
Khansa mengatur napasnya. Mencoba bersikap tenang. Setelah meneguk air mineral, dia mulai melangkah hilir mudik di kamar itu. Bila ini kontraksi palsu, tentunya ia tidak akan merasakan sakit lagi.
Selama setengah jam Khansa menunggu, namun rasa sakit itu tidak kunjung datang. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk kembali berbaring di sebelah suaminya.
Khansa menyurukkan tubuhnya di dalam pelukan Alex, mencoba untuk kembali tidur. Baru sepuluh menit dia berusaha untuk memejamkan mata ketika rasa sakit itu kembali datang.
"Uhhmm..." rintihan tertahan meluncur dari mulutnya. Sepertinya bayinya memang memutuskan untuk melihat dunia lebih cepat dibanding hari perkiraan.
Menurut dokter kontraksi palsu hanya terasa di daerah perut atau panggul, tapi tidak dengan yang dirasakannya sekarang. Rasa sakit itu menjalar dari bagian bawah punggung yang menjalar ke bagian depan perut, itu artinya ia benar-benar mengalami kontraksi sungguhan.
"Adek udah benar-benar nggak sabar ya? Tunggu ya. Tunggu papa bangun, setelah ini kita ke RS." ucap Khansa sembari mengelus-ngelus perutnya ditengah-tengah rasa nyeri yang datang dan pergi silih berganti, berusaha untuk menenangkan bayinya yang tidak sabar untuk melihat dunia.
***
Hampir semalaman Khansa tidak tidur. Ketika rasa sakit datang, dia hanya akan menikmatinya. Membuat dirinya senyaman mungkin. Ketika rasa itu hilang, dia mulai berjalan hilir mudik sembari mulai menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke rumah sakit.
Matahari perlahan mulai datang. Binarnya mulai menyinari sebagian bumi. Cahaya itu menelusup di celah-celah jendela kamar mereka. Khansa menatap pancaran cahaya itu dengan hati yang lega. Sudah saatnya dia membangunkan suaminya dan menghubungi dokternya.
Khansa mengirim pesan text pada dokter Afifah, yang menyatakan bahwa dirinya telah mengalami kontraksi sejak semalam dan memutuskan untuk ke rumah sakit hari ini. Dokter Afifah langsung meneleponnya, menyuruhnya untuk tetap tenang dan tidak panik. Khansa menerima semua saran itu dengan tenang dan menyiapkan segala sesuatunya.
Selesai berbicara dengan dokter Afifah, Khansa mulai mendekati suaminya. Dia kecupi kening suaminya itu dengan lembut.
"Mas, bangun..." bisiknya perlahan di telinga Alex.
"Ehmmm..." bukannya bangun, Alex malah menyampirkan kedua tangannya di tubuh Khansa. Seolah-olah memaksa Khansa untuk kembali berbaring.
"Mas, adek udah mau lahir. Bangun ya..." mendengar kata-kata Khansa serta merta membuat Alex membuka mata dengan cepat dan menatap Khansa dengan tajam.
"Apa?!" tanyanya terduduk, masih berusaha mengumpulkan nyawa. Khansa membelai pipinya dengan lembut.
__ADS_1
"Adek udah mau lahir. Mas mandi dulu ya, setelah ini antar aku ke rumah sakit, uhhmm..." Khansa mengigit bibirnya ketika kontraksi kembali datang.
"Sayang!! Kamu kenapa?!!" Alex langsung memeluk Khansa, dia menatap istrinya dengan tatapan bingung dan khawatir. Khansa tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya, dia fokus dengan rasa sakitnya hingga bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Khansa!!" suara Alex bergetar. Sepertinya kesadarannya sudah benar-benar pulih. Dia langsung membopong tubuh istrinya itu dan berlari keluar kamar.
"Sayang, sakit ya? Sabar ya, sabar..." suara Alex mulai pecah. Dia kecupi dahi Khansa, menyalurkan kekuatannya dari sentuhan itu. Mereka sedang berada di lift, Alex mengucapkan sumpah serapah. Menyesali keputusannya menempatkan kamar mereka di lantai tiga, karena hal itu menyulitkannya ketika terjadi peristiwa emergency seperti sekarang.
"Panggil driver, siapkan mobil sekarang!!" teriak Alex pada asisten rumah tangga yang dilihatnya. Asisten itu langsung lari terbirit-birit melihat wajah panik tuannya. Dia segera memanggil driver untuk menyiapkan mobil.
