Kampus Horror

Kampus Horror
Part 52


__ADS_3

Kampus Horror


Part 52


Senyum kemenangan menghiasi wajah Asih saat berhasil selamat dari dorongan Anisa.


Dirinya tidak menyangka jika Anisa bisa senekat itu. Yang Asih pikirkan saat itu adalah hanya perlu selamat dan menjaga calon buah hatinya itu.


Takdir berkata lain, tuhan belum mengizinkan Asih untuk meninggalkan dunia ini. Tangan Asih berhasil berpegangan pada bingkai jendela yang belum terpasang. Jendela yang kokoh bersandar pada tembok kelas memudahkan Asih untuk berlindung dari terjangan Anisa. Nyaris Asih terjun ke bawah.


“Ibu mencoba untuk membunuh saya?” Ucap Asih getir dengan tubuh gemetar menahan rasa takutnya. Menurut Asih, yang berada di hadapannya kini bukan lagi Ibu kekasihnya, melainkan setan pencabut nyawa.


Anisa tersenyum tipis melihat Asih berhasil menyelamatkan diri. Dirinya pun lega karena Asih mampu berpegangan pada jendela. Tak membayangkan dirinya jika Asih benar-benar terjatuh ke bawah sana, di mana para pekerja masih belum pergi meninggalkan area kampus. Terlalu banyak saksi mata akan perbuatannya.


“Ini baru awal, saya bisa saja dengan mudah menukar nyawamu dengan sebungkus kacang rebus.” Sudut bibir Anisa terangkat puas.


“Saya akan laporkan hal ini kepada polisi!”


Anisa tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman klasik dari Asih. “Polisi? Coba saja! Memangnya kamu punya bukti? Adakah saksi? Memangnya kamu punya uang untuk melapor kepada polisi?”


Asih diam tak menjawab cemooh dari Anisa. Tak habis pikir begitu jahatnya Anisa.


“Kalau melapor pada polisi tidak ada gunanya, bagaimana kalau saya melapor kepada Pak Dekan? Atau rektorat? Apa perlu menyebarkan kepada wartawan, bahwa anak seorang Dekan Fakultas Sastra telah menghamili seorang mahasiswi di sini?” Asih berani menantang Anisa, walaupun dirinya tahu bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa di sini.


“Jangan mencoba bermain-main dengan saya, ya!” Anisa menjadi gusar. Jika memang perempuan yang dianggapnya kotor seperti sampah ini berhasil mengadukan segalanya kepada masyarakat, apa yang akan terjadi dengan masa depan keluarganya?


“Ibu takut?” Kini Asih berjalan pelan dan mendekati Anisa. Anisa yang merasa bahwa dirinya sedang tidak aman, menjauh dan bergegas meninggalkan kelas di lantai dua.


***


Asih jatuh terduduk ketika Anisa pergi dengan cepat meninggalkan dirinya. Getir, senyum Asih tersungging pahit menahan pil kekecewaan. Walaupun dirinya merasa, bahwa bisa mengalahkan Anisa saat ini. Entah nanti. Siapa dirinya? Bukan siapa-siapa bagi siapapun. Bukan apa-apa walau bagaimanapun.


Perlahan Asih bangun dan melangkah menuruni ruang kelas dengan perasaan hancur.

__ADS_1


Begitu sampai bawah, Asih telah disambut oleh Ari. Tatapannya penuh rasa simpati.


“Kamu enggak apa-apa, Sih? Aku dengar di atas ribut-ribut.” Ucapnya berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.


Asih meringis, “Enggak apa-apa, Kak. Aku pulang dulu, ya.” Sahutnya cepat.


“Aku dengar semua pembicaraan kalian. Apa benar kalau kamu hamil?”


Perkataan Ari membuat langkah Asih terhenti. Dengan malas Asih memutar tubuhnya dan menatap Ari.


“Kalau iya, memangnya kenapa?” Asih benar-benar kacau. Keadaan telah membuat dirinya menjadi tak acuh kepada siapapun saat ini.


“Kamu kok bilang begitu? Asih, dengarkan aku dulu. Aku mau kok bertanggung jawab kalau kekasihmu tidak menganggapmu dan juga janin yang sedang kamu perjuangkan itu.” Asih diam menatap Ari. Lalu senyum sinis menghiasi wajah lelahnya.


“Kak Ari mau bertanggung jawab? Kakak sedang mengejek aku, ya?” Asih segera membalikkan badan, bermaksud untuk meninggal Ari di kampus.


“Sih, dengarkan aku dulu.” Ari menahan kepergian Asih dengan menarik pergelangan tangannya.


“Enggak ada aku mengejekmu. Untuk apa aku mengejek. Aku benar-benar menyukaimu sejak dulu. Aku janji akan menikahimu secepatnya. Sebelum perut kamu membesar, Sih.”


