Kampus Horror

Kampus Horror
Part 53


__ADS_3

Kampus Horror


Part 53


Feeling seorang penyidik jarang meleset. Tapi entah mengapa, saat ini tidak ada firasat apapun mengenai kasus Kerangka Asih.


Jimmy menghisap kuat-kuat tembakau yang dibakar untuk menghilangkan sedikit rasa penat pada otaknya.


Hari ini Anisa berjanji untuk berkunjung ke kantor polisi guna menjalani pemeriksaan. Tapi, dia menegaskan satu syarat. Yaitu, media tidak boleh tahu masalah ini. Namanya sebagai istri Dira Nugraha tidak boleh tersebut dalam kasus ini. Biar saja menantunya yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang.


Jimmy tersenyum jika mengingat perkataan Anisa ditelepon, tentang ancamannya tidak akan bersedia diperiksa jika ada wartawan yang mengetahui hal ini.


Padahal, menjalani pemeriksaan adalah kewajiban seorang warga negara yang baik. Jika mengabaikan, pihak kepolisian bisa menjemput paksa ke kediaman yang bersangkutan.


***


Bagi benar-benar merasa ada yang aneh dengan keluarganya. Semua terhubung, semua bersangkutan dengan mendiang Asih.


Bagi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di kamar tidurnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghilangkan kerisauannya. Bagi putuskan untuk keluar kamar.


Sekarang Bagi duduk di bangunan rumah bagian timur atau yang disebut dengan Bale Dangin. Pandangannya menampakan kegundahan yang tidak bisa luapkan. Malu rasanya jika membahas apa yang dirasakannya kepada Agia atau Damar, apa lagi Stevina. Setelah Om Deni yang ternyata mengabaikan Asih, bahkan dia tidak tahu jika benih yang ditanam telah berkembang di dalam janin Asih.


Kemudian Andi, Papanya pun memiliki keterkaitan dengan mendiang Asih. Bahkan Mamanya sampai dipanggil polisi untuk pemeriksaan sebagai saksi karena penemuan darah pada pakaian Asih.


Belum usai sampai di sana, kini Neneknya turut serta berurusan dengan polisi. Antara sedih dan juga kecewa saat mendengar bahwa mendengar seseorang mengatakan neneknya menunjukkan rasa tidak suka terhadap Asih.


Hanya kakeknya saja yang berhasil menjaga nama baik dan kewibawaannya. Bagi yakin sekali bahwa kematian Asih ada hubungannya dengan salah satu anggota keluarga.


Bagi menghembuskan napas dengan kasar. Kini bukan lagi sekelumit masalah dalam pikirannya. Kehidupannya pasti akan berbeda setelah ini.


Ingin rasanya bercerita dengan seseorang untuk mengurangi sedikit beban yang dirasa. Tapi, Bagi membayangkan Agia dan yang lain seolah mencibir dirinya seorang keluarga pembunuh.


Tak lama kemudian, Dewi berjalan keluar kamar dan melakukan aktifitas seperti biasanya di dapur.


Bagi memperhatikan orang yang paling disayanginya itu. Seluruh hidupnya telah diberikan untuk Bagi, tanpa tahu meliburkan diri hanya untuk Bagi.


Sesak rasanya dada Bagi, jika mengingat segala hal yang telah dilakukan Mamanya. Bagi tahu betul bagaimana perlakukan Dewi untuk keluarga. Fisiknya yang tidak lagi muda bukan jadi halangan untuknya melayani keluarga. Wajahnya yang selalu ceria, pembawaannya penuh kasih, walaupun permintaannya harus selalu dipenuhi. Jika tidak, Mamanya Bagi bisa berubah menjadi orang lain yang tidak Bagi kenal sama sekali. Kemurkaannya bagaikan singa betina kelaparan yang bisa menghancurkan seisi kamar. Syukurnya, Dewi tidak sering memiliki permintaan. Segala keinginannya pun termasuk mudah untuk dipenuhi oleh Papanya.


