Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 58 - Acara Pernikahan & Mitoni


__ADS_3

Pagi itu disambut dengan kehebohan BuPres yang datang ke rumah Alex. Beliau mengajak keluarga besar untuk kembali berkumpul.


Mereka sedang berada di ruang tamu. Papa duduk bersebelahan dengan Ayah, sementara Ibu duduk di sebelah Mama. Alex dan Aaron masing-masing berdiri di sebelah Khansa maupun Diana yang tengah duduk di sofa. Sementara Fian masih tidur, tidak mau tahu urusan orang dewasa.


"Anak kita benar-benar bermasalah Pa. Dua-duanya menghamili anak gadis orang. Benar-benar memalukan!"


"Bukan berita baru lagi Ma. Kenapa Mama heboh lagi sekarang?" Papa bertanya dengan santai.


"Ya heboh dong Pa. Tadi malam Papa enak-enakan tidur, sementara Mama nggak bisa tidur. Kepala Mama pusing Pa. Yang satu belum nikah, yang satu lagi menikah setelah kandungannya membesar. Pusing kepala Mama Pa,"


"Kenapa pusing-pusing sih Ma? Ya tinggal dinikahkan saja."


"Ya, Mama akan menikahkan mereka. Tapi sebelum itu... Aaron, Alex!! Kemari kalian!" Mama memanggil Alex dan Aaron untuk mendekat. Kedua pria itu saling berpandangan, tampak was-was. Berpikir, hal apalagi kali ini yang akan dilakukan oleh Mama?


"Dipanggil Mama Mas. Sana mendekat..." Khansa menepuk lengan Alex. Mata pria itu menghiba. Dia menyadari ada hal tidak mengenakkan yang akan terjadi.


"Alex!! Aaron!! Sini!!"


"Iya Ma," akhirnya kedua pria bertubuh besar itu mendekat pada Mama yang memperlakukan mereka seperti anak kecil. Setelah jarak jangkauannya cukup, Mama langsung menarik rambut keduanya bersamaan.


"Auuuuww, auuuww, Ma, lepas." Alex menghiba-hiba, begitu pula dengan Aaron. Meminta pertolongan pada pasangan masing-masing.


"Yuan Aaron Seanan, Yohan Alexander, dengarkan Mama ngomong!"


"Iya Ma," sahut keduanya bersamaan. Mereka bagaikan anak kecil yang ketahuan berbuat nakal. Khansa maupun Diana tertawa geli melihat mereka.


"Aaron, kamu harus segera menikahi Diana. Mama heran ya sama kamu!! Dari dulu Mama menyuruhmu untuk menikahinya, namun kamu selalu mengelak. Apa kamu memang hanya berniat menghamilinya?! Tanpa menikahinya? Tanggung jawab kamu!!" Mama semakin mengeratkan jambakan di rambut Aaron, membuat Aaron meringis kesakitan, sementara Alex tertawa melihat kakaknya. Sepertinya pria itu puas karena tidak hanya dirinya saja yang menerima amukan mamanya, melainkan Aaron juga.


"Ampun Ma, ampun. Aku memang berniat menikahinya Ma. Lepas dulu Ma. Kami bukan anak kecil lagi." Diana langsung berdiri dan memeluk Aaron, mencegah BuPres untuk menjambak rambut pria tercintanya.


"Ma, lepasin dong Ma. Kasihan Kakak Ma. Dia baru sembuh Ma..." Mendengar rengekan menantunya, membuat Mama melepaskan cekalan tangannya di rambut Aaron, sementara tangan satunya masih tetap menjambak rambut Alex.


"Ma, lepasin aku juga. Ada mertuaku Ma. Jangan mempermalukanku seperti ini." bisik Alex. Wajahnya memerah karena malu diperlakukan seperti itu di depan mertuanya.


