Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 71 - EPILOG Part 1


__ADS_3

Malam itu Khansa tersenyum-senyum sendiri membaca chat di grup barunya. Bagaimana tidak, isi dari grup itu selain membahas masalah anak juga membahas masalah ranjang. Membuat wajah Khansa tak henti-hentinya bersemu merah.


Dirinya yang sudah menikah saja begitu malu membaca percakapan ini, bagaimana perasaan Sizil dan Winda? Entahlah, Khansa tak bisa membayangkannya.


"Kenapa senyum-senyum? Ada yang lucu?" tiba-tiba kedua tangan Alex sudah melilit pinggang Khansa yang kembali ramping. Bibir pria itu mengecupi leher dan tengkuk Khansa, membuat wanita itu kegelian.


Mereka sedang berada di kamar Alex yang telah dihias layaknya kamar pengantin. Seperti tahu keinginan anaknya, Mama segera membawa baby Alkha agar tidak mengganggu malam mereka sehingga pada akhirnya tinggalah mereka berdua.


"Benar katamu Mas. Tidak seharusnya aku memaksakan diri untuk memiliki teman. Pada akhirnya teman-teman yang tulus datang dengan sendirinya," Khansa menunjukkan grup chat barunya. Alex menatapnya dengan puas.


"Ya, mereka adalah orang-orang yang baik dan tulus. Teruslah bersama mereka. Jangan takut tidak memiliki teman sayang. Karena satu teman tulus lebih berharga dari seribu teman culas seperti mereka." Alex merujuk pada teman SMA mereka.


"Iya Mas, apa yang kamu katakan benar..."


"Jadi... Apa sekarang aku boleh melakukannya?"


"Hah?"


"Aku tadi tanya Mama, kata Mama masa nifasmu sudah selesai. Jadi, apa sekarang aku boleh meminta hakku?" suara Alex terdengar mesum. Napasnya mulai berat. Terasa menggelitik dan geli.


"A-aku belum siap Mas..." Ya, Khansa memang belum siap. Dia masih memakai baju santai. Padahal ia berencana akan mandi dan memakai lingerie, sesuai saran dari Mbak Mutia.


"Tapi aku sudah sangat siap." Alex menggeram sembari menggesek-gesekkan tonjolan tubuhnya di belahan tubuh istrinya.


"Ba-baiklah. Ijinkan aku mandi dulu. Setelah ini kita akan melakukannya..."


"Apa kamu yakin sayang? Kamu tidak sedang membodohiku kan? Kalau iya, aku akan menyusulmu ke kamar mandi."


"Yakin Mas. Beri aku tiga puluh menit..."


"Terlalu lama. Lima menit!"


"Mandi macam apa itu?"


"Tidak mau tahu!! Tubuhku sakit menahan ini selama 47 hari sayang. Aku tidak ingin menundanya lagi!!"

__ADS_1


Ya ampun, Khansa begitu tercengang. Alex begitu detail menghitung masa-masa harus berpuasa??!!


"Baiklah, kalau begitu dua puluh menit?" Khansa masih mencoba untuk bernegosiasi.


"Sepuluh menit. Titik! Dalam waktu sepuluh menit kamu tidak keluar, aku akan menyusulmu ke dalam."


Mau tidak mau Khansa hanya bisa mengikutinya. Dia mandi dengan cepat. Membersihkan seluruh tubuhnya dengan cermat. Menyemprotkan parfum di area-area tertentu. Setelah itu dia mulai memakai lingerie berwarna merah yang dipesannya dengan begitu tiba-tiba.


"Sayang, satu menit tidak keluar, aku akan menyusulmu!" teriak Alex dari balik pintu.


"Iya Mas, iya. Ini aku udah selesai..." Khansa segera membuka pintu kamar mandi dan mendapati pria itu telah berada di depannya. Menatap tubuhnya dari atas ke bawah. Kilat gairah memenuhi matanya. Apalagi melihat Khansa memakai baju yang tak biasa.


Lingerie itu menutupi bagian tubuh Khansa yang tidak sempurna, sisa-sisa melahirkan dan menonjolkan apa-apa yang perlu ditonjolkan. Alex tidak bisa menahan diri lagi. Dalam satu kali gerakan dia langsung menggendong tubuh Khansa.


"Aku akan memakanmu!!" geramnya penuh nafsu.


"Auww Mas, turunkan aku!!"


"Tidak akan!!"


[Gunakan imajinasi kalian genk, karena aku lelah menulis adegan "iya-iya". Nggak di sini, nggak di sana (aplikasi sebelah) ada saja yang melaporkan/mereport. Jadi daripada dilaporkan, mending tidak kutulis sama sekali 🤧]


***


[EPILOG]


Khansa sedang berusaha menyuapi kedua anaknya. Dengan perut besarnya dia mengikuti kemana pun langkah Alkha berpijak. Sementara di sudut ruangan Shasa tampak menangis meraung-raung.


"Buka mulutnya Dek... Ayo maem, aaa..."


"Nggak mau!! Huuuuaaa!!" Shasha menepis sendok yang dijulurkan ke mulutnya. Wajahnya penuh dengan airmata. Ingusnya sudah keluar kemana-mana. Khansa tersenyum kecil melihat putri kecilnya seperti itu.


