
Mama benar-benar marah. Aku tidak mengerti mengapa beliau harus semarah ini. Ibu dan Ayah melerai kami. Menyuruh Mama untuk tenang dan membicarakan hal ini.
"Mama tidak mau tahu. Pokoknya bujuk dia untuk merubah keputusannya. Lakukan berbagai cara." Mama terlihat cemberut. Dari raut wajahnya, beliau masih tampak ingin mencakar-cakar wajahku.
"Iya Ma. Tujuanku kemari juga ingin menyelesaikan masalah kami. Aku tidak yakin bisa membujuknya, untuk itu aku ingin meminta bantuan Ayah dan Ibu. Mungkin saja bila beliau yang membujuknya, Khansa akan berubah pikiran..."
"Jangan mengandalkan orangtua. Pakai usahamu sendiri Al. Dasar anak tidak berguna!"
"Sudah, sudah Ma. Anak sedang kesusahan kok dimarahin terus. Ayo kita pikirkan masalah ini bersama-sama," Papa mencoba menengahi.
"Dia anakmu Pa. Mama tidak melahirkan anak tidak berguna seperti itu. Kamu sama seperti dia Pa. Sama-sama tidak peka." Mama masih mengomel, sementara Papa berusaha mengambil hati Mama.
Lama kami berpikir, mencari solusi yang tepat untuk mengubah keputusan Khansa. Ayah dan Ibu menawarkan diri untuk berbicara dengan Khansa, namun Mama melarangnya. Mama ingin aku berjuang dengan usahaku sendiri. Dasar Mama, sebenarnya aku anak beliau atau bukan sih?
"Al, bagaimana kalian menikah?" tanya Mama begitu tiba-tiba. Aku menceritakan kronologinya. Mama semakin gemas melihatku.
"Jadi kamu tidak melamarnya? Membawanya ke tempat yang bagus dan memberinya cincin indah?"
"Ti-tidak Ma. Apakah itu perlu?" Dan lagi-lagi aku mendapat jambakan di rambutku. Dari aku kecil hingga dewasa seperti ini, kebiasaan BuPres tidak pernah berubah, selalu menjadikan rambutku sebagai sasaran kemarahannya.
"Segera lamar dia!! Semua wanita butuh hal-hal romantis. Bawa dia ke tempat yang bagus dan lamar dengan kata-kata yang indah. Ingat untuk membelikannya cincin juga!!" sabda BuPres yang terhormat. Aku hanya bisa mengiyakan ucapan beliau.
***
Malam itu kami memutuskan untuk menginap di rumah keluarga Khansa. Keesokan harinya kami mulai mengatur rencana seperti yang disarankan Mama.
Menurut Mama, wanita akan lebih senang bila dilamar diantara orang-orang yang disayanginya.
Aku menghubungi Winda dan menyuruhnya untuk mengatur semua persiapan. Meliputi pemesanan gedung, dekorasi dan segala pernak-pernik untuk lamaran.
Mama menyuruhku untuk menghubungi teman-teman terdekat Khansa, karena menurut Mama hal itu akan membuat Khansa senang.
__ADS_1
Teman Khansa terdekat yang kutahu hanya Sizil. Mengajak Sizil pergi ke Jakarta, itu artinya satu paket dengan pria itu. Entah sejak kapan, Sizil menjadi dekat dengan Andre sehingga pria itu memutuskan mengikuti kemanapun Sizil pergi.
Aku merasa lega sekaligus malu. Lega karena ternyata Andre benar-benar tidak ada niatan untuk mengganggu Khansa lagi. Malu karena mengingat pertemuan terakhir kami.
Aku juga menghubungi Dino. Aku ingin mengajak sahabat terdekat yang menyaksikan jatuh bangun hubungan kami dari awal sampai akhir itu. Aku ingin dia melihat perjuanganku untuk mendapatkan Khansa kembali.
Mama juga menghubungi Diana. Beliau menceritakan rencana lamaran itu. Diana tampak antusias. Dia berjanji akan datang bersama Aaron.
Setelah semua rencana selesai, kami memutuskan untuk berangkat ke Jakarta bersama-sama.
***
"Winda, apa Kamu sudah bersamanya?" tanyaku via telepon.
"Iya Bapak. Saya sedang bersama Ibu. Beliau sedang berganti baju. Saya juga membantunya berhias."
"Bagus Winda. Buat dia secantik mungkin. Oh, aku lupa. Kamu tidak perlu membuatnya cantik. Karena tanpa riasan pun dia sudah sangat cantik. Dia wanita tercantik di muka bumi ini."
