Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
[POV Alex] Ch 36 - Pulang ke Rumah


__ADS_3

Aku kembali ke Indonesia dengan perasaan berbunga-bunga. Wajah Khansa mulai menari-nari di pikiran, membuatku benar-benar bahagia. Semua beban yang selama ini ada di dada seolah-olah terangkat begitu saja. Aaron yang menjadi sumber dari kesedihan keluarga telah sadar dari tidur panjangnya. Orangtuaku pun telah mengetahui keberadaan Khansa dan menerimanya dengan hati yang bahagia. Tinggal satu langkah lagi mengenalkan Khansa pada keluarga dan meresmikan pernikahan kami secara hukum negara.


Di sepanjang perjalanan yang kupikirkan hanyalah Khansa. Aku tahu setiap kabarnya dengan detail, namun itu tidak menghapus rasa rindu, justru perasaan itu bertumbuh semakin besar. Satu minggu lebih kami tidak bertemu, tapi terasa seperti satu abad. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya. Merengkuh dan mencium aroma tubuhnya. Meyakinkan diri bahwa Khansa benar-benar milikku.


***


Aku tiba di Jakarta menjelang pukul sepuluh malam. Seharusnya pesawatku mendarat pukul delapan, namun karena delay menyebabkan keterlambatan itu.


Kulangkahkan kaki dengan terburu-buru. Menapaki setiap jarak yang mendekatkanku kepadanya. Rumah terlihat lengang dan sepi. Sepertinya sebagian besar penghuni telah terlelap dalam tidurnya.


Di pintu masuk, Winda menyambutku seraya membungkukkan badan. "Selamat datang, Bapak."


"Ya. Mana dia?"


"Ibu Khansa di kamar. Mungkin saja beliau sudah tertidur."


"Oke." Aku melewati Winda, tak sabar untuk bertemu dengan Khansa. Kemudian aku mengingat sesuatu dan berbalik, "Winda, terima kasih atas kerja kerasmu. Kamu boleh pulang. Aku bebas tugaskan kamu sampai aku butuh bantuanmu lagi."


"Baik Bapak. Terima kasih." Winda kembali membungkuk. Aku kembali berbalik dan berjalan menuju lift serta memencet angka tiga pada tombol lift.


Tak kurang dari lima menit, aku telah tiba di depan pintu kamar. Kubuka pintu secara perlahan, khawatir mengejutkan penghuni yang di dalam.


Kamar itu diterangi oleh cahaya temaram yang berasal dari lampu tidur yang terletak di sisi-sisi ranjang. Mataku berusaha beradaptasi dari pencahayaan yang minim dan melihat sekeliling.

__ADS_1


Hal pertama yang kulihat adalah ranjang besar yang berada di tengah-tengah ruangan. Di ranjang itu terdapat sosok feminin yang tengah berbaring membelakangi posisiku.


Hanya dengan melihat sosoknya dari belakang sudah membuat jantungku berdebar. Kudekati sosok itu secara perlahan. Setiap langkah yang mendekatkanku kepadanya membuat jantungku berdebar semakin kencang. Ingin rasanya aku berlari dan meraih tubuh itu dalam pelukan. Tapi aku harus menahan diri. Aku tidak ingin mengganggu wanitaku yang mungkin saja tengah tertidur.


Begitu tiba di dekatnya, aku langsung membungkukkan tubuh. Kuperhatikan wajah yang sangat kurindukan itu. Khansa tampak tertidur lelap. Napasnya berhembus dengan sangat teratur. Luapan rasa rindu dan bahagia menjadi satu.


Kukecup pelipisnya dengan lembut, "Aku pulang sayang, sudah tidur ya?"


Tidak ada gerakan pada tubuh Khansa. Mungkin kesayanganku sudah benar-benar tertidur. Aku mengangsurkan tubuh dan berbaring di sebelahnya. Kurengkuh tubuhnya dalam pelukan. Kuhirup semua aroma yang begitu kurindukan. Aku sudah pulang ke rumah. Khansa adalah rumah tempat untukku pulang.


Aku rindu aroma tubuhnya. Aku rindu hangat tubuhnya. Aku rindu senyumnya. Aku merindukan semua hal yang ada padanya. Aku mempererat pelukan. Meyakinkan diri bahwa aku benar-benar tengah memeluknya.


