
Khansa menatap wanita di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hal itu dilakukannya secara berulang-ulang. Ia tidak percaya dengan penglihatannya.
"Aku tahu tatapan itu, hihihi. Semua teman-teman menatapku dengan pandangan seperti itu, hehe..." Briana berkata dengan santai. Dia memegang tangan Khansa dan meremasnya dengan lembut.
"Meskipun sangat terlambat, tapi aku ucapkan selamat atas pernikahanmu say. Maaf aku tidak bisa hadir. Waktu itu aku sedang di LN bersama suamiku. Tidak disangka kita bertemu kembali," Briana berdecak kagum. Melihat kehidupan rumah tangga Alex dan Khansa yang harmonis.
"Entah mengapa dari dulu aku sudah memiliki feeling kalian akan bersama. Dan ternyata feelingku benar, bla...bla...bla..." Briana mulai berbicara ngalor-ngidul. Khansa masih tidak percaya dengan penglihatannya. Bagaimana mungkin seorang gadis cantik itu berubah sedemikian drastis?
Tubuh langsing, paras cantik dan raut wajah sombong tidak ada lagi dalam dirinya. Kini yang berada di depannya adalah seorang wanita berusia tiga puluhan dengan berat badan lebih dari 100 kg lebih dan dandanan tebal.
Briana menceritakan bahwa setelah melahirkan anak kedua tubuhnya tak bisa kembali langsing lagi. Hal itu ditambah dengan kebangkrutan perusahaan sang suami, membuatnya tak bisa merawat diri lagi. Tujuan Briana dan suaminya datang menemui Alex adalah untuk meminta pekerjaan. Alex dengan senang hati membantu keluarga itu dan memberi pekerjaan yang layak untuk suami Diana sesuai dengan kapasitasnya yang mantan seorang pengusaha.
***
Selepas kejadian itu, Khansa kembali ceria. Wanita itu banyak tersenyum dan memberikan ciuman-ciuman kecil untuk suaminya. Alex merasa sangat lega. Kebahagiaan istrinya adalah yang paling utama.
Malam itu Alex pulang sedikit terlambat. Dia harus berkunjung ke beberapa laboratorium untuk memeriksa perkembangan teknologi nano partikelnya yang ia kembangkan di bidang elektronik.
Meskipun sangat sibuk, tapi Alex selalu meluangkan waktunya untuk memberi kabar pada Khansa. Kali ini pun tak terkecuali. Namun sayangnya tak ada jawaban dari istrinya. Mungkinkah Khansa sudah tidur?
Alex menatap jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Wajar bila istrinya tidak menjawab pesan dan teleponnya. Wanita itu pasti kelelahan. Tidak mudah mengurus dua bocah yang sangat aktif seperti putra-putrinya. Ditambah lagi saat ini istrinya itu tengah hamil besar. Mengingat hal itu selalu berhasil membuat perasaan cintanya tumbuh semakin besar.
Alex semakin tidak sabar untuk segera tiba di rumah dan meluapkan perasaan cintanya.
"Cepat. Aku ingin segera tiba di rumah." ucap Alex pada sopirnya.
"Baik Pak,"
Dua puluh menit kemudian, pria itu menjejakkan kakinya di rumah hangat mereka. Pria itu berlari-lari kecil. Sangat tidak sabar untuk bertemu dan memeluk kesayangannya.
Rumah terlihat sangat sepi. Semua penghuni terlihat sudah tidur. Alex berniat untuk naik ke lantai tiga ketika dikejutkan oleh suara dari arah ruang makan.
"Selamat datang Mas..." terdengar suara manja yang dirindukannya sepanjang hari. Alex membalikkan tubuhnya.
Pria itu tercekat. Ia berusaha keras menelan ludah untuk membasahi tenggorakannya yang kering. Pupil matanya membesar dan menggelap, sementara tubuhnya mulai memanas.
Alex menatap istrinya dari atas ke bawah. Menatap dengan tajam tanpa menyisakan detail sekecil apapun. Tatapannya bagai laser yang menembus tubuh Khansa.
__ADS_1
Khansa tengah memakai jaket kebesaran miliknya. Membiarkan risletingnya terbuka sehingga lingerie berwarna hitam yang dipakainya tampak terlihat sempurna. Lingerie itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih, menambah keseksian tersendiri.
Mata Alex berkabut oleh gairah. Tubuhnya sudah membara. Secara perlahan ia mendekati istrinya. Selangkah demi selangkah. Matanya mengunci mata Khansa. Tidak membiarkan wanita itu lepas dari pandangannya.
Alex bisa merasakan bahwa wajah Khansa mulai memerah. Kepercayaan diri wanita itu mulai hilang digantikan oleh perasaan malu. Namun keteguhan di matanya membuat Khansa memberanikan diri melancarkan rencananya. Khansa berusaha untuk tenang. Ia bersandar di daun pintu sembari menunggu suaminya datang mendekat.
