
Pada akhirnya hari itu kembali menjadi hari yang panjang bagi keluarga Papa Atmadja. Setelah drama kelahiran putra Alex dan Khansa, kali ini drama dilanjutkan dengan kelahiran putri Aaron dan Diana.
Bila Khansa sangat tenang dan menahan rasa sakitnya, namun tidak dengan Diana. Wanita itu berteriak-teriak. Sumpah serapah keluar dari mulutnya setiap rasa sakit datang. Sementara Aaron menjadi bulan-bulanan kekesalannya. Entah berapa banyak jambakan dan cakaran yang diterima Aaron. Pria itu menerimanya dengan pasrah.
Dalam jangka waktu empat jam, seorang putri cantik kembali lahir ke dunia. Suka cita kembali dirasakan oleh keluarga besar.
Tidak ada masalah pada ibu dan bayinya sehingga setelah di rawat selama dua hari, ibu dan bayinya itu bisa pulang ke rumah.
Keluarga memutuskan untuk menginap di rumah Pondok Indah. Keluarga Alex menginap di rumah Aaron sementara keluarga Khansa menginap di rumah Alex.
Alex mempekerjakan dua baby sitter untuk menjaga baby Al termasuk Winda, meskipun Khansa tidak menghendakinya. Sementara dokter anak setiap hari datang ke rumah untuk memantau perkembangan Alkha serta mengedukasi Alex dan Khansa dalam perawatan bayi.
***
Hari-hari mereka penuhi dengan menjaga baby. Alex menjadi ayah siaga. Dia selalu sigap dan tanggap. Menjadi orang yang lebih dulu bangun ketika baby Al menangis di tengah malam. Berusaha untuk tidak membangunkan Khansa bila tidak mendesak.
Dia sudah pintar mengganti popok, baju maupun menenangkan baby Al yang gelisah. Hanya satu hal yang tak bisa dilakukannya, yaitu menyusui. 😌
Kesibukannya dalam mengurus baby Al membuatnya sedikit banyak mengalihkan perhatiannya dalam berpuasa untuk tidak menjamah tubuh istrinya. Tapi tentu hal itu tidak sepenuhnya efektif.
Ada malam-malam ketika baby Al sangat tenang sehingga tidak mengganggu tidur kedua orangtuanya. Di malam-malam seperti itu ia akan merasa gelisah. Setiap melihat Khansa hasratnya selalu membara. Entah kapan hasrat ini akan meredup? Mungkin selamanya akan seperti ini.
Mau hamil atau tidak, Khansa selalu menggairahkan di matanya. Bila hasrat itu datang yang bisa dilakukannya hanyalah mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Terkadang hobby lamanya kembali muncul, yaitu bermain solo sembari membayangkan tengah menjamah tubuh istrinya. Tentu saja Khansa tidak tahu dengan kelakuannya ini. Ia tidak ingin membebani Khansa dengan hal seperti ini. Khansa pasti akan merasa bersalah dan pada akhirnya akan membantunya. Ia tidak ingin hal itu terjadi.
***
Hari ini adalah tepat hari ke 35 baby Alkha maupun baby Arana lahir. Semua ritual adat jawa sebagai penyambutan terhadap kedua bayi itu telah selesai dilakukan, baik itu mendhen batir (mengubur ari-ari), brokohan (barokah/syukuran), sepasaran, puputan, aqiqah maupun selapanan.
Acara selapanan baru saja berakhir. Keluarga besar kembali berkumpul di ruang tamu rumah Alex.
__ADS_1
"Menurut Papa, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakannya. Papa juga sudah lelah diusik oleh Mama kalian tiap harinya. Tapi niat Mama juga benar."
"Soal apa ini Pa?" tanya Aaron.
"Soal pernikahan kalian. Kalian harus menikah lagi. Kali ini harus sah secara negara maupun agama. Selain untuk mempertegas status kalian, ini juga akan memudahkan dalam mengurus segala hal ke depannya terutama untuk anak-anak kalian. Mama kalian juga memiliki impian besar untuk menggelar resepsi untuk kalian. Jangan kecewakan dia."
Alex dan Aaron saling bertukar pandang. Tampak berpikir. Kemudian mereka mengalihkan pandangannya pada istri masing-masing, seolah-olah ingin melihat reaksi mereka mendengar ucapan Papa.
"Apa kalian setuju?" tanya Papa.
"Aku setuju untuk menikah lagi Pa. Tapi tidak dengan resepsinya. Kamu juga tidak ingin resepsi kan sayang?"ujar Alex sembari menatap Khansa.
"Aku terserah kamu Mas. Aku akan ikut apapun keputusanmu..." Khansa menunduk. Dari wajahnya terlihat kekecewaan yang berusaha untuk disembunyikan.
