Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
[POV Alex] Ch 40 - Bertemu dengan Keluarga Khansa


__ADS_3

Perasaanku melayang melambung tinggi. Aku ingin percaya, bahwa Khansa juga mencintaiku. Tapi perasaan ragu kembali menghantuiku.


Bila Khansa mencintaiku, mengapa dia tidak bahagia hidup denganku? Bukankah kita akan lebih bahagia bila hidup dengan orang yang kita cintai? Bila Khansa mencintaiku, mengapa dia memintaku untuk melepasnya? Banyaknya keraguan membuatku semakin tidak percaya bahwa Khansa juga mencintaiku.


Urusanku dengan pria itu telah usai. Aku sudah menyatakan sikapku untuk tetap berada di samping Khansa apapun yang terjadi. Aku akan tetap melanjutkan rencanaku selanjutnya.


Khansa meminta berpisah, namun aku tidak akan pernah melepasnya. Bila aku tidak mampu membujuknya, maka hanya orang-orang terdekatnya yang mampu. Aku akan pergi ke kota J***** dan menemui keluarganya.


***


"Ya Ma?"


"Al, kamu dimana?"


"Aku sedang di bandara. Kenapa Ma?"


"Mau kemana? Kenapa di bandara?"


"Aku mau ke J***** Ma."


"Untuk apa ke J*****?"


"Mau menemui mertuaku. Kenapa Mama menelepon?"


"Mertuamu? Berarti besan Mama? Ya ampun, Kami ingin mengenalnya Al."


"Mama dimana? Apa semua baik-baik saja?"


"Ya, semua baik-baik saja. Kami bersiap-siap pulang ke Indonesia. Mama tidak sabar ingin bertemu dengan menantu Mama. Kata Diana kalian tinggal bersebelahan. Mama mau mengunjunginya..."


"Jangan Ma!!" Aku tersentak mendengar keinginan Mama. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Khansa.


"Kenapa teriak gitu Al? Kenapa ngelarang Mama ketemu dengan menantu sendiri?"


"Sekarang bukan saat yang tepat Ma. Kami sedang ada masalah. Tujuanku ke J***** juga untuk mengatasi masalah itu. Tunggu waktu yang tepat, aku pasti akan mengenalkan Mama kepadanya."


"Ya sudah, Mama pegang omonganmu Al. Oh ya Al, ini Papamu mau bicara."


"Iya Ma." Mama sepertinya menyerahkan ponsel ke Papa.

__ADS_1


"Halo Al, ini Papa."


"Iya Pa. Ada apa Pa?"


"Al, Papa sudah berpikir. Setelah kami tiba di Indonesia, kami akan langsung ke J*****."


"Untuk apa Pa? Apa ada urusan perusahaan yang harus diselesaikan?"


"Bodoh, bukan karena itu. Al, kamu menikahi anak orang tanpa sepengetahuan kami. Kalian juga menikah karena istrimu hamil lebih dulu. Kami merasa tidak enak terhadap keluarga istrimu. Bisa kamu bayangkan bagaimana perasaan orang tua istrimu? Anaknya kamu hamili dan ketika menikah pun keluargamu tidak ada yang hadir?!"


Aku terdiam mendengar kata-kata Papa. Sungguh otakku yang bodoh ini tidak pernah berpikir ke arah sana. Aku tidak pernah memikirkan perasaan keluarga Khansa. Aku pikir semua baik-baik saja ketika aku mendapatkan ijin untuk menikahinya. Aku tidak pernah berpikir sakitnya hati orang tua Khansa melihat anaknya menikah dalam kondisi hamil, sementara keluargaku tidak ada yang hadir.


"Papa akan menemui keluarga Khansa?"


"Ya. Sebelum menemui anaknya, kami akan menemui keluarganya. Bila urusanmu tidak begitu mendesak, tunggulah kami. Kita berangkat ke J***** bersama-sama."


***


Aku menyetujui permintaan papa. Selama beberapa jam aku menunggu di bandara kota Surabaya. Selama menunggu otakku berpikir. Kata-kata Andre terngiang-ngiang di kepalaku. Ketika aku mencoba untuk mempercayainya, perasaanku akan bahagia. Namun bila mengingat permintaan Khansa yang terakhir, perasaan itu kembali hilang.


Sedang apa dia sekarang? Khansa sudah menyakitiku, melukai perasaanku, tapi hati dan kepalaku tak bisa berhenti memikirkannya. Mengingat kata-kata terakhirnya selalu berhasil membuatku menangis. Namun itu tidak pernah mengurangi rasa cinta dan sayangku kepadanya.


Khansa lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Menonton TV, melakukan yoga kehamilan dan hal-hal kecil lainnya. Di foto-foto itu dia banyak berinteraksi dengan bayi kami. Aku tidak melihat kesedihan di wajahnya. Sepertinya dia benar-benar yakin dengan keputusannya. Hal itu membuatku semakin sedih.


***


Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Mama dan Papa tiba di bandara. Kami berangkat ke kota J***** bersama-sama. Di sepanjang jalan Mama berusaha mengorek-ngorek masalahku, tapi aku terlalu malu untuk menceritakannya.


