Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 44 - Perlahan Mulai Terbuka


__ADS_3

Semua orang nampak terkejut mendengar pernyataan yang dilontarkan dokter Afifah. Mereka kehilangan kata-kata.


Ibu bergerak terlebih dulu dan mendekati dokter Afifah. Beliau memegang lengan dokter Afifah dengan tangan gemetar.


"La-lalu bagaimana kondisi putri saya sekarang Dok? A-apakah, a-apakah..." Ibu menelan ludah dengan susah payah. Tampak kesulitan untuk melanjutkan kata-katanya. Raut putus asa jelas terlihat di wajahnya. Dokter Afifah merasa empati. Beliau menggenggam tangan Ibu dengan lembut sembari menepuk-nepuknya, seolah-olah memberi kekuatan dan kata-kata penghiburan.


"Ibu tidak perlu khawatir. Ibu Khansa dan bayinya baik-baik saja. Cairan amnion di tubuhnya masih terpenuhi. Namun hal ini tidak bisa dianggap sepele. Bila cairan ini masih keluar secara terus-menerus, maka kami akan memutuskan untuk melakukan SC." (SC : Sectio Caesar)


"Haahh..."


"Ibu!!" Fian dan Ayah bergerak secara bersama-sama dan meraih tubuh Ibu yang tiba-tiba lemas. Airmata kelegaan mengalir di wajahnya. Ayah langsung memeluk Ibu, menghibur dan menenangkannya. Mengatakan bahwa Khansa dan bayinya baik-baik saja.


"Ibu Khansa dan calon bayinya baik-baik saja. Saya sudah memberinya vitamin dan cairan elektrolit. Untuk mengontrol tingkat perubahan pada cairan amnionnya, sementara ibu Khansa di opname dulu. Bila tidak ada perkembangan selama beberapa hari ke depan, maka kelahiran prematur tidak bisa dihindarkan. Saya terpaksa akan melakukan SC. Itu saja dari saya." Dokter Afifah berbalik, bersiap untuk meninggalkan rombongan keluarga itu. Namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, "Mungkin beberapa saat lagi pasien akan segera sadar. Ada baiknya ketika sadar dia didampingi oleh orang terdekat." Selesai mengucapkan kata itu, dokter Afifah berlalu dari tempat itu.


Aaron menghampiri Alex yang masih duduk bersimpuh di lantai, menepuk-nepuk punggung adiknya itu, memberikan kekuatan tanpa kata. "Temani istrimu Al. Jangan lemah seperti ini. Mereka sedang membutuhkanmu."


Alex tidak menjawab, dia masih terisak. Dia benar-benar tidak menyangka dengan berita yang baru saja didengarnya. Ini satu kejutan yang besar untuknya. Dia pikir selama ini kondisi Khansa maupun bayi mereka baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari mereka. Namun nyatanya tidak seperti itu. Tanpa sepengetahuannya, Khansa dan bayi mereka dalam bahaya. Dia telah menjadi pria yang gagal!!


"Berdirilah. Temui istrimu. Jangan meratap tak berguna seperti ini!" Aaron menarik tubuh Alex. "Masih ada kesempatan bagi kalian berdua. Aku tidak tahu permasalahan kalian apa, tapi aku yakin kalian masih bisa memperbaikinya. Temui dia." Aaron menepuk-nepuk punggung adiknya, kemudian dia membawa Alex ke kamar Khansa. Membiarkan pria itu berada di sana.


Sepeninggal Aaron, Alex mengangkat wajahnya. Tubuhnya gemetar melihat sosok yang terbaring lemah di ranjang. Terjangan rasa bersalah dan penyesalan menyelimuti hatinya.


Selangkah demi selangkah dia mendekati sosok itu. Tubuhnya tak berhenti gemetar karena emosi. Perasaannya sangat campur aduk. Perasaan menyalahkan diri sendiri menguasainya.

__ADS_1


Bagaimana bisa dirinya tidak menyadari kondisi Khansa? Apa ini yang disebut mencinta? Dia sudah melakukan berbagai cara untuk mengetahui kabar Khansa, namun hal seberbahaya ini dia malah tidak mengetahuinya. Apa yang salah dengan sikapnya? Apa benar yang dikatakan Mama? Kalau dirinya pribadi yang tidak peka?


"Sa-sayang... huuuu..." tanpa bisa menahan diri, Alex langsung menghambur dan memeluk tubuh Khansa.


"Sa-sayang... Ma-maaf... Maafkan aku... A-aku benar-benar tidak tahu... Maafkan aku yank... Maaf... Huuuu..."


