Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 50 - Curahan Hati Dino


__ADS_3

"Aku kembali tidak ingin melanjutkan hidup. Hal itu berlangsung selama berbulan-bulan lamanya. Berbagai cara dilakukan keluargaku untuk membuatku tersadar dari koma, namun aku tidak berkeinginan untuk melakukannya. Aku lebih memilih tertidur panjang, berharap dengan melakukan hal seperti itu, adik dan kekasihku bisa kembali bersatu. Hingga suatu hari aku mendengar tentangmu,"


"Si bodoh itu menceritakanmu. Dia berkata sudah menikahimu, wanita yang dicintainya sejak SMA. Wanita yang membuatnya tidak bisa berhubungan dengan wanita lain. Wanita yang tak bisa lepas dari pikirannya selama ini,"


"Khansa, bisa kamu bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Aku sangat bahagia. Tiba-tiba aku ingin kembali hidup dan memeluknya. Aku ingin mengenalmu lebih dalam. Sosok wanita yang membuat adikku bahagia,"


"Keinginanku untuk segera bangun dari koma benar-benar terlaksana. Aku bangun dan memeluknya. Aku tidak sabar ingin segera mendengar kabar tentangmu dari mulutnya. Kami sekeluarga sangat bahagia mengetahui keberadaanmu,"


"Apakah kamu tahu Khansa? Ketika dia berencana melamarmu hari ini? Kami sangat antusias menyambutnya. Kami sudah membayangkan kebahagiaan yang akan kalian raih. Namun ternyata itu semua tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi kami,"


"Aku tidak tahu permasalahan kalian yang paling mendasar itu apa? Tadi aku sedikit mencuri dengar, ijinkan aku menjawab apa yang kutahu. Melihat umur kehamilanmu dan Diana yang hampir sama, mungkin saja perkataanku ini akan menjawab pertanyaanmu, atau mungkin saja tidak,"


"Kamu bertanya mengapa Alex tidak lagi datang mencarimu? Mungkin saja saat itu dia tengah merawatku. Kakak yang tak patut mendapat perhatiannya ini. Aku yakin dia tidak melupakanmu, dia hanya tidak bisa membagi waktunya. Aku akui sikapnya itu salah,"


"Kamu bertanya mengapa dia tidak menghubungimu ketika di Singapura? Lagi-lagi dia sedang merawatku. Ah, aku ingin melihat kalian bahagia. Tapi aku tidak menyangka, sumber ketidakbahagiaan kalian justru bersumber dari kami..."


"Khansa, kami meminta maaf padamu. Kami berdua telah menjadi batu sandungan untuk kebahagiaan kalian. Kami akan pergi dari hidup kalian. Kami harap, setelah ini kalian akan bahagia. Khansa... Yakinlah satu hal, adikku benar-benar mencintaimu. Tolong ingatlah kata-kataku yang satu ini bila kamu tidak ingin mengingat yang lainnya,"


Selepas berkata seperti itu, tidak ada suara-suara lagi. Terdengar langkah kaki menjauh, sebelum akhirnya bunyi pintu tertutup. Meninggalkan Khansa dengan tubuh kaku dan mata membelalak, terlalu terkejut mendengar semua berita itu.


***


"Dia masih muntah-muntah?" tanya Mama pada Dino.


"Masih Ma,"

__ADS_1


"Dia kenapa? Kenapa penyakit lamanya kambuh lagi?"


"Dia hanya fraktur hepar Ma," Dino menjawab dengan santai.


"Frak-fraktur apa? Apa penyakit serius Din?" Mama mulai kalang kabut menyadari bahasa medis yang tak diketahuinya. Dipikirnya anak bodohnya telah sakit serius.


"Mama tenang saja. Sudah ada obatnya. Aku akan menemui obatnya. Dua orang bodoh ini, sudah saatnya menyadari perasaannya satu sama lain," Dino bergumam.


"Apa Din?"


"Bukan apa-apa Ma. Tolong jaga dia dulu, aku keluar sebentar. Mencari obat untuknya." Selepas berkata seperti itu, Dino keluar dari kamar Alex, langkahnya langsung menuju kamar Khansa.


Langkahnya terhenti begitu melihat Diana dan Aaron keluar dari kamar itu. Entah mengapa melihat dua orang itu masih membuat Dino tidak suka. Meskipun Alex sudah memaafkannya, namun hati kecil Dino belum ikhlas untuk melakukan hal yang sama. Bayangan mereka menyakiti hati Alex masih membekas di ingatannya.


