
Suara lirih itu terdengar layaknya panggilan dari surga di telinga Alex. Pria itu melupakan kemarahannya dan menoleh dengan cepat. Pancaran keterkejutan dan rasa bahagia mengaliri tubuhnya. Amarah yang melanda seolah-olah meredup seketika.
"Sa-sayang..." suara Alex tercekat. Perlahan dia mendekati istrinya, seolah-olah ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa istri tersayangnya telah tersadar. Begitu yakin, dia langsung melangkah cepat-cepat dan merengkuh tubuh Khansa dengan erat, "Sayang!!" Memeluk tubuh wanita itu seolah-olah tidak ingin melepasnya.
"Sayang, sayangku... " Tubuh Alex gemetar, rasa haru mengaliri tubuhnya. Dia menyembunyikan wajahnya di leher Khansa, sementara suara isakan mulai terdengar.
"Mas??" Khansa yang kebingungan hanya bisa mengelus-ngelus punggung Alex, berusaha menenangkan suaminya yang terlihat dipenuhi emosi.
Khansa tidak tahu masalahnya apa. Dia hanya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Alex. Dia membalas pelukan Alex, sementara tangannya menepuk-nepuk punggung suaminya. Baru kali ini dia melihat Alex menangis. Biasanya suaminya tidak pernah bersikap seperti itu. Selain galak dan mesum, suaminya itu pintar menyembunyikan emosinya. Kenapa kali ini Alex bersikap tidak biasa?
Sepotong demi sepotong ingatan mulai menghampirinya. Dia ingat sedang berada di restoran. Dia datang ke restoran itu untuk mendengar jawaban Alex dari permintaannya. Namun suatu hal yang tak diduganya terjadi. Dia melihat Diana di sana!! Karena terlalu terkejut dia langsung kehilangan kesadaran dan berakhir di sini.
Mengingat hal itu, secara spontan membuat mata Khansa berkeliaran di ruangan itu. Mencari-cari sesosok yang menjadi momok mengerikan baginya.
DEG
Jantung Khansa seolah berhenti berdetak ketika dia menatap sesosok itu berada di ruangan yang sama dengan mereka. Sosok itu menatapnya. Matanya dipenuhi dengan airmata. Mereka saling bertatapan dalam diam.
Tubuh Khansa mulai menggigil. Bayangan kemungkinan terburuk yang akan terjadi mulai menggelayuti pikirannya. Sadar dengan pemikiran itu, dia langsung menggunakan kekuatan terakhirnya untuk mendorong tubuh Alex menjauh darinya, "Le-lepas!!" tubuh Alex sedikit terdorong ke belakang, namun tidak membuat tangan suaminya itu terlepas dari tubuhnya.
"Sayang... Maafkan aku... Maafkan aku..." Alex kembali merengkuh tubuh Khansa.
"Le-lepas Mas... Ja-jangan seperti ini..."
"Aku tidak akan melepasmu. Sampai aku mati tidak akan pernah melepasmu Khansa..."
"M-mas, ja-jangan seperti ini... A-ada dia Mas..."
__ADS_1
"Aku tidak peduli!! Jangan tinggalkan aku sayang. Aku tidak mau."
"Mas, lepas!! Ada Diana Mas!! Jangan seperti ini!!" Khansa meninggikan suaranya, berusaha membuat Alex tersadar dari kegilaannya.
Yang benar saja. Sedang ada istri pertamanya, mengapa Alex bersikap seperti ini terhadapnya? Apa Alex benar-benar menginginkan kami saling bertengkar? Jambak-jambakan? Kalau iya seperti itu, dia lebih baik mengalah saja. Dengan perut sebesar ini, mana bisa dirinya menang melawan Diana??
Alex masih tidak melepaskan pelukannya. Tangannya bagai gurita yang membelit tubuh Khansa. Wanita itu mulai putus asa. Dengan takut-takut dia mengintip Diana. Dia sudah pasrah dengan semua hal yang akan terjadi ke depannya. Toh dia sudah membuat keputusan untuk melepaskan Alex.
Diana bergerak dan mendekati Khansa. Langkah Diana yang semakin dekat membuat Khansa semakin ketakutan.
"Mas... Le-lepas... D-dia datang... Lepas..." suara Khansa gemetar.
Diana berada tepat di depan Khansa yang tengah duduk di ranjang dengan Alex yang masih melekat pada tubuhnya.
"D-Di... Aa-aku bi-bisa m-menjelaskannya... I-ini ti-tidak se-seperti yang ka-kamu li-lihat... I-ini h-hanya salah pa-paham saja..." Khansa benci mendengar nada suaranya yang gemetar. Namun dia tidak bisa mengontrolnya. Otaknya berkecamuk kemana-mana. Dia sudah pasrah dengan aap yang akan dilakukan Diana terhadapnya.
Bukannya marah, wajah Diana malah terlihat lebih sedih. Airmata kembali mengalir di wajahnya.
