Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 52 - Aku Tidak Mau Berpisah


__ADS_3

"Dia dimana Ma? Aku ingin menemuinya, huuuu..."


"Lho, kenapa jadi nangis gini? Mbak, kenapa putri kita nangis?" Mama menatap Ibu yang bergerak ke arahnya sembari tetap menahan tubuh Khansa yang bergetar karena tangis.


"Sudah jelas dia mau bertemu suaminya Dek. Jangan dihalang-halangi,"


"Sayang, kamu beneran mau ketemu Alex? Kenapa? Bukankah kamu ingin pisah darinya? Kenapa repot-repot menemuinya? Hem?" Mama kembali merangkum wajah Khansa. Menatap wajah beruraian airmata itu lekat-lekat.


"Ma... A-aku me-menyesal... A-aku ingin menemuinya... D-dimana dia Ma?"


"Menyesal karena apa? Tidak ada yang patut untuk disesali sayang,"


"A-aku ingin melihatnya Ma... Dia sakit apa? K-kenapa harus dirawat juga? A-apakah kondisinya parah??"


"Kenapa kamu peduli sayang? Bukankah kamu sudah meminta untuk berpisah? Untuk apa peduli padanya..." Khansa menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa putus asa karena Mama sepertinya sengaja untuk menghalang-halanginya untuk bertemu dengan Alex.


"Ti-tidak Ma..." ucap Khansa terbata-bata.


"Tidak apa?" desak Mama dengan nada memancing.


"Aku tidak mau pisah Ma. Aku tidak mau. Ijinkan aku bertemu dengannya Ma... A-aku menyesal Ma... Aku mohon... Huuuu..." Khansa kembali menangis. Mama segera meraih tubuh Khansa dalam pelukan. Hembusan napas lega terdengar secara bersamaan. Mama dan Ibu saling memandang dengan tatapan penuh arti, sementara senyum kecil tersungging di bibir mereka, seolah-olah mengatakan bahwa taktik yang digunakan telah berhasil.


"Baiklah, jangan menangis lagi sayang. Kamu ingin bertemu si bodoh? Ayo, Mama bantu untuk siap-siap ya,"


***


Kondisi tubuh Khansa yang membutuhkan bedrest membuatnya tidak boleh terlalu lama berada dalam posisi berdiri. Untuk itu dokter Afifah menyarankannya untuk menggunakan kursi roda di setiap aktivitasnya.


Sebenarnya dokter Afifah melarang Khansa untuk turun dari ranjang, namun wanita itu memaksa. Hatinya berkecamuk memikirkan Alex. Dia tidak akan pernah tenang sebelum melihat Alex secara langsung. Memikirkan kondisi emosi Khansa yang sedang naik turun, pada akhirnya dokter Afifah mengijinkan Khansa untuk menemui Alex.

__ADS_1


Ayah membantu Khansa. Beliau menggendong tubuh putrinya itu dan mendudukannya di kursi roda. Sebelum itu telah terjadi drama kecil di antara keduanya, yang intinya Ayah meminta maaf atas segala sikap dinginnya selama ini. Mereka berpelukan dan saling memaafkan.


Ayah mendorong kursi roda itu dengan ditemani beberapa keluarga. Melewati koridor demi koridor rumah sakit hingga akhirnya mereka berhenti di depan pintu sebuah kamar.


"Sampai di sini saja Yah..."


"Yakin tidak mau ditemani?"


"Tidak Yah. Khansa pergi sendiri saja."


"Baiklah Nduk. Semoga kalian cepat menyelesaikan kesalahpahaman kalian ya,"


"Iya Ayah, terima kasih banyak..."


"Sekali lagi Ayah minta maaf. Ayah tidak menyangka keputusan Ayah untuk membuat kalian menikah siri akan membuat putri Ayah menderita. Ayah menyesal Nduk..."


"Khansa juga menyesal, karena sudah membuat Ayah malu..." keduanya saling bertatapan dengan mata berkaca-kaca, kemudian saling memeluk satu sama lain. Begitu lega hati Khansa, kini dia tahu orangtuanya tidak setega itu untuk membuangnya. Orangtuanya masih menyayanginya.


"Dia di dalam. Masuklah..." ucapnya pelan sembari membuka pintu lebar-lebar. Khansa secara perlahan turun dari kursi roda dan melangkah memasuki kamar itu.


"Kami akan meninggalkan kalian. Selesaikanlah masalah kalian." Selesai berkata seperti itu, Dino menutup pintu itu dari luar. Seolah-olah ingin mengunci pasangan bodoh itu dan tidak akan pernah membuka ruangan itu sebelum keduanya benar-benar berdamai.


