
"Papa lagi apa?"
"Bikin susu."
"Buat Adek?"
"Buat Mama, Adek dan Kakak." Alex tengah menggendong Alesha di tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk menakar susu untuk ibu hamil.
Selesai menyeduh susu untuk Khansa, Alex juga membuat susu untuk Alesha dan Alkha. Dengan satu tangan dia membawa nampan berisi susu itu ke ruang keluarga.
Alex meletakkan nampan di atas meja. Di ruang keluarga terlihat Alkha sedang memijat-mijat kaki Khansa.
"Capek ya Ma?"
"Nggak sayang,"
"Kakak pijetin ya Ma..."
"Nggak usah sayang, nanti Kakak capek."
"Nggak capek kok Ma. Kakak lihat Papa sering pijetin Mama. Mama pasti capek ya..."
"Capek dong Kak. Lihat perut Mama besar gitu. Dulu kalian juga ada di perut Mama. Selama sembilan bulan Mama membawa kalian kemana-mana." ucap Alex seraya menurunkan Alesha dan duduk di sebelah Khansa. Dia mengelus-ngelus perut istrinya itu dengan lembut.
"Beneran Pa? Dulu Kakak sama Adek di perut Mama?" Alkha terlihat takjub. Dia ikut-ikutan Alex, mengelus-ngelus perut ibunya seraya menciuminya.
"Iya, benar. Makanya Kakak sama Adek harus patuh sama Mama. Selalu jadi anak baik. Jangan bikin Mama sedih. Mengerti?"
"Iya Pa..." entah mengerti atau tidak, Alkha hanya mengiyakan. Bocah kecil itu terlalu sibuk menciumi perut ibunya. Khansa mengelus-ngelus rambut anaknya dengan sayang.
"Susunya diminum dulu sayang." Alex mengambil susu di atas meja dan membantu Khansa meminumnya.
"Terima kasih Mas..."
"Iya, sama-sama." Alex mengecup puncak kepala Khansa.
"Pa!! Susu Shasha mana?!"
"Ini susumu princess. Minumnya pelan-pelan." Alex juga membantu Alesha meminum susunya.
"Ma, ini ada adeknya?" tanya Alkha yang masih sibuk memeluk perut Khansa.
"Iya. Adek bayi yang lucu. Sama seperti kalian waktu kecil dulu."
"Oh ya?"
"Iya. Kalian mau lihat foto kalian waktu masih bayi?"
"Iya mau Ma!" Alesha turun dari pangkuan Alex dan mendekat pada Khansa. Dia ikut-ikutan kakaknya, memeluk perut Khansa dengan sayang dan menciuminya. Khansa mencium satu persatu puncak kepala anaknya sebelum mengalihkan perhatiannya pada suaminya.
"Mas, minta tolong ambilkan album foto anak-anak..."
__ADS_1
"Kita kan ada soft filenya. Putar itu aja ya?"
"Iya sudah..."
Alex mengambil soft file dan memutarnya di layar TV. Awalnya kehamilan Alkha yang berlanjut dengan kehamilan Alesha. Di sela-sela itu mulai timbul pertanyaan di antara mereka.
"Ma, kenapa Kakak langsung besar di perut Mama? Kenapa nggak kayak Adek? Dari perut Mama kecil sampai besar..." Alkha merentangkan tangannya untuk menunjukkan maksudnya. Khansa gelagapan. Dia menatap Alex dengan bingung.
"Kakak juga dulunya kecil sekali. Setiap bulan bertambah besar. Dulu Mama sama Papa lupa tidak mengambil foto Kakak." Alex berusaha menjawab dengan santai, meskipun sebenarnya jantungnya berdebar mendengar pertanyaan polos itu.
"Oh begitu..." Alkha mengangguk-anggukan kepalanya seolah-olah mengerti. "Lalu dedek bayi datangnya darimana Ma? Kenapa Kakak sama Adek bisa ada di perut Mama?"
Khansa lagi-lagi menatap Alex. Kali ini Alex memasang tampang wajah menyerah. Dia melempar jawaban dari pertanyaan itu pada Khansa.
"Eh, em, adek bayi itu datangnya karena pemberian dari Tuhan..."
"Jadi kalau kakak minta dedek bayi sama Tuhan, nanti dedek bayinya ada di perut Kakak Ma?"
"Bukan begitu Kak. Dedek bayi hanya ada di perut perempuan. Kakak sama Papa itu laki-laki, jadi tidak bisa ada dedek bayi di perutnya..."
"Kalau Shasha yang minta boleh Ma?" tanya Shasha polos.
"JANGAN!!" Kali ini suara Alex terdengar tegas dan keras, mengejutkan anak-anaknya. Mata Alesha mulai berkaca-kaca. Dia merasa sedang dimarahi papanya. Sebelum tangisnya meledak, Khansa langsung memeluk tubuh anaknya itu dan menciumnya.
"Ssshhhh, anak Mama jangan nangis. Papa nggak lagi marah sama Shasha, ssshhhh..."
"Huuuu...huuuu..."
"Ssshhhh... Sudah jangan nangis lagi. Maksud Papa, Shasha belum boleh minta dedek bayi. Nanti kalau Shasha sudah lulus sekolah, lulus kuliah, bekerja dan menikah, Shasha baru boleh minta dedek bayi sama Tuhan..."
