Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 72 - EPILOG Part 2 [END]


__ADS_3

Pada saat hamil Alesha, Khansa begitu manja. Apapun dan dimanapun ia selalu ingin bersama dengan Alex. Bahkan ia ikut ke perusahaan Alex sembari menggendong Alkha. Bila ditinggal sebentar saja ia akan menangis, bagaikan wanita yang terbuang.


Tidur minta selalu dipeluk. Bila Alex tanpa sadar merubah posisi tidurnya, Khansa akan marah dan kembali menangis menghiba-hiba. Di dalam rumah, Khansa selalu minta digendong. Sebenarnya ia ingin digendong dimana-mana, tapi bila diluar rumah entah mengapa rasa malunya masih ada.


Makan minta disuapi, bahkan mandi pun minta ditemani. Terkadang Khansa frustasi dengan hormonnya yang menggila itu. Dia takut Alex akan bosan padanya. Untunglah ketakutannya itu tidak terjadi. Reaksi Alex justru sebaliknya. Pria itu senang tak terkira begitu tahu istrinya selalu membutuhkannya setiap waktu.


Dan pada akhirnya, bayi perempuan itu pun lahir. Tingkahnya begitu mirip dengannya saat hamil. Sangat menggilai dan memuja papanya. Hanya kakak Alkha Om Aaron, Om Fian dan kakek Atmadja yang bisa menenangkan dan mengalihkan perhatiannya dari Alex.


Awalnya semua merasa heran dengan tingkah unik Alesha. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata Alesha menyukai pria-pria tampan dan wajah-wajah rupawan itu dimiliki oleh keluarga Alex.


Khansa menatap Alesha yang masih menangis. Kali ini tangisannya lebih tenang. Alkha memeluk dan menepuk-nepuk punggung gemuk adiknya seraya mengiming-ngiminginya mainan.


"Adek jangan nangis lagi ya..."


"Huuuu... Papaaa... Paapaaa..."


"Papa masih kerja. Adek main sama kakak saja ya..."


"Huuuu... Nggak mau... Papaaaa... Papaaa..."


Rupanya kali ini Alesha tidak bisa dibujuk. Dia begitu merindukan papanya. Ya wajar saja. Tadi malam Alex pulang ketika Alesha sudah tidur. Pagi ini pun pria itu berangkat ketika Alesha belum bangun. Jadi hampir seharian penuh gadis cilik itu tidak melihat papanya.


"Mama coba hubungi Papa dulu ya. Shasha jangan nangis lagi sayang," Khansa mengecup puncak kepala gadis gembul itu dengan gemas.


Khansa tahu suaminya sedang meeting, sehingga dia memutuskan untuk mengirim pesan text. Tak berapa lama kemudian, Alex langsung melakukan panggilan video.


"Ada apa sayang?"


"Mas? Sibukkah?"


"Iya, lumayan. Ada apa Sayang?"


"Anakmu nangis nih. Adek nggak mau makan..." Khansa mengarahkan kamera pada Shasha yang belum juga menghentikan tangisannya. Alex tampak tersenyum di kamera.


"Berikan ponselnya padanya."


"Adek, ini ada Papa lho." Khansa menyerahkan ponselnya pada putri kecilnya. Alesha menerimanya dengan antusias.


"Papaaaaa... Huuuu..."


"Princess kenapa nangis? Uhhh kasihan anak Papa... Kenapa nangis sayang??"


"Papaaaa... Kapan pulang?? Shasha kangen... Huuuu..."


"Papa akan pulang secepat mungkin tapi ada syaratnya."


"Apa?? Hiks... Hiks..."


"Princess makan dulu ya. Kata Mama princess nggak mau makan? Coba makan sekarang."

__ADS_1


Khansa bertindak cepat. Dia langsung mengambil makanan dan menyuapi anak itu. Shasha makan dengan lahap sembari tetap berbincang-bincang dengan papanya.