"Ehm, i-iya Pak..." (Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Winda ketika mendengar kebucinan seorang Yohan? Mungkin saja Winda sedang muntah-muntah tanpa sepengetahuan bosnya itu 🤮)
"Al, kenapa kamu membawa kotak besar itu? Apa isinya?" tanya Mama menatap kotak perhiasan besar yang kubawa.
"Oh, ini cincin Ma. Mama menyuruhku untuk membeli cincin kan."
"Kenapa tempatnya sangat besar? Coba Mama lihat isinya." Aku membiarkan rasa ingin tahu Mama terpuaskan. Kubuka tutup kotak berwarna merah berukuran 15 cm x 6 cm itu dan menunjukkan isinya pada Mama.
"Al? Kenapa banyak sekali cincinnya?! Satu, dua, tiga, tujuh, sepuluh?! Mengapa ada sepuluh cincin?! Untuk apa cincin sebanyak ini?!"
"Jari-jari tangan Khansa sangat polos Ma. Tidak ada satupun perhiasan di jemarinya. Aku ingin mengisi jemarinya dengan cincin-cincin ini."
"Jadi kamu menyuruh Khansa untuk memakai keseluruhan cincin ini?!"
__ADS_1
"Iya."
"Dasar bodoh!! Kenapa aku melahirkan anak sebodoh ini!! Papa, anakmu bodoh sekali Pa!!" Mama kembali menjewer telingaku. Semua yang hadir disitu menyaksikan pertunjukkan itu dan semuanya tertawa geli. Aku benar-benar malu!!
Acara lamaran itu dihadiri oleh Papa, Mama, Ayah, Ibu, Fian, Diana, Aaron, Sizil, Andre, serta Dino dan istrinya. Tidak masalah semua orang menertawakanku, asalkan bukan laki-laki itu. Sungguh aku tidak memiliki muka lagi.
"Al, cintamu datang." Diana menunjuk arah pintu masuk. Mama segera melepaskan tangannya dari telingaku dan mengikuti arah yang ditunjuk Diana, begitu pula dengan diriku.
DEG
Ya Tuhan, mengapa dia cantik sekali? Benarkah Tuhan menciptakan mahluk secantik itu untukku? Bahkan dengan perutnya yang membesar tidak mengurangi kecantikannya. Aku begitu tertegun dibuatnya.
Khansa menggunakan gaun berwarna pink yang kubelikan. Baju itu senada dengan tas dan juga sepatunya. Sengaja aku membelikannya baju berwarna pink karena aku sangat suka ketika dia memakai baju bernuansa warna itu.
Aku berdiri dan melangkah menghampirinya. Setiap langkah yang mendekatkanku padanya membuat jantungku tak bisa berhenti berdebar. Ada perasaan takut untuk ditolak, namun aku meyakinkan diri berkali-kali, bahwa mungkin ada sedikit cinta untuknya terhadapku. Memikirkan hal itu, membuatku memiliki keyakinan lima puluh satu persen bahwa Khansa akan menerima lamaranku dan menarik keputusannya untuk berpisah denganku.
Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Raut wajah Khansa tampak berubah-ubah. Dia tampak terkejut dan bingung. Mungkin dia terkejut karena melihat banyaknya orang yang kubawa untuk membujuknya menerimaku.
Raut wajah terkejut itu tiba-tiba berubah menjadi panik. Sorot mata ketakutan nampak jelas terlihat. Wajahnya berangsur-angsur menjadi pucat. Aku memiliki perasaan yang buruk dengan semua ini.
Langkahku semakin kupercepat. Dan... Benar dugaanku. Sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Kulihat tubuh Khansa mulai limbung, sementara matanya tertutup separuh. Sebelum tubuhnya menyentuh lantai yang keras, kuraih tubuhnya dengan sigap. Membawanya ke dalam pelukanku.
"Khansa!!" wanita itu pingsan dalam pelukanku.
❤️POV Alex END❤️
***
Happy Reading 🤗
NB : Terima kasih bagi yang masih setia menunggu novel ini update. Terima kasih sebanyak-banyaknya 🙏🙇♀️
__ADS_1
Sebenarnya ingin update 10 chapter, untuk menutup hari-hari novel ini libur update. Tapi apalah daya, ternyata ide yang keluar tidak sebanyak yang kubayangkan. Mohon maaf bila mengecewakan, semoga kedepannya bisa update rutin lagi 🙏
Oh ya, untuk POV Alex sudah END ya. POV selanjutnya adalah POV Author. Tetap tunggu kisah mereka ya 😚🤗 Terima kasih 🙏🙇♀️