Pernah, saat Bagi duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Papa dan Mamanya bertengkar hebat dikarenakan Papa menginginkan seorang anak lagi. Jujur saja, Bagi juga merasa kesepian tanpa hadirnya seorang adik. Tapi Dewi tidak mau. Hampir dua minggu lamanya Dewi murka dan tidak mengindahkan segala kebutuhan rumah tangga.


Tak pernah lagi tercetus ide dari seluruh keluarga untuk menambah anggota mungil di dalamnya.


Bagi lalu melihat Dewi duduk dengan tangan memegang pisau guna memotong sayuran di atas meja. Dewi tidak tahu bahwa Bagi sedang memerhatikan seluruh kegiatannya dari kejauhan.


Kemudian tangan Dewi meraba halus bagian atas lututnya. Bagi tahu bahwa terdapat bekas luka pada kaki Mamanya itu.

__ADS_1


Dari pengakuan Dewi, luka itu didapat saat kecelakaan sepeda bersama temannya ketika anak-anak dulu. Namun, Bagi sadar tidak pernah meminta Mamanya untuk bercerita secara detail tentang kejadian penyebab luka yang sering kali mendatangkan rasa linu setiap udara dingin menyergap.


Bagi lalu bangkit dari tempatnya mengumpulkan semangat. Dia berjalan menuju dapur, lalu duduk di depan Mamanya.


“Enggak keluar rumah, Gi?” Mamanya bertanya saat tahu Bagi datang.


“Enggak, Ma. Malas.” Ditatapnya lekat perempuan pemberi kehidupan untuknya.


“Ma, tadi aku lihat kaki Mama sakit lagi?” Mata Dewi seketika melihat Bagi sekilas.


“Iya sedikit,” Dewi kembali pada kegiatannya memotong sayur sawi, sambil menjawab pertanyaan Bagi.


“Memangnya sekeras itu kecelakaan yang Mama alami dulu, ya?”


“Enggak juga. Ya, namanya juga jatuh dari sepeda motor. Tapi Mama enggak tahu kena apa ya, kok bisa luka parah begini.”


Bagi menaikkan alisnya karena heran mendengar cerita Dewi yang tiba-tiba berganti versi.


“Sepeda motor? Mama kecelakaan sepeda motor? Memangnya keluarga Mama dulu sudah punya sepeda motor?”


“Ya punya dong. Mama kecelakaanya dibonceng Om Ari. Untung saja masih selamat.”


Lagi. Bagi dibuat heran dengan cerita Dewi yang kembali berubah.


“Kecelakaan sepeda motor atau sepeda gayung, Ma?” Bagi berusaha memastikan.


“Sepeda motor.” Dewi memberi penekanan pada kata sepeda motor sebagai tanda bahwa ceritanya tidak salah.


Bagi kemudian menganggukkan kepala ragu.


Entah mengapa rasa ingin bertemu dengan Om Ari begitu tinggi. Bagi segera beranjak dari dapur dan menuju kamar tidurnya. Dia akan menghubungi Om Ari melalui aplikasi pesan.


***


“Pak Jim! Tunggu!” Atasannya, Yosi, memanggil dan menyamai langkah Jimmy.


Dengan tetap berjalan sambil menenteng berkas, Jimmy menoleh Yosi, atasan yang memiliki umur belasan tahun lebih muda darinya.


“Kasus kerangka di kampus itu akan ditutup lebih cepat.” Ucapan Yosi membuat langkah Jimmy terhenti.


“Kok bisa?”


“Saya lihat tidak ada kemajuan dalam kasus itu. Tersangka tidak ada, motif tidak ada, alat bukti kejahatan juga tidak ada. Kita anggap sajalah kasus ini sebagai kecelakaan.”


Jimmy tidak menjawab perkataan dari Yosi.

__ADS_1


“Siapa yang memerintahkan hal ini? Yang Maha Kuasa?”


“Bukan begitu. Ini keputusan bersama saat rapat tadi. Sudah, saya berikan waktu seminggu untuk mencari terduga pelaku. Kalau tidak dapat, kasus kita tutup.” Yosi melenggang santai meninggalkan Jimmy yang tetap diam.


Bagaimana bisa dia menemukan terduga pelaku apa lagi tersangka dalam waktu seminggu.