Kini jarak mereka hanya tersisa sejengkal. Hembusan napas memburu dapat wanita itu rasakan. Khansa melabuhkan tangannya di kerah baju suaminya dengan sedikit memainkan jari-jemarinya. Wanita itu mendekatkan wajahnya dan meniupkan napas hangatnya di telinga suaminya.
"Mau makan malam Mas?" bisiknya lirih penuh dengan desahan. Dalam sekejab mata Alex meraih tubuh itu dan menggendongnya dalam dekapan. Khansa mengalungkan tangannya dengan manja.
"Ya. Aku akan memakanmu. Siapkan dirimu sayang," dengus Alex penuh damba sebelum akhirnya bibir itu menyambar bibir istrinya penuh nafsu.
Khansa mendekap kepala Alex. Membiarkan bibir mereka bertautan dengan lebih dalam. Menyesap kehangatan dan kelembutan yang ditawarkan. Mereguk dan mengecap rasa manis satu sama lain.
Baru tiga hari mereka tidak melakukannya, namun rasanya seperti sudah sangat lama sekali. Alex merindukan masa-masa intens bersama istrinya. Keinginan ini begitu membuncah, hingga bisa meledakkan tubuhnya.
Sesapan dan pertautan bibir masih terjalin, sementara langkah demi langkah semakin mendekatkan mereka pada ruang dimana peleburan kenikmatan akan terjadi.
Alex membuka ruang itu dengan kakinya. Bibirnya tak pernah meninggalkan kehangatan yang ditawarkan oleh istrinya. Pikirannya hanya terfokus pada Khansa, Khansa dan Khansa. Tanpa sadar ekor matanya menangkap pintu penghubung kamar mereka.
Alex menarik wajahnya. Menatap wajah istrinya yang tengah bersemu merah dengan bibir bengkak. Secara perlahan wanita itu membuka matanya. Tatapan mereka bertemu.
"Mereka sudah tidur..."
"Yakin?"
"Ya..."
"Yes!!"
"Ukhhhmmm!!" Dan pergumulan dua insan saling mencinta itu pun terjadi.
***
Khansa menahan getaran tubuhnya. Napasnya terengah-engah, sementara gelenyar kenikmatan masih dirasakan oleh seluruh tubuhnya. Pelepasan ini sungguh sangat nikmat dirasakannya.
Khansa masih memejamkan mata. Menikmati sisa-sisa pelepasan, sementara ciuman-ciuman kecil dirasakan di seluruh wajahnya. Tubuhnya direngkuh dan bergelung di dada hangat suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, terima kasih," Khansa mendengar suara itu sayup-sayup. Ucapan terima kasih dan kecupan lembut yang selalu diberikan suaminya seusai mereka bercinta.
Khansa sudah akan mencapai dunia mimpi ketika ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir cukup deras di sela-sela kakinya. Seketika wanita itu membuka mata lebar-lebar dan duduk dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Alex bingung sembari ikut duduk juga.
Khansa menyentuh cairan bening dan sedikit kental itu. Kemudian ia menciumnya. Tidak ada bau sama. Khansa menunjukkan cairan itu pada Alex dan berkata dengan tenang.
"Sepertinya ketubanku sudah pecah Mas..."
"A-APAA?!!"
***
Mau itu anak pertama, kedua, ketiga atau pun kesekian sepertinya tidak akan banyak berpengaruh pada Alex. Pria itu tetap panik dan heboh seperti sebelum-belumnya. Sementara Khansa, tetap tenang seperti biasanya.
Kehebohan itu berakhir dua jam kemudian setelah bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu lahir ke dunia dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Alex menatap takjub keindahan yang ada di depan matanya.
Airmata kebahagiaan kembali mengalir di pipinya. Usai mengadzani dan membacakan qamat, Alex memberikan bayi mungil itu pada istrinya untuk disusui.
"Mau diberi nama siapa Mas?" tanya Khansa. Entah mengapa bila menyangkut nama anak, Khansa selalu berdebar-debar. Berpikir, nama apalagi yang akan diberikan suaminya pada anak mereka.
"Dia akan kuberi nama..."
***
BONCHAP END 🎉🎊
NB : Kira-kira nama apa yang cocok untuk anak ketiga Papa Al dan Mama Khansa ya? Ada ide? ðŸ¤
Oh ya, maaf kalau bonchapnya gak sesuai harapan. Bonchap ini hanya untuk yang kangen dengan kisah Papa Al dan Mama Khansa 😊
Beteweh, pengumuman pemenang giveaway sudah di post di igeh ya @erka3162. Silakan di cek, mungkin saja ada nama kalian di sana. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya 😙😚🤗🤗
[Untuk pemenang bisa langsung DM di igeh @erka3162 😙]
__ADS_1