
"Sa-sayang?"
"Uhhh... Huuuu..." bukannya menjawab, Khansa malah semakin memeluk tubuh suaminya itu dan menangis sejadi-jadinya. Dia membenamkan wajahnya di dada Alex, sementara tangisan penyesalannya masih terus berlanjut.
"Ma-maaf Mas... Maaf... Huuuu..." hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Khansa. Alex berusaha menelaah semua kejadian itu. Kemudian dia menyadari sesuatu. Khansanya telah kembali padanya!! Khansa tak lagi menolaknya!!
Tanpa terasa buliran airmata ikut jatuh dari pelupuk matanya. Alex membalas pelukan itu sembari mengecupi kening Khansa bertubi-tubi. Tubuhnya gemetar, menahan isakan yang akan keluar. Kata-kata tak kunjung keluar. Hanya tubuhnya yang terlalu sibuk mengekspresikan perasaannya.
Alex menciumi seluruh wajah Khansa. Kening, kelopak mata, pipi, hidung, dan bibir mungil Khansa tak luput dari ciumannya. Sementara tangannya dengan erat merengkuh tubuh istrinya itu, seolah-olah takut bila dilepaskan sebentar saja wanita itu akan hilang dari hadapannya.
"Maaf Mas... Maafin aku..."
"Sshhhh... Sshhhh..." Alex berusaha menenangkan Khansa. Dia dekap wanita itu dan memberikan kata-kata penghiburan untuknya.
Alex tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya. Kebahagiaan ini terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Mendekap Khansa seperti ini layaknya membawa kembali kehidupan padanya. Rasa sakit di tubuhnya seolah-olah hilang seketika. Hati, pikiran maupun tubuhnya kembali pulih dari rasa sakit.
Mereka berpelukan tanpa kata. Mengekspresikan perasaan melalui tubuh. Saling menghirup aroma masing-masing. Mensyukuri setiap detik kesempatan yang ada. Kebersamaan ini merupakan kebahagiaan yang tak terkira.
"Sayang..." lirih Alex sembari membelai-belai rambut Khansa.
"Mas..." Khansa menjawab dengan tak kalah mesranya. Dia masih tidak menyangka seorang Yohan Alexander menyukainya!! Bagaimana bisa?! Seorang idola sekolah menyukainya semenjak SMA? Bahkan menguntitnya selama belasan tahun? Apa keistimewaan yang dimilikinya hingga membuat seorang Yohan bersikap seperti itu?!
Kesalahan terbesarnya adalah menyalahpahami pria itu. Dari awal mereka kembali bertemu, hingga mereka menikah kesalahpahaman itu tumbuh semakin besar. Membuat mereka berdua sama-sama tersakiti. Alex tidak terbuka karena trauma yang disebabkan olehnya. Sementara dirinya takut untuk bertanya karena rendah diri. Takut mengetahui kenyataan bila apa yang dipikirkannya ternyata benar. Pada akhirnya mereka menjadi seperti ini.
"Sayangku... Khansa sayang..." Alex menjauhkan tubuh mereka sejenak. Kedua tangannya merangkum wajah Khansa, sementara matanya berkaca-kaca. Khansa masih tidak menyangka bisa melihat sisi lain dari seorang Yohan.
"Mas... Maafin aku... Aku bersalah..." Airmata masih mengalir di pipi Khansa.
"Shhh... Shhh..." Alex segera menghapus airmata itu dengan ibu jarinya. Tatapannya begitu hangat dan lembut. Tatapan seorang pria yang begitu memuja wanitanya. Seolah-olah mengatakan bahwa wanita itu adalah hartanya. Wanita itu adalah pusat dunianya. Dan dirinya bukanlah apa-apa tanpa wanita itu.
__ADS_1
Mata mereka saling bertatapan. Pancaran rasa cinta yang mendalam sangat terlihat dari keduanya. Mata mereka kembali berkaca-kaca begitu menyadari besarnya perasaan satu sama lain. Rasa itu telah lama saling bersambut, namun sayangnya mereka terlambat menyadarinya.
Alex mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Matanya menatap mata Khansa, seolah-olah meminta ijin untuk melakukannya. Tanpa dikomando, Khansa memejamkan mata. Sapuan bibir hangat menyapa bibirnya, mengalirkan getaran yang sudah lama tidak dirasakannya.
Tubuh mereka seperti tersengat. Rasa panas itu berpusat pada bibir mereka yang saling bersentuhan. Ciuman yang biasanya begitu mudah mereka lakukan kini tampak sangat spesial. Bibir mereka bergetar, seolah-olah itu adalah pengalaman pertama untuk keduanya.
Alex mengecup bibir Khansa dengan lembut. Bibirnya hanya menyentuh, tanpa melakukan pergerakan namun sensasinya sungguh mendebarkan.
"Aku sangat mencintaimu sayang..." bisiknya dengan suara parau dan penuh perasaan. Mendengar kata-kata itu membuat tubuh Khansa kembali gemetar. Dia membuka matanya secara perlahan, sementara buliran airmata kembali mengalir di pipinya.
