Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 48 - Jadi Berpisah?


__ADS_3

"Mas, jangan seperti ini. Lepasin aku..."


"Aku tidak mau!! Jangan tinggalin aku yank... Please, please..." Alex tetap memeluk Khansa dengan erat. Melihat Alex seperti itu membuat Khansa menitikkan airmata.


Mengapa baru sekarang Alex seperti ini? Ketika dirinya sudah membuat keputusan. Mengapa tidak dari dulu-dulu? Ketika hatinya masih lemah dan dipenuhi olehnya? Haruskah dia memberi kesempatan kedua dan memaafkan hal-hal menyakitkan yang dilakukan Alex terhadapnya? Tapi kalau seperti itu, adakah jaminan nantinya Alex tidak akan menyakitinya lagi?


"Mas, jangan seperti ini..."


"Al, jangan bersikap seperti ini. Sikapmu ini akan mempengaruhi emosi istrimu. Pa, bawa anakmu keluar." Tiba-tiba Mama menghambur ke dalam ruangan. Sepertinya seluruh keluarga mendengarkan drama mereka sedari tadi dan tidak sabar karena tidak ada penyelesaian, keduanya terlalu keras kepala.


Papa berusaha membawa Alex untuk keluar dari ruangan, namun Alex menolak. Dia tetap memeluk tubuh Khansa. Melihat Alex seperti itu, siapa yang menyangka bahwa dia pria dewasa berumur 28 tahun. Tingkah Alex lebih mirip seperti anak kecil yang mempertahankan mainannya mati-matian. Benar-benar kekanak-kanakan.


Papa tidak berhasil membujuk Alex, pada akhirnya ayah Khansa angkat bicara. Beliau membujuk Alex. Entah terkena hipnotis macam apa, Alex mau menuruti perkataan Ayah dan keluar dari ruangan itu dengan sukarela.


Khansa menatap semua adegan itu dengan kebingungan dan malu. Bagaimana tidak, seluruh percakapan mereka disaksikan oleh keluarga. Harusnya mereka bisa menyelesaikan semuanya, namun karena Alex keras kepala pada akhirnya menjadi seperti ini.


"Sayang, kamu mau berpisah dan meninggalkan si bodoh itu? Mari kita tinggalkan dia. Laki-laki bodoh seperti dia memang patut untuk ditinggalkan. Laki-laki di keluarga kami bodoh semua. Ayo kita para wanita hidup jauh dari mereka." kata Mama persuasif.


Khansa menatap wanita paruh baya namun sangat cantik dan elegan di depannya dengan kebingungan. Sedari tadi dia hanya memperhatikan, tanpa berani bertanya. Di kamar itu sekarang hanya tinggal mereka bertiga. Dirinya, wanita itu dan Ibu.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu Dek. Aku tidak ikhlas kalau anak-anak kita pisah..."


"Lah, nggak apa-apa Mbak. Daripada hidup bersama si bodoh itu, bikin sakit hati. Mending pisah saja. Siapa juga yang betah punya suami seperti dia? Bodoh dan nggak pekanya kebangetan. Sudah buat istrinya menderita, begitu masih tidak sadar. Sekarang nangis-nangis, buat apa?" Mama berkata dengan berapi-api, sementara Ibu berusaha mendinginkan hatinya.


"Tidak boleh seperti itu Dek. Ketika anak-anak bertengkar, kita sebagai orangtua harusnya bisa menjadi penengah. Jangan malah mendukung keputusan mereka yang salah."


"Aku akan mendukung keputusan putriku Mbak. Toh walaupun mereka pisah, dia tetap akan menjadi putriku. Dan si kecil ini tetap menjadi cucuku." Mama berbalik pada Khansa dan mengelus-ngelus perutnya dengan lembut, "Aku nggak peduli dengan si bodoh itu. Ini akibat dari perbuatannya sendiri. Biar dia rasakan buah dari perbuatannya."


Khansa masih menatap kebingungan. Dia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya, tanpa dia sadari pertanyaan itu tercetus dari mulutnya, "Siapa?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Mama memalingkan wajahnya dan fokus menatap Khansa. Tatapannya tampak sangat lembut. Genangan airmata mulai terlihat di wajahnya. Dia memegang tangan Khansa dengan lembut. Senyum hangat merekah di bibirnya.