Jimmy berjalan menuju mejanya. Pikirannya tertuju pada hasil pemeriksaan terhadap Anisa barusan. Perempuan paruh baya yang terlahir dari keluarga kaya raya dan memiliki suami mantan pejabat tertinggi di Fakultas Sastra.


Sepertinya latar belakang kemewahan mendominasi hidup Anisa. Cara bicara, cara berpikir, bahkan cara berhadapan dengan penyidik saja terbilang arogan.


Tidak jauh berbeda dengan Dewi yang memiliki kesan awal arogan dan beringas, Anisa justru seperti ratu dengan kemampuan mendikte orang lain. Begitu tegas, juga menakutkan.


Anisa secara terang-terangan mengutarakan perasaannya kepada Jimmy, bahwa dia tidak menyukai hubungan anak-anaknya dengan Asih. Menurutnya memiliki menantu dari keluarga miskin akan berdampak buruk untuk keluarganya.


Pengakuannya, hari itu kali kedua pertemuannya dengan Asih. Kebohongan pertama yang dilakukan Anisa dihadapan pihak penyidik.


Anisa juga mengiyakan perkataan saksi, bahwa dia menarik paksa tangan Asih menuju kelas di lantai dua. Dengan yakin Anisa mengungkapkan bahwa dirinya hanya menggertak Asih untuk menjauhi anak-anaknya. Walaupun adegan mendorong Asih agar jatuh dari lantai dua tidak ikut dia utarakan.


Anisa berpesan agar tidak menyangkut pautkan dirinya dalam hal ini.


Jimmy menjadi semakin buntu karena tidak menemukan apapun saat pemeriksaan hari itu.


Jimmy memutuskan untuk memulai lagi semuanya dari awal. Dia akan mendatangi dan memeriksa TKP sekali lagi.


***


Jimmy mengikut sertakan Andre dalam kunjungannya ke Fakultas Sastra.


Dilihatnya galian lubang sedalam pinggang orang dewasa dengan lebih teliti. Jimmy jongkok tepat dipinggir lubang. Tanpa sengaja dirinya terperosok jatuh hingga ke dasar lubang.


Hal tersebut membuat Andre terpingkal dengan kuat, entah kapan lagi dirinya dapat menyaksikan seorang Jimmy kesakitan terperosok dengan kepala mendarat terlebih dahulu.


Jimmy berusaha berdiri dan menyeimbangkan badan. Kepalanya terasa nyeri karena terantuk kerikil-kerikil tajam. Saat dirinya berhasil berdiri, kepalanya menyembul dari lubang.


Walaupun masih tertawa, Andre mencoba membantu Jimmy untuk naik keluar dari lubang. Jimmy menggapai tanah untuk berpegangan agar bisa keluar dari lubang galian. Sayang sekali tanah yang digunakan untuk berpegangan justru longsor.


Andre tidak bisa berpikir karena terlalu fokus kepada kesialan Jimmy yang sedang menatapnya penuh amarah.


“Cari tali sana!” Perintahnya garang.


Tanpa menunggu lebih lama, Andre berkeliling untuk melihat sesuatu yang dapat digunakannya menarik Jimmy.


Sambil menunggu, Jimmy melepas sepatu dan kaos kakinya. Ditaruhnya sepasang alas kaki itu di atas lubang. Jimmy berusaha lagi memanjat agar bisa naik dan keluar dr lubang.


Tak mau bersusah payah, Jimmy akhirnya duduk dengan pasrah di dasar lubang. Dikeluarkannya sebatang rokok dihidupkannya.

__ADS_1


Dengan santai Jimmy bersandar pada dinding tanah dan menghisap rokok. Tangannya mengorek dasar tanah dengan korek api. Jimmy lalu menengadahkan kepala. Betapa tersiksa dan menakutkannya Asih saat berada di sini. Sendirian selama puluhan tahun.


Tiba-tiba korek api terantuk sesuatu di dalam tanah yang tidak terlalu dalam itu. Jimmy melihat tanah didekat kakinya. Ada sesuatu berwarna hijau. Dengan cepat tangannya menggali dan menemukan sebilah pisau kecil dengan pegangan berwarna hijau.


__ADS_2