Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 45 - Mengakui Kesalahan


__ADS_3

"Itu, itu tidak mungkin Di..."


"Bagaimana kamu bisa yakin? Apa kamu mengatakannya langsung pada Khansa? Bahwa hubungan kita hanya ipar? Apa kamu juga menjelaskan tentang kondisi Aaron?"


"Itu, aku yakin orangtua..."


"Lagi-lagi kamu mengandalkan orangtua Khansa untuk menceritakannya? Seburuk apa hubungan kalian hingga masalah seperti ini tidak kamu bicarakan dengan jelas Al?!"


"Khansa tidak pernah menanyakannya. Aku pikir dia pasti mengetahuinya."


"Al, kenapa kamu berasumsi dia tahu? Kenapa kamu tidak mengatakannya langsung pada Khansa?! Aku pikir komunikasi kalian sangat buruk."


"Dia tidak pernah bertanya Di. Aku juga tidak suka membicarakan masalahku. Khansa tidak suka pria lemah. Membicarakan masalahku, sama artinya dengan memperlihatkan kelemahanku."


"Apa maksudmu? Mengapa kamu berpikir Khansa seperti itu? Apa Khansa pernah mengatakannya?"


"Ya."


"Kapan? Apa kamu yakin dia tidak sedang berbohong? Bila melihat Khansa seperti itu, rasa-rasanya tidak mungkin dia mengatakan hal itu Al..."


"Waktu SMA. Apa kamu ingat aku sakit berhari-hari?"


"I-iya... Ka-kamu sakit gara-gara aku dan Aaron..." suara Diana terdengar lirih, tampak merasa bersalah.


"Salah. Aku sakit bukan gara-gara kalian. Memang kalian turut andil, tapi pemicu terbesarnya karena dia." Alex meraih tangan Khansa dan menciumnya.


"Ma-maksudnya Al?"


"Sebenarnya ini cerita lama, tapi entah mengapa aku tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya. Waktu itu Khansa datang padaku. Dia mengatakan membenciku. Dia dekat denganku untuk memanfaatkanku. Hal yang paling melekat diingatanku, dia membenci pria cengeng yang menangis..."


"Sebentar Al, aku mau meluruskan dulu. Jadi kamu dulu sakit bukan karena kami? Tapi karena perkataan Khansa?"


"Iya."


Diana terdiam, tampak tertegun. Kemudian dia berteriak sembari menutup wajahnya, "Aaakhhh!!"


Sedikit demi sedikit tubuhnya merosot ke bawah. Pintu kamar yang terbuka memungkinkan Aaron untuk melihatnya. Melihat Diana bersimpuh di lantai membuat dia segera masuk ke kamar dan merengkuhnya dalam pelukan.

__ADS_1


"Kenapa? Ada apa? Hem?"


"Huuuu..." Diana menangis sesegukan. Aaron meraih wajahnya, "Ada apa? Kenapa menangis? Ada apa ini Al?"


"Aku juga tidak tahu Kak. Tiba-tiba dia menangis."


"Al... Al... Maafin aku... Maafin aku... A-aku benar-benar tidak tahu... Kelakuanku dulu... a-akan mempengaruhi hu-hubungan kalian seperti ini... Maafin aku Al..." Diana berkata dengan terbata-bata. Airmata mengalir di pipi putihnya. Aaron menghapus airmata itu.


"Ada apa ini? Kenapa menangis?" tanyanya lagi, namun Diana masih enggan menjawabnya. Dia terlalu sibuk menangis hingga kata-kata susah keluar dari mulutnya. Aaron memeluk tubuhnya sembari mengusap-ngusap punggungnya, berusaha untuk menenangkan wanita itu.


Beberapa saat kemudian, Aaron mendudukkan Diana di sofa dan memberinya air, berusaha untuk menenangkan wanita itu. Isakan Diana perlahan mulai hilang. Aaron maupun Alex menatap Diana dengan bertanya-tanya.


"Sekarang, bisa kamu jelaskan mengapa kamu menangis?" tanya Aaron. Diana menatap Alex dengan perasaan takut, malu, bersalah sekaligus sedih. Ekspresi di wajahnya tampak sangat menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


"Al... Ma-maafkan aku... Maaf... Huuuu..."


"Minta maaf? Untuk apa Di? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Alex mulai tidak sabar. Dia harus mengurus Khansa, dia tidak punya waktu untuk meladeni drama seperti ini.


"Al... Se-sepertinya a-aku te-telah menjadi penyebab han-hancurnya hubungan kalian..."


"Apa maksudmu Di? Hubungan kami seperti ini bukan karenamu. Ini karena dia tidak mencintaiku, itu saja."


"Tapi ternyata, pemikiran itu tidak benar. Gara-gara aku kalian menjadi seperti ini. Gara-gara aku, kamu sakit dan menderita trauma seperti ini. Gara-gara aku, kamu menjadi pribadi yang seperti ini. Semuanya gara-gara aku Al!!" Diana berteriak sembari memukul-mukul dadanya. Airmata terus membanjiri wajahnya.


"Sshhh, sayang, tenanglah..." Aaron memeluk Diana, berusaha untuk menenangkan hatinya.


"Apa maksudmu Di?" Alex terlihat bingung melihat tingkah Diana yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Sayang, tenanglah. Ceritakan semuanya secara perlahan. Jangan terbawa emosi. Ingat bayi kita. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan secara perlahan...." Aaron memandu Diana untuk tenang. Berangsur-angsur wanita itu mulai tenang, meskipun airmata masih mengalir di wajahnya.


"Aku siap mendengarkan." ucap Alex tegas. Dia memiliki perasaan tidak enak, sepertinya akan ada suatu hal yang akan diketahuinya. Meskipun dia tidak tahu pasti, tentang apa hal itu.


