Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 70 - Menemukan Teman yang Tulus


__ADS_3

Selesai menyusui Alkha, Khansa kembali pada kelompok wanita menyenangkan itu. Mereka kembali bercanda ria. Menceritakan bermacam-macam hal.


"Apa Mbak sudah selesai masa nifas?" tanya Alma usil. Khansa menatap Alma dengan pipi bersemu merah. Suami Alma seorang bule. Menurut orang-orang bule memiliki nafsu yang sangat tinggi. Alex bukan bule, tapi kenapa nafsunya juga tinggi?


"Sudah. Tapi aku berbohong padanya."


"Kenapa Mbak? Nggak sanggup menerima permintaannya ya?" Alma semakin usil. Meskipun usianya lebih muda, tentu saja Alma lebih berpengalaman dalam hal seperti "itu" dibanding Khansa, mengingat mentornya seorang Daniel Vieri Nathaniel, mantan seorang playboy yang insaf.


"Aku ingin memberinya kejutan. Tapi aku bingung harus melakukan apa? Aku ingin menyenangkannya..." Pipi Khansa kembali bersemu merah.


"Oh tenang saja Mbak. Aku bisa membantumu. Tanyakan apa saja, aku bisa menjawabnya." Alma berkata dengan percaya diri, membuat Nisha ingin menarik telinga adiknya yang sudah sangat dewasa itu. Mereka tengah berbincang-bincang dengan serunya ketika Khansa mendengar namanya dipanggil.


"Khansa sayang, selamat ya atas pernikahannya." Khansa berbalik dan melihat trio itu, Nela, Itha dan Mimi. Orang yang sama yang dulu pernah menghinanya. Menuduhnya menikah dengan suami orang dan menjadi pelakor. Mempermalukan keluarganya hingga membuat keluarganya pergi. Tuduhan yang tak berdasar.


Khansa menatap ketiganya dengan tatapan dingin. Pikirannya mulai bertanya-tanya, mengapa mereka sekarang menjadi begitu baik terhadapnya? Mana sikap kasar mereka sebelum-sebelumnya?


"Ada apa?" tanya Khansa dingin.


"Ya ampun Sha, kami kemari untuk mengucapkan selamat padamu. Kenapa kamu begitu cantik? Wah lihatlah, betapa cantiknya dirimu. Tubuhmu sangat langsing, kulitmu sangat halus. Pantas saja bila bintang sekolah jatuh hati padamu." Nela menggandeng tangan Khansa dengan tiba-tiba, membuat Khansa berjengit dan tanpa sadar menghempaskan tangan itu.


Khansa menyadari satu hal. Benar kata Alex. Teman-temannya di SMA begitu munafik dan bermuka dua. Dulu mereka menghinanya, menginjak-nginjaknya seolah-olah wanita paling kotor dan hina, namun sekarang lihatlah sikap mereka. Mereka menjilat, menyanjung dan memujinya. Kenapa? Ada apa? Apa karena sekarang dia adalah istri seorang Yohan Alexander? Jadi merasa bahwa dirinya sudah setara dengan mereka? Pantas masuk kumpulan dan genk mereka? Betapa piciknya pemikiran mereka?!!


"Maaf, aku tidak begitu mengenal kalian. Kita tidak seakrab itu untuk membuatmu bebas menyentuhku. Sengingatku, aku tidak pernah mengundang kalian. Kenapa kalian bisa datang?" Khansa tahu kata-katanya sangat jahat, namun dia begitu kesal mengingat perlakuan mereka sebelumnya.


"Ada apa sayang?" Tiba-tiba Alex datang dan merangkul pinggang Khansa. Menatap Khansa dengan tatapan khawatir. Dari kejauhan dia melihat raut tegang di wajah istrinya. Untuk itu ia memutuskan untuk segera datang mendekat.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa Mas..." Khansa menyembunyikan matanya dari Alex. Rasanya dia begitu malu bila Alex mengetahui kata-kata yang baru saja diucapkannya di depan teman-teman SMA mereka.


Alex seperti bisa membaca ekspresi dan perasaan Khansa. Dia merasa ada yang tidak beres. Entah mengapa dia berpikir mungkin hal itu berhubungan dengan perilaku tidak mengenakkan yang dilakukan oleh teman-teman SMA mereka di masa lalu.


"Kenapa kalian datang? Seingatku aku tidak mengundang kalian." Alex menatap satu persatu wajah-wajah itu.


"A-al... Bu-bukankah kamu mengundang seluruh teman SMA? Ba-bahkan Bapak Atmadja mengundang seluruh warga... Me-mengapa kami tidak boleh datang?" Itha menatap Alex dengan tatapan terkejut.