Ayah tampak sibuk mengobrol dengan Papa, Ibu melihat Alex dengan wajah khawatir dan penuh kasihan, sementara Khansa? Hanya tertawa melihatnya diperlakukan seperti itu.


"Yank, bantu aku," ucap Alex memelas sembari menatap Khansa.

__ADS_1


Bukannya membantu, Khansa malah tertawa dan mengompori Mama. "Terus jambak Ma. Beri dia hukuman,"


"Nah, istrimu saja ingin memberimu hukuman Al. Benar-benar keterlaluan kamu ya!" Mama semakin mengencangkan cekalan tangannya di rambut Alex membuat pria itu mengaduh kesakitan. Ibu yang tidak tega melihat Alex diperlakukan seperti itu pada akhirnya turun tangan dan membujuk Mama untuk melepas Alex.


"Ingat ya putri-putrinya Mama. Kalau suami kalian macam-macam, segera laporkan ke Mama. Biar Mama yang memberinya pelajaran!"


"Siap Ma," ucap Khansa, sementara Diana tidak menjawab. Dia terlalu sibuk memeluk Aaron.


"Jahat kamu yank. Gimana kalau kepalaku botak? Sakit nih." Alex bersimpuh di depan Khansa dan mengangsurkan kepalanya, minta di kasihani.


"Duh kasihan sekali suamiku. Coba sini aku lihat," Khansa berpura-pura meniup-niup kepala Alex sembari mengelus-ngelus rambutnya layaknya mengelus seekor kucing. Diperlakukan seperti itu membuat Alex semakin manja, membuat Mama semakin muak melihatnya.


"Aaron dan Diana, kalian harus segera menikah. Untuk sementara siri dulu tidak apa-apa. Nanti kalian kami nikahkan lagi selepas melahirkan. Begitu pula dengan Alex dan Khansa. Mengerti?!"


"Iya Ma," jawab keduanya.


"Oh ya Mbak, apa acara mitoni (tujuh bulanan) sudah dilakukan? Harusnya sudah ya Mbak, mengingat kandungan Khansa sudah mau delapan bulan..."


"Belum Dek. Bagaimana mau di selameti (syukuran) kalau kita juga baru tahu Dek..." Ibu menghela napas panjang.


"Jadi Mbak juga baru tahu tentang kehamilan Khansa? Ya ampun, benar-benar deh anak kita ini Mbak. Semua ini pasti salah anakku." Mama kembali mendekat pada Alex dan memukul punggungnya, "Semua ini pasti salahmu kan?! Dasar anak ini!"


***


Papa dan Mama mengundang keluarga Diana untuk datang ke Jakarta. Mereka membicarakan pernikahan kedua putra-putri mereka. Meskipun tidak puas, keluarga Diana harus menerima keputusan sementara ini.


Pernikahan itu dilangsungkan keesokan harinya di rumah kediaman Aaron. Sebuah pernikahan sederhana, namun syarat akan makna. Diana menangis terharu ketika Aaron mengucapkan ijab kabul. Tangisnya semakin pecah ketika para saksi mengucapkan kata "sah."


Dari matanya, Khansa bisa menilai bahwa cinta Diana untuk Aaron sangatlah besar. Betapa memalukannya dulu ia mengira Diana adalah istri Alex dan cemburu buta terhadapnya? Bila mengingat hal memalukan itu, ingin rasanya dia menyembunyikan wajahnya di lubang semut agar tidak ada yang bisa melihatnya.


Acara itu selesai dengan lancar. Tidak banyak yang datang, hanya keluarga inti saja. Kemudian acara dilanjutkan dengan ramah tamah ala kadarnya.


Keesokan harinya, dilanjutkan dengan acara mitoni (tujuh bulanan) Khansa. Baik di acara pernikahan Aaron Diana ataupun mitoni Khansa, Mama tak henti-hentinya menangis. Beliau membayangkan akan mengadakan kedua acara itu dengan sangat mewah di kota kelahiran mereka. Mengundang para pejabat daerah yang berpengaruh, rekan bisnis, dan warga. Menunjukkan pada seluruh dunia bahwa dirinya memiliki menantu. Tapi impian itu harus pudar karena ulah kedua putra-putra mereka yang tak ada akhlak.


