
"Sayang, sayangku... Kamu kenapa sayang? Bangun sayang..." Raut wajah Alex terlihat gugup. Dia merengkuh tubuh Khansa dalam pelukan. Sementara tangannya membelai-belai pipi Khansa, berusaha untuk membuat wanita itu terbangun.
"Se-sebenarnya ada apa ini? Dia kenapa? Ke-kenapa pingsan?" Suara Alex terdengar gemetar. Dia mulai panik, namun berusaha untuk tetap tenang. Alex menatap keluarganya, untuk meminta jawaban.
"Baringkan istrimu di sofa dulu Al. Ayo semuanya jangan berkumpul seperti ini. Beri ruang agar oksigen bisa masuk." ucap Aaron berusaha menenangkan adiknya.
Wajah Alex sudah hampir menangis, namun dia tetap mengikuti saran Aaron. Dia angkat tubuh Khansa dan membawanya ke sofa terdekat.
"A-apa ini? Kenapa basah begini?" Alex bertanya dengan bingung sembari menatap lengannya yang basah. Matanya berusaha mencari-cari sumber dari hal yang menurutnya janggal itu. Tatapannya berhenti pada kaki Khansa. Ada aliran cairan bening yang merembes dari kaki Khansa.
Seketika Alex merasa kepalanya berputar. Karena terlalu terkejut, tubuhnya sampai terlonjak ke belakang.
"A-apa?! D-dia kenapa?! Ke-kenapa ada air keluar dari tubuhnya?! Dia kenapa?!!" Alex kembali mendekati Khansa dan merengkuh tubuhnya. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. Matanya dipenuhi keputusasaan. Menatap Khansa dan keluarganya berkali-kali. Seolah-olah meminta jawaban dari hal aneh yang menimpa istrinya.
"Jangan panik dulu Al. Coba Mama lihat..." Mama maupun Ibu datang mendekat. Alex masih tidak melepaskan Khansa dalam pelukannya.
Mama dan Ibu melihat tubuh Khansa secara cermat. Raut wajah khawatir menaungi wajah mereka. Hembusan napas berat tampak terdengar di setiap helaan napas mereka. Reaksi mereka yang seperti itu membuat Alex semakin khawatir.
"Dia kenapa Ma? Ada apa dengan Khansa? Kenapa keluar air dari tubuhnya?! Ada apa ini Ma?!"
"Al, kamu harus tenang. Dengarkan Mama baik-baik. Ingat, harus tetap tenang." Mama terdiam sejenak, untuk menunggu reaksi Alex yang sudah tampak panik.
"Al, sepertinya ketuban Khansa pecah. Kita harus segera membawanya ke RS. Kamu hubungi dokter kandungannya, mengabarkan mengenai..."
"A-AAPA?!! D-dia ke-kenapa?!!"
"Mama sudah menyuruhmu untuk tenang Al. Jaga emosimu. Emosimu akan mempengaruhi kondisinya. Cepat hubungi dokter kandungan kalian. Kabarkan mengenai berita ini, suruh dia menyiapkan hal-hal yang dianggap perlu..."
Tatapan Alex terlihat hampa. Dia seperti tidak mendengar ucapan Mama. Dia terlihat linglung. Otak cerdasnya berusaha mencerna berita yang dibawa Mama, namun sepertinya otaknya itu tidak mampu mencernanya. Dia hanya memeluk Khansa dan menciuminya tanpa melakukan hal apa-apa.
__ADS_1
Mama yang melihat putra bodohnya tidak bisa diandalkan, langsung berbalik dan menyuruh orang-orang yang ada di sana untuk menghubungi dokter kandungan Khansa.
Diana mengambil tas Khansa yang tergeletak di lantai dan mengambil ponselnya. Dia mencari daftar kontak dokter kandungan mereka.
"Saya sudah menghubungi dokter Afifah. Beliau sudah siap dan menunggu kedatangan ibu Khansa." Tiba-tiba Winda datang memberi kabar semuanya. Keluarga tampak lega.
"Sadarkan dirimu Al!! Segera bawa istrimu ke RS!!" Mama memukul punggung Alex, terlihat kesal melihat anaknya yang tak berguna.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Alex langsung membopong Khansa dan mengikuti arahan Mama. Semua keluarga berbondong-bondong ikut ke rumah sakit. Acara yang bertujuan untuk melamar dan seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan berubah menjadi kepanikan melihat Khansa pingsan.
Semua keluarga tampak sangat khawatir, terlebih-lebih Alex. Sembari memangku Khansa, pria itu mulai terisak-isak. Menyalahkan diri sendiri atas kondisi Khansa. Dia sudah tidak peduli dengan anggapan orang-orang. Pikirannya terlalu fokus pada Khansa.
"Ba-bagaimana ini Ma? Ba-bagaimana bila terjadi sesuatu de-dengannya?" Suara ratapan Alex tersirat rasa putus asa dan kesedihan yang mendalam.