Kami tiba di kota J***** menjelang tengah malam. Sangat tidak sopan bertamu di malam hari sehingga kami memutuskan untuk menemui keluarga Khansa keesokan harinya. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah besar dan menginap di sana.


Mama terlihat sangat sibuk. Beliau mendebatkan banyak hal.


"Tidak bisa seperti ini Pa. Tidak mungkin kita bertamu dengan tangan kosong seperti ini. Al, bagaimana kalau pertemuannya ditunda dulu?"


"Kenapa harus ditunda Ma? Kita ke sana silaturahmi dulu. Masalah persiapan ini itu kita pikirkan nanti." ucap Papa. Aku menatap kedua orangtuaku dengan bingung. Sebenarnya mereka mendebatkan apa?


"Tidak boleh seperti itu Pa. Kita harus membuat kesan baik dengan besan kita. Anak kita telah banyak melakukan kesalahan. Dia sudah menghamili anak orang. Dia juga menikah tanpa dihadiri keluarga kita. Kita harus minta maaf dan memberi kesan baik yang menunjukkan kalau kita menerima putri mereka dengan tangan terbuka. Kita sudah melewatkan berbagai prosesi yang harusnya dilakukan menjelang pernikahan. Setidaknya setengah dari prosesi itu kita lakukan saat ini."


"Apalagi yang harus dilakukan Ma? Kita memang akan menikahkan mereka lagi setelah bayi mereka lahir. Tapi bukan sekarang waktunya." Papa menyanggah.

__ADS_1


"Papa melupakan sesuatu yang penting. Sebelum menikah ada acara lamaran Pa. Meskipun terlambat, anggap saja saat ini kita sedang melamar anak mereka untuk menjadi menantu kita. Pokoknya Papa tenang saja, Mama akan menyiapkan semuanya." Akhirnya Papa mengalah, menuruti keinginan istrinya yang keras kepala.


***


Sore itu kami menemui keluarga Khansa dengan dihadiri oleh keluarga besar. Mama mengerahkan semua keluarga, baik dari keluarga beliau maupun keluarga Papa. Ada belasan mobil datang beriring-iringan, membuat macet lingkungan di sekitar rumah Khansa.


Para tetangga dan warga yang ada di sana keluar dari rumah masing-masing untuk mencari tahu apa yang terjadi. Warga tampak terkejut melihat kehadiran Papa.


Mereka berbondong-bondong mendekati Papa dan mencium tangannya. Wajar saja mereka melakukan hal itu. Papa pernah memimpin kota ini selama dua periode, jadi wajah beliau banyak dikenal oleh para warganya.


Aku mengacuhkan semua perhatian itu dan fokus pada tujuan utama, yaitu menemui keluarga Khansa. Tanpa aku mengetuk, pintu rumah itu terbuka dari dalam. Ayah dan ibu keluar untuk melihat kegaduhan yang ada di depan rumahnya.


"Ada apa ini?" Ayah menatap orang-orang yang berkerubung di depan rumahnya dengan tatapan bingung. Aku segera menghampiri Ayah.


"Ayah." Aku mengambil tangan beliau dan menciumnya. Kemudian aku berbalik untuk melakukan hal yang sama pada Ibu yang berdiri di samping Ayah, "Ibu."


"Lho Nak, kenapa kamu ada di sini? Mana Khansa?" Ibu menepuk-nepuk punggungku, sementara tatapan matanya mencari-cari keberadaan Khansa di tengah-tengah puluhan orang yang berkerubung.


"Khansa tidak ikut Bu. Dia di rumah Jakarta. Aku datang ke sini bersama keluargaku."


"Keluargamu? Bukankah keluargamu di Singapura?" tanya Ayah dengan bingung.


"Sudah pulang Ayah..."


"Lalu mana keluargamu? Ini ramai-ramai apa ya? Kenapa banyak mobil dan banyak orang yang datang?" Ayah berjinjit, berusaha untuk melihat pusat dari keramaian. Tubuh beliau yang cukup tinggi menangkap sesosok yang dikenalnya.


"Lho, bukannya beliau mantan walikota kita? Kenapa ada di sini? Dulu Ayah memilihnya. Ayah ke sana dulu ya Bu, Ayah mau salaman dengan beliau." Wajah Ayah tampak sumringah dan antusias, beliau sudah melangkah untuk mendekati Papa namun aku menahannya.


"Ayah tidak perlu ke sana."


"Ayah hanya ingin bersalaman. Setelah bersalaman dengan beliau, Ayah akan menemuimu dan keluargamu."


"Ayah tidak perlu menemui beliau, karena beliau yang akan menemui Ayah."


"Hah?" Ayah menatapku dengan kebingungan. "Apa maksudmu? Ayah tidak mengerti."


"Beliau adalah Papaku. Beliau adalah keluargaku yang akan menemui Ayah. Jadi Ayah tidak perlu berdesak-desakan untuk bertemu beliau, karena tujuan beliau kemari adalah untuk menemui Ayah."


***

__ADS_1


Happy Reading 🤗


__ADS_2