Kampus Horror

Kampus Horror
Part 42


__ADS_3

42


Kampus Horror


Part 42


Jimmy dan Dj berhenti sebentar di sebuah warung makan yang berada di tengah hamparan sawah yang luas guna memenuhi panggilan makhluk yang tinggal didalam perut mereka. Sedari tadi makhluk itu bersuara sangat keras, pertanda perlu asupan yang lezat untuk memberhentikannya bersuara.


Warung itu menjual sate dan beberapa makanan tradisional lainnya.


Mereka memilih tempat diujung menghadap ke sawah. Belum banyak pengunjung yang datang. Jadi mereka masih bisa memilih tempat yang strategis.


Jangan bayangkan tempat ini warung makan yang modern dan tertata rapi. Warung makan ini lebih tepat dikatan sebagai gubug di tengah sawah. Dengan beratapkan jerami, beralaskan tanah, dan dilengkapi meja lusuh yang sangat tua.


Tapi, tempat ini merupakan rumah makan legend yang menyetarai cafe instagramable dengan tempat berswafoto dengan pemandangan yang alami.


Rasa makanannya pun menjadi incaran semua kalangan. Dari supir truck, hingga pejabat tinggi pun tak kuasa menahan rindu mencicipi masakan tradisional di sini.


Sambil menikmati makanan yang telah disediakan oleh Ibu pemilik warung, Jimmy dan Dj membahas perkembangan kasus Asih.


“Bagaimana hasil pemeriksaan kemarin?” Dj membuka pembicaraan terlebih dahulu, walaupun mulutnya dipenuhi oleh makanan murah nan lezat itu.


“Entahlah,” Jimmy menyelesaikan kegiatan mengunyah makanan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. “Saksi terlihat santai. Malah terlalu santai menurut gue. Seolah-olah sudah menyiapkan jawaban untuk pemeriksaan itu.”


“Yakin lo enggak menemukan sesuatu pun?”


“Masak sih lo meragukan gue? Ya tentu saja gue menemukan sesuatu yang aneh. Walaupun hanya secuil kata.”


“Kata apaan?”


“Apa kita pernah mengungkapkan kalau penemuan kerangka itu sebagai kasus pembunuhan?”


Dj menggeleng cepat. “Memang kenapa?”


“Saksi sempat menyebutkan kalau seandainya dia tidak ikut dalam pesta rujak hari itu di kampus, dia tidak akan terlibat dengan kasus pembunuhan Asih.”


“Oh ya? Mana sini rekamannya coba gue dengar.”


Jimmy merogoh saku celananya dan mencari rekaman pemeriksaan tempo hari pada telepon canggih miliknya.


Dj menghentikan kegiatannya menyendok makanan dan dengan cepat meneguk es jeruk untuk menghanyutkan makanan yang tersisa pada mulutnya.


Kemudian Dj memfokuskan pendengarannya kepada telepon genggam milik Jimmy.


Selagi menunggu Dj meneliti rekaman hasil pemeriksaan, Jimmy tetap menikmati makan siangnya dengan lahap.


***


“Insting gue, saksi ini bukan pelaku.” Dj menyampaikan isi pikirannya ketika mengemudikan kendaraan roda empatnya menuju rumah wali kelas Asih dan Dewi.


“Kok?”

__ADS_1


“Ya insting. Bahwa benar, kentara sekali kalau saksi tidak suka kepada korban. Malah bisa jadi pernah terjadi suatu konflik diantara mereka. Tapi insting gue bukan dia pelakunya.”


Jimmy tidak menjawab spekulasi dari Dj. Memang, sebagai seorang penyidik, kekuatan bukti merupakan yang utama. Namun, insting pun tidak boleh diragukan. Menurutnya, terdapat dimensi lain yang mencoba memberikan bantuan melalui insting.


***


Mereka kini tiba di sebuah rumah sederhana nan asri milik seorang pensiunan guru.


Benar kata Arif. Mencari rumah Ibu Sumarni tidaklah sulit. Tidak juga terlalu jauh dari sekolah tadi.


Saat mereka tiba pintu gerbang sudah terbuka. Namun Jimmy dan Dj tidak serta merta memberanikan diri untuk masuk ke dalam tanpa seizin pemilik rumah.


“Permisi…” Dj menyuarakan kata sapaan dengan volume yang cukup keras.


Tak sampai berapa lama, seorang ibu paruh baya mendekati mereka dengan membawa sapu lidi. Sepertinya ibu ini sedang menyapu halaman ketika mereka datang.


“Iya, ada apa ya?” Sahut ibu itu dengan tatapan bingung karena baru pertama kali melihat wajah Jimmy dan Dj.


“Maaf mengganggu, Ibu. Apa benar ini rumah Ibu Sumarni?”


“Benar. Saya sendiri. Dengan siapa kalau boleh saya tahu?”


Dj melirik Jimmy dengan harapan mau memperkenalkan dirinya duluan. Biasanya jika orang-orang tahu wartawan yang berkunjung, mereka enggan menerima kedatangannya.


“Saya Jimmy, Bu. Saya penyidik dari Kepolisian Negara Republik Indonesia.”


“Polisi? Ada apa ya?” Ibu Sumarni terlihat tidak nyaman dengan kedatangan mereka.


“Oh ya? Apa Bapak-bapak sudah sempat mendatangi sekolah sebelumnya?”


“Benar, Ibu. Kami juga mendapatkan alamat Ibu dari sekolah. Ini kartu pengenal saya,” Jimmy segera memperlihatkan kartu tanda pengenalnya sebagai polisi.


“Mari silahkan masuk.” Ibu Sumarni mempersilahkan Jimmy dan Dj memasuki rumahnya. Mereka dipersilahkan duduk di teras rumah bagian depan.