"Aku memang mengundang seluruh teman SMA, namun ada syaratnya. Aku akan mengusir setiap orang yang membuat istriku tidak nyaman. Melihat betapa tidak nyamannya Khansa berada di dekat kalian, aku curiga kalian pernah melakukan sesuatu kepadanya?" suara Alex sudah berubah menjadi ancaman.


"Tidak ada Mas. Mereka tidak melakukan apapun..." Khansa memegang lengan Alex. Aura seorang presdir dan mantan seorang GH mulai kembali muncul, membuat bulu kuduk Khansa ikut berdiri mendengar ucapan Alex tersebut.


"A-apa yang dikatakan Khansa be-benar Al. Ka-kami tidak melakukan apapun. Ki-kita kan teman, mana mungkin melakukan hal seperti itu? Ka-kalau begitu kami per-permisi dulu..." Mimi buru-buru berbalik dan menarik tangan kedua temannya.


"Ingat kata-kataku. Sekali kutemukan kalian berbuat seenaknya terhadap istriku, habis nasib suami kalian!!" teriak Alex, membuat beberapa orang mengalihkan pandangannya kepadanya. Khansa menahan tangan Alex, berupaya membuat pria itu agar tidak emosi.


Khansa menenangkan hati Alex hingga pada akhirnya drama kecil itu selesai. Khansa memaksa Alex untuk bergabung bersama kumpulan bapak-bapak seksi, sementara dirinya kembali pada kelompoknya. Ternyata Diana, Winda dan istri Dino sudah ikut bergabung di sana.


Beberapa saat kemudian Sizil maupun Andre pun datang. Sizil dengan bangganya memamerkan cincin pemberian Andre. Ya, tanpa disangka mereka telah bertunangan.


Kelompok kecil itu mulai kembali melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Awalnya mereka membahas apa yang terjadi beberapa saat lalu, namun Khansa mengalihkan perhatian mereka dengan membahas masa nifas. Alma tampak antusias mendengarnya.


"Aku bingung harus bagaimana," ucap Khansa.


"Aku pernah melakukannya dengan kaki." kata Alma, mengenang masa lalu.

__ADS_1


"Hah?!!" Seluruh mata langsung tertuju padanya. Alma menyadari kesalahannya. Rupanya terlalu banyak bergaul dengan Firdan dan memiliki suami yang tingkat kemesumannya tinggi membuatnya tanpa sadar ikut-ikutan mesum.


"Eh, ah maksudku... Ah, aku ceritakan sajalah..." Alma mulai menceritakan maksud dari ucapannya, yang membuat semua yang mendengar melongo. Nisha begitu gemas dengan adiknya. Dia langsung menjewer telinga Alma berkali-kali, "Yah, begitulah ceritanya. Jadi kita bisa menggunakan ini, ini, ini dan ini untuk membantu suami kita." Alma menunjuk mulut, dada, tangan dan kaki.


"Ya ampun Dek, ada yang belum nikah nih. Jangan bicara seperti itu." ucap Nisha sembari menatap Sizil dan Winda yang tampak bingung dengan pembicaraan itu. Mereka semua tertawa lucu melihat ekspresi keduanya.


"Kalau aku, menggoda suamiku dengan memakai lingerie..." ucap Mutia sembari menutup wajahnya.


"Eh serius?" sekarang semua mata teralihkan pada Mutia.


"Iya serius. Ya, habisnya suamiku itu nggak paham-paham. Sudah kuberi kode lampu hijau, tapi nggak segera bertindak. Akhirnya aku nekad beli lingerie dan memakainya untuk menggodanya." Tia mengingat-ngingat kejadian lucu yang terjadi beberapa tahun silam itu.


"Kalau kamu Kak? Apa yang Kakak lakukan untuk menyenangkan Kak Zico?" tanya Alma dengan usil.


"Aku?? Kalau aku hanya pasrah saja. Aku membiarkannya melakukan apapun yang dia mau. Dia tipe dominan, jadi lebih suka melihatku pasif." jawab Nisha sembari tersenyum kecil.


"Sama sepertiku Mbak. Aku juga pasif, dia dominan. Tapi terkadang dia suka kalau aku bsrinisiatif..." wajah Khansa tak berhenti memerah.


"Ya, itu jawabannya. Meskipun suami kita dominan, tapi apa salahnya bila sekali-sekali kita aktif dan inisiatif. Mereka pasti akan senang." Nisha berkata dengan bijak.


Beberapa jam kemudian, pertemuan itupun di akhiri. Mereka saling bertukar nomor WA dan membentuk grup chat. Alma dan Nisha berjanji akan mengenalkan mereka pada teman mereka yang lain yaitu Firda, Allea dan Mitha.


Mereka pun berpisah. Sizil, Andre, Mutia dan Rizal kembali ke Surabaya, sementara Zico, Nisha, Daniel dan Alma kembali ke Jakarta. Pertemuan itu sangat mengesankan bagi semuanya.


***

__ADS_1


Next 👉😆


__ADS_2