"Lagi-lagi kamu tidak peka ya Al?! Semua wanita menginginkan resepsi untuk pernikahannya. Rupanya masalah kemarin belum membuatmu jera ya?!" Mama mendelik, menatap Alex dengan tatapan ingin membunuh.
"Sabar Ma. Jangan terpancing. Kita di sini untuk membicarakan pernikahan mereka." Papa berusaha meredakan emosi Mama yang mulai memuncak.
"Kesal Pa! Anakmu itu nggak pintar-pintar!"
"Tetap harus sabar Ma. Begitu-begitu dia anakmu juga," Mama bersiap untuk membantah, tapi kata-katanya dipotong oleh Aaron yang menyetujui semua rencana itu.
Malam itu di buat keputusan. Mereka akan menikah di kota J dua minggu kemudian. Semua persiapan akan dilakukan oleh Mama. Mereka hanya perlu menyiapkan tamu yang akan diundang. Mereka berempat akan dinikahkan di hari yang sama.
***
Seminggu sebelum upacara pernikahan dilangsungkan, rombongan Alex dan Khansa, Aaron dan Diana dan bayi mereka bertolak ke kota J dengan membawa semua asisten.
Mereka menginap di rumah megah orangtuanya. Pertama kali menatap rumah itu membuat Khansa tercengang. Semua memori kembali berputar di kepalanya. Dulu dia hanya bisa melihat rumah ini dari luar pagar ketika tengah mencari Alex yang berakhir dengan menyusul Alex ke bandara.
__ADS_1
Kali ini dia bahkan memasuki rumah megah itu berstatus sebagai menantu pemilik rumah, istri dari seorang Yohan Alexander, seorang pria yang menjadi idola satu sekolah.
Terkadang Khansa berpikir bahwa semua ini hanyalah mimpi. Bagaimana mungkin pria 99% itu bisa memilihnya? Pria yang memiliki segala-galanya baik itu kekayaan, kepintaran, ketampanan dan hati yang baik?
Mengapa keluarga Alex begitu baik terhadap keluarganya? Tidak memandang sebelah mata keluarganya yang sederhana? Tidak malu untuk memiliki besan mantan seorang sopir angkot? Padahal beliau mantan orang nomor satu di kota itu?
Semua ini merupakan keberkahan yang diberikan Tuhan terhadapnya. Khansa selalu bersyukur dan bersyukur bila mengingat hal itu semua.
"Kamarku ada di atas yank. Maaf ya kalau berantakan." Tangan kanan Alex menggenggam tangan Khansa, sedangkan tangan kirinya menggendong baby Al di lengannya.
Meskipun berlantai dua, tapi rumah keluarga Papa Atmadja lebih besar dan megah dibandingkan rumah putra-putranya. Khansa masih tidak bisa berhenti tercengang melihat kemewahan itu.
Alex menuntun Khansa ke kamarnya dan membuka pintunya secara perlahan. Kesan yang dilihat Khansa pertama kali, adalah penghuni kamar itu pastilah seorang remaja. Banyak tempelan poster dari band-band yang populer di jamannya, sementara gitar tergeletak di sudut kamar.
Di depan ranjang terdapat TV berukuran besar yang dilengkapi oleh bermacam-macam konsol game. Satu-satunya yang berbeda dari kamar itu adalah adanya ranjang bayi di sisi ranjang utama.
"Semenjak lulus SMA aku jarang pulang ke rumah. Jadi keadaan kamar dibiarkan seperti dulu. Maaf kalau kamu kurang nyaman," Alex meletakkan baby Al yang tertidur di ranjang dan mengecup tangan Khansa.
"Aku ingat pernah melihatmu bermain gitar ketika class meeting Mas, tapi setelah menikah aku tidak pernah melihatmu memainkannya."
"Kenapa tiba-tiba bahas gitar?"
"Entahlah. Tiba-tiba aku rindu sosok tak terjangkau yang digilai semua gadis satu sekolah itu," Khansa merebahkan kepalanya di dada Alex, tatapannya melamun. "Tidak disangka sosok itu sekarang telah menjadi milikku. Betapa beruntungnya aku..."
"Andaikan aku bisa menunjukkan isi hatiku... Percayalah sayang, akulah sosok beruntung itu. Setiap malam aku tidak pernah berhenti bersyukur karena Tuhan mengirimmu padaku. Terima kasih karena telah menerima dan mencintai laki-laki tak sempurna ini..." Mereka saling bertatapan mesra, penjar-penjar cinta yang begitu besar nampak terlihat di mata mereka. Secara perlahan wajah mereka mendekat, ciuman mesra pun mulai bertaut.
***
Next 👉😊
__ADS_1