"Aku... Aku juga sangat mencintaimu Mas..." bisiknya dengan suara yang pecah karena tangis.
***
"Kamu beneran cinta sama aku yank?"
"Hu'um..."
"Serius? Yakin? Nggak bohong? Bukannya kamu benci aku?"
"Apanya yang 'hem'? Jawab pertanyaanku. Kamu beneran cinta sama aku?" tanya Alex dengan nada mendesak.
"Iya..."
"Katakan lagi. Tadi aku belum siap mendengarnya."
"Tidak ada siaran ulang..." Khansa berkata kalem.
"Yank!! Katakan lagi..." Mereka sedang berada di atas ranjang. Tubuh Khansa membelakangi tubuh Alex sehingga pria itu memeluknya dari belakang. Satu tangannya merengkuh tubuh Khansa, sementara tangan yang lain saling bertautan.
"Yank, lihat sini."
__ADS_1
"Tidak mau..."
"Yank!" Khansa terkikik mendengar nada suara Alex. Dia masih tidak bisa beradaptasi dengan perubahan Alex. Pria yang biasanya tukang perintah (saat ini dia masih tukang perintah) itu terlihat manja dan tidak yakin dengan dirinya. Seperti seorang pria yang tidak memiliki kepercayaan diri bahwa wanita yang dicintainya tengah membalas perasaannya.
"Lihat aku yank."
"Iya, iya..." Khansa mengalah. Dia berbalik dan menatap mata yang tengah melihatnya dengan berbagai ekspresi. "Apa Mas?"
"Katakan lagi. Aku tadi belum siap mendengarnya. Sebentar, aku ambil HP dulu." Alex menjangkau ponsel yang terletak di samping tempat tidurnya. Kemudian dia mengutak-atik ponsel itu, "Aku sudah siap. Ayo katakan lagi. Aku akan merekam setiap ucapanmu,"
"Katakan apa Mas?" Khansa berpura-pura bodoh. Entah mengapa dia suka melihat ekspresi ketidakpercayaan diri di wajah Alex. Dia bisa melihat bahwa perasaan Alex begitu besar untuknya. Selama ini cintanya tidak pernah sia-sia. Cinta butanya tidaklah bodoh. Pria yang mengisi hatinya selama dua belas tahun ternyata juga membalas cintanya. Cinta mereka sama-sama besar.
Mengingat hal itu membuat mata Khansa kembali berkaca-kaca. Tangannya secara spontan langsung meraih pipi suaminya. Dia belai pipi itu dengan lembut. Alex meraih tangan Khansa yang sedang memegang pipinya dan mengecupi jari jemarinya satu persatu. Menimbulkan suasana semakin melo diantara keduanya.
"Aku mencintaimu suamiku... Kekasihku... Sahabatku... Calon ayah anak-anakku... Papanya Alkha... Aku mencintaimu..." bisik Khansa yang disambut desakan hangat bibir Alex yang menyambar bibirnya dengan cepat.
Awalnya bibir itu menjelajah dengan lembut. Menyusuri setiap bagian hangat nan kenyal yang beraroma wangi. Hingga akhirnya bibir itu dengan tak sabar mel*mat bibir Khansa yang bagaikan kelopak mawar. Menyesap setiap bagian hangatnya. Meng*lumnya dengan lembut dan menjelajah setiap rongga bibirnya. Mereguk kenikmatan yang seolah-olah telah lama tidak mereka rasakan.
Khansa mengalungkan tangannya di leher Alex, sementara pria itu merengkuh tubuhnya, membuat kedua tubuh mereka semakin melekat satu sama lain, sementara ciuman mereka semakin dalam.
Keduanya mulai hanyut. Pertautan lidah bergerak semakin lincah. Saling menyesap, meng*lum, menghisap dan mengigit satu sama lain. Kabut kesadaran sedikit demi sedikit mulai menghilang. Digantikan oleh gelora panas yang dipancarkan tubuh satu sama lain. Tubuh mereka memanas, mulai bergerak gelisah, seolah-olah meminta pelepasan. Mereka ingin...
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu di ruang perawatan itu seolah-olah menyiramkan air es di tubuh mereka yang menggelora. Meredupkan gejolak api yang memanas.
Khansa yang terlonjak kaget tanpa sadar mendorong tubuh Alex menjauh darinya. Untungnya pria itu masih sigap. Dia tetap menahan tubuh Khansa hingga tubuh wanita itu tetap berada di pelukannya.
"Kalian sedang apa?"
***
__ADS_1
Happy Reading 😁
NB : Aku mau nulis "The End", tapi kok nggak tega 😂. Intinya kesalahpahaman mereka sudah terselesaikan. Chapter2 selanjutnya hanya akan berisi kebahagiaan mereka. Bisa dibilang itu BonChap (bonus chapter) ya. Untuk BonChapnya belum tau berapa chapter. So, tetap tungguin kisah mereka ya. Terima kasih 😚🤗