“Kenapa? Kamu enggak mau menikah denganku, Sih? Karena aku hanya seorang tukang bangunan? Iya?”


“Bukan begitu, Kak. Aku cuma lelah. Aku perlu istirahat sekarang.” Asih masih berusaha untuk sabar saat ini. Tak ada lagi energi yang terkumpul dalam dirinya untuk meladeni siapapun saat ini.


“Kamu jangan berlagak lalu menolak aku ya, Sih. Sudah kali kedua aku dengar penolakan dari kamu. Apa yang kamu pikirkan untuk menargetkan anak pejabat seperti itu? Kamu ini orang kampung, Sih. Orang miskin! Apa kamu merasa sudah hebat sekarang karena berhasil digauli oleh anak dekan? Makanya kamu menolak ajakanku? Begitu?”


Asih diam menatap Ari dengan perasaan marah.


“Kenapa diam? Enggak bisa menjawab karena semua yang aku katakan benar? Sadar diri, Sih. Apa kamu sudah bangga karena berhasil menjual tubuhmu dengan anak orang kaya? Iya? Apa kamu akan gunakan anak itu untuk memeras mereka?”


Asih tak lagi mampu menahan angkara murka dalam dirinya. Setelah berhadapan dengan Anisa, kini dia harus meladeni kegilaan Ari. Entah apa dosa yang telah dia perbuat dikehidupan yang lalu. Apa mungkin dia telah menjajah suatu negara, maka hidupnya kini tak jauh dari kata nestapa?


“Kak Ari, dengar ya. Tolong dengarkan baik-baik. Tanpa mengurangi rasa hormatku sama Kakak, karena Kak Ari adalah kakak temanku. Aku benar-benar tidak sanggup meladeni Kakak saat ini. Satu hal, maaf, dua hal, aku ralat. Aku akan sampaikan dua hal untuk Kakak. Pertama, aku bukan menjual diri apa lagi berniat untuk memeras keluarga itu. Kegilaan macam apa yang ada dipikiran Kak Ari sampai tega mengucapkan hal itu? Aku dan Kak Deni sudah lama menjalin hubungan, dia akan menikahiku. Kak Ari dengar? Dia akan menikahiku dengan atau tanpa persetujuan orang tuanya.”

__ADS_1


“Kedua, kalaupun dia tidak menikahiku, akulah yang akan menjaga dan merawat anak ini seorang diri. Bukan dengan Kak Ari. Pikirkanlah sendiri, apa Kak Ari mampu menghidupi kami nanti? Kehidupan Kak Ari saja masih seperti ini.


Keluarga kaya saja masih kepayahan untuk mengejar kesuksesannya, apalagi Kakak yang hanya seorang tukang bangunan seperti ini. Orang-orang datang ke kota itu untuk berkompetisi, Kak. Bukan menjadi buruh bangunan seperti ini.”


Ari diam terpaku mendengar ucapan mematikan dari Asih. Menurut Ari, Asih bukan lagi Asih yang dia dambakan sejak dulu. Entah ilmu perkuliahan yang menyebabkannya menjadi seperti ini, ataukah lingkungan perkotaan?


***


Rasa sakit setelah mendapatkan hinaan dari Asih, membangkitkan semangat Ari untuk berjuang lebih keras.


Tanpa banyak kata maupun gurauan, keesokan harinya Ari bekerja dalam diam. Wajahnya murung menyisakan amarah jika perkataan Asih muncul dalam benaknya.


Tole memerhatikan gelagat Ari yang tidak seperti biasanya.


“Kenapa lo? Patah hati?” Tole yang memimpin para pekerja itu mendekati Ari.


“Enggak, lagi mumet gue. Suruh gue kerja yang berat, dong, Le. Biar lupa sama isi pikiran gue.” Menurut Ari, hanya mandornya saja yang bisa membantu meringankan sedikit pikirannya yang sedang kacau itu.


“Ya kerja saja seperti biasa. Mau kerja apa memangnya? Mau gue suruh untuk menghitung jumlah batako itu?” Seloroh Tole mampu menyunggingkan sedikit bibir Ari.


“Seriuslah, apa saja.”


“Ya sudah, gali tanah di sana ya. Akan di tanamkan pohon bunga katanya sama bos.”


“Seberapa dalam?”


“Segini cukup barang kali.” Sahut Tole seraya menepuk pangkal pahanya guna menunjukkan seberapa dalam tanah yang harus digali oleh Ari.


“Dalam juga, ya. Memangnya mau ditanam pohon apa?”


“Pohon bunga.”


“Bunga apa?”

__ADS_1


“Bunga bangkai! Mana gue tahu, berisik amat lo. Sudah sana cangkul yang dalam sambil bernyanyi ya! Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam…” Tole segera berlalu meninggalkan Ari yang juga beranjak untuk menggali tanah pada sudut kampus itu.


***


__ADS_2