Khansa bersusah payah menelan ludah. Raut wajahnya tampak putus asa. Dengan terbata-bata, Khansa menjawabnya, "I-istri... Ka-kamu istrinya... I-ini benar-benar tidak seperti..."
"Aakhhhh!!" Tubuh Diana kembali merosot ke bawah. Aaron bertindak cepat dan meraih tubuhnya. Sementara Alex melepaskan pelukannya dengan tiba-tiba dan menatap Khansa dengan wajah terkejut sekaligus heran.
"Apa maksudmu sayang? Dia siapaku?" tanya Alex sembari mengedikkan matanya, merujuk pada Diana.
"I-istri... Kenapa harus memperjelasnya?"
"Huuuuuu..." tangis Diana semakin keras. Dia memukul-mukul dadanya, "Semua ini salahku!! Semua salahku!! Huuuu..."
__ADS_1
Alex begitu terkejut mendengar ucapan yang keluar dari bibir Khansa. Dia langsung merengkuh wajah Khansa dengan kedua tangannya.
"Sayang, lihat aku. Katakan sekali lagi, dia siapaku?"
"Dia istrimu Mas... Ke-kenapa bertanya berulang-ulang? Dia istri pertamamu..."
"Aarrghhh sayang..." Alex melekatkan dahinya pada dahi Khansa, airmata kembali mengalir di wajahnya, "Sayang, kamu salah. Kamu benar-benar salah. Diana bukan istriku!! Hanya kamu istriku satu-satunya!! Mengapa kamu berpikir seperti itu? Darimana pemikiran itu??"
Khansa terdiam. Tubuhnya membeku. Pasti ada yang salah dengan pendengarannya. Alex tadi berkata Diana bukan istrinya. Tapi itu tidak mungkin bukan?!
"Sayang, kenapa kamu diam? Lihat aku, fokus. Dasar bodoh, kenapa otak ini sampai berpikir kesitu? Apa kamu pikir aku tipe laki-laki seperti itu? Hem?"
"Ta-tapi d-dia memang istrimu..." suara Khansa terdengar terbata-bata. Mendengar itu, tiba-tiba tubuh Diana bergerak dan bersimpuh di depan Khansa.
"Maaf... Maafkan aku Khansa... Maaf... Semua ini salahku... Aku telah banyak melakukan kesalahan terhadap kalian, terutama terhadapmu. Maafkan aku. Aku tahu salahku sangat besar. Sikapku dulu begitu buruk. Aku yang menghalangi hubungan kalian. Maaf... Maafkan aku... Huuuu..."
"Aku berbohong padamu... Aku putus dari Alex bukan karenamu. Itu karena murni kesalahanku sendiri... Aku tidak pernah kembali pada Alex, karena aku memiliki pria lain yang kucintai. Aku dan Alex tidak memiliki hubungan seperti itu lagi. Aku bukan istri Alex, Khansa. Aku hanyalah calon kakak iparnya. Bayi ini bukan milik Alex. Tapi miliknya. Dia adalah calon suamiku. Dia kakak Alex, pria yang kucintai..." Diana menjelaskan sembari matanya menatap Aaron dengan penuh cinta. Pria itu ikut berjongkok di sebelah Diana, berusaha membuat Diana kembali berdiri. Namun Diana tetap bersikeras untuk bersimpuh, memohon pengampunan pada Khansa.
"Pikiranku dulu sangat kekanak-kanakan. Aku begitu cemburu padamu. Bagaimana mungkin seorang Alex memperhatikanmu, sementara aku tidak bisa mendapatkan perhatiannya? Aku juga tidak berhasil meraih hatinya,"
"Aku terluka. Aku tidak ingin melihatmu bahagia. Beberapa kali aku sengaja menunjukkan padamu, bahwa kami memang kembali bersama. Aku ingin kamu juga merasakan sakit hati seperti yang kurasakan ketika Kak Aaron menolakku,"
"Pikiranku sangat picik. Aku tidak ingin gadis sepertimu bahagia, sementara aku tidak... Kejadian di bandara, aku melihatmu saat itu, tapi aku sengaja mengabaikannya. Aku benar-benar jahat. Maafkan aku Khansa... Maafkan aku Al... Kalian pantas menghukumku. Semua permasalahan kalian terjadi karena aku. Hukumlah aku sepuas kalian. Aku rela... Maafkan aku...Huuu..."
Diana menangis menghiba-hiba, sementara Khansa hanya bisa menatapnya dengan tatapan tertegun. Dia berusaha mencerna setiap informasi yang didapatnya. Informasi yang cukup banyak, membuat otaknya kewalahan untuk mencernanya satu persatu. Satu hal yang pasti, Diana bukan istri Alex!!
***
__ADS_1
Happy Reading 😚
Sumveh, ngantuk genk 😴 Doain siang bisa update lagi. Sekarang mau tidur dulu 😴😪