Khansa tak bisa berkata-kata. Perasaannya campur aduk. Terkejut, malu, terharu dan bahagia menjadi satu. Sudah lama dia ingin mengenal keluarga Alex, dan hari ini dia berkesempatan untuk melakukannya. Sambutan yang begitu hangat, begitu berbeda dengan yang dibayangkannya. Dia pikir keluarga Alex akan menolaknya, karena pria itu berasal dari kalangan berada, namun tak disangka ia mendapat perlakuan seperti ini. Hal itu membuat Khansa tanpa sadar menitikkan airmata. Tangisannya pun berubah menjadi isakan. Mama yang terkejut langsung memeluk Khansa.


"Loh, kenapa menangis sayang? Ada yang salah dengan perkataan Mama? Mama minta maaf ya, cup-cup jangan nangis..."


"Huuuu... Huuu..." Khansa menangis, sementara tangannya balas memeluk Mama. Ibu memperhatikan dengan mata berkaca-kaca. Hatinya bahagia, karena putrinya diterima oleh keluarga suaminya.


"Ke-kenapa baru sekarang dikenalinnya?? Pa-padahal aku ingin kenal Ma-mama sejak lama..." Khansa berkata secara terbata-bata. Menyembunyikan tangisnya di pelukan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Ssshhh... Kami juga ingin mengenalmu sayang. Kami baru tahu keberadaanmu. Si bodoh itu menyembunyikanmu dari kami. Maaf ya sayang, anak kami memang sangat bodoh, sshhhh..." Bagaikan anak kecil, Khansa menangis di pelukan Mama sembari mengutarakan keluh kesahnya. Bukannya mendinginkan hati Khansa, Mama malah bersikap sebaliknya.


"Dia jahat Ma... Dia suka datang dan pergi seenaknya... Tidak memberitahu kemana tujuannya... Dia tahu aku cemburu pada Diana, tapi dia selalu berada di dekatnya. Membuatku selalu sakit hati..." Khansa berkata dengan terbata-bata.


"Iya sayang, iya... Tapi dia dekat dengan Diana bukan salahnya. Mama yang menyuruhnya. Kenapa kamu cemburu dengan Diana? Hubungan mereka hanya sebagai ipar. Diana akan menikah dengan anak tertuaku..."


"Dulu mereka pacaran Ma... Aku pikir hubungan mereka sampai sekarang seperti itu. Dia tidak pernah menjelaskan apa-apa. Bahkan ketika aku menangis dan bertanya, mengapa rumah kami bersebelahan? Dia hanya menjawab, kalau dia harus menjaga Diana tanpa menjelaskan bahwa Diana itu iparnya. Hatiku sakit Ma. Bisa Mama bayangkan?"


"Ya ampun sayangku, kasihan sekali..." Khansa mengeluarkan segala keluh kesahnya pada Mama, sementara Ibu melihat hal itu dengan takjub. Dia tidak pernah melihat putrinya seperti itu. Khansa selalu mandiri, tegar dan menyembunyikan semua masalahnya dari semua orang. Baru kali ini Ibu melihat sisi rapuh dari seorang Khansa. Yang mengeluarkan segala keluh kesahnya pada wanita yang baru pertama kali dikenalnya. Jujur saja, Ibu cemburu sekaligus senang melihatnya. Setidaknya hubungan mertua dan menantu tidak seperti yang dibayangkannya. Beliau membayangkan mertua Khansa tidak akan menerima Khansa, karena perbedaan status sosial mereka, namun untunglah hal itu tidak terjadi. Ibu menitikkan airmata haru.


Khansa kembali mengeluarkan uneg-unegnya. Kepergian Alex yang tanpa kabar, menyebabkannya hampir kehilangan Alkha. Mama mendengarkan, namun sekaligus mengomel. Memarahi sikap anaknya yang tidak peka itu.


"Jadi bagaimana? Apa kalian jadi berpisah? Mama akan mendukung semua keputusanmu sayang..." Khansa maupun Ibu menatap Mama dengan mulut ternganga. Tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut wanita yang telah melahirkan seorang Yohan Alexander itu 🤦‍♀️


***


Happy Reading 😅


NB: Masih hari Senin ya kan 😂. Maaf kalau episodenya hambar ya, ini ngetik kilat. Ngejar deadline kudu setor hari Senin. Pulang kerja, langsung ngetik tanpa ngefeel. Semoga episode selanjutnya lebih greget 😅🙏

__ADS_1


__ADS_2