"A-aku bodoh... Ba-bagaimana bisa aku tidak mengetahui kondisimu? A-aku tidak berguna... A-aku bukan suami yang baik... A-aku bu-bukan papa yang ba-baik... Maaf... Maaf... Maafkan aku... Huuuu..." Alex menangis sembari memeluk tubuh Khansa. Meminta maaf sembari menghiba-hiba. Memohon pada Khansa untuk memaafkan dan memberinya kesempatan kedua. Suaranya terdengar menyayat, tampak dipenuhi dengan penyesalan. Semua orang yang mendengarnya pasti akan tahu bahwa suara itu benar-benar berasal dari ungkapan hatinya yang terdalam.


Lama Alex menangis di sana. Semua keluarga tampak sedih melihatnya. Beberapa orang masuk ke kamar dan menghiburnya, menyuruhnya untuk tetap tenang dan meyakinkan bahwa Khansa dan bayinya baik-baik saja.


Berangsur-angsur Alex mulai sedikit tenang. Airmata telah surut dari wajahnya, namun matanya masih tampak berkaca-kaca. Dia mengecupi tangan dan kening Khansa berkali-kali. Sesekali dia berbisik, mengatakan bahwa dia mencintai istrinya itu. Tak luput pula dia menciumi perut Khansa, mengatakan hal yang sama pada putranya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alex terlalu malas untuk melihat siapa yang datang. Dia pikir itu pasti salah satu dari keluarganya. Alex tetap fokus pada Khansa. Menyibak rambut di dahinya serta kembali mengecupi keningnya.


"Lihat apa?" tanyanya enggan. Diana menyodorkan ponsel yang setahu Alex itu milik Khansa.


"Tadi aku berniat menelepon dokter kalian. Karena kebingungan mencari di daftar kontak, aku mulai membuka chat. Aku tahu telah bersikap tidak sopan. Tapi karena itu, tidak sengaja aku melihat chat ini." Diana terdiam sejenak, menatap Alex lekat-lekat, "Al, apa kamu yakin Khansa mengetahui hubungan kita yang sebenarnya?"


"Apa maksudmu Di?" Alex meraih ponsel itu dan membaca chat yang ditunjukkan Diana. Chat itu berasal dari Sizil yang di dalamnya berisi foto-foto dirinya dan Diana yang cukup mesra. Isi chat itu menanyakan, apakah pria yang berada di foto itu adalah dirinya? Memang benar foto itu adalah dirinya, lalu apa masalahnya?


"Al, apa kamu yakin Khansa tahu bahwa hubungan kita hanya sebatas ipar? Apa kamu yakin dia tahu aku sedang mengandung anak Aaron? Karena, bila melihat isi chat itu, aku tidak yakin dia mengetahuinya." Diana menatap Alex yang masih membaca chat itu dengan serius. Membacanya berulang-ulang, seakan-akan butuh waktu lama untuk memahaminya.


"Di chat itu, mereka berasumsi bahwa kamu adalah suamiku. Seluruh orang yang membaca gosip juga akan berasumsi hal sama. Pertanyaannya, apa Khansa juga berpikir seperti itu?"

__ADS_1


Alex menatap Diana. Dari tatapannya tampak tidak yakin dan penuh keraguan.


"Aku yakin dia tahu..." ujarnya lirih.


"Apa kamu memberitahunya langsung?"


"Tidak. Tapi aku yakin orangtuanya memberitahu semua kondisiku..."suara Alex semakin lirih dan tidak yakin.


"Darimana kamu tahu kalau orangtua Khansa memberitahu kondisimu? Apa Khansa sendiri yang mengatakannya padamu? Atau orangtuanya?!"


Alex terdiam, raut wajahnya tampak bingung. Seakan-akan menyanggah bahwa perkataan Diana itu tidak benar.


"Ya ampun Al!! Melihatmu seperti ini, aku semakin yakin dia tidak mengetahuinya!! Lihatlah Al, dia tidak membalas pesan itu. Bila dia tahu hubungan kita, dia harusnya menyanggah pertanyaan temannya. Dia akan mengatakan bahwa hubungan kita tidak seperti yang kebanyakan orang lain pikirkan. Tapi Khansa tidak membalasnya Al."


"Tapi..."


"Sejak kapan Khansa berubah? Bukannya dia meminta berpisah setelah kepulanganmu dari Singapura? Lihat chat ini Al!! Chat ini dikirim ketika kamu di Singapura. Mungkin saja dia meminta berpisah karena melihat foto-foto ini. Dia menganggap kita ada hubungan!"


***


Happy Reading 🤗


Nitijen : Nggak happy bacanya Ka!! Selalu aja gantung, bikin kezeeeeeeelll 😡🤧😭

__ADS_1


Aqoh : Haaaah, iya maafkan genk... Ini ngetik chapter selanjutnya belum dapat 1000 kata, jadi belum bisa diterbangin. Mata juga ngantuk banget, jadi update seadanya dulu ya 🙏🙇‍♀️😪😴


__ADS_2