"Mama yakin tidak akan terjadi apa-apa Al. Kamu yang tegar. Jangan lemah seperti ini. Kamu harus menjadi kekuatan bagi istri dan calon anakmu." Mama menepuk-nepuk bahu Alex, berusaha menjadi kekuatan bagi anak laki-lakinya yang lemah.
Di sini Mama bisa melihat, betapa cintanya Alex terhadap Khansa. Mama sangat bersyukur dan berterima kasih. Entah dengan apa dia harus mengungkapkan rasa terima kasihnya itu. Karena Khansa, Alex melupakan traumanya. Menjadikan anak bungsunya itu laki-laki normal yang bisa mencintai lagi.
Mama berjanji dalam hati, akan menyayangi, mencintai dan mencurahkan segenap perhatiannya terhadap Khansa.
Mama mendekat pada Khansa dan mencium keningnya. "Yang kuat ya Nak. Semoga kamu dan bayimu masih berada dalam lindunganNya." ucap Mama dalam hati.
***
"Kenapa kejadian ini terjadi lagi?! Bukankah saya sudah menyuruh Anda untuk menjaganya?! Untuk tidak membuat istri Anda stress?! Kali ini apalagi yang Anda lakukan hingga membuat ketubannya kembali pecah?!" Dokter Afifah yang biasanya lembut dan keibuan terlihat galak. Beliau memarahi Alex yang tengah membaringkan Khansa di ranjang rumah sakit.
"A-apa ma-maksudnya?!"
"Saya marah!! Benar-benar marah!! Anda sebagai suami tidak bisa menjaga istri Anda dengan baik. Sebaiknya Anda keluar dulu. Saya akan memeriksa kondisi istri Anda. Urusan kita belum selesai!!" Dokter Afifah mengedikkan bahunya, menyuruh perawat untuk mendorong Alex keluar dari ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Alex menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan hampa. Kata-kata dokter Afifah terngiang-ngiang di kepalanya.
Kejadian yang terulang lagi? Apa maksudnya? Kejadian apa?
Semua keluarga berkumpul di depan pintu ruang pemeriksaan. Raut-raut wajah khawatir menghiasai setiap wajah yang ada di sana. Alex tampak sangat frustasi. Pikirannya berputar-putar pada kata-kata yang dilontarkan dokter Afifah, namun dia tidak kunjung mendapat jawabannya.
Dua puluh menit kemudian pintu ruang pemeriksaan terbuka. Semua keluarga berdiri dan mengelilingi dokter Afifah. Tatapan dokter itu langsung tertuju pada Alex.
"Anda benar-benar suami yang tidak bertanggung jawab ya!! Bukannya saya sudah mengatakan pada Anda untuk menjaga istri Anda baik-baik. Kenapa kejadian ini terulang lagi?!"Dokter Afifah memarahi Alex di hadapan semua orang. Semua orang terdiam, nampak tak bisa berkata-kata. Mama yang merasa anaknya dipermalukan, mulai angkat bicara.
"Kenapa dokter memarahi anak saya di depan umum seperti ini? Sebenarnya ada apa ini? Bisa dokter jelaskan alasannya?"
"Oh, Anda adalah ibu dari pria ini? Mohon maaf sebelumny bila kata-kata saya kasar. Namun saya harus menegaskan satu hal. Saya biasanya tidak seperti ini. Tapi melihat putra Anda melakukan kesalahan yang sama berkali-kali membuat saya tidak bisa mendiamkan hal ini. Ini menyangkut nyawa dua orang Bu!"
"Ma-maksudnya apa? Ke-kenapa nyawa dibawa-bawa?" suara Mama mulai gemetar, nampak tidak yakin.
"Putra Anda telah lalai. Sikapnya itu membahayakan nyawa ibu dan bayinya. Gara-gara putra Anda, ibu Khansa hampir kehilangan bayinya, dua kali!!" tandas dokter Afifah dengan berapi-api.
BRUUUKKK
Semua mata tertuju pada asal bunyi itu. Ekpresi terkejut nampak terlihat di setiap tatapan mereka ketika melihat tubuh Alex jatuh terduduk dengan wajah tertunduk.
Alex terlihat seperti pria yang telah kalah dalam peperangan. Tubuhnya gemetar dan suara isakan mulai terdengar. Alex menangis dalam penyesalan.
***
__ADS_1
Happy Reading 😚
NB : Updatenya ngeslow ya. Kerja pulang malem terus, nggak bisa ngetik lebih 🙏 Btw, terima kasih banyak atas votenya. Benar-benar nggak nyangka yang ngevote banyak banget. Aku terhaaarrruuuuh banget genk 🤧🤧 kechup atu-atu 😚😙🤗 Makasih ya kezheyengaaan semua 😗😚😙🤗