guru. Saya akan sampaikan dulu tujuan Bapak ke sini. Mari ikut saya, Pak.”
Jimmy tersenyum dan menganggukkan kepala.
Jimmy dan Dj berjalan melewati koridor yang membawa mereka menuju lapangan basket di depan sana. Terdapat pula tiang bendera di sisi lainnya.
Mereka mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Tidak terlihat siswa-siswi sejauh mereka memandang. Namun, suara riuh remaja terdengar dari kejauhan. Dj melihat pergelangan tangannya dengan jam yang menempel disana. Pukul sebelas siang. Wajar saja siswa-siswi sekolah itu tidak berada di luar kelas. Mereka pasti sedang melaksanakan proses belajar-mengajar di dalam kelas.
Sekolah Menengah Atas ini tidak terlalu tua penampilannya. Sudah terlihat bangunan dengan bentuk modern dan bersih.
Pepohonan rindang membuat suasana sekolah menjadi sejuk. Angin berhembus menerpa angan siapa saja yang mengharapkannya menjadi nyata. Tak terkecuali Jimmy dan Dj.
Kemudian terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka yang asik berdiri di pinggir lapangan. Spontan Jimmy juga Dj berbalik ke arah datangnya suara.
Beberapa orang yang dipastikan berprofesi guru mendatangi mereka dengan wajah gusar dan tegang. Siapa yang tidak khawatir jika didatangi polisi?
“Selamat siang, Bapak-bapak. Saya Santoso kepala sekolah di sini. Saya dengar Bapak sedang melakukan penyelidikan. Apa benar begitu?” Kepala sekolah yang terlihat seumuran dengan Jimmy itu memperkenalkan diri dan bertanya tanpa basa-basi.
“Saya Jimmy, dan ini rekan saya dari redaksi koran.” Dj menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah guru-guru tersebut.
“Benar sekali, Pak. Kami datang untuk mencari informasi tentang alumnus sekolah ini. Apa bisa kami meminta bantuannya untuk diperbolehkan melihat data siswa tahun ajaran 1983?” Jimmy mengupayakan kesempatannya untuk bergerak cepat menyelesaikan kasus ini.
“Oh bisa, Pak. Mari silahkan ikut saya.”
Kepala sekolah dan beberapa guru lainnya menggiring Jimmy dan Dj ke ruang tamu sekolah.
***
“Maaf karena lama menunggu. Ini Arif, guru komputer sekaligus yang bertanggung jawab mengenai IT di sekolah ini.” Kepala sekolah datang bersama seorang guru yang terlihat masih sangat muda. Dia menenteng tas laptop berwarna hitam.
“Selamat siang, Pak.” Arif lalu menempati posisi di antara kepala sekolah dengan Jimmy, berhadapan dengan Dj.
Arif lalu mengeluarkan laptop, pengisi daya, mouse, mouse pad, dan sebuah kotak hitam untuk menyimpan data atau memory external.
Sambil menunggu laptop dapat digunakan, Arif bertanya tahun berapa yang diminta. Kemudian dia mencatat disebuah buku catatan.
Dengan lincah jari-jemari Arif menekan keyboard pada laptop keluaran terbaru itu. Dia membuka beberapa dokumen dalam memory external yang memang digunakan untuk menyimpan data tentang sekolah.
“Boleh saya tahu namanya siapa yang ingin Bapak temukan?”
“Asih Prabandari dan Dewi Laksmita.”
__ADS_1
“Ketemu, Pak. Mereka berada di kelas yang sama. Kebetulan Dewi Laksmita ini dilengkapi data alamat dan juga nomor teleponnya, Pak. Apa Bapak memerlukannya?” Tanya Arif meyakinkan membuat binar pada mata Jimmy.
“Bagaimana bisa Pak Arif memiliki data-data alumnus puluhan tahun lalu?”
“Beberapa waktu lalu sekolah kami mengadakan Reuni Akbar, Pak. Undangan disebarkan melalui media sosial. Hampir keseluruhan alumnus mengisi data, terutama nomor kontak dan akun media sosial.”
“Boleh saya menyimpan data itu?” Tanya Jimmy meminta izin kepada kepala sekolah.
“Bila ini bisa membantu, silahkan, Pak. Rif, tolong kamu cetak data kelas yang diminta Pak Jimmy.”
“Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar ya. Saya print sebentar. Mungkin ada hal lain yang perlu dicari tahu?”
“Saya rasa cukup. Terima kasih atas bantuannya.”
Arif kemudian bangkit dan menuju ke sebuah ruangan di balik lemari kaca besar yang berisikan deretan piala prestasi.
“Jadi, korban yang Bapak cari namanya yang mana, Pak?”
“Asih Prabandari, Pak.” Santoso hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban singkat dari Jimmy.
“Oh iya, Pak Santoso. Apa masih ada guru yang mengajar sejak tahun 1983?” Dj mencoba mencari informasih tambahan selagi menunggu Arif datang membawa hasil cetakan data yang mereka perlukan.
“Kebanyakan guru-guru senior sudah pensiun, Pak. Karena usia pensiun sekarang ditentukan enam puluh tahun.”
“Apa tidak ada data yang menyimpan nomor kontak salah satunya?”
“Sepertinya ada, Pak. Biar nanti Arif yang carikan.”
Berbarengan dengan itu, Arif datang dengan selembar kertas berisikan data siswa-siswi kelas tiga, jurusan Bahasa tahun ajaran 1983-1984.
“Rif, coba bantu carikan Bapak-bapak ini nomor telepon guru yang sudah pensiun.”
“Bapak perlu yang ada hubungannya dengan kedua nama tadi ‘kan, Pak?” Jimmy dan Dj mengangguk senang.
“Beruntung wali kelas kedua nama siswi tadi masih cukup muda, Pak. Ini Ibu Sumarni dan ini nomor telepon serta alamat rumahnya. Dekat kok, Pak dari sini.”
“Kamu sering menonton acara detektif ya?” Jimmy menepuk pundak Arif.
“Iya, Pak. Saya suka sekali dengan serial dari Amerika, Criminal Minds.”
“Terima kasih ya, kami terbantu sekali dengan kegemaranmu menonton serial itu.”
“Semoga cepat terungkap ya, Pak.” Arif juga menambahkan kalimat penyemangat untuk Jimmy dan Dj.
“Terima kasih.” Jimmy kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Santoso.
“Baiklah, Pak. Kami mohon pamit. Terima kasih atas waktu dan bantuannya. Maaf jika kami merepotkan.”
“Kesenangan bagi saya untuk bisa membantu kepolisian agar segera membongkar kebenaran.”
***
Santoso dan Arif mengantarkan kepergian Jimmy dan Dj hingga gerbang sekolah.
“Sekali lagi terima kasih ya bantuannya.” Jimmy izin pamit untuk meninggalkan sekolah.
“Oh iya, Pak. Saran saya, coba masuki media sosial milik Dewi Laksmita. Pasti akan mudah untuk menelusuri kegiatan dan juga pertemananny. Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang bisa memberikan keterangan.”
Lagi, Jimmy menepuk pundak Arif.
“Terima kasih banyak sarannya. Membuka pikiran saya. Saya pergi dulu, ya.”
***
__ADS_1