Khansa menatap Shasha dengan tatapan lucu. Rasa cinta Shasha pada Alex selalu mengingatkannya pada dirinya sendiri. Ya, rasa cintanya terhadap Alex tak pernah berkurang, bahkan terus bertumbuh setiap harinya. Sampai sekarang pun dia merasa sangat takjub bila mengingat pertemuan pertama mereka. Berawal dari meminjam tipe X dan berakhir dengan saling mendampingi satu sama lain.


***


"Yank, aku pengen." Alex mengecupi pundak Khansa. Tangannya mulai bergerilya. Dari meraba perut buncit Khansa hingga mencubit puncaknya.


"Kalau tiap hari seperti ini, bisa-bisa sebentar lagi aku akan hamil anak ke empat Mas,"


"Tapi aku pengen yank..."


"Pengenmu tiap hari Mas. Untung saja ngantor, coba kalau nggak ngantor? Bisa berapa kali sehari?"


"Bukan salahku yank. Salahmu memiliki feromon terlalu besar. Aku terjerat dengan pesonamu..." tangan Alex mulai menarik risleting baju Khansa dan menciumi punggungnya yang terbuka.


"Masss..."


"Sayang, suara desahanmu membuatku semakin menggila..." Alex langsung membopong tubuh Khansa dan membaringkannya dengan lembut. Dia tatap wajah itu lamat-lamat. Menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Khansa dan mengecup bibirnya dengan lembut.


"Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Khansa, berusaha menjernihkan pikirannya yang mulai berkabut.


"Aku baru saja menidurkannya. Mereka tidur sangat pulas. Jangan mencari-cari alasan untuk menolakku sayang."


"Ng-nggak, aku hanya ingin memastikan, uuuhh..." Alex mencumbu leher Khansa, menyusuri setiap kulit yang terbuka, meninggalkan jejak dimana-mana.


Desahan dan rintihan Khansa mulai terdengar. Bibir mereka saling bertaut, sementara kedua tubuh mulai saling melekat. Hanya tinggal satu kali moment maka tubuh keduanya akan kembali bersatu.


Tangan panasnya menjalar kemana-mana, berusaha membuka baju istrinya. Alex telah dibutakan oleh gairah hingga ia tidak sadar dengan gerakan di sebelah kamar mereka.


KLEK (suara pintu penghubung di kamar mereka terbuka)


"Paaaah, Maaaaah, Adek katanya mau bobo sama Papah Mamah..." suara Alkha yang masih cadel membuyarkan gairah panas yang melanda tubuh mereka.


Khansa langsung mendorong tubuh Alex kuat-kuat dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Untung saja kamar mereka sedikit gelap, sehingga kedua bocah kecil itu tidak akan melihat aktivitas mereka.


"Ambilkan bajuku Mas." bisik Khansa dengan panik. Alex dengan segera mengambil baju istrinya dan membantu memakaikannya dengan kilat. Sementara bajunya sendiri sudah hilang entah kemana sehingga dia harus cukup puas hanya dengan menggunakan kolor saja.


"Papa, Mama? Udah bobo ya? Adek nangis..."


"Huuuu... Papaaaaa..." suara tangisan Shasha terdengar menghiba.


"Katamu sudah menidurkan mereka Mas?!" bisik Khansa gemas sembari mencubiti lengan suaminya.


"Aku berani sumpah sayang, tadi mereka sudah tidur. Aku tidak tahu..."


"Sudah, sudah. Nyalakan lampunya Mas. Panggil anak-anak kemari." Alex mematuhi perintah Khansa. Dia mengambil remote dan menyalakan lampu.


Di depan pintu penghubung dia melihat dua bocah kecil tengah berdiri dengan menyedihkan. Bocah laki-laki merangkul bahu adiknya yang sesegukan sembari memegang boneka beruang. Perasaan bersalah bersarang di dada Alex. Dengan sigap dia segera turun dari ranjang dan menghampiri keduanya. Dia langsung menggendong keduanya dan membawanya ke ranjang mereka.