Selepas Dino menguncinya dari luar, Khansa merasa gamang. Dia begitu bingung harus bersikap seperti apa? Baru beberapa saat yang lalu, dia bersikeras untuk meminta berpisah dari Alex. Namun sejurus kemudian dia mengubah pikirannya. Apakah Alex tidak akan menganggapnya aneh? Terlalu plin-plan? Bagaimana kalau kali ini Alex yang menolaknya?


Ah, kenapa pikirannya jadi kemana-mana? Bukankah dirinya kemari untuk menemui Alex yang tengah sakit? Sebenarnya sakit apa...


"Hoeeekkk... Hoooeeeek... Hooooeeek..." Khansa mendengar suara orang yang sedang muntah di toilet. Baru Khansa sadari, ruang perawatan VVIP yang luas itu kosong. Tidak ada pasien di ranjang itu. Sepertinya si pasien tengah berada di toilet?


"Hoooeekkk... D-din... Bantu aku... Hoooooeeekkk..."

__ADS_1


DEG


Khansa mendengar suara lemah Alex berasal dari toilet. Hatinya sakit sekaligus khawatir. Dengan langkah tergesa-gesa dia menghampiri toilet yang pintunya setengah tertutup itu.


Khansa melihat pria menyedihkan itu tengah membungkuk membelakanginya. Memuntahkan semua isi perutnya. Satu tangannya memegang perutnya, sementara tangannya yang lain berusaha memegang dinding, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Tanpa Khansa sadari, airmatanya telah jatuh. Hatinya sakit melihat kondisi pria yang dicintainya itu begitu menyedihkan. Secara perlahan tubuhnya bergerak mendekati tubuh pria itu. Ingin rasanya Khansa memeluk tubuh yang terlihat rapuh itu dari belakang. Namun dia sadar, tubuh pria itu sedang tidak bisa dijadikan sandaran. Si pemilik tubuh sedang dalam kondisi lemah sekarang.


Alih-alih memeluk tubuh Alex dari belakang, Khansa justru menepuk-nepuk punggung pria itu. Menggosok-gosoknya, berharap dengan melakukan hal itu, akan membuat si pemilik tubuh membaik. Khansa tak bisa menahan airmatanya yang jatuh tak berkesudahan.


"Din.. Kenapa...aku...masih...mual... Padahal...sudah...dimuntahkan...semua..." suara Alex terdengar lemah dan terbata-bata. Keringat dingin membasahi dahinya. Wajahnya terlihat pucat dan pias. Seolah-olah darah tak lagi mengalir dari tubuhnya.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Khansa sudah tidak bisa menahan isakannya. Tangisnya pecah bersamaan dengan tangannya yang merengkuh tubuh Alex dari belakang. Tubuh Alex terdorong ke depan, namun dengan refleks tangan laki-laki itu berpegangan pada tembok untuk menahan mereka berdua agar tidak terjatuh.


"Ma-maaf... Maaf... Maaf..." Khansa menangis sejadi-jadinya. Lirihan kata maaf tak henti-hentinya keluar dari mulutnya, sementara tangannya merengkuh tubuh Alex dengan erat, begitu enggan untuk melepaskan.


"Maaf... Mas... Maafin aku... Huuuu... Ke-kenapa kamu jadi begini? Huuuu... Ke-kenapa sakit begini? Huuuu..."


Tubuh Alex langsung menegang begitu mendengar suara yang begitu dirindukannya itu. Dia merasa sedang bermimpi, tapi mengapa perasaan ini terasa begitu nyata? Mengapa pelukan ini terasa sangat hangat? Mengapa punggungnya juga terasa basah oleh airmata? Mengapa tangisan itu juga terasa nyata?


Alex menatap tangan putih yang tengah memeluk tubuhnya dengan erat. Dia menggerak-gerakkan kepalanya, berharap dengan melakukan hal itu akan membuatnya segera terbangun dari mimpi indahnya. Beberapa kali dia melakukan hal itu, namun pelukan erat dan suara isakan masih di dengarnya.


Alex memberanikan diri untuk memegang tangan itu. Dan... Jantungnya seolah terlepas dari rongga dada begitu dia menyadari bahwa tangan itu benar-benar nyata.


Alex memegang tangan itu dengan erat, seolah-olah takut tangan itu akan menjauh dari tubuhnya. Tanpa melepas pegangannya, dia memutar tubuhnya dengan cepat untuk melihat si pemilik tangan.


Kilatan ekspresi memenuhi wajahnya. Terkejut, bingung, haru, dan bahagia menjadi satu.


"Sa-sayang??" ucapnya tertahan.

__ADS_1


***


Happy Reading 😁


__ADS_2