Alex berlari-lari ke halaman depan dengan Khansa di gendongannya. Dia lupa dengan baju yang dipakainya. Penampilannya benar-benar berantakan. Pria itu hanya memakai celana pendek (kolor) dengan kaos tipis berwarna putih di tubuhnya. Rambutnya acak-acakan, wajahnya masih bau bantal sementara kakinya polos, tanpa sandal ataupun sepatu. Pria itu benar-benar panik. Alex masuk ke dalam mobil dengan Khansa di pangkuannya. Dia menyuruh supir untuk menjalankan mobil, namun Khansa menahannya.
"Mas..."
"I-iya sayang?"
Alex mengecupi tangan Khansa, matanya mulai berkaca-kaca, namun dia menahan diri untuk terlihat kuat.
"A-aku tidak panik. A-aku kuat,"
"Pffttt..." Khansa tak bisa menahan tawanya melihat sikap sok tegar suaminya.
"Tidak sakit lagi?" tanya Alex, Khansa menggelengkan kepalanya.
"Mas, barang-barangnya ketinggalan. Ambil dulu barang-barangnya di kamar. Semua perlengkapan ada di sana. Kamu juga mandi dulu Mas, pakai baju yang rapi, uhhmmm!!" rasa sakit yang menyengat kembali datang. Tanpa sadar tangan Khansa mencengkram baju Alex, sementara wajahnya mengernyit menahan rasa sakit yang melandanya.
"Khansa!!" Alex memeluk Khansa dengan erat. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa, "Jalan. Ngebut!!" teriaknya pada supir.
"Baik Pak." Mobil pun melaju dengan kencang, membaur dengan kendaraan lain, memecah padatnya arus lalu lintas jalanan ibu kota.
__ADS_1
Di dalam mobil tak henti-hentinya Alex mengecup dan memeluk tubuh istrinya. Dia seolah-olah lupa dengan pelajaran yang diberikan di kelas kehamilan. Mentor menyuruh para suami untuk tidak panik dan bersikap tenang, namun itu tidak berlaku pada Alex. Pria itu tetap panik, apalagi ketika Khansa mulai merintih kesakitan. Dia akan membentak-bentak supir untuk melajukan kendaraannya dengan cepat
.
"Mas, kamu jelek. Kenapa tadi tidak mandi dulu?" setiap kontraksi hilang, Khansa gunakan untuk menggoda suaminya. Dia berusaha mencairkan suasana tegang di dalam mobil.
"Sayang, bukan waktunya membicarakan hal itu... Sampai mana ini!! Kenapa jalannya lambat?! Bisa nyetir nggak sih?!" Alex kembali marah-marah ketika dia rasa jarak rumah sakit terlalu jauh untuk mereka tempuh.
"Mas, tenang... Adek akan kaget mendengarmu berteriak-teriak seperti itu..."
"Aku tidak bisa tenang..."
"Ukkhhhh!!" serangan kontraksi kembali datang.
Suasana di dalam mobil itu terkadang tegang ketika kontraksi datang, namun berangsur mencair ketika Khansa mencoba untuk bercanda. Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mereka tiba di rumah sakit tempat dokter Afifah praktik.
Begitu mobil berhenti di parkiran, Alex langsung keluar. Berlari-lari melewati parkiran dan koridor rumah sakit sembari menggendong Khansa. Banyak orang yang menatap kehebohan itu. Bagaimana tidak? Seorang pria tampan, dengan hanya memakai kolor dan kaos tipis tanpa alas kaki, menggendong wanita hamil di tangannya, sementara dari mulutnya terdengar teriakan-teriakan, memanggil tenaga medis untuk datang.
"Dokter!! Suster!! Siapa saja!! Tolong!! Istriku akan melahirkan!!" teriaknya dengan putus asa. Khansa terlalu fokus dengan rasa sakitnya, sehingga dia tidak melihat tingkah barbar suaminya.
Beberapa dokter dan suster langsung datang, tak terkecuali dokter Afifah. Dokter itu dengan tenang menyuruh Alex meletakkan Khansa di brankar dan mulai memeriksanya dengan detail.
***
Next 👉😁
Mungkin kayak gini kali ya visual Papa Al waktu nganterin Mama Khansa ke RS 🤭😁
__ADS_1