Tidak mungkin Khansa tidur. Aaron dan Diana baru saja mengunjunginya. Mungkin wanita itu sedang pura-pura tertidur. Dino memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Dia tidak ingin menunda lebih lama lagi. Dia tidak ingin melihat sahabatnya semakin menderita.


"Khansa, ini aku, Dino. Kamu ingat aku kan?" tidak ada jawaban. Entah Khansa pura-pura tidur, atau tidur benaran. Dino sudah tidak mau tahu hal itu. Dia hanya ingin mengatakan apa yang harus Khansa ketahui selama ini.


"Kamu pasti kaget, bertanya-tanya, mengapa aku bisa di sini? Mengikuti acara lamaran gagal itu dan berdiri di ruangan ini padahal kita tidak terlalu kenal dekat?,"


"Ya, wajar saja kalau kamu berpikir seperti itu Khan. Kamu memang tidak mengenalku, tapi percayalah. Gara-gara sahabatku, aku mengenalmu lebih baik dari yang kamu tahu," Dino menarik kursi dan duduk di dekat Khansa, sepertinya dia telah siap untuk bercerita panjang lebar.


"Sebenarnya aku tidak ingin bertindak seperti ini. Kalau dia tahu, dia pasti tidak akan memaafkanku. Tapi aku sudah tidak tahan lagi melihat kalian berdua seperti ini. Aku tahu kalian berdua sama-sama cinta, namun mengapa begitu sulit untuk mengungkapkannya? Sepertinya kalian butuh orang ketiga untuk menjadi perantara kalian? Baiklah, aku akan menjadi orang itu. Ingat, jangan lupakan aku ketika kalian sudah bahagia," Dino menandaskan, terkekeh kecil sebelum kembali memulai.


"Darimana aku harus bercerita? Aku begitu bingung untuk memulainya. Apakah dari dia membelikanmu sebuah HP yang membuat kami berkeliling puluhan konter HP? Atau wajah paniknya ketika melihatmu pingsan pada saat pelajaran olahraga? Atau sakitnya dia ketika mendengarmu meremehkannya? Ah, sebaiknya aku mulai dari sana."

__ADS_1


"Ya, aku tahu dia menyukaimu bahkan sebelum dia menyadarinya. Aku diam ketika dia terluka karena ulah pacar dan kakaknya. Aku memilih untuk menemaninya. Aku pikir hal ini tidak akan berlangsung lama, karena aku tahu hatinya milik siapa. Siapa yang menduga bahwa dia akan tersakiti oleh wanita yang dipujanya?"


"Khansa, apakah kamu tahu efek perkataanmu terhadapnya? Mungkin kamu bahkan tidak ingat dengan setiap perkataan yang kamu lemparkan kepadanya, namun dia mengingat detail kecilnya,"


"Kamu adalah wanita yang disukainya. Kamu adalah harapan hatinya untuk sembuh. Namun bukan menyembuhkannya, kamu malah semakin memperburuk keadaannya. Efek perkataanmu sungguh luar biasa. Bahkan mengalahkan efek dari perselingkuhan mereka berdua,"


"Dia terbaring di RS selama berminggu-minggu. Hanya muntah dan menangis, tanpa bisa berkata apa-apa. Perkataanmu benar-benar menghancurkan kepercayaan dirinya sebagai laki-laki. Dia menjadi pemuda yang tak kukenal."


"Wah hebat sekali efek dari perkataan seorang Khansa Aulia. Mampu membuat seorang Yohan Alexander hancur berkeping-keping. Aku benar-benar tidak menduganya,"


"Yah, singkat cerita, si bodoh ini mulai berusaha untuk sembuh dan bangkit kembali. Kupikir dia akan membencimu dan melupakanmu dengan mudah, hahaha, tapi ternyata prediksiku salah. Bukannya melupakanmu, dia malah semakin mengingatmu. Memperhatikanmu diam-diam layaknya seorang penguntit. Memastikan uang sekolahmu terbayar semua. Memastikanmu mendapat beasiswa di perguruan tinggi,"


"Terkadang aku berpikir, apakah kecerdasan yang dimilikinya sudah membuatnya bodoh? Dia sudah disakiti, tapi mengapa masih menyukai gadis itu? Apa dia memiliki penyakit aneh? Yang bila semakin disakiti akan membuatnya semakin cinta? Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti isi kepalanya,"


["Eh kata otor bersambung dulu ceritanya nguk, udah 1k kata," said Dino]


***


Happy Reading 😚


NB :


Nitijen : ErKa, gantung lagi 😠


Aqoh : Lah, sudah dapat 1k kata lho. Lanjot Rabu pagi ya, 😚🤗

__ADS_1


__ADS_2