Alex dengan segera menggendong Alesha dan meminta maaf. Dalam waktu semenit tangis Alesha langsung reda dan balas memeluk papanya.
"Kakak juga boleh minta dedek bayi kalau sudah menikah ya Ma?"
"Iya."
"Menikah itu apa Ma?"
"Menikah itu adalah hidup bersama dengan orang yang kita sayangi sampai tua, seperti Mama dan Papa. Nanti kalau Kakak sudah besar, dan menemukan gadis yang Kakak sayangi, maka Kakak harus segera menikahinya."
"Oh begitu ya Ma..." layaknya orang dewasa, Alkha mengangguk-anggukan kepalanya. "Kakak sayang sama Adek, apa Kakak boleh menikah sama Adek?"
"Tidak boleh sayang. Kakak sama Adek itu bersaudara, tidak boleh menikah."
"Sama Nana?" (Nana \= Arana \= Putri Aaron dan Diana)
"Tidak boleh juga. Nana saudara sepupumu. Juga tidak boleh dinikahi."
"Terus Kakak boleh menikah sama siapa Ma?"
"Nanti Kakak akan menemukan sendiri orangnya."
__ADS_1
***
"Mulai bengkak ya?"
"Iya. Semua bengkak. Tubuhku jadi kayak tong Mas,"
"Kata siapa? Tubuhmu selalu cantik sayang. Ini sakit?" Alex memijat-mijat secara perlahan kaki Khansa yang membengkak.
"Nggak sakit. Tapi sepatu dan sandalku sudah nggak ada yang muat..."
"Aku pijat ya," tanpa mendengar jawaban Khansa, Alex memijat-mijat area kaki Khansa dengan lembut.
Khansa menatap Alex dengan penuh cinta. Hampir enam tahun pernikahan mereka, tapi Alex selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Khansa mengambil ponsel dan memfoto Alex yang sedang memijat kakinya.
"Aku tahu aku sangat tampan. Tapi setidaknya jangan selalu mengambil fotoku diam-diam. Biarkan aku berpose dulu sayang." Alex mengambil ponsel Khansa dan meraih wanita itu dalam pelukannya. Dalam beberapa kali klik sudah banyak foto yang dihasilkan.
"Ini balasan karena kamu selalu mengambil fotoku secara diam-diam Mas." Khansa mencubit pipi suaminya dengan gemas sembari mengecupinya. Mereka mulai bercanda mesra.
Ya, waktu berdua seperti ini jarang mereka dapatkan. Selalu ada bocil (bocah kecil) di tengah-tengah mereka. Sekarang dua bocah itu sedang ikut om dan tantenya jalan-jalan ke mall sehingga papa dan mamanya bisa sedikit bermesra-mesraan.
Alex memijat Khansa dengan penuh perhatian. Dia beri pijatan-pijatan lembut di punggung Khansa yang sering dikeluhkan sakit. Kecupan-kecupan lembut acap kali singgah di tengkuk dan pelipis Khansa.
"Maaf ya..."
"Maaf kenapa?"
"Karena hamil anakku, kamu jadi susah seperti ini. Kaki bengkak, sakit punggung, tidur tidak nyenyak, susah bernapas, saat melahirkan juga harus menahan sakit yang luar biasa, maaf ya sayang..." Alex menghela napas dalam-dalam. Kata-kata dalam ucapannya sarat dengan penyesalan.
Khansa langsung membalikkan tubuhnya dan merangkum wajah suaminya dengan kedua tangan.
"Mas, lihat aku. Mas ingat nggak percakapan kita dulu waktu masih sekolah?"
"Percakapan yang mana?"
"Kamu tanya apa cita-citaku. Aku belum menjawabnya..."
"Sepertinya aku mulai ingat. Ya, aku terlalu sibuk membicarakan cita-citaku hingga mengabaikan jawabanmu. Apa cita-citamu sayang? Aku akan mengabulkannya." Alex balas membelai pipi istrinya.
"Cita-citaku hanya dua Mas, dan itu sudah terkabulkan semua, alhamdulillah..."
"Apa itu?"
"Yang pertama, aku ingin mengubah perekonomian keluarga. Alhamdulillah, setelah mendapat pekerjaan sedikit demi sedikit aku bisa mengubahnya..."
"Yang kedua?"
"Aku ingin hidup bersamamu. Menjadi pendampingmu. Menjadi istri, kekasih, sahabat sekaligus ibu dari anak-anakmu. Aku ingin menghabiskan sepanjang hidupku bersamamu dan anak-anak kita. Dan itu semua sudah kuraih... Jadi suamiku sayang, janganlah merasa bersalah. Karena bersama kalian adalah kebahagiaanku..."
Mereka saling bertatapan mesra. Alex tampak sangat tersentuh dengan kata-kata istrinya. Dia membelai kepala istrinya dan mengecup puncak kepalanya. Kemudian secara perlahan bibirnya mulai mencari-cari bibir istrinya. Bibir keduanya pun saling bertautan dengan mesra.
"Papa!! Mama!!" suara Alesha membuyarkan kemesraan mereka.
__ADS_1
***
Happy Reading 😚