"Beneran sudah tidur ya? Bangun dong sayang. Aku kangen..." Kukecupi tengkuknya. Berharap dengan melakukan hal itu akan membangunkan kesayanganku. Namun Khansa tetap tak bergeming. Sepertinya dia benar-benar lelap. Mungkin dia lelah. Aku tidak tega untuk membangunkannya lebih jauh lagi.


Entah berapa lama aku melakukan percakapan itu. Secara perlahan rasa kantuk mulai menyerang. Tanpa kusadari, pada akhirnya aku pergi ke alam mimpi sembari merengkuh Khansa dalam pelukan.


***


Sinar mentari yang menelesup di celah-celah tirai yang tidak tertutup rapat mengganggu tidurku. Tanpa membuka mata, tanganku secara spontanitas mulai mencari-cari keberadaan Khansa. Ingin merengkuh tubuh wanita itu dalam pelukan. Namun tanganku terasa hampa. Tidak kutemukan Khansa dimana-mana.


Aku membuka mata untuk memastikan keberadaannya. Kuedarkan pandanganku di seluruh ranjang. Tidak kutemukan Khansa dimana-mana. Bahkan aku membuka selimut, tapi dia tidak ada.


Timbul perasaan tidak enak di hatiku. Aku pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Hari ketika Khansa meninggalkanku setelah kami melewati malam bersama. Salah satu hari terburuk di sepanjang hidupku. Memikirkan kejadian itu akan terulang lagi menimbulkan ketakutan di dalam hati. Aku mulai panik.

__ADS_1


Aku turun dari ranjang dan mulai mencari keberadaannya di dalam kamar itu.


"Sayang, kamu dimana? Sayang?" Aku pergi ke toilet dan ruang ganti, namun Khansa tidak bisa kutemukan. Semakin lama perasaan takut mulai datang menghampiri. Aku takut Khansa akan meninggalkanku lagi.


Aku berusaha mengontrol emosiku. Meyakinkan diri sendiri bahwa Khansa tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Rumah ini luas, tidak hanya terbatas di kamar ini. Mungkin Khansa memang tidak berada di kamar ini, namun bisa jadi dia berada di ruangan lain.


Memiliki pikiran seperti itu, aku langsung keluar dari kamar dan mencari Khansa di setiap lantai. Lantai ketiga maupun kedua, tidak kutemukan keberadaannya. Hatiku kembali berdebar, takut Khansa benar-benar akan pergi dari hidupku lagi.


Menginjak lantai pertama, perasaan lega datang menghampiri ketika kudengar sayup-sayup suaranya yang berasal dari arah pantry. Aku berlari-lari kecil menuju asal suara.


Dari pintu dapur, aku melihat sosoknya. Perasaan lega tak terkira datang menghampiri. Aku menyandarkan tubuh di daun pintu sembari memperhatikannya lekat-lekat.


Khansa tampak berbicara dengan santai dan penuh canda bersama ART. Melihat hal itu membuat perasaanku melembut. Secara perlahan aku mendekatinya. ART menyadari keberadaanku dan terlihat terkejut. Aku memberi kode kepadanya untuk menjauh secara perlahan dari ruangan itu.


"Mbak Asih penasaran aku darimana? Aku dari kota kecil di Jatim Mbak. Waktu aku kecil, makan seperti ini saja sudah suatu kemewahan. Dulu aku makan mie satu bungkus dibagi tiga orang..." ucap Khansa. Dia tidak sadar bahwa orang yang diajaknya bicara mulai meninggalkan ruangan itu secara diam-diam.


Aku tiba tepat di belakang Khansa tanpa wanita itu sadari. Secara perlahan namun tegas tanganku mulai melilit tubuhnya dan,


"Tapi sekarang Kamu bisa makan apa saja sepuasmu sayang, cup... cup... cup..." Kukecupi bahu, tengkuk dan pipinya secar bertubi-tubi. Tubuh Khansa menegang, mungkin dia terkejut dengan kedatanganku yang begitu tiba-tiba.


Pelukan itu semakin kupererat. Bibirku masih tak berhenti mengecupinya sembari mengungkapkan kerinduan terhadapnya. Beberapa kali aku mengungkapkan perasaan, namun Khansa tak bergeming. Dia tidak merespon apapun perkataanku. Bahkan dia seolah-olah menganggapku tidak ada. Khansa kenapa? Apa aku telah melakukan kesalahan?


***

__ADS_1


Happy Reading 🤗


__ADS_2