“Apa yang bisa saya bantu?” Ibu Sumarni langsung membuka topik pembicaraan. Bahkan beliau tidak menawarkan untuk menyajikan minum. Bisa jadi Ibu Sumarni tidak begitu nyaman dengan kedatangan mereka. Atau bisa juga kalau dia sedang sendirian di rumah.


“Jadi begini, Bu.” Jimmy pun tidak membuang waktu untuk mendapatkan tujuannya ke sini. “Anak didik Ibu merupakan korban penemuan kerangka di Kampus Sastra.”


Ibu Sumarni menganggukkan kepala. “Ya, saya tahu. Asih, kan?”


Jimmy dan Dj saling pandang.


“Tapi saya tidak yakin apakah itu Asih murid saya atau bukan. Setiap hari setelah saya menonton berita ditelevisi, saya menghaturkan doa supaya korban itu bukanlah Asih yang saya kenal.”


Ibu Sumarni menghembuskan napas berat. “Sayangnya, ternyata itu memang Asih.”


“Ibu masih ingat dengan murid walaupun sudah puluhan tahun begitu?”


“Siapa yang bisa lupa dengan anak baik seperti Asih? Gadis cantik dengan hati secantik parasnya. Sikap sopan dan santunnya amat sangat saya kagumi.”


“Semangat juangnya pun tidak bisa disepelekan. Bahkan saya yakin sekali, kalau Asih bisa dengan mudah mewujudkan cita-citanya. Sayang sekali, usianya terlalu muda untuk mengalami hal semacam ini.”

__ADS_1


“Kalian tahu? Usahanya untuk mendapatkan beasiswa agar bisa berkuliah di universitas itu tidaklah mudah. Keluarganya bahkan tidak memberikan restu kepada Asih. Izin dari wali yang saat itu seingat saya adalah Bibinya pun tidak didapatkannya. Mereka berharap agar Asih tidak perlu memiliki pendidikan tinggi. Beruntung semangatnya tidak bisa dipatahkan.”


Jimmy dan Dj masih diam mendengarkan penuturan Ibu Sumarni yang sedari tadi menatap langit mencoba mengorek ingatannya tentang Asih Prabandari.


Lalu tiba-tiba Ibu Sumarni melihat ke arah Jimmy dan Dj.


“Jadi, kematian tragis Asih ini, karena apa kalau saya boleh tahu?”


“Kami juga belum tahu, Bu. Sekarang ini masih dalam masa penyelidikan.”


“Asih itu bukan seperti anak lainnya. Dia ramah kepada siapa saja. Teman-temannya banyak. Siapa saja senang berteman dengannya. Saya jadi merasa bersalah telah mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan di kota. Seandainya saya tidak mendukungnya, dia pasti masih hidup.”


“Bagaimana dengan Dewi Laksmita?” Jimmy memberanikan diri memotong memori Ibu Sumarni tentang Asih.


“Dewi?” Alis Ibu Sumarni terangkat.


“Benar, Bu.”


“Sebenarnya kalau tidak diingatkan karena Asih, saya tidak mungkin bisa mengingat murid-murid saya yang dulu. Tapi Dewi ini duduk di depan Asih saat itu. Ya benar. Saya sekarang ingat wajahnya.”


“Bagaimana ya menceritakannya. Saya tidak terlalu suka dengan perilaku Dewi. Perangainya bagaikan tokoh antagonis dalam suatu cerita.”


“Kenapa begitu, Bu?”


“Dewi ini berusaha bersaing dengan siapapun. Dia seperti menginginkan menjadi yang pertama, dalam bidang apapun. Kebetulan saya mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia. Saya ingat saat itu membuat kelompok belajar. Dia berusaha menjatuhkan teman-temannya dari kelompok lain dengan melontarkan pertanyaan yang kurang masuk akal dari topik pembelajaran saat itu”


“Oh iya! Saya ingat, Dewi juga pernah menolak dijadikan satu kelompok dengan Asih secara terang-terangan. Dia berbicara dengan jujur, kalau dia berada satu kelompok, siapa yang akan melawan Asih nanti? Saat itu saya pikir telah gagal menjadi guru karena menciptakan permusuhan antara teman satu kelas.”


Lalu Ibu Sumarni tersadar. “Kenapa kalian menanyakan tentang Dewi?”


Jimmy melirik Dj.


“Sementara ini, Dewi adalah saksi dalam kasus yang saya tangani, Bu. Ada DNA Dewi pada pakaian yang dikenakan oleh Asih saat kerangka kami temukan.”


Tak kuasa Ibu Sumarni menahan rasa terkejutnya mendengar pernyataan dari Jimmy.


“Apa yang bisa saya bantu untuk mengungkap semuanya?” Ibu Sumarni terlihat sangat tak berdaya mendengar kabar yang mereka sampaikan.


“Ini kartu nama saya, Bu. Siapa tahu nanti Ibu mengingat sesuatu, bisa menghubungi saya. Segala informasi yang Ibu sampaikan sangat membantu pihak kepolisian dalam mengungkap semuanya.”


“Tolong, Pak. Tolong. Ungkap semua kebenarannya. Kasihan sekali Asih. Dia anak yang baik, Pak.” Ucap Ibu Sumarni lirih.


“Kami akan mengusahakan yang terbaik, Bu. Terima kasih atas waktunya, Bu.”


***


Cemooh mulai bermunculan dari berbagai pihak. Entah sampai kapan aku akan kuat menahan hinaan ini.


Kupikir dengan hilangnya nyawa perempuan itu semua akan menjadi lebih baik.


Aku harus memutar otak lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2