Diana beberapa kali menarik napas dalam-dalam. Ekspresi ketakutan dan penyesalan sangat terlihat di wajahnya. Kemudian dia berkata, "Al, ada sesuatu yang ingin kuceritakan..."


"Ya, aku mendengarkan."


"Al... Ini semua salahku, benar-benar salahku. Aku yang menyuruh Khansa menjauhimu... Saat masih SMA, dia mendatangiku. Dia datang padaku dan memohon agar kita kembali pacaran. Sepertinya dia sangat khawatir dengan kondisimu saat itu. Namun aku dengan jahatnya menyuruhnya untuk menjauhimu. Waktu itu pikiranku sangat kekanak-kanakan. Aku tidak mau orang yang tidak selevel dengan keluarga kita bergaul dengan kita. Aku tidak mau anak seperti dia bergaul dengan kelompok kita."

__ADS_1


"Ingatan betapa kamu sangat memperhatikannya saat itu membuatku marah. Bagaimana mungkin anak seperti dia mendapat perhatianmu? Karena itu, dengan jahatnya aku melakukan hal itu..."


"Ucapan kebenciannya terhadapmu juga pasti karena dia ingin melakukan apa yang kusuruh, yaitu menjauhimu. Khansa benar-benar mencintaimu Al. Dia rela menyimpan rasa sakit hatinya asalkan kamu bahagia. Dia pikir dengan membuat kita kembali bersama, maka kamu akan bahagia. Aku tahu perasaannya, tapi aku memilih untuk diam. Betapa jahatnya aku...Ketika di hari terakhir kalian harusnya bertemu pun aku menghalanginya..." Diana terdiam sejenak, mengingat-ingat semua kesalahannya dengan raut wajah kesedihan.


"Apa kamu ingat ketika kita meninggalkan bandara waktu itu? Hari terakhir di kota J*****. Khansa datang waktu itu. Dia berteriak-teriak memanggil namamu, mengatakan bahwa dia menyukaimu. Aku yang tahu hal itu, bukannya menyatukan kalian tapi malah bersikap pura-pura tidak tahu..."


"Aku telah mendapat karma untuk semua hal jahat yang kulakukan padanya. Aku berusaha menghalangi cintanya, dan cintaku terhalang juga. Hati kecilku selalu ingin meminta maaf padanya, namun entah mengapa belum ada moment untuk bertemu dengannya. Ketika kutahu kalian kembali bersama, hatiku diliputi oleh perasaan lega. Aku pikir semua kesalahpahaman kalian telah usai. Aku pikir kalian sudah menguburnya dalam-dalam dan saling mengungkapkan perasaan. Melihat kondisi kalian yang seperti itu, aku mengurungkan niatku untuk menceritakan semuanya..."


"Seharusnya dari awal aku sudah melakukannya. Seharusnya dari awal aku tidak menyepelekan hal ini. Andaikan aku menceritakannya lebih awal, hal seperti pasti tidak akan terjadi..."


"Khansa meminta berpisah pasti karena menyangka kita punya hubungan. Khansa pingsan seperti ini juga mungkin karena melihatku. Semuanya salahku Al, maafkan aku... Maaf... Maaf... Maaf..." Diana kembali terisak. Aaron memeluknya dan menghiburnya. Sementara Alex tampak kehilangan kata-kata. Dia terlalu terkejut mendengar semua penjelasan Diana. Dia berusaha menelaah semua ucapan Diana satu persatu.


Khansa mencintainya... Kata Diana Khansa mencintainya. Andre pun mengatakan Khansa juga mencintainya. Apakah benar yang dikatakan orang-orang itu?


"A-apa benar semua kata-katamu Di?! Apa benar kamu yang menyuruh Khansa menjauhiku?!"


"I-ya Al..."


"Apa kamu yakin Khansa menyusulku ke bandara?!"


"Iya Al..."


"Apa kamu yakin dia mengatakan menyukaiku?!"


"Iya..."


"Kenapa kamu tidak mengatakannya Di?!!" Alex berteriak, mengagetkan semua yang ada di sana.


"Tega kamu ya!! Kamu tahu aku menyukainya Di!! Kenapa kamu diam saja?! Kamu tahu efek dari perbuatanmu ini?!! Aku selalu berpikir Khansa membenciku!! Aku selalu takut untuk bersikap terbuka!! Aku takut kehilangannya!! Dan sekarang kamu hanya meminta maaf?!! Teman macam apa kamu ini?!!" Alex berteriak-teriak. Sementara Diana hanya bisa menangis di pelukan Aaron. Benar-benar tidak menyangka dengan kemarahan Alex.


Rupanya suara yang berisik itu mengusik semua orang, tak terkecuali Khansa yang tengah terbaring di ranjang. Wanita itu membuka matanya secara perlahan. Mencari-cari asal dari suara. Dia mendapati suaminya tengah marah-marah dengan segenap emosi yang melandanya.


"Mas??" panggilnya dengan suara lemah.


***


Happy Reading 😚

__ADS_1


NB : Buahahahaha, gantung lagi kek jemuran 😂😂😂 Eh sumveh, aku gak niat mau gantungin nih. Tapi akhir-akhir ini aku sering ngantuk. Biasanya kuat begadang sampe jam 2-3 pagi. Tapi sekarang jam 12 aja udah ngantuk banget. Alhasil cuman sanggup ngetik 1 chapter aja 😂😂🙏 Maaf aku gantungi lagi ya, pamit tedor dulu. Kechup atu-atu bagi yang sabar & gak ngamuk2 😂😂


__ADS_2