Dia meletakkan makanan di meja, mengambil tissue dan mengelap wajah Shasha sampai bersih. Kemudian dia meraih tubuh gadis kecil itu dan memangkunya.


"Uhhh, sayang... Anak Mama sayang... Kenapa nangis terus sih? Makan dulu ya?"

__ADS_1


"Nggak mau!! Huuuaaaaa!"


"Kalo Adek nggak mau makan, Kakak aja yang makan Ma... Aaa..." Alkha memeluk tubuh Khansa dan membuka mulutnya lebar-lebar. Khansa kembali menyendok makanannya dan menyuapi Alkha.


"Hemm... Pinternya anak Mama. Sini Mama cium..." Alkha dengan senang hati memberikan pipinya untuk dicium. Kemudian tangan kecilnya merangkul leher Khansa dan menciumi wajah ibunya dengan gemas.


Khansa menatap Alkha dengan takjub. Setiap menatap Alkha selalu mengingatkan Khansa pada Alex. Alkha adalah miniatur dari Alex. Dari segi wajah, kecerdasan, dan perilaku. Sikap Alkha selalu manis. Bila Alesha sangat manja, Alkha justru sebaliknya. Pria kecil itu berperilaku dewasa melebihi umurnya. Selalu mematuhi kata-kata Khansa, memberi banyak pelukan dan ciuman untuknya. Selalu mandiri dan menjadi pelipur lara orang-orang disekitarnya.


Melihat Alkha mengingatkan kenangan lama. Kenangan demi kenangan yang datang silih berganti. Saat-saat mengetahui keberadaan Alkha di rahimnya. Perjuangannya untuk hidup sendiri di kota Malang. Betapa Alkha sangat mengerti dirinya. Alkha tidak pernah rewel. Tidak pernah membuatnya mual sepanjang hari ataupun mengidam di tengah malam.


Semenjak masih janin Alkha sangat mengerti dirinya. Alkha tahu tidak ada papa yang mendampinginya, sehingga kehamilannya tidak aneh-aneh. Bahkan sampai melahirkan pun berjalan dengan sangat lancar. Berbeda sekali ketika ia sedang hamil Alesha.


"Kakak sudah makan tuh Dek. Adek makan juga ya? Ini enak lho, ayo buka mulutnya... Aaaa..."


"Nggak mau!! Huuuuuuaaa... Papaaaaa!! Paaapaaaaa!!" Tangisan Shasha semakin keras. Khansa tahu penyebabnya apa. Gadis kecil ini merindukan papanya.


Alesha Putri Yohan (seperti biasa, Alex tetap tidak kreatif) panggilannya Shasha adalah putri kedua dari pasangan Alex dan Khansa. Gadis kecil itu berumur empat tahun, hanya berbeda satu tahun dengan Alkha, kakaknya.


Pada waktu itu Alex begitu bersemangat untuk memakan Khansa kembali setelah berpuasa selama 47 hari sehingga melupakan janjinya sendiri. Pria itu lupa dengan janjinya untuk tidak membuat Khansa hamil (ucapan Alex ketika Khansa sedang melahirkan) dan melupakan segala bentuk pengaman sehingga pada akhirnya ketika usia Alkha baru menginjak tiga bulan wanita itu kembali hamil.


Reaksi Alex mengetahui Khansa hamil adalah panik!! Bayangan Khansa melahirkan mulai menghantuinya. Rasa sakit dan penderitaan di wajah Khansa tak pernah hilang dalam ingatannya. Alex menangis dan meminta maaf berkali-kali. Khansa menenangkannya. Menghibur suaminya dan mengatakan bahwa ia senang telah hamil lagi.


Seperti biasa, tidak cukup sekali dua kali untuk meyakinkan Alex. Untungnya perhatian pria itu terpecah dengan keberadaan Alkha. Dia menjadi suami dan seorang ayah yang siaga. Yang selalu membantunya dalam hal apapun.


Ketika Alkha menginjak umur enam bulan, Alex kembali ke perusahaan dan mulai mengembangkannya. Winda terkadang harus wara-wiri antara rumah dan perusahaan untuk menjalankan tugas dari Alex.


Sekarang Alex sudah berubah. Tingkat kepekaan pria itu mulai meningkat. Dia belajar dari pengalaman masa lalunya dan menempatkan perasaan istrinya di posisi yang pertama.


Hampir setiap lima menit sekali Alex selalu memberi kabar pada Khansa. Bila sangat sibuk, dia akan mengabari setidaknya setengah jam sekali. Dia tidak lagi memberitahu kabarnya melalui Winda, melainkan menghubungi istrinya secara langsung.


Dua puluh menit yang lalu Alex memberi kabar bahwa dia akan mengadakan meeting sehingga akan mengabarinya satu jam kemudian. Khansa mengiyakan, karena pada saat itu Alesha masih belum bangun.


Begitu gadis cilik itu bangun, hal pertama yang dicarinya adalah papanya. Alesha menangis meraung-raung begitu tidak menemukan apa yang dicarinya. Ya, Alesha ini adalah gambaran bucin dirinya pada Alex.


***

__ADS_1


Next 👉😉


__ADS_2