__ADS_1


"Whoaa, anak-anak Papa, jangan nangis dong." Alex mengecupi pipi keduanya. Alesha langsung menggelayutkan tangannya di leher Alex, seperti enggan melepas papanya.


Di ranjang, Khansa sudah menunggu mereka dengan tangan terbuka. Alex menyerahkan mereka pada Khansa yang memeluk dan mencium mereka satu persatu.


"Mau tidur sama Mama Papa?" tanyanya. Yang dijawab dengan anggukan keduanya. "Ya sudah, langsung tidur ya..." Khansa membaringkan keduanya di tengah-tengah, memisahkan jarak antara dirinya dan Alex.


"Baca dongeng Ma..." Alkha menyerahkan buku cerita di tangannya.


"Oh ya, baiklah. Benahi posisi tidur kalian. Mama akan membacakan dongeng untuk kalian."


"Papa juga ikut gabung." Entah darimana asalnya, Alex berhasil menemukan kaosnya. Dia ikut bergabung di ranjang besar dan memeluk putra putrinya. Alesha menempel erat padanya, sementara Alkha memeluk Khansa.


"Sini, Papa peluk semuanya," Alex menarik tubuh Khansa hingga akhirnya tubuh wanita itu bersandar di dadanya. Alesha tidak mau kalah. Bila Khansa bersandar di bahu Alex sebelah kiri, Alesha di bahu kanan, sementara Alkha tetap konsisten memeluk tubuh Khansa. Mereka berempat saling berpelukan, seperti tak terpisahkan.


Alex mengecupi kesayangannya satu persatu, sementara Khansa mulai membacakan dongeng itu sembari mengusap-ngusap kepala anak-anaknya. Tak terasa rasa kantuk ikut menyerangnya hingga akhirnya dia pun ikut jatuh tertidur bersama kedua anaknya. Tinggallah Alex yang masih terjaga.


Alex menatap kesayangannya satu persatu. Rasa syukur tak terhingga selalu ia ucapkan setiap hari. Betapa sayangnya Tuhan terhadapnya hingga mempertemukannya dengan seorang Khansa. Sosok polos, mandiri, kuat, tegar namun terkadang cengeng untuk hal-hal kecil.


Sosok yang selalu menghiasi hampir separuh hidupnya ini pada akhirnya menjadi pendamping hidupnya untuk selama-lamanya.


"Sayang, terima kasih sudah lahir ke dunia ini. Betapa beruntungnya aku bertemu denganmu. Terima kasih sudah membalas cintaku. Terima kasih sudah menerimaku yang tak sempurna ini. Terima kasih telah menjadi kekasih, sahabat, istri sekaligus ibu dari anak-anakku. Aku sangat, sangat mencintaimu. Tetaplah bersamaku selamanya sampai ajal menjemput kita..." dengan mata berkaca-kaca Alex mengecup kening Khansa, Alkha dan Alesha. Kemudian dia memeluk ketiganya dan tidur dengan hati yang sangat bahagia. Semoga kebahagiaan keluarga kecilnya ini akan bertahan selamanya.


***


BENER-BENER TAMAT ALIAS THE END 😂😂


Yeaaaayy!! Akhirnya tamat juga!! 🥳🥳🥳 Terima kasih aku ucapkan bagi semua readers yang mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Ada yang baper melihat perjalanan hidup Khansa dan Alex. Rasa marah, sedih, kesal dan pada akhirnya bahagia ikut mereka tuangkan di sini.


Sekali lagi aku ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk dukungannya baik dalam bentuk like, komen maupun vote. Semua itu sangat bermanfaat untukku.


Terima kasih, terima kasih, terima kasih yang tak terhingga ya 😚🤗🙇‍♀️


Untuk Q & A bisa ditanyakan di igeh @erka3162 ya 😚🤗


[BONUS FOTO ALEX, KHANSA, ALKHA & ALESHA]








__ADS_1



Makasih buat yang bantu edit 😘😚 Sampai bertemu di novel selanjutnya ya 😚🤗


__ADS_2