Meskipun sederhana, namun acara mitoni itu dilakukan step by step. Dimulai dari acara siraman yang dilakukan oleh tujuh kerabat terdekat. Dilanjutkan dengan brojolan yang bertujuan agar bayi bisa lahir ke dunia dengan selamat. Kemudian prosesi angreman, mecah kelapa hingga ditutup dengan prosesi dodol rujak (menjual rujak).


Semua tahapan acara itu dilakukan selama setengah hari. Setelah selesai, keluarga besar kembali berkumpul di ruang tamu.

__ADS_1


"Aaron dan Diana sudah menikah. Untuk calon bayi Alex dan Khansa juga sudah dilakukan acara mitoni. Untuk sementara pekerjaan rumah kita sebagai orangtua telah selesai. Kami akan pulang ke kota J dulu. Nanti menjelang kalian akan melahirkan, kami akan ke sini lagi." ucap Papa menutup hari itu.


***


"Kenapa nggak tidur?" Khansa mencubit pipi Alex. Mereka sedang berbaring di kamar saling berhadap-hadapan. Alex tengah menatapnya dengan tatapan intens.


"Aku masih nggak nyangka."


"Nggak nyangka apa?"


"Kalau kamu sayang sama aku. Katakan lagi yank,"


"Katakan apa?"


"Katakan kamu sayang aku,"


"Berkali-kali kamu sudah memintanya hari ini Mas. Aku capek, mau tidur..."


"Tapi aku masih belum puas sayang. Aku masih nggak nyangka. Terkadang aku berpikir bahwa semua ini hanya mimpi. Gadis yang memenuhi duniaku selama separuh hidupku ternyata juga mencintaiku. Bisa kamu bayangkan bagaimana perasaanku yank?" Alex mengambil tangan Khansa dan membawanya ke dadanya. "Bahkan sekarang pun jantungku berdebar-debar hanya karena dekat denganmu yank. Jantung ini menunjukkan betap besar perasaanku untukmu..."


Mereka saling bertatap-tatapan. Mata Khansa mulai berkaca-kaca. Bukan Alex saja yang merasa demikian, pun dirinya merasakan hal yang sama.


Khansa menarik tangan Alex dan meletakkan tangan itu di dadanya. Membuat Alex juga merasakan debaran yang dirasakannya.


"Tidak hanya kamu yang merasakan hal itu Mas. Aku pun merasakan hal yang sama. Jantung ini hanya berdebar untukmu. Tidak pernah sekalipun ada debaran untuk laki-laki yang lain..." ucapnya lirih. Menatap Alex dengan penuh cinta.


Awalnya tatapan Alex sangat lembut, namun sedikit demi sedikit tatapan itu berubah menjadi tatapan yang lain.


"Se-sepertinya aku juga merasakan perasaan yang lain yank..."


"Hah?" Khansa menatap Alex dengan kebingungan. Alex mengambil tangan Khansa yang bebas dan meletakkannya di bagian tubuhnya yang menonjol, sementara tangannya meremas bukit kembar Khansa dengan gemas.


"Aku, juga merasakan perasaan yang lain yank..." ucapnya penuh gairah.


"Mas!!" Khansa langsung mencubit bagian tubuh Alex yang menegang itu serta menepis tangan nakal Alex yang bertengger di dadanya!! Ckckckck 🤦‍♀


***

__ADS_1


Happy Reading 🤗


NB : Maaf hanya 1 chapter, nyampe rumah jam 11 🙏 Kemarin nggak update gara-gara 2 hari ini closing date. Untuk info update/tidaknya bisa follow igehku ya @erka3162. Terima kasih 😚


__ADS_2